
Mey, duduk terdiam di meja kerjanya seraya menatap rantang makanan di depannya. Sungguh menyakit, kan hatinya melihat Elo, di peluk oleh wanita lain. Rasanya tak ada lagi rasa semangat dalam dirinya. Tubuhnya terasa lelah, dan lesu.
'Ada apa denganku ini, kenapa aku jadi seperti ini? Apa aku cemburu!' batin Mey
'Ah, tidak-tidak, mana mungkin aku cemburu, wajar saja Elo, memiliki kekasih wanita mana yang tidak ingin dekat dengannya tampan, kaya, pintar wanita itu juga sangat cantik, dibanding, kan denganku sungguh sangat berbeda aku memiliki wajah cantik karena brushku wajah asliku sangat buruk' Mey terus bergulat dalam hatinya hingga saat Elo, keluar pun dia tidak menyadari dan malah melamun.
"Bukan, kah dia wanita tadi," ujar Jilya, yang melihat Mey, melamun di meja kerjanya. "Jadi dia sekretarismu," sambung Jil, yang menarap Elo.
"Mey," panggil Elo, membuat Mey, terkesiap.
"Ah iya, Tu-tuan bos?" ucap Mey, gugup netranya terus menatap tangan Jil, yang melingkar di tangan bosnya. Meyakin, kan Mey, bahwa mereka sepasang kekasih karena Elo, sama sekali tidak keberatan di gandeng oleh gadis itu.
"Sebentar lagi kita ada meeting, tolong kamu siapkan berkas-berkasnya,"
"Iya Tuan," jawab Mey, gugup.
"Ayo, katanya mau antar aku pulang." Jil, merajuk manja, menarik tangan Elo, untuk segera pergi. Mey, hanya menatap kepergian mereka berdua dengan rasa kecewa.
'Mey, jangan terlalu berharap' batin Mey yang terduduk lemah.
****
Jil, di antarkan Arkan, pulang ke rumahnya. Karena kedua orang tuanya berada di amerika jadi Jil, akan tinggal dengan Elo, tapi bukan di rumahnya melainkan di rumah Sarah dan Rakka. Karena Elo, tidak biasa tinggal satu rumah dengan wanita, bahkan Jil, saja belum pernah di ajak ke rumahnya hanya Mey, satu-satunya wanita yang Elo, bawa pada malam itu.
Selain Elo, Jil, juga dekat dengan Arkan, mereka sudah berteman sejak lama. Karena Jil, gadis periang dan pandai bergaul jadi hal mudah baginya untuk kenal dengan teman barunya.
"Arkan, sejak kapan kakakku mengganti sekertaris?" Begitulah Jil, dari dulu dia selalu menganggap Elo, sebagai kakaknya namun sikapnya lebih dari sekedar kakak dan adik, malah terlihat seperti kekasih.
"Baru-baru ini, setelah sekretaris lamanya berkhianat, jadi tuan bos menggantinya,"
"Kalau tahu begitu aku bisa jadi sekretarisnya."
"Memangnya kamu akan menetap di indonesia?"
"Enggak sih, hehe" ucap Jil, yang cengengesan.
"Oh, iya apa wanita sihir itu masih mendekati kakakku?"
"Wanita sihir!" Arkan, mengerut, kan keningnya, seraya menatap Jil, dari depan kaca.
"Wanita Sihir, siapa lagi kalau bukan si raron itu."
"Oh, Sharon. Mereka memang di jodohkan, tapi tuan bos menolak perjodohan itu," jelas Arkan, yang tetap fokus menyetir.
"Syukurlah kakakku menolaknya, aku tidak ingin punya kakak ipar seperti dia," ketus Jilya, seraya bersedekap.
Jilya, memang mengenal Sharon, sejak lama namun dia tidak menyukainya. Jilya, salah satu penghalang Sharon, yang ingin dekat dengan Elo. Jilya, yang selalu menggagalkan pertemuan mereka, selalu jahil saat Sharon, datang ke rumah Elo.
****
Mey, merasa canggung setelah kejadian tadi pagi. Hingga saat bersama Elo, pun Mey, tidak begitu banyak bicara. Bahkan, selalu menghindari Elo.
Seperti saat ini, selesai meeting Mey, langsung bergegas pergi tanpa berpamitan pada Elo, membuat Elo, terheran-heran.
'Ada apa dengannya' gumam Elo, yang melihat kepergian Mey, dan langsung menyusulnya.
"Mey, tunggu." Langkahnya begitu cepat hingga Elo, bisa mencapai Mey, dan langsung menarik tangannya membuat tubuh Mey, langsung berbalik dan mendarat pada dada bidang miliknya.
Mey, hanya diam melongo saat mendapat perlakuan itu dari bosnya. Membuat jantungnya saat ini berdetak lebih cepat, hatinya berdebar-debar. Apalagi di saat menatap mata indah milik Elo, yang mampu menghipnotis dirinya.
"Tuan bos ada apa," ucap Mey, sedikit gugup seraya menjauhkan tubuhnya dari Elo.
"Jangan panggil aku Tuan, panggil aku Elo, saja," elak Elo.
"Iya, ada apa? Elo, aku buru-buru aku harus …" ucap Mey, tertahan karena Elo, langsung menarik tubuhnya kembali ke dalam dekapannya.
"Kau mau kemana?" Tatap Elo, penuh arti membuat jantung Mey, semakin berdegup.
"A-aku mau,"
"Ayo, temani aku makan siang!" Elo, langsung menarik tangan Mey, membuat Mey, terkesiap.
"Tu-tunggu, aku bawa bekal," ucap Mey, membuat langkah Elo, terhenti.
"Bekal!" Elo, menatap Mey.
