
Kesalahannya di masalalu membuat Janet, menyesal. Meninggal, kan Sharon, di saat masih kecil dengan harap putrinya akan menjadi anak yang berguna.
Tapi kenyataan yang dia lihat, tidak sesuai dengan harapannya. Sharon, putri satu-satunya harus tinggal di sebuah lapas karena satu kesalahan dia menjadi seorang pembunuh.
Janet, pun menyalahkan Farhan, atas apa yang putrinya alami. Mendengar Farhan, berada di tempat yang sama Janet, pun mengunjungi mantan suaminya itu.
"Kau masih ingat aku!"
Farhan, tersenyum sinis saat mendapat pertanyaan itu.
"Untuk apa kau datang? Kau sangat aneh tiba-tiba pergi dan tiba-tiba datang," ujar Farhan.
"Aku pikir, hidupmu sudah bahagia, menikmati masa tuamu dengan bergelimang harta, tetapi kamu hidup di dalam tahanan," cibir Janet.
"Kemana hartamu selama ini? Harta yang sudah kau dapatkan, dari hasil kerja kerasmu membunuh ayah dan juga adik kandungmu," lanjut Janet.
"Kau tidak perlu tanyakan itu. Kau sudah melihat putrimu, kan! Dia hidup sampai sebesar itu karena uangku, harta yang ku dapatkan itu. Seharusnya kau berterima kasih karena aku telah merawat anakmu hingga dewasa."
"Tapi kau … pergi kemana kau selama ini? Meninggalkan putrimu dengan orang lain, dan kau bersenang-senang di luaran sana. Sudah berapa banyak uang yang kau dapatkan dari hasil menjual tubuhmu itu."
Plak,
Dengan santainya Farhan, mengusap darah di sudut bibirnya karena tamparan yang Janet, berikan.
"Kau sama sekali tidak berubah. Apa yang kau katakan pada putriku?" Janet, begitu sangat marah. Terdengar dari nafasnya yang menderu menahan amarahnya.
"Dia bertanya dimana ibunya, dan siapa ayah kandungnya aku hanya menjawab sesuai apa yang aku ketahui. Jika dirimu seorang wanita malam, dia sangat sedih karena tidak tahu siapa ayah kandungnya."
"Jadi kau tidak mengakui dia anakmu."
"Kau lupa, kau hamil sebelum kita menikah, bahkan kau membohongiku jika kau tengah hamil saat itu. Dan karena itu ayahku tidak mempercayakan semua aset miliknya jatuh ke tanganku. Karena Sharon, bukanlah cucu kandungnya. Sekarang kamu bisa lihat apa yang aku dapatkan, penjara seumur hidup."
"Kamu salah besar Farhan, aku pikir kamu akan menyadarinya tapi tidak."
"Salah! Maksudmu aku yang salah?"
"Sharon, adalah darah dagingmu anak kandungmu."
"Apa yang kau katakan!"
"Kamu lupa, dengan kejadian malam itu?"
Farhan, menatap Janet, heran.
Flashback on
Farhan, selalu datang ke sebuah club malam menghabiskan waktunya disana minum-minum hingga mabuk, di saat dirinya tengah mabuk seorang Janet, menghampirinya.
"Hentikan, kau sudah mabuk jangan minum lagi." Janet, membuang botol minuman itu jauh darinya agar Farhan, berhenti minum.
"Apa yang kau lakukan, kembalikan minumanku."
"Kau sangat mabuk."
Janet, pun memopong Farhan, keluar dari club itu. Farhan, berjalan sempoyongan, mata yang mulai teler, dan mulut yang terus mengoceh bau alkohol yang sangat menyengat. Membuat Janet, sedikit kesulitan saat membawanya keluar hingga akhirnya sampailah di depan sebuah mobil.
"Setiap ada masalah kau selalu saja seperti ini Farhan. Jika begini terus kau tidak akan pernah mendapat kepercayaan ayahmu."
Janet, dan Farhan, sudah saling mengenal. Keduanya menjalani bisnis haram dari menjualnya narkoba. Kedekatannya itu membuat Farhan dan Janet saling mendukung satu sama lain.
Setiap ada masalah keduanya akan saling terbuka. Begitu pun Farhan yang selalu bercerita tentang keluarganya. Ketidak adilan ayahnya membuat Farhan, frustasi sehingga melampiaskannya pada minuman-minuman beralkohol.
Janet, seorang wanita malam yang bekerja di club itu. Dia selalu mendengarkan keluh kesahnya. Janet, tidak pernah melakukan one night stand bersama laki-laki mana pun.
Karena Janet, merupakan wanita cerdik dan licik. Setiap sebelum melakukan malamnya bersama laki-laki Janet, selalu memberikan minuman yang sudah ia berikan obat tidur di dalamnya.
Sehingga saat melakukan malam panjangnya laki-laki yang meminum itu akan selalu tertidur, dan Janet, akan berpura-pura membuka sedikit pakaian laki-laki itu, sehingga semua laki-laki akan berpikir jika mereka sudah melakukan one night stand.
