The Magic Face Brush

The Magic Face Brush
Wanitaku



Mey, dan Elo, berjalan menyusuri gang sempit untuk sampai ke jalan raya. Karena tempat tinggal Mey, berada di pemukiman kumuh. Namun, Elo, tetap menjemput Mey, walau harus berjalan sepanjang 20 km.


Sepanjang jalan Elo, berada di belakang Mey, seolah sedang melindunginya. Elo, merasa ada orang yang mengikuti mereka. Dan saat matanya melirik sekilas ke belakang. Ternyata pria misterius itu yang mengikutinya. 


Elo, meminta Mey, untuk menunggunya di mobil. Sedangkan, dirinya semakin memperlambat langkahnya. Saat melewati sebuah belokan Elo, sengaja bersembunyi di antara rumah-rumah yang berhimpitan. Elo ingin tahu apa pria itu masih mengikutinya dan benar saja pria itu masih mengikuti langkah Mey, yang semakin menjauh, satu tangannya mulai memperlihatkan sebuah pisau. 


Dengan gerakan cepat Elo, pun langsung menghantam pria itu dari belakang. Keduanya saling bergulat mempertahan, kan kekuatannya. Namun, karena Elo, sangat jago bela diri akhirnya pria itu pun tumbang. 


"Siapa kau? Mau apa kau mengikuti wanita itu." Elo, mencengkram kuat tangan pria itu hingga meringis kesakitan. Namun, pria itu tetap tidak memberitahukan apa alasannya mengikuti Mey. 


"Bukan urusanmu," ucap pria itu dengan suara berat. 


Arghh, pria itu pun meringis, saat Elo, memutar tangannya. Namun, pria itu bersikekeh tidak memberikan alasannya kenapa, membuat Elo, semakin geram. 


"Jika kau tidak memberitahuku, jangan harap kau masih bisa hidup." Elo, mengancam dengan mengambil senjata yang di pegang pria itu. Lalu, menodongnya ke leher pria itu hingga akhirnya pria itu menyerah dan memberitahukan apa tujuannya. 


"Walaupun kau membunuhku tidak akan membuat wanita itu aman. Karena aku hanya menjalankan tugas bukan ke inginanku untuk melukai wanita itu." 


Elo, tertegun setelah mendengar penjelasan dari pria itu, ternyata nyawa Mey, sedang terancam. Namun, dirinya tidak tahu apa yang membuat orang itu mencelakai Mey. 


"Aku akan membebaskanmu, tapi dengan satu syarat," ucap Elo, pada pria itu. 


Entah, apa syarat yang di berikannya sehingga pria itu setuju dan Elo, pun membebaskannya. Setelah pria itu pergi Elo, pergi menuju mobilnya. 


Di dalam mobil dengan gelisah Mey, menunggu. Karena Elo, tidak kunjung datang. Saat Elo, mulai terlihat dirinya berjalan menuju sebuah mobil lamborghini yang terhenti di sisi jalanan. Elo, merapikan rambutnya yang sempat berantakan dan Elo, merapikan semua bajunya karena tidak ingin Mey, curiga saat melihat penampilannya yang berantakan. 


"Kamu darimana?" tanya Mey, yang turun dan berlari menghampiri Elo. 


"Maaf, kau menunggu lama, tadi aku mendapat telepon," jawab Elo, berbohong. 


"Oh iya, kita mau pergi kemana?" Mey, masih penasaran kepada Elo, yang akan mengajaknya pergi ke suatu tempat. 


"Sepertinya hari ini tidak bisa pergi, kita harus segera ke kantor karena ada meeting." Gara-gara pria itu Elo, jadi tidak mood untuk mengajak Mey, pergi ke tempat yang dia maksud, Elo, pun memilih untuk langsung ke kantornya dengan alasan meeting.


"Baiklah ayo," ajak Mey, yang melangkah menuju mobil. 


