
Keesokan paginya Mey, kembali bekerja namun dirinya terlihat heran dengan tingkah para karyawan dan staf disana. Hampir semua karyawan yang berpapasan dengannya akan selalu menunduk seperti memberi hormat.
Mey, jadi bingung melihat hal itu.
"Kenapa dengan mereka? Apa ada yang aneh padaku? Atau jangan-jangan di belakangku ada Tuan Bos" gumam Mey, yang sedang berjalan.
Mey, berpikir ada Elo, di belakangnya hingga semua karyawan menunduk hormat. Namun, saat Mey, melihat ke arah belakang tidak ada Elo, atau pun tamu terhormat. Lalu pada siapa mereka hormat?
Mey, tidak tahu bahwa semua orang sudah tahu hubungannya dengan Elo. Ungkapan Elo, pada malam itu membuat heboh jagat maya dan semua orang apalagi para wanita yang mengagumi Elo, pengakuan Elo, yang sudah memiliki kekasih itu membuat patah hati wanita sedunia.
"Gue masih gak nyangka, Tuan bos kekasihnya Meisie,"
"Beruntung banget dia. Dari mulai OB lalu jadi sekretaris sekarang jadi kekasihnya apa jangan-jangan dia pakai pelet,"
"Hust, jangan sembarangan kalau ngomong nanti kalau Tuan bos dengar bisa berabe."
Para karyawan wanita saling berbisik. Tak sedikit dari mereka yang merasa iri.
Mey, sudah sampai di meja kerjanya. Mey, masih heran dengan sikap para karyawan lain terhadapnya. Mey, yang penasaran pun akhirnya bertanya pada sahabatnya Vika.
Mey, menemui Vika, di party namun ekspresi wajah Vika, begitu berbeda seperti sedang menahan amarah. Lebih tepatnya kecewa, karena Mey, tidak jujur padanya tentang hubungan dengan bosnya.
"Vika, kamu kenapa kok jutek gitu!" tanya Mey, yang duduk di samping Vika.
"Kamu nganggap aku sahabat gak sih!" ketus Vika, yang berkacak pinggang.
"Tentu, sejak kapan aku tidak menganggapmu,"
"Sejak sekarang!"
"Kenapa kamu bilang gitu?" Vika, pun melirik ke arah Mey, dengan sorot mata tajamnya.
"Karena kamu sudah tega membohongiku. Kamu bilang kamu tidak pacaran dengan Tuan bos tapi nyatanya apa? Kamu kekasihnya, kan! semua orang sudah tahu. Aku kecewa saja bukannya tahu darimu tapi dari orang lain." Vika, semakin menekuk wajahnya.
"Kata siapa Vika?" Mey, heran dari mana mereka tahu hubungannya dengan Elo. Vika, pun memberikan sebuah vidio yang berdurasi 5 menit pada ponselnya. Ternyata ungkapan Elo, semalam ada orang yang mengabadikan momen itu hingga akhirnya vidio itu tersebar.
Mey, terharu melihat vidio itu. Mey, tidak menyangka bahwa Elo, akan mengakui hubungan mereka di tempat umum. Mey, pun tersadar akan keegoisan dirinya. Mey, kira Elo, akan malu mengakui hal itu namun ternyata tidak.
"Mey," bentak Vika, yang mengejutkan lamunannya.
"Iya Vika,"
"Sekarang jelaskan apa ini benar?" tanya Vika, tegas. Seperti sedang mengintrogasinya. Mey, pun hanya bisa mengangguk sebagai jawaban.
"Sejak kapan?" Vika, menatap Mey, dengan serius.
"Sejak di mal itu," ucap Mey, gugup.
"Aduh, Mey kenapa kamu gak bilang. Jadi bener, kan dugaanku saat itu kamu pergi dengan Tuan bos! Kamu tega banget sih Mey, padahal aku sahabat kamu tahu."
"Iya, Maaf."
"Maaf-maaf. Pokoknya sebagai permintaan maaf aku ingin kamu traktir aku selama seminggu." ancam Vika.
"Iya-iya. Udah dong jangan marah lagi. Kita, kan sahabat." Vika dan Mey, pun berpelukan.
Di tempat lain Sharon, sangat tidak suka dengan kabar bahagia tersebut. Kebenciaannya pada Meisie, semakin bertambah. Hingga akhirnya Sharon, meminta bantuan Farhan, untuk melenyapkan Mey.
"Papa, bukankah Papa sudah mengutus seseorang untuk membunuhnya lalu kenapa dia masih hidup." Sharon, benar-benar kesal karena Farhan, masih belum melenyapkan Meisie.
"Bisakah kamu tidak marah-marah Sharon." Farhan, sudah pusing dengan tingkah putrinya. Bahkan, Farhan sendiri juga bingung bagaimana cara melenyapkan Meisie.
Tuhan seakan melindunginya. Berbagai cara di lakukan selalu saja gagal, Meisie, seperti di lindungi para dewa dan malaikat.
"Kalau seperti ini terus biar aku saja yang melakukannya." Sharon, benar-benar tidak sabar ingin segera melenyapkan Mey.
"Jangan gegabah Sharon," pekik Farhan, karena menganggap tingkah Sharon itu sangat berbahaya.
"Sudahlah pa, jangan tahan aku lagi."
"Apa yang mau kamu lakukan?"
"Jika kita selalu gagal untuk mencelakainya. Kita bisa melakukan cara lain yaitu dengan mengancam keluarganya." Sharon, sepertinya sudah tahu apa yang akan dia lakukan.
"Keluarganya! Maksudmu?"
"Papa lupa dengan perlakuan papa dulu kepada om farel?"
