The Magic Face Brush

The Magic Face Brush
Tes DNA



Suasana semakin riuh dan kacau, penduduk desa semakin mengamuk. Sedangkan, Vera dan Bram, kebingungan apa yang harus mereka lakukan.


Tak lama kemudian datanglah sebuah mobil sedan berhenti tepat di depan gerbang. Seorang wanita yang sedikit terlihat tua, turun dari mobil itu di temani oleh seorang wanita muda yang di taksir sebagai anaknya. 


Wanita itu membelah kepadatan penduduk yang menghalangi pintu masuk ke dalam vilanya. 


"Minggir kalian semua." teriak wanita muda itu dengan penuh amarah. 


Para penduduk desa pun berpencar, membuka jalan untuk kedua wanita itu. Bram terlihat panik, saat melihat kedua wanita yang sedang menatapnya. 


Wajahnya terlihat tegang, keringat dingin pun bercucuran. Para penduduk desa pun saling berbisik dan bertanya siapa wanita itu. Wanita tua itu pun bejalan lambat ke arah Bram dan Vera. 


Plak, 


Satu tamparan mendarat mulus di pipi kiri Bram. Tangan yang mulai keriput itu sudah berani menampar wajahnya. Namun Bram tetap diam.


"Hei, nyonya apa yang kau lakukan?" Skak Vera, yang emosi. Mendengar ibunya yang di bentak wanita muda itu pun melangkah maju mendekati Vera. 


Plak, 


Satu tamparan mendarat mulus di pipinya. Vera, terkejut dan menahan malu juga menahan perih atas tamparan yang wanita itu berikan.


"Issh," Vera, menahan sakit karena tangan yang akan menampar wanita itu di cengkramnya kuat, dan langsung di tepiskan.


"Dasar wanita ******, tak tahu malu." 


"Apa! ******. Mas, kenapa kamu diam saja dia telah menghinaku." 


Vera, meminta pembelaan namun Bram, tetap diam.


"Jadi ini kelakuan papa." Mata Vera, membulat sempurna ketika mendengar kata papa. 


"Papa berani membawa selingkuhan papa ke vila ini. Beraninya papa menyakiti mama." Wanita muda itu terlihat sangat marah, melihat ayahnya sendiri dengan wanita lain bahkan seumuran dengannya. 


"Mama tidak percaya papa melakukan hal ini. Jadi kecurigaan Mama selama ini benar papa bermain gila." Pekik wanita tua. 


"Kenapa kalian ada disini?" Bram, membuka suara. 


"Kenapa? Ini vilaku, dan kamu beraninya membawa wanita ini ke vilaku." 


Aaa … jerit Vera, yang rambutnya di jambak oleh wanita tua itu. 


"Mulai sekarang kamu pergi dari sini. Kita cerai." Wanita tua itu emosi, mengusir Bram, dengan Vera. 


"Usir saja mereka pak, mereka telah berbuat mesum di vilaku," ujar wanita tua itu pada penduduk desa. 


"Jadi mereka bukan suami istri. Usir mereka dari sini." 


Vera, merasa malu saat di arak keliling desa. Siska, yang melihat itu tersenyum akhirya Vera, mengalami apa yang dia alami.


Siska, sangat mengenali Bram, begitu pun keluarganya karena mereka adalah tokoh terpandang. Dengan modal ponsel yang di pinjamnya dari warga sekitar, Siska, menghubungi nomor istri Bram, yang dia dapatkan dari akun resminya. 


Beruntung istri dan anaknya Bram, mendengarkan apa yang di katakannya sehingga saat ini kedua wanita itu tahu bagaimana buruknya sikap Bram, yang ternyata bermain gila di belakang istri dan anaknya. 


Siska, pun telah kembali ke gubuknya. Malam mulai larut, Siska kembali membersihkan dirinya lalu kembali tertidur. Saat malam mulai gelap tubuh dan wajahnya pun kembali berubah seperti semula. 


Karena kekuatan brush itu hanya bertahan 12 jam. Begitupun dengan kelemahannya air dan api. Saat tubuhnya terkena air kekuatan sihir pun menghilang. 


*


*


Farhan, duduk termenung memikirkan perkataan Janet, kemarin. Farhan, terus memikirkan tes DNA itu, rasa penasarannya terus mengusik pikirannya. Hingga Farhan, pun memanggil Mey, untuk menemuinya. 


"Ada apa paman? Kenapa paman memintaku datang," tanya Mey, yang menatap Farhan di depannya. 


"Saya ingin meminta tolong" 


"Minta tolong!" 


"Hanya kamu yang bisa paman percayai." 


"Memangnya apa yang paman inginkan?" 


Farhan, pun memberikan sebuah plastik yang terdapat sehelai rambut di dalamnya. "Apa ini?" tanya Mey, heran. 


"Bantu paman untuk melakukan tes DNA." 


"Tes DNA?" 