"Iya,"
"Apa rantang tadi itu bekal untukku juga?" Elo, mengingat kembali rantang yang jatuh saat Mey, masuk ke dalam ruangannya.
"Mm … tidak, aku hanya membawa bekal untukku saja," Elak Mey
"Benarkah! Lalu untuk apa tadi kamu ke ruanganku!" Mey, jadi belagapan bingung harus jawab apa, karena memang tujuannya masuk ke ruangan Elo, untuk mengantar, kan makanan yang sudah dia buat untuknya!
"Ta-tadi …."
"Sudah ayo, aku akan memakan makananmu, sekarang kau bawakan makanan itu ke ruanganku,"
"Ta-tapi."
"Tidak ada kata tapi," sanggah Elo, yang masih menarik tangan Mey, menuju ruangannya.
****
'Tanya gak ya siapa cewek tadi? Lebih baik jangan deh, ngapain aku tanya-tanya' batin Mey, yang terus mengaduk-ngaduk makanannya sampai tak sadar Elo, memperhatikannya.
Ehm, bahkan Elo, berdehem pun dia tak menyadari. Mey, masih terus bergelut dengan pikirannya.
"Mey, apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Elo, yang membuat Mey, terkejut
"Ah, tidak ada," elak Mey.
"Dari tadi kulihat kau melamun, sampai makanan mu tidak kau makan sama sekali,"
"Ah itu, aku-aku merindukan Miekey, bagaimana kabarnya?"
"Jadi itu yang membuatmu melamun!" Elo, menatap Mey, membuat Mey, jadi salah tingkah.
"Ah, iya," ucap Mey, gugup.
"Aku, akan membawamu padanya nanti,"
"Benarkah!" Mey, tersenyum memang kenyataannya dia sangat merindukan Miekey.
Hm, hanya itu yang Elo, ucapkan. Tiba-tiba Elo, mendapat sebuah telepon, mengharus, kan Elo, untuk mengangkatnya terlebih dulu.
"Kakak …." teriak Jil, dari balik telepon membuat Elo, menjauhkan ponselnya pada telinganya.
"Ya Tuhan, gadis ini benar-benar!" umpatnya. Mey, hanya menatapnya bingung. Dan penasaran dengan gadis yang sedang berbicara pada bosnya itu.
"Ada apa?" tanya Elo, pada sambungan telepon.
"Aku hanya ingin mengingatkan, bahwa kita akan jalan sore ini,"
"Iya-iya,"
"Awas kalau bohong,"
"Iya, nanti sore kita jalan."
"Jemput aku oke!"
"Iya, nanti aku jemput. Jil, sudah dulu aku sedang sibuk,"
"Baiklah. Tapi ingatnya nanti sore."
"Hm," ucap Elo, singkat lalu mematikan teleponnya.
'Jadi benar mereka pacaran! Dan akan pergi jalan nanti sore' batin Mey. Entah kenapa hatinya semakin terasa sakit. 'Siapa gadis itu sebenarnya!' tanya Mey, pada hatinya.
"Mey," panggil Elo,
"Iya!"
"Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Apa?"
"Kau pakai apa di wajahmu sehingga lukamu tertutup," ucap Elo, yang terus menatap Mey, yang kini wajahnya sudah mulus.
"Kenapa? Apa aku tidak cantik? Aku hanya ingin berdandan saja seperti wanita pada umumnya. Aku tidak bermaksud untuk menipu semua orang atau pun dirimu. Tapi apa salah jika aku ingin terlihat cantik seperti wanita lain."
"Maaf, jika ucapanku menyinggungmu " Elo, merasa bersalah karena pertanyaannya membuat Mey, salah paham.
"Kau tahu Elo, setiap hari hidupku hanya di hina bahkan semua orang merasa jijik melihat wajahku, aku bagaikan seorang monster, apa aku seseram itu? Tapi aku merasa aneh kenapa kau tidak takut padaku, kau pria satu-satunya yang mendekatiku."
"Bagiku kau sangat cantik. Banyak wanita yang cantik di dunia ini tapi tidak ada yang sepertimu," ucapan Elo, membuat dirinya melayang-layang.
"Gombal," sanggah Mey.
"Memangnya aku seperti menggombal,"
"Ya, nyatanya ucapanmu semua bohong. Kau bilang aku cantik padahal sebenarnya tidak. Aku jadi teringat ucapanmu dulu."
"Yang mana?"
"Beauty and the beast. Putri Belle bertemu dengan seorang monster, yang menyeramkan. Namun putri Belle, mencintainya dengan tulus hingga monster itu pun berubah menjadi seorang pangeran yang tampan. Cinta sejati merubah monster itu menjadi tampan. Kadangku berharap aku akan mendapatkan cinta sejati dan wajahku akan berubah menjadi cantik. Tapi itu tidak mungkin," ucap Mey, dengan nada lemah seolah tidak ada semangat dalam dirinya.
"Kenapa tidak mungkin!" Elo, terus menatap Mey, dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
"Karena itu hanya sebuah dongeng,"
"Cinta sejati bukan hanya ada dalam dongeng tapi ada di dunia nyata." Mey, menoleh kini mata keduanya saling bertatapan.
"Kau mudah mengatakan itu semua wanita mendamba, kan mu tapi aku … siapa yang mencintaiku."
"Mey," panggil Elo, lembut tatapannya tak berpaling dari Mey.
"Hm," ucap Mey, singkat. Kini wajah keduanya saling dekat dan saling bertatapan.
...****...
Kira-kira Elo, mau ngomong apa ya!
Terima kasih yang sudah setia ikuti kisah Melon, jangan lupa like, vote, rate dan Favorit komentar nya juga ya sayang 💖