The Magic Face Brush

The Magic Face Brush
Maaf



Perlahan Elo, mengeratkan pelukannya, menarik tubuh Mey, ke hadapannya hingga mendekati dada bidang miliknya. Bahkan, wajah keduanya pun sangat dekat hembusan nafas pun terdengar antar keduanya. 


Elo, menuntun tangan Mey, untuk melingkar di leher jenjangnya, dengan perlahan dirinya menuntun langkah Mey, untuk mengiringi lantunan musik romantis yang mengiringi dansanya. 


Suara merdu dari lantunan melodi menambah kesan romantis pada malam itu. Satu langkah dan gerakan demi gerakan terus mereka lakukan hingga saat gerakan terakhir Elo, mulai melepas, kan genggaman tangannya membuat tubuh Mey, berputar-putar. 


Mey, terlihat begitu menikmati alunan musik dan juga dansanya namun tiba-tiba, Mey menghentikan gerakan berputarnya hingga tubuhnya terjatuh ke lantai. Entah kenapa Mey, jadi teringat kejadian saat pesta malam itu, saat dimana Sharon, datang menyiram wajahnya. 


Melihat Mey, terjatuh Elo, begitu panik dan langsung menghampirinya. "Mey, kau baik-baik saja?" Sentuh Elo, yang memeluknya, terlihat begitu khawatir. 


Mey, menghela nafas sejenak, mencoba mengatur deruan nafasnya agar bayangan itu hilang dalam pikirannya. "Aku baik-baik saja," jawab Mey, di barengi dengan senyuman. 


"Apa kau sakit?" 


"Aku tidak apa-apa Elo. Tadi aku hanya pusing saja mungkin karena terlalu lama berputar," Elak Mey. Elo, pun membantu Mey untuk berdiri lalu menuntunnya ke arah meja mereka.


Di luar resto, terlihat sebuah mobil yang masih menunggu dan memantau. Mobil itu terus mengikuti mobil Elo, hingga menunggunya. Di dalam mobil itu terdapat dua sejoli yang masih menunggu Elo, dan Mey, keluar dari resto itu.


"Apa kau yakin itu Mey?" tanya seorang wanita yang tak lain adalah Sharon, yang berada di dalam mobil bersama Marchel. 


"Kita tunggu mereka keluar," jawab Marchel, santai. 


Cukup lama menunggu akhirnya mereka melihat Elo, keluar dari dalam resto itu. Sharon, dan Marchel, pun begitu antusias saat melihat sepasang kekasih yang keluar dari dalam resto tersebut. 


Elo, terlihat begitu romantis, yang terus menggenggam tangan wanitanya hingga mereka berdiam diri cukup lama di depan mobilnya. Sharon, yang berada di dalam mobil pun semakin kepanasan saat melihat keromantisan Elo, pada wanita nya. Hingga saat Elo, membuka topeng keduanya, mata Sharon, membulat sempurna begitu pun dengan Marchel, mereka terlihat begitu kecewa dengan apa yang mereka lihat. Bahkan Sharon, terlihat marah pada Marchel.


"Lihatlah wanita itu bukan Mey." Sharon, benar-benar kecewa karena saat wanita itu membuka topengnya ternyata dia adalah Jilya, bukan Mey. Padahal Sharon, sudah yakin jika Elo, menyembunyikan Mey, di rumahnya. 


"Percuma kita ikuti mereka semuanya sia-sia," ketus Sharon, sambil memukul dasboard mobil di depannya. 


"Ini tidak mungkin, jelas-jelas tadi ku lihat wanita itu Mey, bagaimana bisa jadi lain!" pikir Marchel, dalam hati. 


Marchel, dan Sharon, sudah memantau pergerakan Elo, bahkan mereka menunggu di depan mansionnya. Saat mobil Elo, keluar Marchel, pun segera memacu, kan mobilnya untuk mengikuti kemana Elo, pergi. 


Awalnya Elo, tidak menyadari jika ada sebuah mobil yang mengikutinya. Namun, saat akan sampai di resto, manik matanya tak sengaja menangkap sebuah mobil di belakangnya. Di perhatikannya mobil itu yang terus mengikutinya, Elo, yang selalu tenang berusaha untuk mengajak Mey, bercanda saat dalam perjalanan.


Akan tetapi kedua tangannya fokus mengetik sebuah pesan pada layar ponselnya. Dalam Sekejap pesan pun terkirim.


Di saat sedang bersantai Arkan, tiba-tiba mendapat sebuah pesan dari tuan bosnya. Setelah membuka dan membaca Arkan, pun dengan segera beranjak dari duduknya. Mengambil jacket, dan kunci mobilnya lalu pergi. 


Arkan, telah sampai di sebuah mansion, dia langsung masuk ke dalam mansion itu, cukup lama berada di dalam mansion itu, tak lama kemudian Arkan, pun muncul bersama seorang wanita yang tak lain adalah Jilya. Jilya, mengenakan dres hitam kesukaannya lalu masuk ke dalam mobil Arkan. 


