
Siska, berjalan menyusuri desa, sawah yang hijau yang menjadi pemandangan-Nya sepanjang perjalanan. Seperti biasa Siska, menutupi wajahnya dengan selendang namun, kali ini Siska, merasa heran dengan para penduduk desa yang menatapnya.
Siska, pun sedikit memanjangkan selendangnya agar wajahnya tertutup. Karena, Siska berpikir jika mereka melihatnya karena jijik dengan tubuhnya.
"Neng, mau kemana?"
Siska, terkejut saat ada seorang lelaki bertanya padanya, selama tinggal di desa itu Siska, tidak pernah bertemu atau melihat penduduk itu ramah dan sopan padanya.
"Saya mau ke vila," jawab Siska gugup, yang berjalan cepat.
"Tenyata dari kota. Pantesan geulis pisan ( pantas cantik sekali)" ucap lelaki itu.
Di tengah jalan Siska, kembali merasa heran saat melewati warung yang kemarin ia lewati. Anehnya pemilik warung itu tersenyum padanya sangat ramah begitu pun dengan penduduk lainnya.
'Ada apa denganku hari ini? Kenapa semua orang berbeda!' batinnya.
Siska, pun tiba di sebuh vila, yang ia yakini sebagai tempat Mey, wanita yang ia temui kemarin. Namun, saat akan mendekati vila itu, sebuah mobil melewatinya, di dalam mobil itu terlihat Mey, Elo, Vika, dan Arkan. Yang akan kembali ke kota hari ini.
Namun, Mey, tidak menyadari jika wanita yang dia lihat adalah Siska, seorang wanita buruk rupa yang ia temui kemarin. Karena, wajah Siska yang berubah.
"Permisi" seru Siska, saat sampai di depan gerbang vila itu.
"Ada apa ya neng?" tanya seorang pria yang menjaga vila itu.
"Saya mau ketemu dengan nona Mey, dia dari kota katanya tinggal di vila ini. Apa saya boleh bertemu pak?"
"Oalah, Neng. Baru saja mereka pergi mau pulang ke kota, Neng, temannya dari kota?"
"Bukan,"
"Nona Mey, nya sudah pulang."
"Ya udah pak makasih ya pak. Saya permisi."
"Iya Neng."
Siska, pun pergi dengan rasa kecewa karena tidak bisa bertemu dengan Mey. Di tengah jalan Siska, melihat sebuah mobil yang berhenti tepat di depan sebuah vila. Dari jauh Siska, perhatikan seorang wanita yang turun dari mobil itu.
Matanya terbelalak saat tahu wanita itu adalah Vera, yang menggandeng seorang pria tua. Vera, pun memasuki vila itu bersama pria tua nya.
"Vera, Pak Bram," ucapnya demikian.
Siska sangat kenal dengan pria tua itu, yang sempat ingin memaksanya untuk tidur dengannya. Namun, saat itu Siska, menolak hingga terjadilah keributan yang membuat Siska, di marahi madam J.
"Jangan sampai Vera, melihatku."
Siska, pun berlari menjauh dari vila itu, namun karena tak hati-hati Siska, hampir di tabrak sebuah mobil, beruntung mobil itu berhenti, hanya saja Siska, tak sengaja menyenggol kaca spionnya hingga terjatuh.
"Maaf, maaf."
Siska, pun mengambil kaca spion itu namun, dirinya dibuat terkejut saat melihat bayangan wajahnya yang berubah menjadi cantik, bersih, dan mulus, tanpa adanya bintik merah.
"Mba, tidak apa-apa?" tanya seorang pria pemilik mobil itu.
"Mba, Mba!" panggil pria itu lagi membuat Siska, terkejut.
"Pak, maaf ini kacanya."
"Tidak apa-apa, ini bisa saya perbaiki. Tapi Mba tidak apa-apa, kan!"
"Saya baik-baik saja kok pak!"
"Yakin? Jika ada yang sakit saya bawa ke dokter."
"Tidak apa-apa kok pak. Saya tidak terluka."
"Sekali lagi saya minta maaf ya Neng." Pria itu kembali masuk ke dalam mobilnya lalu pergi.
Siska, terus menyentuh wajahnya yang merasa aneh karena wajahnya berubah dalam seketika. Sesampainya di gubuk Siska, langsung menuju cermin untuk melihat kembali wajahnya. Dan benar saja wajahnya terlihat bersih, mulus, dan cantik.
Siska, pun kembali teringat pada brushnya.
"Apakah karena brush ini?" ucapnya seraya menggenggam brush itu.
*
*
Siang ini Janet, berada di sebuah lapas. Rasa penasaran terhadap putrinya pun membuat Janet, ingin menemui Sharon.
Lima belas menit Janet menunggu seorang petugas lapas membawa Sharon, keluar menemuinya. Janet, tertegun di tatapnya wajah Sharon, dalam. Janet, seolah melihat masa mudanya kembali karena Sharon, begitu mirip dengannya.
"Siapa anda?" tanya Sharon, yang memang tak mengenali Janet.
"Kenapa kamu bisa di penjara?" Bukannya menjawab, Janet berbalik nanya.
"Apa urusanmu?" kata Sharon, sinis.
