The Magic Face Brush

The Magic Face Brush
Ketakutan Sharon



Jil, mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Amarah Elo, di pagi hari membuatnya sangat marah dan kesal. Hingga melajukan mobilnya semaunya tanpa menghiraukan kendaraan lain.


Arggh … Jil, berteriak seraya menekan tombol pada bundaran stir, membuat bunyi klakson berkali-kali.


"Untuk pertama kalinya dia membentakku dan untuk pertama kalinya dia mengusirku ah … sial," umpat Jil, yang terus membunyikan klaksonnya. 


Jil, terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga menabrak mobil di depannya. 


Brakk, 


"O my god" umpat Jil, yang langsung menghentikan mobilnya. 


Tak berselang lama seorang pria turun dari mobil yang baru saja di tabraknya. Pria itu melihat bagian belakang mobilnya yang sedikit tergores lalu melangkah menghampiri mobil Jil, dan langsung memukul kaca mobilnya agar Jil, segera ke luar. 


"Keluar kau!" teriak pria itu yang memukul-mukul mobilnya. Jil, pun turun dan keluar dari mobilnya. 


"Apa kau tidak bisa menyetir hah!" 


"Kalau aku tidak bisa menyetir mobil ini tidak akan menabrakmu." Bukannya meminta maaf, Jil, malah membuat pria itu kesal. 


"Cara menyetirmu sangat bodoh! Dari pada kau menabrak mobil orang lain lebih baik kau tidak usah menyetir," cibir pria itu dengan tegas. 


"Hanya tergores saja, kan! Aku akan ganti rugi," ucap Jil, yang langsung mengambil uangnya di dalam tas, lalu melemparnya ke hadapan pria itu. 


"Urusan kita selesai, kan!" ucap Jil, sinis dengan mata mendelik. Lalu kembali masuk ke dalam mobilnya dan pergi. 


"Dasar wanita aneh!" umpat pria itu, lalu kembali masuk ke dalam mobil. Setelahnya duduk di bagian kemudi dan siap untuk melajukan mobilnya kembali, tiba-tiba ponselnya berdering. 


"Sharon," ucap pria itu yang langsung mengangkat panggilan itu. 


Pria itu bernama Edwin, teman dekat Sharon, juga Elo. Edwin, tidak pernah bisa mengabaikan Sharon, bahkan hanya mengabaikan panggilan teleponnya saja Edwin, tidak bisa. Walau pun dirinya selalu di jadikan pelanpiasan oleh Sharon. 


Bukan tanpa alasan Edwin, melakukan itu karena Edwin, sangat menyukainya hanya saja Sharon, yang tak pernah meliriknya. 


"Ada apa Sharon!" tanya Edwin, pada sambungan telepon


"Kau dimana? Aku di klinikmu," ucap Sharon, di ujung sana. 


"Aku sedang di jalan sebentar lagi aku sampai," ucap Edwin. 


"Baiklah aku tunggu." Sharon, pun langsung menutup teleponnya tanpa mendengar jawaban Edwin. 


Edwin, membuang nafasnya kasar lalu melajukan mobilnya menuju klinik miliknya. Karena Edwin seorang medik veteriner atau biasa di sebut dokter hewan, dia juga salah satu dokter pribadi Miekey. 


Di klinik, Sharon, seperti sedang ketakutan. semenjak melihat hantu Mey, membuatnya tidak tenang bahkan tidak bisa tidur. Entah, apa yang Sharon, rasakan. 


"Ada apa Sharon?" tanya Edwin, yang baru saja datang. Bukannya menjawab Sharon, malah memeluknya membuat Edwin, diam terpaku. 


Dalam beberapa detik hatinya terenyuh. Namun, segera ia tepiskan. Karena Edwin, tahu bahwa Sharon, membutuhkannya hanya jika ia sedang sedih, pelukan itu hanya pelukan kesedihan bukan pelukan kasih sayang. 


Edwin, melepaskan pelukan Sharon


"Ada apa lagi Sharon, apa ada masalah lagi dengan Elo!" 


"Edwin, bantu aku, aku sedang ketakutan. Kau lihat mataku seperti mata panda aku terkena insomnia, aku tidak bisa tidur." 


"Apa karena memikirkan Elo, lagi? Sharon, cinta tidak bisa di paksakan sampai kapan kamu akan seperti ini." 


"Bukan Elo, yang membuatku seperti ini tapi hantu itu." 


"Hantu!" Edwin, terbelalak mendengar ucapan Sharon. Lalu akhirnya Edwin, pun tergelak. 


"Apa yang kau katakan hantu! Hantu apa?" 


"Aku serius Edwin, aku melihat arwahnya dia mendatangiku, bahkan dia mengikutiku. Aku benar-benar tidak bisa tenang." 


"Itu hanya alusinasimu saja, hantu itu tidak ada," 


"Kamu tidak percaya padaku?" bantah Sharon.


"Duduklah dulu," titah Edwin. "Apa kau sakit? Atau kelelahan hingga kau mengatakan hal yang konyol seperti itu." 


"Edwin, aku kesini untuk meminta bantuanmu," 


"Kamu kesini hanya untuk mengatakan itu! Sharon, percuma aku tidak bisa membantumu. Menurutku kamu lebih baik pergi ke psikologis." 


"Kamu pikir aku gila!" 


"Baiklah, aku akan membantumu pertama, katakan siapa hantu itu? Dan untuk apa dia mengejarmu?" 


"Aku telah membakar rumahnya, dia Mey, Mey, menghantuiku!" ucap Sharon, dengan tubuh gemetar. 


