The Magic Face Brush

The Magic Face Brush
Hukuman Sharon.



Semua orang di ruangan sidang terlihat tegang. Menunggu seorang wanita di depannya yang akan di adili, Hakim pun mengetuk palunya sebanyak tiga kali sebagai pertanda bahwa sidang akan segera dimulai. 


Andre, sebagai pengacara dari pihak korban pun segera memulai pembicaraannya. Menjelaskan setiap inci permasalahannya. 


"Kami pihak pertama menuntut pihak kedua, atas dua kasus, yang dimana kedua-duannya menyangkup pembunuhan." 


"Sebelum pembunuhan terhadap Tini, yang di rencanakan, dengan sengaja memerintah seorang pelayan untuk meracuninya, saya ingin membahas tentang kasus pertama, terlebih dahulu yang dimana tersangka memerintahkan seseorang untuk membakar rumah klien saya." 


Jelas Andre, lalu meminta izin untuk memutar sebuah rekaman cctv, yang dimana saat itu ada sebuah mobil berhenti tepat di depan sebuah gang, lalu turunlah dua orang pemuda, yang berjalan ke arah bagasi mengambil sebuah kompan, dan membawanya memasuki gang itu. 


Video ke dua, rekaman cctv yang mengarahkan pada kedua pemuda yang dengan sengaja menyiramkan sebuah cairan yang berasal dari kompan yang dibawanya. Setelahnya pemuda itu melemparkan sebuah korek gas lalu pergi. 


Tak berselang lama kobaran api pun berkobar membakar setiap sudut rumah itu. 


"Maksud anda apa? Saya rasa ini tidak ada hubungannya dengan klien saya," bantah Rizal, selaku pengacara Sharon. Namun Andre, tetap melanjutkannya. 


"Kami menyelidiki plat nomor mobil ini," tunjuk Andre, pada sebuah mobil yang tertampil di dalam video. "Setelah di selidiki pemilik mobil itu adalah Sharon, kalian juga bisa melihat dengan jelas wajahnya." Andre, menunjuk video yang ada pada layar. 


"Oke, tapi adakah saksi yang meyakinkan jika klien saya rerlibat dalam pembakaran itu. Mungkin saja klien saya hanya di fitnah atau di jebak!" Andre, tersenyum saat mendengar kata 'Fitnah' dari Rizal. 


"Hakim saya sebagai pengacara sangat keberatan. Jika tidak ada saksi yang akurat itu tidak adil, klien saya merasa terhina." Rizal, mengutarakan keberatannya pada hakim.


"Tuan Andre, apa anda bisa membawakan saksi?" tanya Hakim pada Andre, Andre pun menyanggupi dengan anggukan. 


"Dengan hormat, saya mohon izin untuk memanggil saksi itu," jawab Andre. 


"Baiklah saya izinkan." 


Rizal, dan Sharon, pun menatap tajam pada pengacara itu begitupun pada Mey. Sharon, terlihat penasaran siapa saksi yang dimaksud. Namun Mey, yang di tatap pun terlihat santai bahkan dengan sengaja Mey, menyandar pada bahu Elo, yang duduk di sampingnya, membuat Sharon, memalingkan wajahnya dengan cepat. 


Kedua tangannya mengepal kuat karena cemburu melihat kedekatan Mey, dan Elo. 


Tak berselang lama pintu pun terbuka lebar, semua orang menoleh kearah belakang, dimana pintu itu berada. Arkan, memasuki ruangan sidang di temani kedua pemuda yang berjalan di depannya. 


Sharon, yang melihat pemuda itu pun terbelalak, karena kedua pemuda itu adalah pemuda yang ada di dalam video itu. Padahal Sharon, sudah meminta pemuda itu pergi jauh dari kota ini, tapi bagaimana bisa pemuda itu ada disini, di tempat ini, di pengadilan ini.


Setelah kedua pemuda itu duduk di kursi panasnya untuk dimintai keterangan, Arkan, pun berjalan menghampiri kedua bosnya. Elo, tersenyum bangga padanya karena menjalankan tugasnya dengan benar. 


Walau sebelumnya Elo, dan Mey, sempat khawatir jika Arkan, tidak bisa membawa saksi itu tepat waktu, karena pencarian mereka yang cukup sulit. Namun, berkat kerja kerasnya Arkan, pun berhasil membawa kedua pemuda itu. 


Sehari sebelumnya, Arkan, tidak bisa menemukan kedua pemuda itu. Karena sudah pergi jauh dari kota ini. Tapi, Arkan, tidak habis akal dia pun menghubungi bosnya, Elo, tentang kebuntuannya mencari jejak pemuda itu. 


Elo, pun menghubungi seseorang yang memberitahukan keberadaan pemuda itu padanya, lalu Elo, meminta orang itu untuk menjebak pemuda itu agar datang padanya. Orang itu pun setuju. 


