
"Siska," panggil Janet
"Ia madam." Sahut Siska, yang menoleh. Matanya terkejut kala melihat seorang pria di belakang Janet. Siska, semakin menutupi wajahnya dengan selendang yang ia pakai. Tubuhnya langsung membelakangi Janet dan Bara.
"Bicaralah dengannya. Aku harap kamu tidak akan menyakiti hatinya." Janet, pun keluar membiarkan Bara dan Siska, untuk berbicara berdua.
Bara, masih diam membeku hingga akhirnya melangkah maju mendekati Siska, yang tengah membelakanginya.
"Ada apa kamu datang kesini? Bukankah kamu jijik melihatku." Perkataan Siska, membuat langkah Bara terhenti. Bara, bingung harus menjawab apa bibirnya beku, dan sulit bicara.
"Aku datang untuk menjemputmu," ucap Bara, gugup.
"Menjemputku! Untuk apa? Kemana saja kemarin saat aku menunggumu dan membutuhkanmu. Kenapa baru sekarang kamu datang menemuiku."
"Aku hanya ingin bertanggung jawab pada calon bayiku, saat ini kamu tengah mengandung tidak baik jika aku membiarkanmu tinggal di tempat orang lain." Siska, tersenyum sinis.
"Jadi kamu khawatir pada bayimu? Tenang saja setelah aku melahirkan bayi ini akan aku berikan padamu. Aku tidak akan membunuh bayi ini kau tenang saja."
"Aku tidak hanya khawatir pada calon bayiku, tapi juga dirimu. Kamu adalah istriku dan masih menjadi istriku."
"Istri bayaran, demi melahirkan anakmu." Perkataan Siska, bagaikan duri yang menusuk hati Bara.
"Cukup Siska. Kenapa kamu jadi seperti ini."
"Kenapa? Kamu yang kenapa, kenapa tiba-tiba kamu datang kesini? Bukankah kamu jijik padaku. Lebih baik kamu pergi jangan mendekati wanita kutukan sepertiku."
"Kamu marah padaku? Maaf, jika aku telah mengabaikanmu. Jujur, aku masih syok melihatmu tiba-tiba berubah."
"Tapi kamu tidak pernah mau mendengar penjelasanku," sanggah Siska. Bara, hanya terdiam memang dirinya sangat salah. Karena tidak mendengar penjelasan dari Siska, dan langsung pergi begitu saja.
Bara, mengayunkan langkahnya perlahan mendekati Siska, yang kini masih diam membelakanginya.
Siska, membelalakan matanya saat sebuah tangan memeluk tubuhnya. Debaran jantungnya saat ini benar-benar berdebar sangat cepat dan berdetak kencang. Nafasnya terasa memburu. Matanya kini mulai mengembun, merasakan pelukan hangat yang selama ini ia rindukan.
"Maaf, kan aku," ucap Bara. "Kita, pulang kembalilah bersamaku."
"Kamu yakin? Apa kamu tidak malu dengan wajahku yang buruk, apa kamu tidak jijik dengan tubuhku?"
"Aku akan mengobati penyakitmu. Aku yakin penyakitmu akan sembuh."
"Tapi bagaimana jika tidak sembuh."
Bara, melepaskan pelukannya lalu membalikan tubuh Siska, untuk menghadapnya. Siska, hanya menunduk tidak berani mendongakan kepalanya karena malu dengan keadaan wajahnya yang sekarang.
"Aku, akan tetap berusaha mencarikan dokter terbaik untukmu. Tidak mungkin tidak ada obat untuk penyakitmu."
"Ini bukan penyakit biasa, tapi ini penyakit yang di sengaja." batin Siska. Siska, dan Janet, sudah berusaha mencari tahu dukun yang pernah di kunjungi Vera. Namun, dukun itu tidak pernah di temukan.
Berbagai cara telah di lakukan bahkan mereka telah mendatangi Vera, agar memberitahukan dimana dukun itu berada. Namun Vera, tetap tidak memberitahukan. Vera, benar-benar ingin hidup Siska, menderita karena menahan malu pada tubuhnya yang di pandang jijik dan hina.
Siska, mendongak memberanikan diri untuk menatap Bara. Begitu pun sebaliknya. "Aku akan pulang denganmu kecuali … kecuali kamu benar-benar mencintaiku."
"Apa kamu mencintaiku?" tanya Siska, untuk yang kedua kalinya.
