
10 tahun lalu
Di tengah malam di saat rumah sakit dalam keadaan sepi, seorang pria berjalan mengendap memasuki salah satu kamar rawat. Pria itu menutupi wajahnya dengan masker, dan berpura-pura sebagai seorang perawat.
Di dalam sana Edwin, terbaring lemah dengan alat medis yang menempel di tubuhnya. Pria itu berjalan menghampiri Edwin, dia tersenyum menyeringai. Di saat sudah di depan ranjang yang di tiduri Edwin, pria itu membuka maskernya lalu tersenyum sinis.
Tangan kirinya mulai menjelajah menyusuri satu persatu alat medis. Hingga berhenti di sebuauh selang oksigen yang di pegangnya. Satu pisau tajam ia tampilkan, di tangan kanannya. Sepesekian detik pisau itu ia arah kan pada selang oksigen untuk memutus, kannya.
Tubuh Edwin, pun mulai bergerak, kejang-kejang, nafasnya mulai terasa sesak sesaat selang oksigen itu terputus. Edwin, membuka matanya perlahan matanya membulat sempurna seolah terkejut melihat wajah pria itu yang ternyata Farhan, anaknya sendiri.
Bibirnya terlihat bergerak, dan mengatup seperti ingin mengatakan sesuatu, namun tidak bisa Edwin, katakan. Mungkin saat itu Edwin, ingin sekali berteriak tapi apa daya bibirnya tak mampu terbuka.
"Selamat jalan papa," ucap Farhan yang tersenyum, lalu pergi meninggalkan Edwin.
Di luar sana Jimmy, baru saja keluar dari dalam lift, dalam waktu bersamaan Farhan, pun memasuki lift itu. Namun, Jimmy, tak bisa mengenalinya di karena, kan Farhan menutupi wajahnya.
Jimmy, melangkah santai menuju ruangan kamar Edwin, namun sesampainya di sana, Jimmy, di kejut, kan dengan keadaan Edwin, yang sudah tak sadarkan diri.
Perlahan-lahan masalalu pun mulai terungkap kini Jimmy, datang berkunjung ke kediaman Tini, dan Mey.
"Nenek, Mey, pergi dulu," ucap Meisie, yang melangkah ke arah Tini, namun langkahnya terhenti karena melihat ada Tini, yang duduk bersama Jimmy.
"Mey, duduklah," titah Tini, Meisie, pun duduk di antara mereka.
"Kenal, kan dia paman Jimmy, teman papamu," ucap Tini, membuatnya terkesiap.
"Teman papa!" ucap Meisie, yang menatap Jimmy.
"Saya Jimmy, teman sekaligus pengacara papa dan kakekmu. Saya, senang kamu selamat dari kebakaran itu dan tumbuh menjadi gadis cantik dan dewasa. 10 tahun paman mencari keberadaanmu hingga akhirnya kita bertemu saat ini," ucap Jimmy.
"Mey, nenek ingin memberitahukan sesuatu tentang masa lalu mu. Dulu sebelum kebakaran itu terjadi …."
Flashback on
Tini, yang saat itu sedang ingin pergi ke kamar mandi yang terletak di belakang rumahnya, saat keluar tak sengaja menangkap sosok pria yang berjalan ke arah rumah Farel, yang bersebrangan dengan rumahnya.
"Siapa orang itu? Mencurigakan," ucapnya saat melihat pria itu membawa dua buah kompan entah apa isinya.
Karena Tini, tidak bisa menahan rasa sakit di perutnya Tini, pun langsung masuk ke dalam kamar mandinya. Sepuluh menit lamanya Tini, pun keluar dari kamar mandi, matanya kembali menangkap sosok pria yang baru saja di lihatnya.
"Sedang apa orang itu? Apa yang dia lakukan?" ucap Tini, yang terus bermonolog saat melihat pria itu menyiramkan cairan bening pada kompan yang di bawanya.
Lama Tini, perhatikan namun, karena malam yang larut, membuatnya terasa dingin dan juga takut karena malam itu begitu mencekam. Tini, pun memutuskan untuk kembali ke dalam rumahnya.