Orang yang di hubunginya adalah seorang mantan kepercayaan Farhan. Yang mengetahui siapa saja orang yang terlibat yang menjadi suruhan Farhan, selama ini. 


Orang itu menghubungi dua pemuda yang di maksud, dengan alasan ingin bertemu dan menanyakan tempat tinggal pemuda itu. 


Awalnya pemuda itu tidak percaya dan tidak ingin memberikan alamat tempat tinggalnya. Namun, orang suruhan Elo, berkata jika dia akan menawarkan pekerjaan padanya, dengan imbalan yang sangat besar pemuda itu pun setuju dengan memberikan alamatnya. 


Arkan, yang mendapat informasi tentang keberadaan pemuda itu, pun langsung pergi dengan mengarahkan beberapa pengawal. Saat tiba di lokasi kedua pemuda itu pun langsung di tangkap di masukannya ke dalam mobil. 


"Siapa kau?" tanya pemuda itu. 


"Tidak penting siapa aku," jawab Arkan. 


"Mau apa kau?" 


"Aku hanya butuh kalian berdua. Kalian ingat kejadian ini?" Arkan, memperlihatkan sebuah video saat mereka beraksi membakar sebuah rumah. 


"Ini kalian berdua, yang sudah berani membakar rumah ini. Kalian masih ingat?" 


"Kami hanya di tugaskan, kami hanya menjalankan perintah." Jawab salah satu pemuda itu.


"Lalu kalian akan kabur?" Kedua pengawal pun mendekatkan pistolnya tepat pada kepala mereka. 


"Kedua pistol ini akan membidik kepala kalian dalam sekejap. Apa kalian masih ingin hidup?" 


"Tolong jangan bunuh kami." 


"Oh, rupanya kalian masih ingin hidup. Apa kalian ingin aku menurunkan pistolnya? Bisa di atur, tapi itu juga jika kalian mau bekerja untukku." 


"Bekerja!" 


"Pekerjaan kalian sangat gampang. Hanya menjadi saksi itu saja. katakan pada hakim dan jaksa siapa orang yang telah memerintahkan kalian. Bagaimana apa kalian setuju? Jika tidak … pengawal bidik, kan pistolnya," 


"Tunggu, kami setuju. Kami akan menjadi saksi dan bicara jujur, tapi … apa kau bisa menjamin jika kami tidak masuk penjara." 


"Bisa di atur, itu urusan gampang!"


Setelah berbicara panjang lebar Arkan, pun kembali ke ibu kota dengan membawa kedua saksi itu. 


Sharon, tidak bisa membela diri karena kedua saksi itu, juga bukti-bukti yang ada. Begitu pun dengan Rizal, mulutnya bagaikan beku sebeku es, tak mampu mengelak apapun jika kliennya bersalah. 


Kini kasus yang kedua, pintu utama kembali terbuka, terlihat seorang wanita, dengan paras yang menyedihkan. Dia adalah pelayan yang menaruh racun pada minuman Tini, Sharon, hanya bisa pasrah saat pelayan itu datang menjadi saksi, dan menjelaskan kronologinya. 


Mey, yang mendengarkan, kembali bersedih dan menitikan air matanya. Rasa bersalahnya pada nek Tini, karena tidak bisa mencegah kejadian itu. Mungkin, jika waktu berputar kembali Mey, akan melihat neneknya di malam itu, dan melindunginya. Elo, yang kembali melihat Mey, menangis langsung memeluknya. 


"Semua sudah selesai, dan akan berjalan lancar. Mereka akan mendapatkan hukuman yang setimpal," ucap Elo, seraya mengelus lembut punggung Mey.


Saatnya Hakim memberikan keputusan.


"Saudara Sharon, anda di kenai undang-undang pasal 338 KUHF. 'Barang siapa sengaja dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain. Di ancam dengan pidana mati atau seumur hidup atau selama waktu tertentu paling lama dua puluh tahun." 


Hakim pun mengetuk palunya tiga kali sebagai tanda sidang pun selesai. Sharin, yang pasrah menerima hukuman, lemvalo di bawa dan di borgol oleh petugas polisi. Mey, cukup tenang dan damai walau pun Farhan, masih belum di jatuhi hukuman setidaknya Sharon, sudah mendapatkan hukuman atas kesalahannya. 


- Bersambung-


Maaf ya jika upnya kadang telat. Kemarin thor up sore Sampai keesokan paginya masih tertahan, dan belum reaviw. Mungkin karena jaringan dan sebagainya. Jadi mohon di tunggu ya 🤗. Setiap hari nya thor up kok, 1 sampai dua bab, jadi jika belum ada up terbaru mungkin masih reviw ya!