"Apa kamu tetap mencintaiku dalam keadaanku seperti ini?" tanya Siska, lagi.
Siska, terus menatap mata Bara, yang kini menatapnya. Siska, berharap sekali Bara sangat mencintainya dengan tulus. Bara, masih terdiam, namun tangannya mulai menarik tubuh Siska untuk mendekat. Bara, memeluknya erat, hingga tubuhnya terhimpit.
"Seperti yang aku katakan sebelumnya. Aku akan menerima kekuranganmu apa pun itu. Soal cinta kamu jangan pernah meragukannya aku mencintaimu sangat-sangat mencintamu," ucap Bara, lalu menunduk mengecup bibir Siska, lembut. Perlahan Siska, memejamkan matanya merasakan setiap sentuhan lembut pada bibirnya.
Tiba-tiba sebuah cahaya muncul begitu menyilaukan. Tubuhnya bersinar begitupun dengan wajahnya. Bersama dengan datangnya sinar itu bintik-bintik merah pun perlahan menghilang. Kulit Siska, kembali putih dan mulus bersamaan dengan redupnya cahaya itu.
Begitu pun dengan wajahnya yang kembali seperti semula cantik, mulus, dan halus. Keajaiban benar datang padanya. Kekuatan sihir akan hilang dengan keajaiban sebuah sihir. Seperti apa yang di katakan kekuatan sihir adalah cinta, siapa yang mencintaimu dengan tulus itulah yang akan menyembuhkan lukamu.
Bara, mulai melepaskan pangutan bibirnya begitu pun dengan Siska, yang mulai membuka matanya. Bara, tertegun matanya membulat sempurna. Tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Mata indah, hidung mancung, bibir merah, kulit mulus dan bersih.
"Apa yang terjadi?" ucapan itu lolos begitu saja dari mulutnya. Bara benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi pada Siska, dalam seketika wajah Siska, kembali mulus bintik merah pun hilang tanpa bekas.
"Ada apa?" tanya Siska, yang merasa aneh dengan tatapan Bara.
"Wajahmu."
"Wajahku?" Siska, pun berbalik ke arah cermin untuk melihat wajahnya. Matanya terbelalak tidak percaya dengan apa yang di lihat.
"Wajahku, kulitku." Tak henti-hentinya Siska, meraba dan menyentuh kulitnya. Senyumnya pun mengembang dalam seketika. Dirinya begitu bahagia melihat keajaiban datang padanya.
"Benar apa kata Mey, cinta yang tulus menyembuhkan lukaku," batin Siska, yang sangat beruntung karena Bara, mencintainya dengan tulus.
Bara, langsung memeluk Siska, begitupun dengan Siska, kini keduanya saling berpelukan erat.
****
Hari-hari terus berlalu kini kehidupan Siska, jauh lebih baik. Kehamilannya kini sudah membesar. Hanya tinggal menghitung hari anak mereka akan lahir kedunia.
Bara, yang semakin sibuk dengan pekerjaannya tak pernah lupa menyisakan waktu untuk istrinya. Apalagi saat kehamilan Siska, menginjak sembilan bulan. Bara harus menjadi suami siap siaga.
Berbagai perlengkapan untuk menyambut anak pertama mereka sudah di persiapkan baik itu kamar, pakaian, tempat tidur dan lainnya. Bara dan Siska, begitu antusias menyambit anak pertama mereka.
"Sayang, geser sedikit lebih tengah lagi, kiri-kiri, sedikit ke kanan ya, pas." Siska, terus mengatur posisi tempat tidur untuk bayinya nanti.
"Sudah selesai?" tanya Bara, yang baru saja menggeser ranjang bayi. Di saat sedang menata kamar calon bayinya tiba-tiba Siska, merasakan mulas pada perutnya, rasa yang begitu luar biasa, antara nyeri, linu, panas, dan macam-macam ia rasakan membuat dirinya meringis.
"Ah, aduh … Mas," ringis Siska, yang memegang perutnya.
"Kenapa sayang!" Bara, langsung berlari panik mendekati Siska.
"Sakit Mas, aw … aduh … Mas sakit banget."
"Ya tuhan bagaimana ini, sayang air apa itu?" Bara, melihat seperti genangan air yang membasahi kaki Siska hingga ke lantai marmer.
"Aduh … sakit."