Edwin, tercengang tidak percaya dengan apa yang Sharon, ucapkan. Edwin, pun men-akrifkan rekaman suara untuk merekam ucapan Sharon, jika dia tidak salah mendengar. Sharon, pun mengulangi perkataan yang sama.


"Aku telah membakar rumahnya, dia Mey, Mey, menghantuiku." 


Berulang kali Edwin, dengarkan hingga akhirnya Edwin, pun teringat tentang berita kebakaran itu yang dua orang tewas penghuni rumah itu. Dalam berita di katakan dengan jelas korban yang meninggal adalah Mey. Edwin, masih ingat nama itu. 


"Ya." Mata Edwin, membulat sempurna setelah mendapat jawaban dari Sharon. 


Sharon, yang sedang stres karena alusinasinya yang ketakutan terhadap Mey, membuatnya lupa dan tanpa sadar membuka aibnya sendiri. 


"Untuk apa kau melakukan itu? Kau melakukan tindakan kriminal, kesalahanmu sangat besar kau sama saja sudah membunuh orang itu." 


"Aku, mohon jangan biarkan dia menggangguku Edwin." 


"Jika kamu berpikir perbuatanmu ini sangat salah. Lebih baik pertanggung jawabkan perbuatanmu itu," 


"Kau menyuruhku untuk menyerahkan diri? Aku tidak melakukannya aku hanya menyuruh seseorang." 


"Tetap saja kamu dalangnya dan kamu yang memerintahkan mereka." 


"Aku begini karena Elo. Demi dia aku lakukan semua ini." 


"Cinta telah membutakanmu. Kamu bukan mencintai Elo, tetapi terobsesi olehnya. Aku tidak percaya kamu melakukan hal itu Sharon." 


"Lalu aku harus bagaimana?" 


"Serahkan dirimu ke polisi." 


"Gila, kamu. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menyerahkan diri, tidak sudi aku harus tinggal di dalam jeruji besi." Sharon, begitu ketakutan hingga akhirnya dia pun pergi. 


Edwin, tidak percaya Sharon, melakukan hal sekeji ini. Hingga membunuh seseorang. 'Rasanya hatiku ini sakit, setelah mengetahui apa yang kamu lakukan' batin Edwin, yang begitu terpukul. Karena wanita yang di cintainya telah melukai orang lain bahkan membunuhnya. 


"Kemana lagi aku harus cari bantuan. Tidak sudi jika aku harus menyerahkan diri. Apa sebenarnya Mey, masih hidup!" monolognya. 


"Marchel, hanya dia yang bisa membantuku." 


...----------------...


Jika cinta ada di depan mata untuk apa jauh-jauh mengejar cinta yang lain, Sharon.


Tumbennya othor bikin quotes hehe.


...----------------...


Hai sahabat Melon alias Mey, dan Elon. Sambil nunggu thor update, mampir juga yuk ke novel temen thor,


Karya : erma _roviko


Si Cupu Untuk Tuan Samuel



Biar tambah penasaran orhor kasih cuplikannya nih. 👇👇


Bab 11


Karena aku majikanmu


Samuel menatap tajam gadis berkacamata tebal, mengepang rambut dan gigi yang di pagar membuatnya terasa geli. "Kenapa kau menatapku begitu?" tanya Eve sinis.


"Karena penampilanmu yang terlihat sangat jelek," ejek Samuel sembari menyeringai.


"Kau boleh mengejekku sekarang, tunggu saja tanggal mainnya!" seloroh Eve yang sangat kesal, ingin rasanya mencakar-cakar wajah tampan dari majikan dadakannya.


"Wah, sepertinya kau tersinggung. Tapi, itu bagus! Aku ingin lihat, bagaimana Boneka santet memperjuangkan dan membuktikan."


"Lihat saja nanti dan berhentilah memanggilku dengan boneka santet! Nama ku Eve, E-V-E." Ucapnya seraya mengeja nama.


"Aku lebih nyaman memanggilmu boneka santet," ujar Samuel acuh tak acuh.


"Sangat menyebalkan!"


"Karena kemarin kau kabur dan juga menendang tongkat sakti ku, maka kau akan dihukum," ucap Samuel dengan tajam.


"Ck, siapa kau yang berani mengaturku?"


Samuel berjalan menghampiri gadis kecil itu, menyentil kening Eve membuat empunya meringis. "Auh…kau kasar sekali," cetus Eve yang mengusap keningnya yang terasa panas.


"Itu hukuman karena kau membuat aku kesal!" sahut Samuel dengan santai.


"Apa setiap kali kau kesal akan menyentil keningku?" cetus Eve yang tak terima dengan perlakuan pria itu.


"Ya, bisa saja dikatakan begitu. Karena kemarin kau pergi terburu-buru, hari ini kau harus bekerja lembur." Ucap Samuel yang membuat Eve sangat kesal.


"Mana bisa begitu!" protesnya disertai tatapan tajam.


"Bisa, karena aku adalah majikanmu. Apa kau mengerti?" tekan Samuel yang memarahi gadis itu.


Eve menghela nafas dengan berat, dengan terpaksa dia mengangguk setuju membuat sang majikan tersenyum puas. "Baiklah."


Samuel berlalu pergi menuju kantor, sedangkan Eve mulai mengerjakan tugasnya sebagai pelayan. "Pria itu benar-benar membuat kesabaranku habis, pertama kak Niko, kedua Liam, dan sekarang Samuel. Lengkap sudah penderitaanku, ingin rasanya aku membuat ketiga pria menyebalkan itu menghilang dari muka bumi ini." Monolognya seraya bersih-bersih.