Farhan, pun mengatakan dan menjelaskan secara rinci. Apa maksud dan sebabnya ingin melakukan tes DNA. Farhan, mengatakan apa yang di katakan Janet, bahwa Sharon, adalah darah dagingnya atau anak kandungnya. 


Karena rasa penasarannya Farhan, pun ingin membuktikan apa benar Sharon, anaknya atau bukan. 


"Kapan?" 


"Kemarin." 


"Apa dia bertemu dengan Sharon?" 


"Ya." jawab Farhan, singkat. 


'Jadi Sharon, benar-benar mencari tahu tentang ibunya' batin Mey. 


"Maaf paman, sebenarnya aku yang memberitahukan tentang hal itu padanya. Bahwa Sharon, bukanlah anak paman, dan aku bilang jika ibunya pergi meninggalkannya." 


"Aku tidak menyalahkan mu. Bagaimana pun juga kebenaran akan terungkap. Paman mohon bantulah paman, untuk membuktikannya. Bawalah rambutku ini dan rambutnya dan lakukanlah tes DNA." 


"Jika kenyataannya Sharon, bukan anak paman?" 


"Aku tidak peduli. Tapi jika dia putri kandungku aku akan merasa bersalah dan menyesal. Seharusnya dulu aku tidak membunuh papa, seharusnya aku memberikan bukti tes DNA jika Sharon, adalah cucu kandungnya mungkin kakekmu masih ada." 


"Percuma jika paman menyesal sekarang. Semua sudah terjadi." 


"Ya, kamu benar tidak ada artinya jika aku menyesalinya saat ini. Tapi, setidaknya aku dapat kesempatan untuk meminta maaf pada putriku.",


"Aku akan melakukannya. Semoga hasilnya sesuai apa yang paman harap, kan." 


"Terima kasih," ucap Farhan, dengan mata nanar. 


***


Mey, langsung menemui Sharon, untuk mengambil rambutnya. Sharon, bertanya apa maksud kedatangannya. Namun Mey, hanya menjawab "Aku hanya ingin menjengukmu." ucap Mey. 


"Kenapa? Kau merindukanku!" Sinis Sharon.


"Aku dengar, kamu bertemu ibumu. Bagaimana wajahnya apa dia cantik?" 


"Kenapa? Apa kau ingin menghinaku? karena ibuku seorang lacur." 


"Aku senang karena kau bertemu ibumu. Buruk baiknya dia adalah ibumu. Dan dia masih ada, kamu masih bisa bertemu dengannya. Tidak dengan aku, yang sudah tidak bisa melihat mereka lagi."


"Jangan menangis di depanku, aku tidak akan terenyuh," ucap Sharon, yang melihat bulir air mata menetes di bawah mata Mey. 


"Maaf." 


"Sharon, bolehkah aku merapikan rambutmu, rambutmu sedikit berantakan." 


"Tidak perlu." ketus Sharon. Namun, Mey, tetap melangkah kebelakang Sharon, untuk menyisir rambutnya. Mey, pun mengambil beberapa helai rambut yang tertinggal pada sisir. 


"Hentikan, rambutku nanti rusak," bantah Sharon.


"Maaf, tapi aku sudah menyisirnya." 


"Jika, tidak ada hal penting lebih baik kau  pergi," ketus Sharon, lalu beranjak pergi meninggalkan Mey, yang masih duduk terdiam. 


'Apa benar Sharon, anak kandung paman? Itu berarti selama ini mereka salah paham. Dan kesalah pahaman itu membuat benteng permusuhan di keluarga kami.' 


Batin, Mey seraya menatap helaian rambut yang ia pegang. Lalu di masukannya ke dalam plastik dan ke dalam tas. 


Sepulang dari lapas Mey, pun langsung menuju lembaga tes DNA, dengan mengandalkan rambut yang ia punya. Cukup lama menunggu, akhirnya hasil tes DNA pun sudah keluar. Mey, hanya menunggu beberapa jam saja karena dirinya meminta pada pihak lembaga tes DNA untuk memberikan hasil dari tes DNA itu sekarang. 


"Ibu Meisie" panggil seorang petugas resepsionis. Mey, yang merasa namanya terpanggil pun langsung berdiri. 


"Saya Meisie." 


"Ibu Meisie, yang melakukan tes DNA atas nama tuan Farhan dan nyonya Sharon?" 


"Iya, betul."


"Baik ini hasil tesnya Bu," petugas resepsionis itu pun memberikan sebuah amplop coklat, yang Mey, terima. 


"Apa hasilnya akurat? Apa tes DNA disini tidak pernah salah atau melesat." 


"Selama kami melakukan tes DNA tidak pernah ada hasil yang keliru atau pun salah. Namun, jika ibu merasa tidak puas ibu bisa membawa orang yang bersangkutan untuk di lakukannya tes DNA." 


"Baiklah terima kasih." 


"Sama-sama Bu." 


Mey, pun membawa amplop itu. Mey, begitu penasaran dengan hasilnya, namun dalam dirinya masih ada keraguan untuk membuka amplop itu. 


"Apa hasilnya ya! Aku jadi penasaran."