The Magic Face Brush

The Magic Face Brush
Tanam benih



Siska, sudah sampai di sebuah gubuk yang terletak di tengah-tengah sawah. Entah punya siapa gubuk itu Siska, pun tidak mengetahuinya. 


Semalam setelah dirinya sadar yang dia lihat hanyalah gubuk kosong tanpa penghuni. Siska, di buang ke desa terpencil yang jauh dari kota. Tanpa bekal apa pun. Namun beruntung Siska, menemukan beberapa pakaian yang ada di gubuk itu, sepertinya gubuk itu sudah lama kosong itu terlihat dari barang-barang disana yang sudah berdebu.


Siska, membuka selendang yang menutupi wajahnya, di simpannya di depan cermin beserta brush pemberian dari anak kecil tadi. Siska, menatap wajah dan seluruh tubuhnya yang begitu mengerikan. 


"Semua orang memandangku dengan jijik, semua karena kamu Vera, apa yang kamu masukan pada air mandiku, sehingga tubuhku seperti ini," 


Di sisi lain Vera, yang sedang bahagia karena tidak ada Siska, di hidupnya. Dengan bergelayut manja Vera, membawa lelakinya menuju kamarnya, tanpa Siska, dialah ratu disana semua lelaki kembali menatapnya. 


"Aku akan memuaskanmu malam ini" 


"Aku menyukai dirimu," 


Vera, dan lelakinya pun langsung menjatuhkan tubuh mereka di atas ranjang, senyuman indah terpancar dari wajah keduanya, dalam seperkian detik pertarungan panas pun dilakukan.


***


Siska, yang baru selesai melakukan ritual mandinya, berbaring di atas tikar yang menjadi alas tidurnya. Siska, pun merebahkan tubuhnya dengan alas bantal yang terbuat dari tumpukan kain.


 Saat tubuhnya mulai berbalik ke arah samping Siska, di kejutkan dengan dua ekor kodok yang berdiam diri di atas tikarnya, mungkin kodok itu masuk dari celah-celah bilik. 


Sontak dirinya langsung terbangun karena takut, Siska, pun mencari sebuah barang yang bisa mengusir kodok itu. Namun, tidak ada barang apa pun yang bisa di gunakan. Siska pun melihat sebuah brush yang tersimpan di depan cermin, langsung dia ambil lalu di sapu-sapukan di atas tikar untuk mengusir kodok itu. 


Akhirnya kodok itu pun pergi, Siska pun kembali tertidur. Namun, face brush itu tiba-tiba memancarkan cahayanya, dalam seketika tikar itu pun berubah menjadi sebuah ranjang tidur dan kasur yang empuk, setelahnya cahaya itu pun kembali padam. 


*


*


Di malam yang dingin nan sejuk, membuat sepasang suami istri tak rela melepas, kan pelukannya. Elo terus memeluk Mey, dengan hangat. 


"Sayang," 


"Hm," jawab Elo yang membenamkan wajahnya di leher jenjang milik Mey. 


"Sepertinya mama dan papa sangat menginginkan cucu, tapi aku tidak bisa memberikannya," 


"Lupakan masalah itu untuk saat ini, aku ingin kita menghabiskan waktu berdua tanpa ada beban pikiran yang mengganggumu." 


"Tapi bagaimana jika aku tidak akan bisa memberikanmu keturunan?" 


Setahun sudah mereka berumah tangga, namun tuhan belum memberikan mereka keturunan. Berbagai cara mereka lakukan konsultasi, pengobatan herbal, dan promil yang selalu mereka ikuti namun semua itu belum membuahkan hasil. 


"Semua butuh waktu," ucap Elo, yang selalu sabar menghadapi sikap Mey, yang seperti itu. 


"Lebih baik kau siap-siap karena aku akan menanamkan benih di rahimmu," bisik Elo, yang langsung mendaratkan bibirnya di atas bibir ranum milik istrinya. 


Mey, yang mendapat serangan itu langsung membalas ciuman hangatnya. Lama mereka saling menautkan, bibir Elo, pun mulai menuruni leher jenjangnya membuat Mey, sedikit men-des-ah. Mengeluarkan suara-suara laknatnya. 


Nafasnya semakin menggelora saat bibir Elo, tiba di bagian gunung kembarnya, de-sa-han pun semakin terdengar saat Elo, mengecup, menyesap, dan me-***** benda kecil merah itu.  


