
Di saat magrib menjelang. Satu buah mobil berhenti tepat di sebuah gang sempit, tak berselang lama turun dua pemuda dengan berpakaian serba tertutup. Pemuda itu berjalan ke arah bagasi lalu mengambil masing-masing dua buah kompan yang berisi cairan bening.
Jalanan dalam keadaan sepi tidak ada satu pun orang yang curiga, apalagi setelah memasuki gang itu keadaan semakin sunyi, dan penerangan pun sangat minim hanya terdengar desiran air sungai yang mengalir di bawahnya.
Dua pemuda itu berjalan sepanjang 20 km hingga sampai di depan sebuah rumah. Yang kecil dan di himpit beberapa bangunan besar. Kedua pria itu segera menjalankan aksinya. Mereka menyiram tiap sudut rumah itu dengan cairan bening dalam kompan.
Setelah semua sudut rumah tersiram rata, kedua pemuda itu melemparkan sebuah korek api, ke arah rumah itu hingga menghasilkan percikan-percikan api yang menjalar mengikuti arahnya cairan bening itu, hingga percikan-percikan itu menjadi kobaran api yang sangat besar.
Setelah melihat api itu membesar kedua pemuda itu pun pergi, meninggalkan rumah itu.
"Mey, Mey," Nek, Tini memanggil-manggil Mey, saat mendengar suara-suara percikan api dari luar.
"Apa itu? Cahaya apa itu?" Karena penglihatannya sudah tidak jelas Nek, Tini hingga tidak menyadari bahwa cahaya itu berasal dari api.
Suasana rumah sangat sepi hanya tinggal Nek, Tini seorang. Sedangkan Mey, belum pulang bekerja dirinya sedang asik bermain dengan Miekey. Miekey, si kucing pintar selalu merasakan akan adanya bahaya. Saat ini Miekey, terus meraung-raung seperti ketakutan hingga Mey, pun tidak mengerti apa maksud Miekey.
"Miekey, ada apa? Kau kenapa?" Mey, tidak mengerti Miekey, yang terlihat tenang tiba-tiba mengamuk, berguling, dan berputar, seperti merajuk.
Karena Mey, tidak mengerti apa yang di ucapkannya, Miekey, pun langsung pergi dia berlari keluar dari mansion. Melihat Miekey, pergi Mey, pun ikut pergi mengejar Miekey.
"Miekey, tunggu." Mey, berteriak dan terus mengikuti langkah Miekey, walau pun tidak tahu kemana jalan yang di tuju.
Di tempat lain Nek, Tini baru tersadar akan kobaran api yang sudah membesar. Bukannya berlari keluar Nek, Tini malah kembali menuju kamarnya dan mencari Meisie.
"Mey, Mey, dimana kau cepat keluar rumah kita terbakar Mey." Nek, Tini sering lupa, jika Mey, belum kembali dan tidak ada di dalam rumah.
Di luar sana para warga yang baru melihat terlihat panik, mereka berlomba-lomba memadamkan api. Tak berselang lama Mey, pun datang dia begitu terkejut melihat keadaan rumahnya. Firasat Miekey, selalu benar akan adanya bahaya.
Miekey, hanya bisa meraung sedang, kan Mey, dia begitu syok.
"Nenek." Akhirnya Mey, pun berteriak setelah tersadar dari rasa terkejutnya. Mey, benar-benar khawatir pada Nek, Tini hingga Mey, berlari memasuki rumahnya yang sudah di penuhi api.
Semua warga terkejut melihat Mey, yang berani memasuki rumah itu sedang, kan Miekey, dia hanya meraung membunyikan suara khasnya hingga akhirnya berlari pergi meninggalkan rumah itu.
Tubuh kecil tidak membuat Miekey, lelah untuk berlari, Miekey, terus berlari hingga tiba di sebuah mansion mewah yaitu mansion Elo, majikannya. Di saat Elo, baru saja keluar dari ruang kerjanya bersama Arkan, tiba-tiba di kejutkan oleh Miekey, yang langsung menggigit bawah celananya.
Mendapat serangan mendadak seperti itu Elo, pun sedikit kaget, lalu meraih Miekey, ke dalam pangkuannya. Bukannya diam Miekey, malah meraung hingga meloncat dan akhirnya berlari pergi.
"Ada apa dengan Miekey?" tanya Arkan, yang terlihat bingung melihat sikap Miekey.
"Dia sedang merasakan sesuatu," jawab Elo, yang langsung berlari mengikuti Miekey. Begitu pun dengan Arkan, yang terlihat panik.
"Arkan, bawa mobilmu, kita kejar Miekey."
"Baik Tuan." Elo, dan Arkan, pun masuk ke dalam mobil. Arkan, mengemudikannya begitu cepat.
