
Di sebuah ruangan sepasang suami istri sedang bercengkrama seraya menikmati teh hangatnya. Wajah si istri begitu bahagia saat menyampaikan keinginannya entah apa yang sedang ia sampaikan pada suaminya itu.
"Pa, Mama sudah bertemu dengan gadis itu anaknya Farel. Dia cantik dan baik, bahkan mereka saling mencintai bagaimana jika kita segerakan perjodohan ini?" Sarah, begitu antusias ingin segera menikahkan Elo dan Mey. Tapi tidak dengan Rakka, yang tak begitu antusias.
Perlahan Rakka, meminum tehnya lalu di letakannya kembali cangkir itu di depannya. "Apa kamu yakin jika gadis itu anak dari Farel?" Rakka, menatap Sarah, seolah meragukan ucapan istrinya itu.
"Kamu meragukanku? Aku sangat mengenal gadis itu, jadi aku yakin bahwa dia adalah Mey, anak dari Farel yang selama ini kita cari."
"Apa buktinya?" Tatapan Sarah, berubah menjadi tidak suka pada suaminya apalagi Rakka, meragukan ucapannya.
"Bukti! Apa perlu bukti? Hatiku tidak pernah salah jika menilai seseorang. Kamu tahu saat Sharon, datang dan mengatakan bahwa dia adalah cucu dari keluarga Antares grup yang akan di jodohkan dengan putra kita, hatiku sama sekali tidak tergerak tak ada sedikitpun kepercayaan padanya." Kini suasana menjadi tegang Sarah mencoba untuk meyakinkan.
"Aku bukannya meragukan ucapanmu. Hanya saja kita harus lebih berhati-hati, banyak orang yang akan menjadikan kesempatan ini untuk masuk ke dalam keluarga kita. Aku tidak ingin salah memilih, dulu kita hampir saja menikahkan Elo, dengan wanita yang salah yang kita anggap sebagai calon yang sudah di pilihkan oleh papa. Namun, kita salah dia bukanlah wanita itu."
Keraguan Rakka, bukan tanpa alasan. Bahkan dia ingat betul saat dirinya memaksa Elo, untuk menikah dengan Sharon. Rakka, tidak ingin itu terulang lagi.
"Kita bisa saja salah memilih, tapi putra kita tidak akan salah," elak Sarah. "Aku tidak punya bukti untuk meyakinkanmu jika Mey, adalah gadis yang kita cari. Tapi aku punya saksi yang bisa membuatmu yakin." Rakka, menatap Sarah, sangat dalam karena melihat keyakinan pada istrinya.
"Baik, temukan aku dengan saksi itu," ucap Rakka, membuat Sarah, menarik senyumnya.
"Aku yakin, kamu akan percaya setelah bertemu dengannya." Rakka, hanya membalas dengan senyuman.
"Aku ingin segera mewujudkan amanat dari papa. Bagaimana pun itu sebuah wasiat yang harus di segerakan. Hatiku akan lebih tenang jika sudah menikahkan mereka berdua."
"Siapa yang akan menikah?" Suara lembut seorang wanita mengejutkan sepasang suami istri itu.
"Jilya," panggil Sarah. Jilya, langsung duduk di depan mereka berdua.
"Tante, Om, apa yang kalian bicarakan tadi siapa yang akan menikah apakah Elo? Kakakku akan menikah? Dengan siapa? Aku harus tahu calonnya seperti apa karena aku tidak ingin kakakku salah memilih."
Berbagai pertanyaan di lontarkan Jilya, Sarah, hanya memutar bola matanya malas, dan hanya senyuman yang Sarah tunjukan. Jilya, memang sangat dekat dengan Elo, dan hanya Jilya, lah wanita yang mendapat perhatian Elo.
"Mau kemana sepagi ini?" tanya Sarah.
"Tante, bukannya jawab pertanyaanku malah balik tanya." Sarah hanya tertawa renyah.
"Memangnya jika kakakmu akan menikah kenapa?" Kini Rakka, yang bertanya.
"Kalian merencanakan pernikahannya tapi tidak bertanya padaku! Aku ada disini kalian tidak menganggapku." ketus Jilya, seraya mengerucutkan bibirnya.
"Jilya, Elo, sudah dewasa cepat lambat dia akan segera menikah. Lagi pula gadis ini adalah pilihan dari kakekmu, mereka sudah di jodohkan sejak lama," jelas Rakka.
"Apa wanita sihir itu? Aku tidak setuju jika kakakku di jodohkan dengannya." Jilya, hanya tahu jika Sharon, yang di jodohkan dengan Elo. Jilya memang sangat menentang perjodohan ini dari dulu, karena sangat tidak menyukai Sharon.
"Om, Tante, kenapa sih harus di jodohkan. Biarkan saja kakakku mencari pendampingnya sendiri. Jika di amerika mungkin mereka akan menentang perjodohan orang tuannya."
"Jilya, mereka memang di jodohkan, tapi Elo, sangat mencintai gadis itu apa itu salah?" ucapan Sarah, membuat Jilya, penasaran akan gadis yang di cintai kakaknya, karena selama ini Elo, tidak pernah menaruh hati pada siapa pun.
"Dari mana Tante, tahu jika kakakku mencintainya? Aku tahu betul kakakku, dari dulu dia sangat membenci wanita sihir itu." Jilya, masih menganggap bahwa Sharon, lah wanita yang di cintai Elo.
