
Bara, terus memikirkan Siska. Hingga tak dapat bekerja dengan fokus dan benar. Sikap Bara, itu pun mengalihkan perhatian temannya yang sedari tadi melihatnya yang terus melamun.
"Bar, Bara!" tegur temannya yang bernama Haikal.
"Lo kenapa sih! Melamun saja, ada masalah dengan Gladis?"
"Tidak ada!" bantah Bara.
"Pasti masalah anak lagi ya? Gue punya saran kenapa lo gak adopsi saja, lo bisa ambil anak dari panti asuhan, kan. Dengan begitu istri lo tidak akan terus bekerja dan pulang malam karena ada anak yang akan dia rawat."
"Percuma, dia tidak pernah menginginkan seorang anak. Istriku tidak mandul, dia hanya tidak ingin memiliki anak."
"Gue aneh sama istri lo, bisa-bisanya tidak menginginkan anak. Gue aja yang sudah punya anak dua masih program lagi brow, istri gue gak pernah ngeluh, malah dia sangat sama anak-anak."
"Gladis selalu bilang, melahirkan itu sakit dia tidak mau tubuhnya juga rusak karena itu. Karena melihat wanita yang melahirkan biasanya fisiknya akan berubah, jadi gendut dan lainnya."
"Ribetnya punya istri kaya Gladis."
"Haikal, gue mau nanya? Apa istri lo suka mencuci piring? Mengerjakan pekerjaan rumah?"
"Apa Gladis melakukan semua itu? Wah, istri lo sudah berubah."
"Bukan, bukan Gladis."
"Lalu siapa?"
"Tidak perlu tahu jawab saja pertanyaanku."
"Suka, istri gue suka melakukannya. Malahan kita berbagi tugas kadang aku yang mengurus anakku dan istriku yang mengerjakan rumah."
"Lalu apa gunanya punya ART?"
"Hai brow, itu namanya romantis. Suami Istri saling membutuhkan dan saling membantu. Ada ART bukan berarti istri gue malas."
"Apa itu peran sebagai seorang istri?"
"Nah, itu tahu. Lo sih punya istri sibuk mulu, sibuk berkarier." Sindir Haikal, Bara, pun kembali tertegun.
*
*
*
Cklek,
Bara, membuka pintu apartemennya. Malam ini Bara, kembali pulang ke apartemen. Permasalahannya dengan Gladis, membuat Bara, tidak betah di rumah karena Bara, tahu jika di rumah pun mereka akan bertengkar.
Sedangkan Gladis, dia masih sibuk bersama teman-temannya. Berjoget, bernyanyi, berteriak di dalam ruangan yang pengap. Begitulah Gladis, jika saat ada masalah dia selalu melanpiaskannya pada minuman, dan berjoget, bernyanyi di tempat karoeke nya.
Gladis, masih belum bisa meninggalkan dunia masa mudanya, dan mungkin karena Gladis, telah lama menjalani hidup sebagai publik figur.
Bara, menjatuhkan tubuhnya pada sofa, kesibukannya, masalahnya, membuatnya lelah. Siska, yang belum menyadari kehadiran Bara, dirinya sibuk menyapukan brushnya pada wajahnya, setelah kedatangan Bara, yang tiba-tiba pada malam itu membuat Siska, lebih waspada dan tak pernah melupakan brushnya itu.
Takut jika Bara, akan mengetahui wajah dan tubuhnya yang asli. Siska, tidak pernah diam. Berulang kali Siska, membeli obat-obatan herbal untuk mengobati tubuh dan wajahnya, namun semua yang di lakukannya sia-sia. Bintik di wajahnya tak kunjung hilang.
"Aneh sekali, sebenarnya apa yang Vera, berikan pada air mandiku, jika hanya gatal biasa kenapa tidak bisa hilang saat di obati." Siska, merasa aneh karena penyakit nya ini benar-benar berbeda dan tak bisa di obati dengan cara apa pun.
Tiba-tiba Siska, merasakan dahaganya sangat haus dan kering. Tanpa, mengganti pakaian atau pun berdandan Siska, hanya menggunakan lingeria yang sedkit tipis namun tidak terlalu mengekpose tubuhnya, yang panjangnya hanya sepaha.
Karena merasa tidak ada siapa pun di apartemennya Siska, berani memakai lingeria tipis itu keluar kamar, sedangkan rambutnya hanya ia cepol saja karena cuaca malam ini sedikit panas.
Siska, melangkah menuju dapur, untuk mengambil minum. Saat membuka lemari pendingin Sikut tangannya tak sengaja menyenggol sebuah botol hingga terjatuh. Suara itu pun terdengar hibgga membangunkan Bara, yang tengah tertidur.
"Suara apa itu?" ucap Bara, yang bangun dari tidurnya.
Karena penasaran Bara, pun beranjak dari sofa, membuka tuxedonya karena sedikit gerah, lalu Bara, berjalan ke arah dapur untuk melihat suara apa kah itu. Ingin memastikan jika tidak ada orang yang menyelinap masuk ke dalam apartemennya.