"Arkan, kita mau kemana?" tanya Jilya, yang penasaran.


"Kita akan menemui tuan bos," jawab Arkan, yang fokus menjalankan kemudinya. 


"Untuk apa menemui Elo?" Jilya, masih kesal dan marah itu sebabnya dia tidak mau bertemu dengan Elo. 


"Nanti tuan bos akan jelaskan," jawab Arkan. 


Elo, khawatir jika ada orang yang menyelidikinya, atau mungkin seseorang yang mulai curiga akan kehadiran Mey, yang ternyata masih hidup. Sesampainya di resto, Elo, terlihat santai, dengan pelan tangannya menggandeng tangan Mey, untuk melangkah memasuki resto, namun manik matanya tetap memperhatikan mobil yang sempat mengikutinya dan ternyata mobil itu berhenti tak jauh di belakangnya. 


Yang Elo, khawatirkan jika orang itu utusan dari Farhan. 


Jil, masih terlihat kesal jika melihat Mey, juga Elo, karena mengingatkan pada kejadian pagi itu. Mey, pun merasa gugup saat manik matanya bertemu dengan Jil. 


"Tuan, kami sudah sampai," ujar Arkan, yang duduk di hadapannya begitu pun dengan Jilya. 


"Apa mobil itu masih ada?" tanya Elo, to the point. Sedangkan Mey, merasa bingung tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Arkan, hanya mengangguk sebagai jawaban. 


"Jil."Kini Elo, melirik Jil, yang berada di hadapannya. Namun Jil, langsung memalingkan wajahnya saat Elo, menatapnya. 


"Maaf, untuk yang kemarin," ucap Elo, demikian. "Saat ini aku butuh bantuanmu," lanjut Elo. Membuat Jil, menoleh. 


"Kenapa minta bantuan padaku? Kenapa tidak pada kekasihmu saja," ketus Jil. 


"Akan aku jelaskan nanti. Sekarang aku pinta kalian berdua tukar baju kalian."


"What!" 


"Apa!" 


Mey, dan Jil, sama-sama terkejut, masalahnya mereka harus bertukar pakaian tapi untuk apa? 


"Elo, apa yang kamu bilang? Aku harus bertukar pakaian dengannya!" skak Jil.


"Tapi untuk apa?" tanya Mey, dengan nada lembut. 


Elo, pun menatap satu persatu wanita di depannya secara bergantian. Lalu berkata "Aku akan jelaskan nanti," jawab Elo, singkat. 


Mau tidak mau Mey, dan Jilya, akhirnya menuruti kemauan  Elo. Keduanya jalan bareng menuju toilet. Saat di depan sebuah pintu wc yang berdampingan mereka pun sama-sama terdiam. Keduanya berada dalam pikirannya masing-masing.


"Aku hanya ingin bilang, bahwa aku bukan wanita yang seperti kau pikirkan." Jil, menoleh ketika Mey, berbicara. Mey, masih ingat betul perkataan Jil, saat merendahkannya, saat dimana Jil, mengatakan dirinya hamil.


"Jangan menyimpulkan sesuatu tanpa adanya bukti. Aku bukan wanita yang rendahan seperti itu. Dan tanpa sengaja ucapanmu telah melukai kakak sepupumu. Itu artinya kamu tidak percaya pada Elo, kamu yang mengenalnya lebih lama, seharusnya kamu lebih tahu Elo, seperti apa." 


Jil, tertegun mendengar semua ucapan Mey. Apa yang Mey, ucapkan semuanya benar, seharusnya Jil, lebih mengenal Elo, tidak mungkin Elo, melakukan hal serendah itu. Apa lagi sampai menghamili seorang wanita, jangankan menyentuhnya kepada Jil, saja Elo selalu dingin. 


Brukk,


Mey, menutup pintu dengan keras, membuat Jil, terkesiap. Jil, pun masuk ke kamar mandi sebelahnya lalu menutup pintu itu. Di dalam mereka saling menukar pakaian dan memberikan pakaiannya masing-masing dari atas yang terdapat celah. Setelah selesai keduanya pun keluar bersamaan. 


Jil, dan Mey, pun kembali saling lirik. 


"Aku minta maaf, atas ucapanku waktu itu." Mey, menoleh dan tertegun tidak percaya apa yang sudah dia dengar. Jil, mengatakan 'Maaf' padanya. 


Setelah mengatakan maafnya Jil, pun pergi melewati Mey, begitu saja. Namun Mey, tersenyum karena Jil, sudah mengakui kesalahannya. 


...----------------...


Minal aidzin wal faidzin 🙏🙏


Maaf, nya othor baru up lagi, karena kemarin sibuk di dunia nyata 🤗. Makasih yang selalu nunggu up-nya dari thor jangan lupa dukungannya ya 🙏🤗