
"Lepaskan … lepaskan."
Sharon, dan Farhan, pun di bawa polisi membuat semua karyawan heran melihat bosnya di bawa paksa oleh beberapa anggota polisi itu.
Tak sedikit dari mereka saling berbisik dan menatapnya. Saat tiba di lobby Sharon, dan Farhan, di sambut dengan beberapa orang yang memegangi kamera, cahaya dari kamera itu pun menyilaukannya. Para wartawan sudah menunggu mereka sehingga terlihat jelas wajah keduanya.
Polisi pun langsung memasukan mereka berdua ke dalam mobil. Sontak suasana jadi riuh, mobil pun tidak bisa melaju karena di himpit para wartawan. Sharon, dan Farhan, hanya bisa diam karena menahan malu.
Di sisi lain Mey, yang terlihat gugup saat menghadap para kliennya. Elo, yang berada disana langsung merangkulnya, menguatkannya untuk tetap percaya diri. Elo, pun membantu Mey, menutup meeting tersebut.
"Seperti yang sudah dikatakannya, dia Meisie Callia, putri tunggal Farel Antares dan pewaris tunggal Antares grup. Kalian pun sudah menyaksikan bagaimana kedua bos kalian di bawa oleh polisi. Mulai saat ini direktur utama Antares grup adalah Meisie Callia." tunjuk Elo, pada Meisie, semua orang di dalam ruangan meeting pun bertepuk tangan dan menunduk hormat pada Mey.
"Saya akhiri meeting ini sekian dan terimakasih." Elo, pun membawa Mey, pergi dari ruangan itu.
Saat berada di lobby semua orang memperhatikannya, tidak ada yang mengenal siapa dirinya. Namun, desas desus pun sudah mulai tersebar bahwa Mey, adalah putri dari pemilik Antares grup, yang sudah lama meninggal.
Kabar itu pun memgejutkan para karyawan yang sudah lama bekerja disana. Karena setahu mereka jika bos dan keluarganya ikut tewas pada kejadian kebakaran lalu.
Tapi sekarang mereka melihat putri semata wayang sang pemilik perusahaan datang, sedangkan dulu mereka masih ingat gadis kecil yang selalu di gendong sang bos jika datang ke perusahaan.
Karena Farel, selalu membawa Mey, dalam acara apa pun. Hingga meeting sekali pun.
"Non, Mey." Seorang wanita tua menyentuh lembut pipinya namun Mey, tetap diam. Membiarkan wanita itu menyentuhnya.
"Ibu mengenal saya?" tanya Mey, namun wanita itu hanya mengangguk sedih.
"Pastel," ucap wanita itu.
"Pastel!" Mey, merasa heran.
Saat kecil dulu, setiap kali ikut bersama papanya ke kantor Mey, selalu bermain dengan seorang wanita yang bekerja sebagai cleaning servis. Wanita itu selalu membawa kue pastel dari rumahnya dan Mey, sangat menyukainya.
"Uti … uti …," panggil Mey, kecil saat berada di party. Mey, selalu pergi diam-diam ke party tanpa sepengetahuan ayahnya.
"Nona Mey, ada apa? Duduklah." Wanita itu pun membantu Mey, duduk karena saat itu tubuh Mey, masih kecil, sehingga harus di gendong saat akan duduk di kursi.
"Uti, aku mau kue yang kemarin," ucap Mey, lucu dengan gayanya.
"Pastel?" Mey, pun mengangguk seraya tersenyum. Wanita itu pun mengambil kue pastelnya di dalam tas, memberikannya kepada Mey.
"Mm … enak." Wanita itu hanya tersenyum saat melihat Mey, begitu lahap memakan pastelnya.
"Rupanya kau disini ya!" Tiba-tiba seorang wanita yang berparas tegas, berpenampilan kantoran. Dia adalah sekretaris ayahnya yang selalu menjaga Mey, jika sedang berkunjung ke perusahaan.
"Dasar anak nakal. Ayo, kita ke papamu." Wanita itu langsung menggendong Mey. Mey, hanya melambaikan tangan pada wanita OB saat dirinya hendak menjauh.
Bayangan itu seketika terlintas, namun Mey, belum bisa mengingatnya. Wanita itu hanya menatap kepergian dengan sedih, di balik kesedihan yang ia pancarkan, ada kebahagiaan yang tak terlihat.
Kebahagiaan saat mengetahui Mey, masih hidup dan tumbuh dewasa.
Saat di depan lobby, para wartawan langsung mengukungnya, mereka mengarah, kan setiap kamera yang di pegangnya, berlomba-lomba untuk bertanya tentang kebenaran yang terungkap.
