The Magic Face Brush

The Magic Face Brush
Potret



Farhan, mulai mencari keberadaan Meisie, dirinya kini mulai ketakutan karena hak waris dari Farel masih hidup. Farhan, mondar-mandir tak jelas, pikirannya saat ini sangat kacau, pekerjaannya pun tak kunjung selesai.


Di saat dirinya sedang gelisah, tiba-tiba seorang informan-Nya datang kembali menemuinya di perusahaan. Farhan, pun sangat antusias menyambutnya, ingin segera mendengar kabar baik yang di berikan oleh informan-Nya.


"Kau sudah mencarinya? Bagaimana dimana anak itu sekarang?" tanya Farhan, yang sudah tak sabar ingin mendengar jawabannya.


"Saya belum menemukan anak itu, tapi saya sudah mendapat, kan petunjuk," ucap seorang pria di depannnya.


"Apa? Katakan."


"Menurut informasi yang saya dapat, pada hari itu ada seorang nenek yang menolongnya. Ada kemungkinan anak itu ada bersamanya."


"Namanya Kartini, dulu mereka tinggal tak jauh dari tempat itu, namun sekarang mereka sudah pindah. Nenek itu selalu berpindah tempat saya tidak tahu sekarang mereka tinggal dimana." Jelas informan itu yang membuat Farhan, kecewa.


"Pokoknya saya tidak mau tahu, cari mereka saya akan bayar berapa pun asalkan dalam waktu dekat kamu sudah memberikan informasi keberadaan anak itu," ucap Farhan.


"Baik, akan saya usahakan."


"Kamu boleh pergi, dan kembali lagi setelah menemukan keberadaan anak itu."


"Baik, saya permisi."


Pria itu pun pergi, meninggal, kan Farhan, yang merasa kecewa. Bersamaan dengan pria itu pergi, Farhan, kedatangan seorang tamu pria berpakaian formal, dengan tas jinjing di tangan kanannya.


Farhan, terlihat tegang saat pria itu berjalan ke arahnya dan duduk di depannya seperti tidak suka melihat pria itu datang.


"Apa kabar Tuan Farhan, lama tak jumpa," ucap pria itu yang tak lain adalah Jimmy, pengacara Farel dan mendiang ayahnya.


"Sepertinya kabarmu sedang tidak baik apakah benar begitu? Aku melihat ketakutan di matamu. Apa karena keponakanmu sudah kembali!" ucap Jimmy, yang begitu santai.


Tapi tidak dengan Farhan, yang begitu terkejut karena informasi tentang anak Farel, sudah di ketahui oleh Jimmy, si pengacara.


"Farhan, Farhan, sebentar lagi kemewahan yang kamu miliki akan segera berakhir. Setelah aku menemukan Mey, jangan harap kamu bisa berada di sini, di tempat ini perusahaan yang seharusnya menjadi milik putri dari Farel, bukan dirimu."


"Puas-puaskan lah, nikmatilah semua ini karena sebentar lagi kamu tidak akan bisa menikmatinya lagi. Karena sebentar lagi semua yang kamu miliki akan jatuh pada hak waris yang sesungguhnya. Ingat ucapanku baik-baik Farhan."


Jimmy, tersenyum smirk, sorot matanya begitu tajam menatap Farhan, di depannya. Jimmy, merasa senang setelah mendapat kabar tentang Mey, anak dari Farel. Dengan harap bisa menemukan Mey, secepatnya dengan begitu masalah keluarga Antares akan segera di selesai, kan terutama masalah harta warisan.


Selain itu Jimmy, ingin segera menjalankan wasiat kedua yaitu menikah, kan antara cucu dari keluarga Antares dan Mahendra.


Farhan, marah semua barang ia lemparkan. Ketakutannya semakin menghantuinya. Bukan hanya karena harta yang di milikinya akan hilang tetapi ada satu yang membuatnya lebih takut lagi, kebakaran.


Kebakaran yang di sengaja karena ulahnya sendiri. Farhan, takut jika nanti kejahatannya terbongkar, dan di ketahui bahwa dirinyalah yang membunuh adiknya sendiri.


"Pengacara itu tidak boleh menemukan Mey, tidak boleh. Sebelum dia menemukan keponakanku aku yang harus terlebih dulu menemukannya," ucap Farhan, yang gelisah.


"Sharon! Ya, Sharon, pasti bisa membantuku," gumam Farhan.


****


Di tempat lain Meisie, kembali di sibukan dengan pekerjaannya. Meisie, terus memantau perkembangan produk terbarunya, setelah cutting, sewing, kini sudah mencapai proses finishing dan packing barang yang akan di ekspor ke berbagai negara.