Di saat tertidur, Janet, membongkar habis uang yang di miliki laki-lakinya, Janet pun akan tertidur di samping lelaki itu seolah-olah sudah melayaninya.
***
Janet, membawa masuk Farhan, ke dalam mobil berniat untuk mengantarnya pulang. Namun, di luar dugaan Farhan, terbangun dan langsung mendekap Janet.
Melihat ada wanita di mobilnya, Farhan, terbawa nafsu, tanpa melihat siapa wanita itu. Farhan, tak peduli hingga suara Janet, pun tidak ia hiraukan.
Di dalam mobil itu Farhan, pun melakukan tindakan asusila terhadap Janet, yang sudah lelah dan tak mampu lagi berontak. Inilah pertama kalinya Janet, melakukan hubungan intim dengan seorang pria, karena terpaksa.
Hingga keesokan paginya Farhan, tersadar dan melihat Janet, yang tertidur di sampingnya dengan keadaan yang berantakan.
Farhan, terheran-heran karena mendapatkan Janet, di dalam mobilnya.
Flashback off
"Kita melakukannya bukan berarti itu anakku. Kau lupa siapa dirimu, masih banyak lelaki lain yang menikmati tubuhmu." Sanggah Farhan.
"Terserah, jika kau tidak percaya lakukanlah tes DNA. Sebelum kau menyesal akhirnya."
Janet, pun pergi meninggalkan Farhan, yang diam termangu.
*
*
*
Siska, terus menatap dirinya pada pantulan cermin. Wajahnya yang kembali cantik membuatnya ingin kembali. Kembali pada orang-orang yang telah melukainya.
Siska, pun kembali teringat kepada Vera, yang berada di Vila.
"Vera, aku akan membalas perbuatanmu."
"Kau bisa mempermalukanku begitu pun aku, juga bisa mempermalukanmu."
Siska, kembali keluar menyusuri setiap rumah di desa. Dengan kecantikannya membuat Siska, dengan mudah mendekati penduduk desa.
Penduduk desa yang rata-rata sangat kental akan tradisi, adat, dan kesopanannya dalam tara cara hidup mereka. Membuat Siska dengan mudah mempengaruhinya.
Siska, mengatakan pada setiap penduduk bahwa ada seorang wanita dan laki-laki dari kota, yang menginap di vila namun mereka bukanlah sepasang suami istri.
Penduduk desa yang mendengar itu pun sangat marah, karena desanya yang bersih telah di jadikan tempat maksiat. Mereka semua pun serempak untuk mengusir Vera, dan laki-laki itu.
"Ini mah tidak bisa di biarkan atuh. Kampung kita bisa hancur jika di jadikan tempat untuk bermaksiat."
"Iya, betul. Lebih baik kita gerebek saja vila itu."
"Tapi pak mereka orang kota, apa berani?" Siska, berpura-pura takut.
"Kenapa harus takut. Ini desa kita, kampung kita, siapa yang berani mencoreng nama baik kampung ini tidak bisa kita biarkan."
"Betul,"
"Lebih baik kita gerebek mereka sekarang."
"Iya-iya ayo." Para penduduk desa pun bergegas pergi menuju vila yang di tinggali Vera.
Para penduduk desa mengamuk, melempar pintu dengan batu, hingga merusak furnitur-furnitur yang ada disana. Sepasang sejoli yang sedang enak-enak di dalam kamarnya pun merasa terganggu karena suara berisik dari luar.
"Mas Bram, ada apa di luar?"
"Biarkan saja. Lebih baik kita enak-enak ini sudah nanggung sayang," bisik lelaki tua itu
Namun, suara teriakan warga desa semakin keras. Bahkan, lemparan batu merusak jendela kaca kamarnya.
"Mas, mereka sepertinya mau merusak vilamu."
"Sial! Ganggu saja." Dengan terpaksa lelaki tua itu mencabut pedangnya.
Laki-laki tua itu pun mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai begitupun dengan Vera.
"Ada apaan sih! Orang lagi enak-enak juga." gerutu Vera.
Keduanya pun keluar menemui para penduduk.
"Ada apa ini? Kenapa kalian merusak vilaku?" teriak laki-laki tua bernama Bram.
"Pergi kalian dari desa kami, tak sudi desa kami di jadikan tempat maksiat oleh kalian."
"Apa maksud kalian?" bentak Bram.
"Alah, jangan pura-pura tidak tahu. Kalian bukan suami istri, kan kalau bukan maksiat apa yang kalian lakukan?"
"Siapa bilang kami bukan suami istri."
"Jika kalian suami istri perlihatkan pada kami surat nikahnya."
Bram dan Vera pun saling pandang. Awalnya Bram hanya ingin menggertak saja tidak berpikir jika penduduk desa akan meminta surat nikahnya.