Tak berselang lama, setelah dirinya tertidur suara teriakan terdengar begitu keras, di luar sana hingga mampu membangunkan tidurnya. "Ada apa di luar pada berisik," ucapnya seraya mengucek-ngucek matanya. Lalu berjalan ke luar rumahnya.
Tini, di kejutkan dengan teriakan warga yang memadamkan api yang begitu besar membakar rumah tetangganya. Namun, Tini, teringat seseorang yang menjadi kesayangannya.
Di saat dirinya panik matanya tak sengaja kembali melihat pria tadi yang tersenyum menyeringai menatap rumah yang terbakar di depannya. "Orang itu apa dia yang melakukan ini?" ucap Tini, yang langsung di kejutkan dengan tubuh seorang gadis yang berguling ke arahnya.
"Mey " Tini begitu terkejut, saat melihat anak itu yang penuh luka bakar. Namun, hanya dia saja yang melihat warga lainnya sibuk dengan memadamkan api.
Tini, mengecek denyut nadinya, juga hembusan nafasnya, yang bersyukur karena Mey, masih hidup. Tini, pun membawa Mey, kerumahnya di bantu oleh tetangganya Lastri. Dan Tini, merahasiakan jati diri Mey, yang sesungguhnya saat itu. Karena Tini, takut ada seseorang yang ingin membunuhnya.
Flashback off
Meisie, sangat terkejut setelah mendengar ucapan Tini, dirinya baru mengetahui bahwa kebakaran itu terjadi karena di sengaja.
"Kenapa ada orang yang tega melakukan itu Nek," ucap Meisie, yang mulai berkaca-kaca.
"Semua sudah terjadi Nak," Tini, mencoba menenangkannya.
"Mey, orang itu masih ada dan ingin mencelakaimu. Paman harap kamu harus lebih hati-hati."
"Siapa orang itu? Apa tidak ada yang menghukumnya?"
"Hukum berlaku jika ada bukti," ucap Jimmy.
"Nenek, dulu nenek bisa menjadi saksi, kan? Kenapa nenek tidak melakukan itu? Kenapa baru sekarang kalian bicarakan hal ini. Seandaintya dulu aku tahu mungkin aku sudah melakukannya."
"Mey, saksi saja tidak cukup semua butuh bukti, bukti yang akurat," ucap Jimmy.
"Saat itu, nenek hanya mencemas, kanmu, nenek hanya bisa diam demi keselamatanmu Nak," ucap Tini, memberikan pengertian.
"Mey, paman datang untuk menjemputmu jadilah penerus Antares grup, papamu masih memiliki perusahaan yang harus kamu kelola. Jangan biarkan aset Antares grup jatuh kepada orang yang salah."
"Mey, tidak membutuhkan perusahaan yang Mey, butuh, kan adalah papa dan mama. Apa bisa paman kembalikan mereka?" Jimmy, dan Tini, hanya diam.
Mungkin sulit bagi Meisie, mengetahui semua ini. Di usia ya yang masih kecil harus kehilangan kedua orang tuanya, dan yang lebih menyakit, kan Mey, harus melihat kematian orangtuanya sendiri.
Kebakaran itu merenggut semua kebahagiaan-Nya, tidak hanya harta dan kedua orang tuanya, namun wajahnya yang menyisakan bekas luka bakar, yang membuat wajahnya cacat.
Meisie, pergi ke rumah lamanya yang masih tersisa puing-puing bangunan, dan reruntuhan bangunan yang terbakar. Di tatapnya rumah itu dengan penuh kesedihan.
Meisie, berjalan memasuki rumah itu, di lihatnya anak tangga yang sudah rapuh, membuat bayangan pahit itu terlintas dimana di saat papanya tertimpa reruntuhan bangunan yang langsung merenggut nyawanya.
Papa …
Teriakan itu masih terngiang di telinganya. Kobaran api itu masih terlihat jelas, sulit baginya untuk melupakan kejadian itu. Bahkan, di saat mengingatnya nafasnya terasa sesak dan sakit.
"Mama … papa …," ucap Meisie, yang langsung terduduk lemah di hamparan debu abu yang kotor, pandangannya kini mulai kabur, hingga akhirnya tubuhnya pun tumbang.