"Karena aku wanita yang kau cari." Sharon, menatap Janet, dalam diam.
"Aku Janet, wanita yang kau cari," lanjut Janet, tatapannya tak berpaling dari Sharon.
"Jadi kau wanita itu. Apa kau terkejut melihat putrimu yang tinggal di lapas. Sehingga kau bertanya apa sebabnya aku berada disini."
"Aku tidak menyangka, akhirnya kau datang menemuiku IBU," lanjut Sharon. Janet hanya menunduk malu, dan merasa bersalah.
"Dimana Farhan?"
"Kenapa kau meninggalkan ku?" Bukannya menjawab Sharon, kembali bertanya.
"Dimana Farhan?" tanya Janet, lagi.
"Dimana ayahku?" tanya Sharon, membuat Janet bungkam.
"Farhan, adalah ayahmu dimana dia sekarang? Kenapa dia tidak bisa menjaga dirimu hingga kau masuk ke dalam penjara."
"Dia tidak bisa menjagaku tetapi dia merawat dan membesarkanku hingga saat ini." Janet, semakin bungkam.
"Dia selalu memberikan apa yang aku mau, menyayangiku, membelaku, membesarkanku, walau dia bukan ayah kandungku. Tetapi seorang ibu yang sudah melahirkanku tega meninggalkanku."
"Itu masa lalu," sanggah Janet.
"Apa bedanya dengan hari ini?" tatap Sharon, tajam. "Dulu kau meninggalkanku dan sekarang kau menemuiku apa bedanya? Apa Dulu kau tidak peduli padaku dan sekarang kau memperdulikanku."
"Kenapa kau meninggalkanku?"
"Sharon,"
"Kau tahu namaku? Dan kau masih ingat! Berarti kau tidak lupa saat kau pergi meninggalkanku."
"Maaf, tapi aku punya alasan."
"Alasan? Apa karena aku bukan anak yang kau harapkan itukah alasannya?"
"Farhan, laki-laki bejad yang tega membunuh ayah dan adiknya sendiri. Demi kepuasannya. Aku, tidak ingin terlibat dalam hal itu."
Sharon, tersenyum sinis
"Apa bedanya denganmu seorang wanita malam, bahkan aku saja tidak tahu siapa ayahku. Bukankah kalian sama-sama bejad."
"Diriku yang di besarkan dengan cara yang salah, dan di lahirkan atas satu kesalahan membuat jalan hidupku juga salah. Dan sekarang aku berada di tempat ini di tempat yang salah. Kau ingin tahu apa sebabnya?" ucap Sharon, yang mendekatkan wajahnya di depan wajah Janet.
"Karena kesalahanku yang menjadi seorang pembunuh."
Janet, terbelalak mendengar perkataan Sharon. Dirinya tak percaya jika Sharon, melakukan hal itu. Dulu, sebelum pergi Janet, sangat berat meninggalkan putrinya yang masih kecil. Namun, karena satu alasan dia tega meninggalkannya.
Janet, tidak ingin Sharon, mengikuti jejaknya sebagai wanita malam dan hidupnya yang terjebak dalam lembah hitam. Janet, ingin putrinya hidup dengan benar, menjalani kehidupannya sebagai wanita biasa.
Berpendidikan, cerdas, dan menjadi kebanggaan orangtua. Itu yang ia harapkan. Namun, meninggalkan Sharon, saat itu adalah kesalahan yang besar. Kesalahan karena menitipkannya pada orang yang salah.
Farhan, mendidik Sharon, dengan caranya agar menjadi seseorang yang serakah atas apa yang ingin dimilikinya. Hingga menjadi seorang pembunuh seperti apa yang Farhan, lakukan.
"Aku telah salah meninggalkan mu, seharusnya saat itu aku membawamu," ucap Janet, yang matanya mulai berkaca-kaca.
"Kenapa? Apa kau menyesal karena tidak menjadikanku sebagai wanita malam sepertimu."
Janet, menatap Sharon, tajam. Dia berdiri lalu mendekat.
"Kau tahu ibumu ini wanita seperti apa? Itulah alasannya kenapa aku meninggalkanmu, karena aku tidak ingin kau sepertiku." Suara Janet, meninggi di akhir kalimat.
"Ku akui kau lahir karena satu kesalahan yaitu aku. Kau tahu bagaimana duniaku? Dunia hitam yang menyesatkan, seburuk-buruknya diriku aku tidak ingin siapa pun menjadi diriku terutama kau. Aku tidak ingin kau hidup dengan seorang ibu yang tinggal di sebuah club malam. Aku memikirkan masa depanmu. Karena aku tahu setelah dewasa kau akan mengerti dan malu."
"Kau harus sekolah, belajar, tapi apa kata orang jika dirimu tinggal di sebuah club, aku tidak ingin kamu mendapatkan hinaan itu. Itu sebabnya kenapa aku meninggalkanmu bersama Farhan, karena ku percaya hidupmu akan bahagia tanpa adanya hinaan."
"Tapi aku salah, keputusanku salah. Farhan, telah membawamu ke jalan yang sesat. Membuatmu terjerumus ke jalan yang salah."
...----------------...
Seburuk-buruknya seorang ibu pasti melakukan yang terbaik untuk anaknya.