
"Mey, aku ada ide," tatap Vika, penuh kelicikan.
"Ide apa? Jangan aneh-aneh," ketus Mey.
Vika pun membisikan sesuatu ke telinganya.
"Gimana ideku bagus, kan!" Mey, terlihat berpikir tak lama kemudian dia pun mengangguk.
Hari mulai gelap, saat ini Mey, sedang berada di sebuah gedung tinggi dia menatap gedung itu dengan sendu. Antares grub inilah perusahaan ayahnya saat ini, rasa rindu kepada ayahnya kembali ia rasakan. Mey, terus berjalan memasuki gedung itu, tatapannya begitu kosong.
Di lantai atas terlihat Sharon, sedang berjalan untuk memasuki lift, keadaan perusahaan cukup sepi karena semua karyawan sudah pulang ke rumahnya masing-masing.
"Lelahnya, sepertinya aku butuh spa," ucap Sharon, saat memasuki lift itu. Tak lama kemudian lift pun terbuka, matanya membulat sempurna, raut wajahnya begitu ketakutan dengan segera Sharon, menutup kembali pintu liftnya.
"Apa yang aku lihat tadi, apa itu Mey!" monolognya. Karena, saat pintu lift terbuka tiba-tiba Mey, berada di hadapannya dengan wajah yang sangat pucat. Membuat Sharon, ketakutan.
Sharon, kembali membuka pintu lift nya, namun Mey, sudah tidak ada di hadapannya. "Huh! Apa mungkin aku salah lihat ya! Tidak, mungkin Mey, ada disini," gumamnya lirih. Lalu melangkah keluar dari lift.
Sharon, berjalan dengan langkah cepat tiba-tiba, di balik pilar ada seseorang yang berjalan namun saat di lihat tidak ada siapa pun. "Kenapa tiba-tiba bulu kudukku merinding ya!" ucap Sharon, yang mengusap tengkuk lehernya.
"Ini perusahaan sepi banget. Gak kaya biasanya udah ah aku pergi saja." Sharon, berjalan sedikit berlari menuju baseman, dari kejauhan dia sudah mengarahkan remote kontrolnya untuk menyalakan mobilnya.
Lagi-lagi tangannya gemetar dan remote itu pun terjatuh. "Sial!" Sharon, mengutuki dirinya, lalu mengambil remot itu dan berlari menuju mobilnya. Lagi-lagi tangannya gemetar dan membuat kunci mobilnya terjatuh.
Sharon, langsung mengambil kunci mobilnya dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Huhft, Sharon, menghela nafas sejenak seraya memejamkan matanya.
"Ada apa denganku ini. Kenapa aku ketakutan begini? Tidak mungkin yang ku lihat itu Mey, dia sudah meninggal." Sharon, terus bermonolog tanpa sadar ada seseorang yang mendengar ucapannya.
"Kenapa ketakutan?"
Deg!, mendengar ada seseorang yang berbicara Sharon, pun langsung kembali merinding. Dengan perlahan dirinya membalikan badannya, untuk melihat siapa yang ada di belakangnya.
Aaaa … hantu
Sharon, teriak histeris saat melihat Mey, duduk di belakang kemudi dengan wajah yang mengerikan, karena luka di wajahnya. Sharon, begitu ketakutan hingga ingin segera keluar dari dalam mobilnya. Namun tiba-tiba
Aaaa …
Lagi-lagi dirinya di kejutkan dengan wajah pucat yang tertutup rambut hitamnya namun begitu mengerikan. Hingga akhirnya Sharon, pun tumbang.
"Dia pingsan!" ucap Vika, yang merapikan rambutnya kembali. Ternyata yang mengejutkan Sharon, di depan pintu mobilnya adalah Vika, yang sengaja menutupi wajahnya dengan rambut.
"Mey, lihatlah dia pingsan haha … rencana kita berhasil, dia begitu takut melihat wajahmu." Vika, tertawa renyah merasa puas telah mengerjai Sharon.
"Kita harus segera pergi Vika, sebelum ada orang yang melihat," ajak Mey, mereka pun pergi meninggalkan tempat itu dengan hati senang.
Saat Mey, memasuki gedung Antares grup, dirinya melihat Sharon, memasuki sebuah lift, Mey, pun berjalan ke arah lift yang kemungkinan Sharon, akan keluar dari lift itu. Dan benar saja, saat pintu lift itu terbuka, Sharon, sangat terkejut melihat Mey, ada di depannya hingga kembali menutup pintu liftnya.
Saat pintu lift itu tertutup Mey, pun segera menjauh hingga saat Sharon, keluar tidak lagi melihat wajahnya. Saat Sharon, berjalan dengan sengaja Vika, berlarian di balik pilar, hingga Sharon, merasakan seseorang berjalan mengikutinya.
Saat sampai di baseman, Sharon yang ketakutan terus berlari seraya mengarahkan remote kontrol nya ke arah mobil berkali-kali. Tanpa sadar pintu mobil sudah bisa di buka. Dan saat Sharon, berjongkok untuk mengambil kuncinya yang terjatuh di saat itulah Mey, memasuki mobilnya dan duduk di bagian belakang kemudi.
Ide Vika memang top ya! hehe
Haha … haha … haha …
Kedua gadis tertawa riang karena berhasil menjahili temannya, hingga lupa jika ini sudah terlalut malam. Saat tiba di depan sebuah mansion, seorang pria telah menunggunya dengan khawatir. Tatapannya yang dingin tak berpaling dari seorang gadis yang sedang tertawa riang.