**** 


Beberapa menit sudah berlalu, Elo, dan Mey, pun sudah sampai di depan perusahaan. Namun, tingkah Mey, seperti orang yang mencurigakan manik matanya memantau sekelilingnya.


"Ada apa?" Elo, menatap Mey, heran. Saat Mey, celingak celinguk melihat keadaan perusahaan. 


"Tidak, apa-apa. Aku takut ada yang melihat kita," jawab Mey. Membuat Elo, terheran-heran.


"Memangnya kenapa?" tanya Elo, lagi.


"Bisa heboh nanti jika karyawan lain tahu kita pergi bersama." Elo, jadi tergelak mendengar perkataan Mey. 


"Kenapa ketawa?" tanya Mey, heran.


"Kamu lupa ya, kamu itu sekretarisku wajar saja kalau kita sering bersama. Tugasnya sekretaris itu kemana pun bos pergi sekretarisnya akan ikut." 


'Iya juga ya! Kenapa aku gak kepikiran kesana' batin Mey, yang malu sendiri. 


"Kenapa diam?" tanya Elo,


"Tidak apa-apa. Sekarang kita turun," ujar Mey, yang akan membuka, kan pintu mobil namun di tahan oleh Elo, yang menarik tangannya. 


"Elo, jangan seperti ini, nanti ada yang melihat." Mey, merasa risih saat Elo, memeluknya, bahkan wajah mereka sangat berdekatan. Walaupun di dalam mobil, Mey, takut ada yang melihat dari luar.


"Memangnya kenapa kalau ada yang melihat!" tanya Elo, yang menarik turun, kan alisnya. 


"Nanti, ada gosip lagi." 


"Kita, kan memang pacaran. Apa perlu aku umum, kan jika kau adalah kekasihku." 


"Jangan-jangan. Aku tidak ingin mereka tahu." 


"Kenapa?" 


' Bisa berabe kalau semua karyawan tahu, aku belum siap jika di hujat sama mereka' batin Mey. Tidak sedikit para wanita di perusahaan mengagumi sosok bosnya yang tampan rupawan. Walau pun terkenal dingin dan kaku para wanita tetap saja nengaguminya. 


"Aku hanya ingin fokus saja dalam bekerja. Biarkan ini menjadi rahasia kita pacaran tidak perlu di umbar, kan!" 


Elo, sangat heran pada Mey, di luar sana banyak wanita yang ingin menjadi kekasihnya tapi Mey, malah ingin merahasiakannya. 


"Kau tidak bangga menjadi kekasihku?" 


"Oke, jika disini kau adalah sekretarisku dan aku adalah bosmu anggap saja seperti itu," ujar Elo, dingin lalu turun dari mobilnya meninggalkan Mey, sendirian. 


'Apa dia marah! Kok dia begitu' batin Mey, yang hanya diam menatap kepergian Elo. 


****


Di ruang meeting Elo, bersikap layaknya seorang bos pada sekretarisnya, Elo, benar-benar mengacuhkan Mey, membuat Mey, resah. Karena sikap kekasihnya itu. 


'Kenapa sih kok aku yang gak nyaman dia bersikap seperti itu. Padahal jangan dingin begitu aduh … kenapa aku jadi galau gini sih!' Mey, bergulat dalam hatinya hingga tak sadar meeting pun selesai. 


"Mey, berikan kontrak kerjanya." Mey, masih berada dalam pikirannya hingga seruan Elo, pun tidak ia dengar. 


Ehem. Elo, berdehem barulah Mey, tersadar. 


"Iya, Tuan," ujar Mey, gugup.


"Mana surat kontraknya," pinta Elo, Mey, pun segera memberikannya.


"Ini Tuan," ujar Mey, yang memberikan sebuah dokumen yang akan di tanda tangani klien nya.


"Terima kasih pak semoga kerja sama kita berjalan lancar." Elo, menjabat tangan kliennya. 