Namun, Bara, lupa jika di apartemennya saat ini sudah ada Siska, yang menjadi istri sirihnya.
Bara, berjalan pelan hingga tak menimbulkan suara. Sedangkan Bara, melihat lemari pendingin itu terbuka, membuat Bara, curiga jika ada orang yang masuk dalam apartemennya.
Namun, Bara, tidak melihat jika ada Siska, di balik pintu lemari pendingin yang sedang berjongkok untuk mengambil botol yang jatuh. Saat langkah Bara, mendekat tiba-tiba Siska, menutup pintu lemari pendingin itu membuat Bara, terhenyak dan tubuhnya jatuh ke depan membuat tubuh Siska, terdorong dan …
Bugh,
Keduanya sama-sama jatuh di bawah lantai. Dengan posisi yang sangat menguntungkan bagi Bara. Sebab tubuh Siska, berada di bawah kungkungannya.
"Mas Bara!" Siska, pun terkejut karena wajah Bara, kini sangat dekat dengan wajah nya. Beruntung Siska, sudah memakaikan brushnya.
'Kenapa dia selalu datang tiba-tiba, beruntung aku sudah menggunakan brushku' batin Siska.
Sedangkan Bara, dia terdiam terhipnotis dengan kecantikan Siska, saat ini.
"Mas Bara, bisakah bangun? Kau menindih tubuhku." Bukan hanya menindih, melainkan pedang saktinya sudah menggesek mahkota miliknya sehingga Siska, merasakan benda miliknya berdenyut di bawah sana.
"Maaf." Bara, pun bangun dan berdiri, melihat wajah Siska saja jantungnya sudah berdegup apalagi saat melihat paha mulus milik Siska, yang terekpose karena bawah lingerianya terangkat.
Ish … sial
Umpat Bara, saat merasakan denyutan pada pedang pusakanya yang sudah tidak sabar untuk di asah. Bara, pun pergi menuju kamarnya meninggalkan Siska, yang baru saja bangun.
"Ada apa dengan mas Bara?" gumam Siska, lirih. Lalu, berjalan ke arah kamarnya.
Sesampainya di kamar Siska, mendengar suara gemericikan air dari dalam kamar mandi. Sepertinya Bara, sedang melakukan ritual mandinya.
Benar saja, saat ini Bara, sedang mengguyur tubuhnya, membiarkan air pada shower terus menyembur memabasahi ujung kepala juga rambutnya.
Bara, tidak bisa menahan hasratnya saat bersentuhan dengan Siska, apalagi saat pedang pusakanya menyentuh mahkota istrinya. Lima belas menit lamanya Bara, berada di kamar mandi hingga akhirnya Bara, pun keluar.
Siska, duduk dengan gugup, saat suara pintu terdengar Bara, keluar dari kamar mandi yang hanya mengenakan handuk saja yang melilit pinggangnya. Rambut basah, wajah basah, membuat ketampanan Bara, semakin terpancar sudah pasti Siska, pun tergoda. Namun, Siska, hanya bisa menelan salivanya.
"Mau aku siapkan pakaian? Apa kamu lapar atau inginku buatkan teh? Biar aku buatkan teh saja untukmu."
"Aku, tidak butuh apa pun kau duduk saja," ujar Bara, yang menghentikan langkah Siska.
Perlahan Bara, berjalan mendekati Siska, yang semakin gugup hatinya.
"Biar aku ambilkan pakaian untukmu," ucap Siska, yang berbalik menuju arah lemari, namun langkahnya terhenti saat Bara, mencekal tangannya. Membuat bulu kuduknya meremang.
"Aku butuh dirimu," bisik Bara, membust bulu kuduknya berdiri.
"Aku ingin, kau segera mengandung anakku."
Siska, hanya diam saat Bara, menelusuri leher jenjangnya dengan bibirnya. Siska, hanya bisa mengerang saat merasakan setiap sentuhannya. Bibir Bara, terus menjalar hingga ke setiap inci wajahnya, sedangkan satu tangan kirinya menjelajah punggung mulusnya. Dan tangan kanannya meraba nakal, bagian kepemilikannya sehingga Siska, mengeluarkan suara merdunya.
Deruan nafasnya kini sudah tidak beraturan, cengkraman tangannya semakin kuat mencengkram punggung suaminya. Rasa sakit dan nikmat membuat kedua bibirnya tak tahan untuk menggigit dada mulus Bara.
Aura panas semakin terasa, hasrat keduanya semakin menggelora hingga Pedang sakti pun tidak bisa menahannya lagi dan siap untuk di asah. Dengan cepat Bara, membawa Siska, ke atas ranjang panasnya, tanpa menunggu lama lagi pertempuran pun di mulai. Ranjang panas pun bergoyang, suara-suara laknat pun mulai terdengar hingga pada titik puncak pelepasan. Akhirnus malam ini pun menjadi malam yang panjang untuk keduanya.
...----------------...
Malam ini udah double up ya ... mana dukungannya jangan lupa like, vote, komentar, dan secangkir kopi untuk othor ya 🤗