"Ini wanita yang berbeda. Jika kamu ingin melihatnya datanglah ke rumahnya," ucap Sarah, seraya menarik senyumnya.
"Rumah! Apa mereka tinggal serumah? Oh tidak mungkin, kakakku mengajaknya tinggal bersama, bahkan aku saja tidak pernah di ajak ke rumahnya ini tidak adil."
Sarah, dan Rakka, tertawa renyah melihat sikap Jilya, yang seperti cemburu pada kakaknya. Bagaimana tidak, Jilya, memang belum pernah masuk ke dalam rumah yang di tempati Elo, bahkan di ajaknya tidak pernah, wajar saja kalau Jilya, terkejut saat mengetahui Elo, membawa seorang wanita hingga mengajaknya tinggal bersama.
"Kamu mau kemana?" tanya Sarah, saat Jilya, bangun dari duduknya.
"Aku, akan menemui kakakku. Aku akan melihat seperti apa wanita itu," ketus Jil, yang langsung melangkah pergi.
****
"Wangi apa ini?" ucap Elo, yang menyibakan selimutnya lalu turun dari ranjangnya dan langsung keluar dari kamarnya mengikuti aroma masakan yang begitu harum.
Elo, berjalan menuruni anak tangga dengan rambut yang masih berantakan dan wajah yang kusut karena bangun tidur namun itu tidak membuat ketampanannya pudar. Elo, berjalan lebih dalam memasuki area dapurnya. Di lihatnya seorang gadis yang masih mengenakan piyama tidurnya dengan rambut yang di ikat diatas kepalanya membuat leher jenjangnya terlihat begitu mulus.
Gadis itu tak lain adalah Mey, yang masih sibuk dengan kegiatan memasaknya. Tanpa menyadari lelaki yang terus memperhatikannya. Elo, terus tersenyum membiarkan Mey, melakukan kegiatannya. Baginya ini pemandangan indah di pagi hari yang pertama kali di lihatnya.
'Beginikah jika memiliki seorang istri? Yang setiap paginya akan memasakan untuknya' pikir Elo, dalam hatinya.
"Tuan," seruan seorang pelayan mengejutkan lamunannya.
"Ada apa?" tanya Elo, dengan wajah datarnya.
"Maaf, Tuan saya tidak pernah menyuruh nona Mey, untuk memasak tapi saya tidak bisa melarangnya Tuan." Pelayan itu begitu ketakutan jika Tuannya akan marah karena melihat kekasihnya yang sedang mengerjakan tugasnya.
"Tidak apa-apa, pergilah!" titah Elo, tanpa melirik sedikit pun ke arah pelayan tatapannya masih tertuju pada wanita yang sedang memasak di depannya.
"Tuan tidak marah!" pelayan itu kembali bertanya.
"Apa kau ingin aku memarahimu?" Tatapan Elo, menjadi tajam begitu menakutkan.
"Tidak Tuan, kalau begitu saya permisi." Pelayan itu undur diri. "Tidak biasanya. Ada apa dengan Tuan hari ini? Tapi syukurlah dia tidak marah," ucap pelayan itu yang berlalu pergi.
"Wanginya harum apa yang kau masak?" tanya Elo, yang mengejutkan Mey, beruntung Mey, sudah selesai memasak jika tidak mungkin masakannya akan berantakan.
"Kau sudah bangun! Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu," ucap Mey, dengan senyuman.
"Hm … calon istri yang baik." Pipi Mey, kembali bersemu merah perkataan Elo, mampu membawanya terbang setinggi mungkin.
"Apaan sih!" Mey, sudah tidak bisa menyembunyikan lagi jika perasaannya sudah melambung tinggi.
"Loh, memangnya kenapa?" ucap Elo, sambil menatap Mey, penuh arti .
"Lebih baik kita sarapan selagi nasinya masih hangat." Mey, mengalihkan pembicaraan. Lalu membawa dua piring nasi goreng yang sudah di masaknya ke meja makasarapann. Elo, hanya mengekorinya lalu duduk di kursinya.
"Kau tidak sarapan?" tanya Elo, karena melihat Mey, tidak memakan sedikit pun masakannya.
"Tidak, kau makan saja dulu. Apa rasanya enak?"
"Selama mencicipi masakanmu rasanya tidak berubah." Mey, tersenyum melihat Elo, memakan sarapannya dengan lahap.
"Aku akan mengantarkan sarapan untuk nenek," ucap Mey, yang beranjak dari duduknya.
"Jadi itu untuk nenekmu?" Elo, berpikir itu sarapan Mey, karena hanya ada dua piring saja di atas meja namun ternyata Mey, menyiapkannya untuk neneknya.
"Iya, ini untuk nenek. Aku ke kamar nenek dulu ya!"
"Tunggu," sanggah Elo, yang menarik tangannya. "Duduklah," titah Elo, Mey, pun menurut.
"Ada ap-" ucap Mey, tertahan saat sebuah sendok membungkam mulutnya.
"Makanlah dulu." perlahan Mey, memakan nasi yang Elo, suapi. Elo, terus menyuapinya tanpa sadar ada yang melihat pemandangan indah itu. Sarapan bersama di suapi pasangan.
...----------------...
Mau dong di suapin apa lagi sama kamu Elo, 😃 uhuy, othor jadi meleleh nih.
Berikanlah like, vote, dan komentarnya ya beb, biar othor tambah meleleh, karena cinta dari kalian 😘