The Magic Face Brush

The Magic Face Brush
Topeng



Bukan tidak ingin Mey, mempublis, kan hubungannya dengan Elo. Namun menurutnya itu tidaklah penting. Karena hubungan seseorang tidak perlu di umbar, jika sebagian orang selalu mempublis, kan hubungan mereka dengan para pasangan agar semua orang tahu bahwa dia adalah kekasihnya. Agar tidak ada yang mendekati pasangan mereka. 


Tetapi tidak dengan Mey. Baginya kesetiaan itu hanya ada dengan saling percaya sesama pasangan. Dengan mengumbar kemesraan, dan status hubungan belum tentu menjadi sebuah keyakinan jika pasangan kita setia. 


Hari-hari berlalu, hubungan Mey, dan Elo, pun semakin hangat dan harmonis. Mereka akan bersikap profesional, jika di dalam perusahaan keduanya bersikap sebagaimana hubungan rekan kerja antara bos dan sekretarisnya. Namun, terkadang godaan datang menerpa seperti saat ini mereka sedang menghadiri acara pesta rekan bisnisnya, tidak sedikit para wanita yang menghampiri Elo, dengan tingkah manjanya. 


Ada yang memberi bunga, ada yang menggandeng tangannya, dan ada yang mengajaknya untuk berdansa, tetapi untuk ajakan satu ini Elo, selalu menolak dan lebih memilih berdansa dengan Mey, sekretarisnya. 


Mey, tersenyum bangga secantik apapun wanita yang menggoda kekasihnya tidak membuat Elo, tergoda itu membuat Mey, semakin percaya akan kesetiaannya. 


Elo, menarik Mey, ke tengah-tengah ballroom, satu tangannya menyentuh pinggang Mey, satu tangannya lagi menarik tangan Mey, untuk melingkar di lehernya, setelahnya Elo, pun menuntun Mey, untuk berdansa. 


Dari jauh ada seorang wanita, menatap mereka sinis dengan penuh amarah, tangannya ia kepalkan dengan kuat. Wanita itu adalah Sharon, yang juga menghadiri pesta tersebut. 


Sharon, yang terbakar api cemburu melihat kemesraan Mey, dan Elo, yang sedang berdansa layaknya seorang raja dan ratu. Kecantikan dan ketampanan mereka begitu di puji para tamu, tak sedikit dari mereka yang terkagum-kagum. 


"Mereka tidak tahu wajah aslimu Mey," gumam Sharon, seraya melangkah menuju ballroom. 


"Sekarang kita lihat bagaimana reaksi semua orang saat melihat wajah busukmu." Sharon, mengambil segelas air lalu kembali berjalan menghampiri Mey, dan Elo. 


Di saat Elo, melepas genggamannya. Membiarkan Mey, untuk menari berputar, tariannya terhenti tepat di depan Sharon, kini mata keduanya saling bertemu dan menatap. Mey, merasakan tidak enak pada hatinya di saat melihat Sharon, ada di depannya. 


"Shera," ucap Mey, 


"Halo, Mey," ucap Sharon, yang langsung menyiram wajah Mey, dengan segelas air. 


Sharon, sudah tahu kelemahan face brush itu yaitu air dan api. Sharon, tersenyum sinis tapi tidak dengan semua tamu yang merasa terkejut dengan tingkah Sharon. Sebagian mereka hanya saling berbisik tidak mengerti kenapa Sharon, melakukan hal itu. 


"Sekarang kalian akan lihat. Wanita yang kalian puji tidak secantik yang kalian kira." Sharon, berkata ke pada seluruh tamu undangan, suaranya begitu menggema membuat dirinya menjadi pusat perhatian. 


Mey, hanya menunduk belum berani untuk memperlihatkan wajahnya. Sharon, sangat geram sudah tidak sabar ingin memperlihatkan wajah Mey, pada semua orang. Di saat Sharon, akan mendongak, kan wajah Mey, tiba-tiba 


Plak, 


Satu tamparan mendarat di pipinya. Membuat semua tamu terkejut di saat Elo, memberikan tamparan pada Sharon. Di saat itulah kesempatan untuk Mey, pergi. Dengan segera Mey, pergi meninggalkan pesta itu dengan sebuah tas kecil miliknya sebagai penghalang wajahnya. 


"Elo, kenapa kamu menamparku." Sharon, benar-benar malu saat Elo, menamparnya. Di saat dirinya akan mempermalukan Mey, malah dirinya yang di permalukan.