"Apa jangan-jangan kamu mau lahiran sayang." Dengan segera Bara, langsung membawa Siska, ke rumah sakit. Sepanjang jalan Bara, tidak tenang melihat Siska, yang meringis kesakitan. Hingga akhirnya mereka pun sampai di depan rumah sakit.
Siska, langsung di bawa ke ruang bersalin. Rasa panik, gelisah, menjadi satu. Bara, benar-benar tidak bisa diam saat Siska, masih berada di dalam. Berbagai doa dia panjatkan pada yang maha kuasa, berharap bayi dan istrinya selamat dan baik-baik saja.
Di sisi lain Elo, berdiri tak tenang juga menahan rasa gelisah saat menunggu Mey, yang masih berada di ruang UGD. Rasa panik melanda kala Elo mendapati Mey, yang tiba-tiba pingsan dengan segera Elo, membawanya ke rumah sakit.
Lima belas menit lamanya hingga akhirnya pintu UGD pun terbuka. Terlihat Mey, dan seorang dokter muncul dari balik pintu. Elo, langsung mendekat dan bertanya keadaan Mey, langsung.
"Dokter apa yang terjadi pada istriku? Istriku sehat saja, kan dok tidak sakit?"
"Tenang dulu pak Elo, Bu Mey, sehat dan tidak sakit namun ada hal lain yang menyebabkan dia pingsan dan kelelahan."
"Apa itu dokter?"
"Selamat ya pak istri anda saat ini sedang hamil, dan usia kandungannya sudah mencapai 6 minggu."
"Hamil!" tanya Elo, yang melirik Mey. Mey, pun mengangguk dan tersenyum. Elo, benar-benar bahagia. Lama menanti dan sabar menunggu akhirnya tuhan mengabulkan doanya. Tak lama lagi dirinya akan menjadi seorang ayah. Elo, dan Mey, terlihat bahagia dan terus tersenyum.
"Sayang, doa kita terkabul. Kamu hamil."
"Iya sayang aku hamil, sebentar lagi kita akan menjadi ibu dan ayah." Elo, mengeratkan pelukannya mencium Mey, tanpa henti. Mey, juga memeluknya erat.
Oek … Oek …
Suara tangisan bayi terdengar begitu nyaring dan keras, Bara, yang mendengarnya langsung menangis antara haru dan bahagia. Bayinya sudah lahir ke dunia.
Bayi mungil, lucu, dan cantik. Tuhan memberikannya anak perempuan. Rasa haru tidak bisa di tahan lagi. Air mata Bara luluh begitu saja hingga membasahi lantai berkeramik putih. Senyumannya mengembang pada seorang wanita yang kini tengah menggendong seorang bayi di tangannya.
"Putriku, putri kita." Tak henti-hentinya Bara, mengecup kulit bayi yang masih lembut itu. Dan tak henti-hentinya dia berterima kasih kepada tuhan dan kepada wanita yang sudah menjadi istri dan melahirkan anaknya. Lengkap sudah kebahagiaannya cinta, dan keluarga kecilnya.
Kehadiran buah hati mereka membawa berkah dan kebahagiaan tiada tara. Bayi itu terus tersenyum, tertawa walau belum bisa menciptakan sebuah suara. Tangannya yang mungil mencoba meraba ke udara bergerak bebas begitu pun dengan kedua kakinya yang terus di gerakan.
"Siapa namanya sayang!"
"Aurora, Putri Aurora." Bayi itu tertawa seolah menjawab jika itu nama yang indah untuknya.
Dalam waktu bersamaan sebuah cahaya muncul, menyinari tangan mungil itu dalam sekejap cahaya itu redup dengan munculnya sebuah tanda lahir yang menyerupai sebuah brush pada pergelangan tangannya.
...*****...
Terima Kasih reader atas dukungannya, terima kasih sudah setia mengikuti kisah dari Mey, dan Elo, juga Siska, dan Bara. Terima kasih yang sudah memberikan like, komentar, vote, bintang, dan hadiahnya 🥰.
Maaf jika masih ada kekurangan baik dari tulisan, tanda baca, dan juga cerita yang tidak sebagus novel lainnya. Insya Allah kedepannya akan lebih baik lagi.
Berakhirnya The Magic Face Brush bukan berarti berakhirnya karya author ya, masih banyak karya author yang lain dan jangan lupa mampir ya 🥰. Tunggu juga karya author yang baru ya 🥰.
Salam author
❤❤❤