"Mey," ucap Vika, mengehentikan langkahnya.
"Iya, ada apa?" tanya Mey, yang belum menyadari pria di depannya.
"Sepertinya aku harus pergi Mey, aku takut pangeranmu marah." Vika, mundur perlahan sedangkan Mey, bingung dengan tingkah Vika. Setelah Vika, pergi Mey, pun berbalik menatap ke depan yang saat itu matanya langsung melihat Elo, yang berdiri di depannya.
Elo, masih berdiri tak bergerak sedikit pun. Tatapannya masih dingin tanpa ekspresi. Mey, yang melihat tatapan itu menjadi takut, dengan perlahan Mey, berjalan menghampirinya.
"Dari mana kamu?" tanya Elo, dingin membuat Mey, semakin takut akan amarahnya.
"Elo, a-aku,"
"Kamu pergi tanpa izin dariku?" Elo, sangat marah, karena Mey, pergi tanpa memberitahunya, apalagi Mey, pulang sampai selarut ini. Mey, tidak tahu betapa khawatirnya Elo.
"Aku mencemaskanmu, lain kali jangan pergi tanpa izin dariku," ucap Elo, yang masih memeluk Mey.
"Iya," jawab Mey, yang juga membalas pelukannya.
"Ayo, kita masuk," ajak Elo, namun di tahan oleh Mey.
"Tunggu," Mey, menggenggam erat tangan Elo, untuk menghentikan langkahnya. "Aku menemukan ini," lanjut Mey, yang memberikan sebuah topeng yang di ambilnya di kamar Elo.
"Kau masih menyimpannya?" Elo, hanya mengangguk seraya mengambil topeng itu.
"Aku tidak pernah membuangnya, karena aku tidak pernah melupakanmu," ucap Elo, membuat Mey, terenyuh hingga memeluknya. Elo, pun membalas pelukannya.
"Apa kau tidak kedinginan hem! Apa kau akan terus memelukku seperti ini?" goda Elo, pada Mey. Membuat Mey, melepaskan pelukannya.
"Apa kau ingin tahu aku pergi kemana?" Mey, berbicara seraya medongak, kan kepalanya.
"Aku tidak suka karena kau pergi tanpa aku."
"Tapi aku pergi membawa kenangan kita," ucap Mey, seraya menunjukan sebuah foto, lukisan, dan topeng yang baru di ambilnya dari rumahnya.
"Kau juga masih menyimpannya ternyata,"
"Apa ini? Ini foto kecil kita?" Elo, mengambil sebuah foto, dirinya tertawa renyah saat melihat foto itu. "Aku dan pangeranku," ucap Elo, saat membaca sebuah tulisan di belakang foto itu.
"Kau menganggapku pangeran ternyata," Elo, menggoda Mey, hingga menaik turunkan alisnya.
"Jangan baca itu, dulu aku masih kecil." Mey, merasa malu saat Elo, membaca tulisannya.
"Memangnya sekarang kau tidak menganggapku pangeranmu lagi? Ah iya, karena sekarang kau menganggapku kekasih mu iya, kan! Atau calon suami."
"Elo!" Pipi Mey, sudah bersemu merah, namun Elo, tergelak merasa lucu saat menggoda kekasihnya itu.
"Memangnya kau tidak malu mempunyai istri sepertiku?" Pertanyaan Mey, membuat tawa Elo, terhenti.
"Apa kau tidak ingin menjadi istriku?" Kini Elo, berbalik tanya. Mey, hanya bisa diam mendapat pertanyaan itu. Bukan dirinya tidak ingin tapi keadaannya yang tak sempurna membuatnya merasa tidak pantas jika bersanding dengan Elo.
"Wanita mana pun tidak akan menolak jadi istrimu, begitu pun denganku. Tapi Elo, aku bukanlah wanita sempurna, aku tidak pantas bersanding denganmu,"
"Kenapa? Apa karena wajahmu. Berhentilah untuk menjadikan wajahmu sebagai alasan, bukankah aku sudah mengatakannya bahwa aku tidak peduli."
"Kau bisa saja tidak peduli, tapi orang lain mereka akan menertawakanmu karena menikah dengan gadis cacat sepertiku."
"Lalu aku harus mendengarkan orang lain? Sekarang aku ingin bertanya apa kau akan mendengarkan orang lain atau kata hatimu?" tanya Elo, dengan tatapan penuh arti.
"Kata hatiku," jawab Mey, lirih.
"Aku ingin dengar apa kata hatimu?" pertanyaan Elo, semakin tegas membuatnya kaku.
"Aku- aku …"
"Aku mencintaimu," sanggah Elo, membuat Mey, terdiam karena inilah pertama kali Elo, mengatakan cinta padanya. "Katakanlah jika kau mencintaiku," lanjut Elo, yang terus menatap Mey.
"Aku men-cin-ta-i-mu," ucap Mey, gugup namun membuat hatinya tenang, karena telah mengungkapkan isi hatinya.
Cup,
Mey, segera menutup matanya saat sentuhan hangat mendarat di bibir ranumnya. Di malam yang dingin, dan sunyi, hanya bintang dan bulan yang menyaksikan cinta mereka.
...----------------...
Owh ... romantisnya 😘
Tadinya othor mau up double nih tapi badan mendadak meriang, besok aja ya hehe.
Mana pendukungnya Melon, kok sepi sih!
Like, koment, dan votenya ya 🤗 jangan lupa
Luv U All 🥰