"Apa anda benar wanita yang bernama Mey?"
"Bagaimana anda bisa selamat dari kebakaran itu? Sedangkan anda sudah di nyatakan meninggal bagaimana tanggapan anda tentang hal ini?"
Para wartawan terus mendekat dan bertanya hingga tubuh Mey, terdorong dan hampir terjatuh. Beruntung Elo, berada di belakangnya yang langsung memeluknya.
Elo, terus mendekap Mey, hingga membuka tuxedonya untuk melindungi kekasihnya itu.
Sontak, para karyawan pun heboh dan langsung mengabadikan momen itu. Tak sedikit dari mereka yang penasaran akan hubungan keduannya.
"Bukankah dia Elon Giedon? Pengusaha muda itu," ucap salah seorang karyawan membuat suasana jadi riuh.
"Tuan, tuan apa hubungan anda dengan wanita ini?"
"Apa kalian punya hubungan spesial?"
Berbagai pertanyaan di lontar, kan para wartawan. Namun Elo, mengabaikan mereka semua lalu membawa Mey, pergi dan masuk ke dalam mobilnya. Saat para wartawan akan menghadang mobilnya dengan segera Arkan, dan petugas keamanan menahannya.
"Saya mohon jangan ganggu tuan saya," ucap Arkan, namun para wartawan itu tetap memaksa.
"Tuan saya akan memberikan klarifikasi besok, jadi saya harap kalian bersabar dan menunggu hari esok. Kami akan mengabari kalian lagi. Untuk hari ini cukup sampai disini dan kalian bisa pergi." Jelas Arkan, membuat para wartawan pun bubar. Arkan pun pergi menuju mobilnya.
"Huh, sungguh hari yang melelah, kan," ucap Arkan, seraya melonggarkan dasi yang terikat di lehernya.
"Akhirnya masalah pun selesai. Waktunya untuk kembali bekerja." Arkan, pun melajukan mobilnye menuju El-Giedon Industri.
****
Di dalam mobil Mey, duduk bersandar seraya memejam, kan kedua matanya. Elo, yang melihat itu hanya mengelus lembut pucuk kepalanya. Membuat Mey, merasa nyaman.
"Apa kau ingin pergi ke suatu tempat?" tanya Elo, yang tetap fokus memutar bundaran stir agar mobilnya tetap melaju.
Mey, yang mendapat pertanyaan itu langsung menoleh. "Aku ingin pergi ke makam papa dan mama." Elo, tersenyum lalu mengangguk.
Elo, pun melajukan mobilnya menuju pemakaman.
****
Di tempat lain, Sharon, yang berpakaian biru seperti para napi pada umumnya, di masukan ke dalam sel tahanan. Yang di satukan dengan para napi yang berwajah seram, galak, bahkan tubuhnya pun sangat besar darinya.
Para napi itu pun mulai mengganggunya.
"Hei, lihatlah mantan pembunuh," ujar salah seorang napi. Sharon, masih diam.
"Siapa yang kau bunuh hah! Suamimu? Ayahmu? Anakmu?" Para napi pun tertawa seolah mengejeknya.
Seorang napi wanita yang bertubuh besar, tinggi dan rambut panjang berantakan seperti singa. Mendekat ke arahnya dia terkenal sangat kejam, dia ketua geng mereka.
"Wajahmu sangat mulus," ucap wanita itu yang mencengkram dagu Sharon.
"Kau, pasti orang kaya ya hah! Berikan aku uang," pintanya.
Ck, Sharon, pun berdecak.
"Sejak kapan napi punya uang! Kamu pikir aku kemari untuk memberi kalian uang. Kau itu napi atau pengemis."
Brak,
Wanita itu langsung mendorong Sharon, ke dinding, tatapan amarahnya terlihat jelas, tubuh Sharon, pun sedikit terangkat karena di junjung wanita itu tetapi Sharon, dia tidak tinggal diam, Sharon, pun menendang perut wanita itu hingga akhirnya wanita itu melepaskannya.
Bugh,
Sakit, itu yang di rasakan Sharon, saat tubuhnya terbanting ke bawah.
"Kau berani padaku." Wanita itu kembali mengangkat tubuh Sharon, hingga terbangun namun kali Sharon, melawannya.
"Untuk apa aku takut. Aku juga bisa membunuhmu saat ini juga."
"Sialan."
Aaa …
Kedua orang itu pun saling bergulat, hingga membuat rusuh satu sel.
Berbeda dengan Sharon, yang pemberani. Farhan, yang sudah tidak muda lagi hanya pasrah saat di jadikan budak oleh para napi yang satu sel dengannya.