"Apa kamu akan membakar rumahnya?"
****
Elo, mengajak Mey, ke rumahnya untuk mempertemukan Mey, dengan Miekey, kucing kesayangannya. Saat tiba di depan rumah, Mey, langsung mendapat sambutan dari Miekey.
Miekey, melompat kedalam pangkuannya. Mengecupnya dengan lembut untuk melampiaskan kerinduannya. Sehingga Miekey, tak ingin turun dari pangkuan Mey, tingkahnya begitu sangat manja.
Meisie, sangat senang bisa bertemu Miekey. Mereka pun bermain bersama. Di saat kebersamaan itu Elo, kedatangan seorang tamu yaitu Arkan, sepertinya Arkan, membawa kabar penting hingga harus datang ke rumahnya.
"Arkan, ada apa?"
"Ada sesuatu yang penting yang harus anda tahu Tuan."
"Tentang apa?"
"Tentang keluarga Antares." Mendengar keluarga Antares, Elo, pun langsung membawa Arkan, ke ruangannya, membiarkan Mey, bersama Miekey, sementara.
Di ruang kerjanya Elo, dan Arkan, sama-sama memperlihatkan wajah tegangnya. Elo, begitu fokus membaca satu persatu berkas yang Arkan, bawa. Sungguh mengejutkan ternyata anak farel, yang selama ini mereka cari adalah Meisie, atau Mey, yang sekarang menjadi sekretaris sekaligus kekasihnya.
Masalalu Mey, lama-lama terungkap. Di saat kebakaran naas yang merenggut orangtua nya yang di lakukan Farhan. Hingga Mey, di rawat oleh seseorang yaitu Nek, Tini yang menyelamatkannya setelah kebakaran itu.
Dan juga kejahatan-kejahatan Farhan, yang lainnya. Sekarang Elo, tahu kenapa Mey, selalu dalam bahaya. Ternyata ada orang yang ingin melenyapkannya.
"Nek, Tini ini juga bisa kita jadikan saksi atas terjadinya kebakaran itu. Karena Nek, Tini ini melihat dengan jelas orang yang membakar rumah itu." jelas Arkan,
"Kalau Nek, Tini menjadi saksi akan kejadian itu, itu berarti dia dalam bahaya. Selain Mey, Nek, Tini juga dalam bahaya." Arkan, dan Elo, seolah memiliki pemikiran yang sama.
Di tempat lain Nek, Tini yang sudah tua dan berjalan hanya mengandalkan tongkat kecil, penglihatannya pun sudah kabur tidak begitu jelas.
"Mey, Mey," Nek, Tini memanggil-manggil Mey, saat mendengar suara-suara percikan api terdengar.
"Apa itu? Cahaya apa itu?" Karena penglihatannya sudah tidak jelas Nek, Tini hingga tidak menyadari bahwa cahaya itu berasal dari api.
...----------------...
Apa yang terjadi? Semoga nek Tini baik-baik saja.
Hai sahabat Melon, sebelum nunggu up dari othor kalian bisa mampir ke novel teman othor kak JBlack, yang ceritanya gak kalah seru.
Mengubah takdir gadis jerawat istri sanga casanova
Othor kasih cuplikannya nih!
Eps 14. Dijebak
Syakir yang mulai hilang kendali dengan tubuhnya yang terbakar akan gairah segera membuka pakaiannya. Pria itu terlihat sangat tidak sabaran. Kemudian dia juga melepaskan robekan lingerie itu dan melemparnya ke sembarang arah.
Tangannya dengan lihai bergerak kesana kemari. Memberikan sensasi yang begitu seksi dengan diiringi kecupan-kecupan manja di beberapa tempat yang sangat ia sukai.
"Punyamu sedikit lebih kecil, Sayang. Apa kau sudah rajin olahraga?" tanya Syakir saat kedua tangannya bermain di dua gunung dengan begitu lihainya.
Syakir yang memang sudah tak sabar. Langsung membuka kedua kaki wanitanya. Dia menempatkan senjata miliknya tepat di depan goa indah tanpa rawa-rawa tersebut.
"Kau benar-benar masih perawan, Sayang. Milikmu begitu sempit dan mencengkram milikku!" kata Syakir berbisik di telinga Rachel. "Tahanlah sebentar yah. Aku akan memaksanya masuk!"
🌴🌴🌴
Di tempat lain, terlihat enam orang anak manusia sedang tertawa riang di sebuah apartemen. Mereka sedang menikmati malam indah nan panjang dalam hidup mereka.
"Apakah Kekasihmu si Syakir, sudah membuka segelnya?" tanya seorang wanita yang saat ini sedang menenggak minuman di tangannya.
"Pasti. Aku yakin kekasih uangku itu sudah melakukannya berulang kali," balas wanita dengan pakaian seksi yang sedang duduk.
"Apa kau tak cemburu, Sayang?" bisik pria yang tangannya memegang gelas berisi minuman alkohol.
"Cemburu?" ulang Rachel dengan menyusupkan wajahnya ke leher pria yang sedang memeluknya. "Tak ada dalam kamusku."
Rachel terkekeh. Dia menjauhkan kepalanya lalu menatap ke arah dua sahabatnya yang juga bersama pasangannya.
"Aku yakin Syakir berpikir bahwa akulah yang ada dibawahnya. Aku yakin dia melakukannya dengan gila," kata Rachel mengingat apa saja yang sudah dia lakukan pada seseorang.
"Lalu apa rencanamu selanjutnya?" tanya temannya yang lain dengan posisi duduk di pangkuan sang kekasih.
"Aku akan menendang Humaira jauh dari kampus kita," balas Rachel dengan mata berbinar.