****
"Nenek, nenek dimana?" teriak Mey, yang mencari-cari Nek, Tini. Saat melewati kamar utama Mey, melihat neneknya sedang duduk di sudut kamarnya. Nek Tini, terlihat begitu ketakutan.
Krekek, krekek,
Mey, mendengar suara decitan-decitan dari atap kamar. Terlihat sebuah kayu akan terjatuh menimpa neneknya, Mey, melihat itu pun langsung berlari ke arah Tini.
Sebuah bayangan gelombang melindungi mereka hingga kayu yang akan terjatuh pun terhenti, dan kembali pada tempatnya. Mey, yang ketakutan masih memeluk Tini dengan erat tanpa sadar semua benda di sekelilingnya berhenti seolah tak bergerak.
Sepersekian detik cahaya menyilaukan pun muncul terangnya melebihi cahaya dari panasnya api. Tak berselang lama api pun padam dengan sendirinya hanya menyisakan puing-puing bangunan yang sudah terlihat hitam. Keadaan rumah Mey, terlihat begitu hancur tapi tidak dengan Mey, dan Tini yang terlihat baik-baik saja.
Semua orang menganggap penghuni rumah tidak selamat, saat bersamaan dengan padamnya api. Begitu pun dengan seseorang yang terlihat memata-matai rumah mereka tersenyum senang saat api itu padam menghancurkan rumah itu, orang itu menganggap dua orang penghuni rumah itu sudah tiada di lahap api.
"Rencana kita berhasil. Rumah mereka hancur begitu pun dengan penghuninya." ucap orang itu yang berbicara pada sambungan telepon. Setelahnya orang itu pun pergi.
Elo, dan Arkan, yang mengejar Miekey, akhirnya terhenti tepat di depan kerumunan banyak orang. Elo, dan Arkan, pun bertanya-tanya apa yang terjadi hingga saat membelah kerumunan warga sungguh terkejutnya Elo, saat melihat keadaan rumah Mey, yang hancur terbakar.
Arkan, pun tidak kalah syok, dengan keadaan di depannya. "Kapan kebakaran ini terjadi? Apa ada orang di dalam rumah?" Arkan, coba bertanya kepada salah satu warga.
"Ada dua orang pak, mereka tidak selamat," ucap warga itu, yang berlalu pergi.
"Tuan … Mey, dia …" Arkan, begitu gugup dia ingin memberitahukan kepada bosnya bahwa Mey, ada di dalam ada kemungkinan Mey, meninggal.
Namun, sebelum Arkan, mengucapkan itu Elo, sudah terlebih dulu berlari memasuki rumah itu untuk mencari Mey. Dirinya seakan tidak rela jika Mey, harus pergi.
"Mey," teriak Elo,
"Tuan, Tuan bos!" teriak Arkan, yang mengikuti Elo, memasuki rumah itu.
****
"Nek, apinya sudah padam," ucap Mey, yang melepaskan pelukannya.
"Iya benar Mey, apinya sudah padam," ucap Nek, Tini yang sudah terlihat tenang.
"Tapi bagaimana apinya bisa padam?" Mey, merasa aneh. Tanpa dia ketahui semua itu terjadi karena keajaiban brush yang ada dalam tasnya.
Brush itu memang memiliki kekurangan, akan tetapi itu hanya jika sihir brush itu ada pada wajah seseorang, yang membuat wajah orang itu menjadi cantik dan jika terkena air dan api maka kekuatan brush akan kecantikan wajah itu akan musnah.
Dibalik kekurangannya brush itu punya kelebihan dan keajaiban. Jika seseorang yang memilikinya dalam bahaya, maka brush itu akan mengeluarkan sihir yang sangat kuat untuk melindungi pemiliknya, baik air atau pun api sekalipun. Dan kekuatan yang kuat itu ada pada cahaya sihir yang menyala.
"Nenek, ayo kita keluar sekarang!" ajak Mey, yang menuntun tangan Tini, untuk keluar tiba-tiba, sebuah kayu rapuh jatuh mengenai kepalanya.
"Mey, awas,"
Brugh,
Baru saja Tini, berucap kayu itu sudah mengenai kepalanya Mey. Mey, terlihat diam merasakan sakit di kepalanya, penglihatannya seolah berputar hingga akhirnya tubuh Mey, terjatuh pingsan.
"Mey," Elo, terkejut saat melihat tubuh Mey, yang tergeletak di bawah lantai. Wajahnya terlihat begitu khawatir dan cemas.
...----------------...
Apa Elo, menganggap Mey, meninggal!
Untuk kelanjutannya dukung terus kisah Mey, dan Elo, ya dengan cara like, vote, favorit, dan komentarnya juga ya 🤗 jangan lupa ya sayang😘😘😘.