Kini bibir Elo, kembali turun menelusuri perutnya yang rata hingga sampa tiba di bawah mahkotanya, Elo, pun memainkan lidahnya di bawah sana. 


"Sayang," 


Mey, semakin terhayut seolah meminta lebih dari itu. Elo, yang mendengar Mey, terus memanggilnya dengan segera melepas seluruh pakaiannya. Kembali ke atas, mengecup bibir ranumnya. 


"Aku, akan melakukannya sayang," bisik Elo, yang kembali mengecupnya. 


Ah, 


Suara jeritan terdengar merdu, saat Elo, mulai memasukan pedangnya, hentakan demi hentakan ia lakukan, membuat Mey, semakin erat memeluk erat punggungnya.


Peluh keringat, saling bercucuran, nafasnya mulai terasa sesak, hingga tibalah di akhir pelepasan.


"Sayang," 


"Kita lakukan sama-sama," bisik Elo. 


Keduanya saling men-des-ah saat pelepasan tiba. Semburan vanila pun ia keluarkan dan lepaskan di dalam rahimnya. Mey, terlihat sangat lelah dan Elo, langsung mencabut kembali pedangnya. 


"Sayang, cepatlah tumbuh di rahim ibumu," bisik Elo, seraya mengecup perut rata Mey, dengan harap penanaman benih kali ini akan membuahkan hasil. 


Mey, terlihat lelah dan langsung tertidur, Elo, pun membaringkan tubuhnya di samping Mey, lalu memeluknya. 


Maaf othor yang khilaf dan nakal 🙏😁


*


*


Siska, mersa berada di alam mimpinya, kasur yang empuk membuatnya tidur begitu lelap hingga suara kokokan ayam pun terdengar hingga membangunkannya. 


Matanya mengerjap, lalu bangun dan duduk seraya menggerakan otot-ototnya, matanya sedikit menyipit saat melihat kilauan cahaya yang berasal dari mentari pagi. Siska pun berangsrut lalu turun dari ranjangnya. 


Seketika bola matanya membulat dan terbuka lebar, Siska, merasakan ada sesuatu yang aneh pagi ini perlahan dirinya menunduk melihat ke bawah lantai yang dimana kedua kakinya mengayun. 


Kini manik matanya melirik sekilas, ke arah tempat tidurnya, Siska, pun terkejut hingga menutup mulutnya yang menganga lebar, alas tikar yang semalam ia gunakan untuk tidur berubah menjadi sebuah ranjang tidur yang cantik, dan kasur yang empuk. 


"Apa ini mimpi? Apa aku berada di tempat lain" gumam Siska, yang kembali menyapu setiap sudut rumah itu yang tak berubah sedikit pun. 


"Sejak kapan ada kasur disini? Perasaan semalam aku tidur di atas tikar, tapi … kenapa ada ranjang tidur disini?" 


Siska, merasa aneh. Namun keanehan itu terjadi karena sebuah brush yang ia miliki. 


"Aneh! Ini bukan mimpi, kasurnya asli dan empuk, apa aku berhalusinasi?" 


Siska, masih belum menyadari keajaiban pada brush itu. 


Siska, merapikan tempat tidurnya yang baru, lalu pergi ke kamar mandi setelahnya ia pun keluar dengan berpakaian rapi. Siska, kembali teringat ucapan anak kecil waktu itu, yang memberikannya sebuah brush dan berkata 'Ini untuk mengobati luka kakak' ucap anak itu. 


Mengingat ucapan itu Siska, mengambil brush itu di lihatnya dalam-dalam tidak ada yang aneh, namun rasa penasarannya belum hilang. Siska ingin membuktikan ucapan anak itu, bahwa brush itu bisa menyembuhkan lukanya, Siska pun menyapu-nyapukan brush itu ke area wajah dan seluruh tubuhnya. 


"Katanya ini obat, tapi … tidak ada perubahan sama sekali," ucapnya yang menatap cermin. 


"Mungkin belum. Lebih baik aku pergi, aku ingin menemui wanita kemarin, semoga dia masih ada di vila itu." 


Siska, pun menaruh brushnya lalu pergi meninggalkan gubuk itu. Saat dirinya keluar dari gubuk itu, tubuh dan wajahnya pun berubah, Siska, kembali menjadi gadis cantik tanpa bintik-bintik merah di area wajah dan tubuhnya.


...----------------...


Jangan lupa vote mingguannya nih! Kasih buat TMFB oke👌. Like, vote, komentarnya jangan lupa ya readers 🥰😘