
Mengingat Gladis, sudah mengetahui pernikahannya Bara, jadi teringat akan Siska. Takut jika Gladis menemuinya dan melakukan hal bodoh pada istri sirinya itu.
Bara, bergegas meninggalkan kantornya dan pergi menuju apartemennya. Sesampainya di apartemen Bara, tidak menemukan Siska. Apartemennya terlihat kosong dan sepi tanpa penghuni.
"Siska!"
"Siska!"
"Dimana dia!"
Berulang kali Bara, memanggil nama istrinya, namun tidak ada jawaban sama sekali dari Siska. Bara, melangkah memasuki kamarnya tetap sama kosong dan sepi.
Namun ada satu yang menjadi perhatiannya. Satu black card dan selembar surat di atas ranjang king sizenya. Bara, mengambil satu black card itu yang sempat ia berikan pada Siska.
Dan satu lembar surat yang ia buka dan baca.
Maaf, aku pergi tanpa pamit.
Aku tidak bisa menerima uang ini
Aku tidak bisa menjual rahimku,
Aku sadar, kamu menikahiku karena satu tujuan demi mendapatkan seorang anak.
Tapi aku tidak bisa, aku bukanlah wanita lacur yang bisa kau bayar demi melahirkan anakmu.
Dan untuk perjanjian itu aku tidak bisa
Aku tidak bisa melakukannya.
Satu milyar aku kembalikan, dan aku tidak pernah memakai uang itu sepersen pun.
Maaf kan aku Mas, tapi aku tidak bisa melakukannya.
Bara, meremas kuat surat itu, setelah tahu jika Siska, pergi darinya. Memang benar awal pernikahan mereka karena sebuah janji yang di tulis hitam di atas putih. Namun sekarang, Bara merasakan hal yang berbeda.
Setelah kebersamaannya bersama Siska, ada satu perasaan yang tak bisa ia jabarkan. Nyaman, tenang, rindu, dan hangat. Itulah yang di rasakan Bara, bila dekat dengannya.
Di sisi lain, Siska, duduk termenung di sebuah taman. Deras air hujan membasahi tubuhnya. Perkataan Gladis, membuatnya sadar jika Bara, tidak mencintainya namun hanya menikahinya karena satu tujuan.
"Dasar pelacur, berapa besar suamiku membayarmu hah! Berapa? Aku yakin suamiku telah memberikanmu uang, kan berapa harga tubuhmu itu."
Ucapan Gladis, membuat Siska, mengeram. Dirinya terasa di hina karena menjual tubuhnya demi uang. Namun, kenyataan memang benar jika Bara, membayarnya satu milyar demi melahirkan anaknya.
Perkataan itu masih terngiang di telinganya. Hingga Siska, memutuskan untuk pergi darinya.
"Maaf, kan aku Mas, aku terpaksa pergi aku tidak bisa jika harus hidup bersamamu. Aku tidak bisa menyembunyikan perasaan ini, aku mencintaimu Mas, aku tidak siap jika harus kehilanganmu."
Siska, menyadari dengan perasaannya yang sudah mulai jatuh cinta, perhatian Bara, kelembutannya, kasih sayangnya, apa lagi setelah menghabiskan malam bersamanya, Siska, mulai merasakan getaran cinta pada hatinya.
Saat bersamanya kata nyaman yang ia rasakan, namun kenyataan pahit membuat dirinya sadar jika itu salah, Bara, melakukan semua itu demi anak yang akan di kandungnya tidak lebih apalagi cinta.
Air hujan yang deras terus mengguyur tubuhnya, tanpa ia sadar jika tubuhnya kini sudah mulai memerah. Bintik-bintik pada tubuh dan wajahnya sudah mulai muncul.
Siska, pun panik saat melihat kondisi tubuhnya.
"Ya Tuhan, tubuhku!"
Beruntung keadaan taman dalam keadaan sepi, dengan segera Siska, mencari tempat berteduh. Dirinya berlari ke arah pohon yang besar yang bisa di jadikannya untuk berteduh. Siska, pun mengeringkan tubuhnya dengan mengusap-ngusapkan telapak tangannya.
Namun, itu tidak membuat tubuhnya kering, dan masih basah. Siska, pun mengambil sebuah mantel hangat yang ia bawa di dalam tasnya. Tak lupa juga dengan masker dan kaca mata hitam yang ia kenakan.
Setelah hujan mulai reda, Siska pun pergi berlari mencari tempat aman dan sepi. Akhirnya ada sebuah bangunan kecil di tengah-tengah taman. Bangunan yang terbuat dari kayu menyerupai gajebo namun setengah tertutup.