Elo, tidak menjawab pertanyaan Sharon. Dirinya langsung menghadap pada semua para tamu, lalu berkata dengan lantang. Sorot matanya penuh dengan amarah, rasanya Elo, sudah muak dengan semua orang yang berani merendahkan Mey, terutama Sharon.


"Siapa yang berani mengganggu wanitaku tidak akan aku biarkan. Jika, di antara kalian yang berani mengganggu kekasihku, tangan ini tidak akan segan-segan menampar kalian."  


Semua orang ternganga setelah mendengar ungkapan Elo, yang memberitahukan pada semua orang bahwa Mey, adalah kekasihnya. Bahkan Sharon, pun tidak percaya. 


"Dan kamu, sekali lagi saya ingat, kan jangan pernah berani mengganggu Mey," ucap Elo, pada Sharon, dengan tatapan tajamnya.


"Elo, kau tidak tahu wajah aslinya?" sanggah Sharon. Elo, yang akan pergi pun kembali pun berbalik. 


Seorang pria berlari menghampiri Elo. Pria itu merupakan orang yang mengadakan pesta, pria itu meminta maaf dengan semua yang telah terjadi. Namun, Elo, sepertinya sudah tidak ingin lagi mendengar ucapan itu. 


"Tuan maafkan saya, ini di luar dugaan saya. Maaf sudah membuat anda dan kekasih anda tidak nyaman," ucap pria itu. 


"Kerja sama kita batal." Pria itu ternganga, tidak percaya dengan apa yang Elo, ucapkan. Dengan susah payah dirinya melangkah ke PT Elgiedon untuk mendapatkan kerja sama dengan PT tersebut. Di saat dirinya sudah bekerja sama di detik itu juga Elo, membatalkan kerja samanya. 


"Tuan, Tuan," teriak pria itu dengan wajah sedihnya. Sedangkan Elo, terus berjalan meninggalkan pesta itu. 


Di tempat lain Mey, masih mengurung diri di toilet, dirinya malu untuk keluar memperlihatkan wajahnya. Karena dirinya lupa tidak membawa brushnya. 


"Bagaimana ini! Tidak mungkin juga aku diam disini terus' batin Mey, yang menatap cermin. 


Setelah sekian lama bergulat dengan hatinya Mey, pun memutuskan untuk keluar dari dalam toilet. Dengan langkah perlahan seraya melihat situasi di luar ramai atau tidak, beruntunnya keadaan toilet saat itu sedang sepi. 


Huuh, Mey, bernafas lega. " Beruntung tidak ada orang. Ini kesempatanku untuk keluar" ucapnya yang langsung berlari. 


Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat keadaan di luar begitu ramai. 


Mey, kembali insecure, dengan perlahan memundurkan langkahnya, tiba-tiba ada seseorang yang menarik tubuhnya hingga berbalik membelakangi keramaian. Orang itu tak lain adalah Elo, yang menyembunyikan wajah Mey, pada dada bidangnya. Mey, pun tersenyum saat melihat wajah tampannya. 


'Aku beruntung mendapatkanmu. Terima kasih karena kau selalu ada untuk ku menjadi pelindungku' batin Mey, yang menatap Elo, dengan tatapan nanar. 


"Pakailah ini," ucap Elo, yang tiba-tiba memberikan sebuah topeng untuknya. Mey, pun merasa heran untuk apa topeng ini. 



Melihat Mey, belum juga memakai topeng itu. Elo, pun langsung memasang, kan topengnya hingga menutupi luka codetnya. Setelahnya Elo, pun memakai topeng yang sama. Setelah itu membawa Mey, pergi dari tempat itu. 


**** 


Keesokan paginya Mey, kembali bekerja namun dirinya terlihat heran dengan tingkah para karyawan dan staf disana. Hampir semua karyawan yang berpapasan dengannya akan selalu menunduk seperti memberi hormat. 


Mey, jadi bingung melihat hal itu. 


"Kenapa dengan mereka? Apa ada yang aneh padaku? Atau jangan-jangan di belakangku ada Tuan Bos" gumam Mey, yang sedang berjalan.


Mey, berpikir ada Elo, di belakangnya hingga semua karyawan menunduk hormat. Namun, saat Mey, melihat ke arah belakang tidak ada Elo, atau pun tamu terhormat. Lalu pada siapa mereka hormat?


...----------------...


Mereka hormat sama kamu Mey, kan sekarang kamu kekasih CEO hehe.


Jangan lupa untuk like, vote, koment dan favorit ya sayang🥰