"Saya senang bisa bekerja sama dengan anda. Anda masih muda dan sukses, apa anda sudah punya calon Tuan? Saya memiliki putri yang cantik dia seorang CEO seperti anda, saya ingin sekali mempertemukan kalian." 


Brukk, 


Mey, yang mendengar ucapan itu tidak sengaja menjatuhkan beberapa berkas yang dia bawa. Itu sangat mengejutkannya. 


"Ma-maaf," ucap Mey, gugup lalu memungut satu persatu berkas yang sudah dia jatuh, kan. 


"Bagaimana Tuan!" tanya klien itu pada Elo.


"Maaf, tetapi saya sudah punya calon," 


"Oh, begitu. Saya kira Tuan, belum punya calon." 


"Mari pak saya antar." Elo, mengantarkan klien nya sampai pintu keluar. Dirinya kembali melirik Mey, yang baru selesai membereskan beberapa berkas yang jatuh tadi. Elo, tersenyum sekilas lalu menutup pintunya hingga menguncinya. 


"Kenapa di kunci?" tanya Mey, yang mendengar suara pintu tertutup.


"Aku ingin bicara denganmu," 


"Bicara apa hingga kau mengunci pintunya?" 


"Bagaimana menurutmu tadi? Apa kau tidak takut kehilangan kekasihmu ini?" Elo, menatap Mey, penuh arti. 


"Jika di hitung untuk kesekian kalinya ada klien yang ingin menjodohkanku dengan putrinya. Aku bisa saja sih, menerimanya lagian mereka wanita-wanita hebat, dari keluarga hebat. Kau dengar, kan tadi seorang CEO." Elo, berbicara panjang lebar seraya berjalan-jalan di sekitar Mey. 


"Bagaimana menurutmu!" Elo, kembali bertanya seraya melirik Mey. 


"Tidak salah jika kau menerimanya. Mereka jelas wanita-wanita hebat, kan. Dari keluarga-keluarga hebat. Sangat cocok untukmu." Mata Mey, mulai berkaca-kaca. Dirinya tersinggung merasa bukan dari keluarga yang hebat. 


"Justru kau terlihat bodoh, jika memilihku yang bukan apa-apa. Bukan wanita hebat seperti yang kau ucapkan dan juga bukan berasal dari keluarga yang hebat. Bahkan aku hanya seorang sekretaris bukan seorang CEO." 


Elo, tertegun dia tidak menyangka bahwa Mey, akan berucap seperti itu. Padahal dirinya hanya ingin menggoda Mey, untuk melihat apa Mey, cemburu atau tidak. Mey, tidak tahan lagi menahan bendungan air matanya hingga air matanya pun luruh membasahi pipinya. 


"Aku permisi," ucap Mey, yang melangkah pergi namun, Elo, berhasil menahannya dengan menarik tangan Mey, dan langsung memeluknya.


"Maaf, jika ucapanku menyinggungmu." Elo, menyesal. Mey, hanya bisa menangis tanpa berkata sepatah kata pun. Tubuhnya bergetar hebat, kepalanya ia sembunyikan di balik dada bidang milik Elo. 


"Aku tidak tersinggung. Memang kenyataannya aku bukan wanita hebat seperti keinginanmu, rasanya aku tidak pantas menjadi kekasihmu, jadi mohon biarkan aku pergi." Mey, berusaha melepas pelukan Elo, namun Elo, tidak melepaskannya melainkan menahannya dengan mendaratkan bibirnya pada bibir Mey. 


"Jangan katakan itu lagi, kau adalah wanitaku wanita hebatku, mengerti!" 


Cup, 


Elo, kembali mengecup bibir Mey, membuat Mey, terdiam merasakan sentuhan lembut itu. 


"Jangan keluarkan air mata ini lagi mengerti!" Elo, mengusap air mata yang membasahi pipi Mey. "Aku tidak suka melihatmu menangis," ucap Elo, yang langsung memeluk Mey, hangat. 


...----------------...


Elo, makanya jangan asal bicara wanita mudah tersinggung. hehe bener gak sih!