
"Tapi bagaimana dengan paman? Apa paman akan di bebaskan?" tanya Mey, dengan tatapan nanar.
"Saya akan tetap berusaha, agar pak Farhan, tidak di bebaskan," jawab pengacara.
"Jika kasus ini belum cukup bukti, bagaimana jika, kasus 10 tahun lalu, saat kebakaran yang di sengaja. Bukankah paman yang membakar rumahku dulu."
Setelah mengetahui siapa dalang dari kebakaran 10 tahun lalu, yang merenggut kedua orangtuanya Mey, ingin mendapatkan keadilan. Jika dulu pamannya masih bebas di luaran sana tapi tidak untuk sekarang, Mey, ingin membuka kembali kasus itu.
"Bagaimana pun mama dan papa harus mendapat keadilan, aku ingin kasus ini di buka kembali," lanjut Mey.
"Akan saya usahakan," jawab si pengacara.
"Tapi … bukankah saksi sudah meninggal? Hanya nek Tini, yang tahu dan melihat peristiwa itu, mungkin Nek, Tini satu-satunya saksi," ucap Arkan, menyampaikan keraguannya. Karena hanya Tini lah satu-satunya saksi.
Namun, tanpa di duga sang pengacara menyanggupinya dan akan membuka kembali kasus yang sudah lama di tutup. Semua berkas dan kasus peninggalan Jimmy, semua ia pelajari termasuk kasus kematian Farel, saat itu, juga kasus kematian Edwin Antares saat itu.
Andre, sebagai pengacara merasa iba dan ikut berduka dengan kematian Jimmy, saat itu. Dan sebagai janjinya pada Elo, dia akan membantu keluarga Mey, untuk mendapatkan keadilan. Semua kasus yang Jimmy, tangani ia ambil alih.
Dari mulai kebakaran sepuluh tahun lalu, kematian Edwin, sepuluh tahun lalu, kebakaran di rumah Tini, dan misteri kematian Tini. Semua ia tangani.
"Anda yakin pak? Apa anda yakin kita akan berhasil memenangkan sidang ini? Itu kejadian sudah sangat lama." Arkan, kembali meragukan ucapan Andre. Namun, Andre begitu tenang dan hanya menjawab dengan senyuman.
Kembali ke beberapa bulan yang lalu
Saat Elo, meminta Andre, untuk menyelidiki kematian Jimmy, Andre, tak sengaja menemukan berkas-berkas di dalam mobil yang Jimmy, gunakan saat kecelakaan itu terjadi. Semua berkas tentang kasus yang Jimmy, tangani ada di dalamnya. Saat itu, bertepatan dengan Jimmy, yang pulang dari kediaman Tini, untuk menemui Mey.
Jimmy, mengatakan semuanya bahwa dia adalah pengacara papanya, dan Jimmy, pun mengatakan jika kebakaran yang terjadi sepuluh tahun lalu, karena ada kesengajaan.
Andre, juga menemukan sebuah rekaman saat di putar ternyata itu rekaman pembicaraan Jimmy, dan Tini. Yang menceritakan kisah kelam yang terjadi di sepuluh tahun lalu, bahwa Tini, melihat jelas Farhan, berada di tempat itu sebelum kejadian.
Tini, pun melihat Farhan, menyiramkan cairan bensin ke rumah Farel, sebelum pada akhirnya Farhan, membakar rumah itu. Hingga terjadilah kebakaran hebat yang menyebabkan kedua orangtua Mey, meninggal.
"Saya, mendengarkan semua rekaman itu. Dan bukan hanya nek Tini, sebagai satu-satunya saksi tapi ada satu wanita yang juga mengetahui kejadian itu," jelas Andre.
"Siapa?" Mey, Elo, dan Arkan, pun penasaran siapa saksi itu. Mereka semua menatap Andre, menunggu untuk jawaban dari pertanyaannya.
"Lastri, nama wanita itu Lastri."
Senyum Mey, terlihat merekah, seperti sudah mendapatkan jawabannya. Mey, begitu senang karena masih ada saksi yang bisa di andalkan. Akan tetapi, mereka semua tidak tahu dimana bu Lastri tinggal. Apa dia masih ingat atau tidak. Namun, Mey, masih ingat dan mengenali wajahnya karena saat itu Lastri dan Tini, yang menolongnya.