Selain itu, Meisie, kembali bertemu Miekey, si kucing pintar yang kini sedang melakukan pemotretan sebagai model produk terbarunya KITTY T-SHIRT. Selain itu hubungannya dengan tuan bos sudah membaik, Elo, sudah tidak lagi mengabaikannya.


"Tuan, saya ingin mengambil potret kalian boleh?" tanya seorang potographer.


"Dengan Tuan bos? Silahkan saja pak," ucap Meisie, yang di sanggah si potographer.


Awalnya Meisie, dan Elo, sama-sama canggung tapi karena si potographer terus meminta, hingga akhirnya Elo, terpaksa melakukan pemotretan. Gaya keduanya begitu kaku, si potographer pun tidak suka dengan gaya mereka, seperti sedang interviu saja.


Si potographer pun memberikan arahan, mengubah gaya mereka agar terlihat lebih harmonis dan romantis. Elo, dan Meisie, memeluk Miekey, bersama menyimpan Miekey, di tengah-tengah mereka. Membuat wajah keduanya semakin dekat hingga mata keduanya saling bertatapan, hembusan nafas menderu.


Meisie, sama sekali tak berkedip mata indah coklat membuatnya terhipnotis. Bahkan kedua bibir mereka berjarak sangat dekat, membuat jantung berdetak lebih cepat.


Si potographer terus memotret, seolah tidak ingin kehilangan momen ini. Tetapi tidak dengan Elo, dan Meisie, yang merasa canggung juga gugup. Di saat pemotretan terakhir Miekey, si kucing pintar tiba-tiba melompat membuat Meisie, terkejut membuat posisinya berubah.


Namun, posisi terakhir ini yang membuat si potographer senang, karena berhasil mengabadikan momen ini, dalam potret terlihat Miekey, yang melompat, sedangkan Meisie, bersikap panik kedua bola matanya membulat, mulutnya menganga lebar dan pipinya seolah beku karena sentuhan sang pangeran.


Tanpa sengaja Elo, mendaratkan bibirnya pada pipi kiri Meisie, dengan ekspresi yang mencengankan namun itu salah satu potret yang paling indah bagi si potographer.


Meisie, terus menyentuh pipinya yang baru dapat kecupan pertama dari bosnya. Pipinya terlihat merah merona, kecupan itu membuatnya tergila-gila hingga berguling-guling di atas tempat tidurnya.


Sedang, kan Elo, dia terus berkumur, menyikat gigi, membasuh bibirnya terus-menerus dengan air. Di pandangnya bayangan dirinya pada pantulan cermin, bayangan saat dirinya mengecup pipi Meisie, terus terlintas membuatnya semakin kesal dan terus melakukan lagi kumur-kumurnya.


Arghh …


Elo, melempar handuknya kesembarang tempat. Elo, kesal karena bayangan Meisie, terus muncul di pikirannya, hingga Elo, terlentang di atas tempat tidurnya, matanya fokus menatap langit kamarnya.


"Kenapa bibir ini mendarat di pipinya, kenapa," umpat Elo, yang menepuk-nepuk bibirnya.


"Ini semua karena Miekey. Miekey, dimana kau!" teriak Elo, memanggil kucingnya tiba-tiba getaran ponsel mengejutkannya, membuat Elo, terbangun untuk mengangkat panggilan teleponnya.


"Halo, Arkan, ada apa?" tanya Elo, pada sambungan telepon.


"Tahanan sudah bebas" jawab Arkan.


"Apa! Bagaimana bisa,"


"Ada seseorang yang membebas, kannya."


"Siapa?"


"Mereka tidak memberitahukan namanya,"


"Sial! Bajingan itu kembali bebas," umpat Elo.


"Pantau terus pria itu, dan cari tahu siapa yang membebas, kannya."


"Baik, Tuan akan saya selidiki," ucap Arkan, sebelum akhirnya panggilan pun di tutup.


"Siapa yang berani membebaskannya?" tanya Elo, heran karena Marchel, bebas dari penjara.


****


Marchel, baru saja bebas karena Sharon, menjaminnya. Kini Sharon, membawa Marchel, ke tempatnya untuk menyusun kembali rencananya.


Marchel, tersenyum senang karena bebas dari jeruji besi.


"Jika kamu masuk penjara lagi, aku tidak akan membantumu," ucap Sharon, yang terlihat kesal dan marah. Sedangkan, Marchel, hanya tersenyum licik.


"Sekarang kau ikut denganku, kita buat rencana baru," ujar Sharon, yang tangannya fokus memutar bundaran setir di depannya.