Siska, pun masuk ke dalam gazebo itu mengeringkan kembali tubuhnya setelah benar-benar kering Siska, pun menyapukan kembali brushnya yang dalam seketika tubuh dan wajahnya kini berubah jadi cantik dan mulus.
"Beruntung aku membawa brush ini. Jika, tidak aku tidak tahu apa yang terjadi."
Siska, bernafas lega akhirnya tubuhnya kembali mulus dan bersih. Namun, tanpa dia ketahui ada seseorang yang mengintipnya.
****
Bara, memacukan mobilnya begitu cepat. Tak peduli air hujan menghalangi jalannya. Setiap jalanan, di seluruh ibu kota dia lewati dengan harap akan menemukan Siska. Namun, pencariannya sama sekali tak membuahkan hasil.
Bara, berteriak hingga memukul bundaran stir di depannya. Dirinya benar-benar frustasi karena tidak menemukan Siska.
Dering ponsel berbunyi menandakan ada sebuah panggilan. Tanpa menunggu lama Bara, pun menjawab panggilan itu.
"Gimana apa kalian sudah menemukannya?"
"Maaf Bos. Kita belum menemukan istri Bos."
"Sial!" umpat Bara, yang semakin marah.
"Saya tidak mau tahu temukan istriku segera."
Dengan kasar Bara, menutup panggilan itu. Tak berselang lama ponselnya kembali berdering. Kini Haikal, lah yang menghubunginya, mengatakan jika terjadi masalah di perusahaan.
"Bara, lo dimana?" Suara bariton Haikal, terdengar keras di ujung sana.
"Aku sedang tidak ingin di ganggu."
"Jangan tutup dulu Bar. Ini penting."
"Tidak ada yang lebih penting dari masalahku sekarang, aku harus mencari istriku."
"Tunggu yang mana, yang kamu maksud?"
"Siska. Sudah dulu aku harus segera mencarinya."
"Gladis ada disini Bar!"
Hampir saja Bara menutup teleponnya.
"Gladis, di perusahaanku? Apa yang dia lakukan?"
"Kamu lihat saja apa yang di lakukannya."
"Apa maksudmu?"
"Gladis, memanggil para wartawan dan membuat konferensi pers. Kabar perselingkuhanmu sudah menyebar, semua orang sudah tahu, dan Gladis, menuduh Siska, sebagai perusak rumah tangganya."
"Kenapa kamu biarkan itu Haikal. Seharusnya kamu usir dia, dan semua wartawan itu."
"Aku sudah mencoba, tapi pernyataan Gladis, membuat mereka tetap berada disini."
"Ah sial!"
Brakk,
Dengan penuh emosi Bara, melempar ponselnya hingga berada di bawah kakinya. Sedangkan Gladis, dia mengadakan konferensi pers dan mengumumkan pada media, jika dirinya di khianati oleh suaminya.
Bahkan, Gladis, mengatakan jika wanita itu merebut suaminya.
"Gladis, bisa di jelaskan kenapa dan apa masalahnya sehingga suami anda selingkuh?"
"Selama ini rumah tangga anda terlihat baik-baik saja, kenapa tiba-tiba anda mengumumkan kabar buruk ini?"
"Bagaimana perasaan anda?"
Pertanyaan bagai pertanyaan yang di lontarkan para wartawan, membuat Gladis, semakin ingin memanipulasi keadaan. Dengan bakat aktingnya Gladis, berpura-pura sedih, menangis. Seolah dirinya yang terluka.
Gladis, terus mengatakan keburukan Siska, yang sudah merebut suaminya.
"Perasaan saya sudah pasti sangat sedih. Kecewa, sangat kecewa. Suami saya di goda oleh wanita lain bagaimana tidak sedih? Dan yang paling menyakitkan saar mengetahui semuanya."
"Sebenarnya rumah tangga kami baik-baik saja tidak ada masalah apa pun. Namun, beberapa hari ini suamiku terlihat berbeda, jarang pulang dan tidak ada waktu untukku, bahkan kami sangat jarang bertu dan komunikasi pun tidak ada."
"Aku mencoba berpikir positif, mungkin karena kesibukan kami berdua. Namun, kenyataan nya bukan melainkan karena orang ketiga."
Ucapan Gladis, membuat kabar semakin riuh. Apalagi posisi Gladis, sebagai publik figur membuat para fans geram dan semakin menyudutkan Siska. Mereka menganggap Siska, adalah pelakor, dan banyak dari mereka yang memberi dukungan pada Gladis.
"Gladis bagaimana apa yang akan anda lakukan? Apa jalan cerai yang akan anda pilih?" Pertanyaan wartawan kembali di lontarkan.
"Tidak akan aku biarkan orang ketiga menjadi penghalang dan perusak rumah tanggaku. Tanpa aku jelaskan kalian semua pasti mengerti dan tahu ap keputusanku."