"Aku, akan coba mencari tahu dimana bu Lastri tinggal," ucap Mey, yang berharap akan menemukan Lastri.
"Aku akan membantumu, kita cari sama-sama," ucap Elo, yang menggenggam erat tangan Mey, hingga mata keduanya pun saling bertatapan, dalam seketika senyum Mey, pun merekah. Mey, merasa beruntung ada orang yang selalu mendukungnya.
Namun tanpa sadar itu mengganggu kedua orang di depannya. Andre dan Arkan, pun merasa di acuhkan. Hingga keduanya membunyikan suara deheman khas suara seraknya, seolah radang tenggorokannya terganggu. Mey, dan Elo, pun salah tingkah hingga melepaskan genggaman tangannya.
"Arkan, jika tenggorokanmu sakit lebih baik kau minum," cibir Elo, dengan tatapan tajamnya.
"Arkan," panggil Elo, membuat langkah Arkan, terhenti.
"Jangan lupa lakukan tugasmu," ujar Elo, saat Arkan, menoleh.
"Siap Tuan bos." Arkan, pun melangkah keluar dan pergi dari ruangannya. Merasa, tidak enak Andre, pun pamit undur diri.
"Sepertinya saya juga harus pergi, untuk mempersiapkan sidang besok."
"Ya, sampai jumpa di pengadilan," ucap Elo, Andre pun hanya mengangguk.
"Terima kasih pak Andre," ucap Mey.
"Sama-sama," jawab Andre, yang berdiri dari duduknya. Namun, saat Andre, akan melangkah dia teringat sesuatu, Andre pun berbalik lalu berkata.
"Oh iya satu lagi, saya teringat sebuah wasiat, tentang perjodohan. Sepertinya kalian sudah siap untuk dinikahkan." Andre, tersenyum lalu pergi. Andre, pun membaca sebuah wasiat dari Edwin, Antares untuk menjodohkan kedua cucunya anak dari Farel, dan Sarah.
Kini tinggal Mey, dan Elo, yang ada di ruangan itu. Mey, terlihat gugup saat Andre, berkata tentang perjodohan itu. Namun, tidak dengan Elo, yang malah tersenyum.
"Apa kau ingin kita segera menikah?"
"Ya! Hm … maksudku." ucap Mey, tertahan.
"Kenapa gugup! Aku hanya bertanya apa kau sudah siap menikah." Hembusan nafas Elo, begitu terasa saat berbisik di telinganya. Debaran jantung pun terpompa lebih cepat.
"Aku tidak gugup. Aku hanya …." ucap Mey, tertahan saat Elo, menyentuh wajahnya. Membuat mata keduanya saling bertemu. Walaupun bukan untuk pertama kalinya Mey, merasa jantungnya berdetak lebih cepat saat bertatapan seperti ini. Apalagi wajah kedua sangat dekat.
Dalam seperkian detik, kedua bibir mereka pun menyatu. Perlahan Mey, mulai memejamkan matanya, sentuhan lembut yang Elo, berikan membuatnya terbuai. Hingga ciuman itu semakin dalam, sangat dalam.
****
Sidang pertama sudah di mulai. Mey, di temani Elo, untuk mengikuti sidang ini. Semua orang terlihat tegang, mereka semua duduk dengan tenang untuk menunggu kehadiran para jaksa dan hakim.
Tak lama kemudian hakim dan jaksa pun datang lalu duduk kursi kebesarannya. Tak berselang lama pintu ruangan itu pun terbuka lebar, terlihat Farhan, yang berdiri di ujung pintu sana dengan kedua tangan yang masih di borgol dan di tuntun kedua petugas polisi yang melangkah masuk memasuki ruangan sidang.
Saat melangkah, Farhan pun melewati Mey, yang duduk kursi-kursi yang berjajar. Farhan, melirik sekilas begitu pun dengan Mey, yang menatap singkat pamannya itu. Sebelum akhirnya Farhan, pun di dudukan si salah satu kursi yang berada di tengah-tengah hakim.
Sidang pun di mulai.
"Sidang di mulai," ucap hakim, memukul palunya sebanyak tiga kali. Mey, hanya bisa membuang nafasnya kasar, dan berharap semua berjalan lancar.
...****...
Kira-kira keputusan sidangnya seperti apa ya!