The Magic Face Brush

The Magic Face Brush
Persetujuan



"Temanmu masih hidup," ucap Arkan, membuat Vika, tertegun lalu meliriknya. Vika, pun sangat terkejut saat Arkan berada di sampingnya.


 "Pak Arkan!" 


"Mari ikut saya," ajak Arkan, yang langsung menarik tangan Vika, untuk ikut bersamanya. Para karyawan lain hanya menatapnya bingung.


"Itu si Vika, mau di bawa kemana?" 


"Apa jangan-jangan mau di marahin pak Arkan, ya!" 


"Waduh, gawat dong!" 


"Kasihan banget sih! Lagi sedih eh, di marahin." 


"Sudah-sudah lanjut kerja nanti kita juga kena marah." Bisik para karyawan se-devisi dengan Vika.


"Pak Arkan, saya mau di bawa kemana? Apa benar yang bapak katakan Mey, masih hidup?" Vika, terus mengoceh sepanjang perjalanan. Arkan, membawa keruangannya.


"Duduklah," titah Arkan, saat sudah sampai di ruangannya. Vika, pun duduk di kursi kosong. 


"Pak, benarkah Mey, masih hidup?" Vika, kembali bertanya.


"Husst, jangan terlalu keras." Arkan, tidak ingin ada orang lain tahu tentang keberadaan Mey, jika mereka tahu rencana pun akan gagal. 


"Memangnya kenapa pak?" Vika, merasa heran, jika memang Mey, masih hidup kenapa ada kabar tentang kematiannya. Dan kenapa Arkan, terlihat ketakutan jika ada orang yang mendengar tentang Mey. 


"Begini, sebenarnya Mey, masih hidup," 


"Benarkah! Lalu dimana dia sekarang?" 


"Hust," Arkan, menutup mulut Vika, dengan tangannya karena suara Vika, terlalu keras. 


"Apa Mey, bersembunyi?" tanya Vika, sedikit berbisik. Arkan, pun menjawab dengan anggukan. 


"Lalu kenapa di berita …," ucap Vika, karena di sanggah Arkan.


"Begini, selama ini banyak sekali yang mengincar Mey. Seseorang ingin melenyapkannya. Jadi, demi keselamatan nyawanya terpaksa Mey, di sembunyikan. Dan kabar kematian itu hanyalah sebagai manipulasi keadaan untuk memancing seorang musuh." 


"Memancing musuh!" Vika, tidak mengerti. 


"Kejadian kebakaran kemarin bukanlah kecelakaan, melainkan kesengajaan ada orang yang sengaja membakar rumah Mey," 


"Lalu Nek, Tini?" Vika, khawatir dengan nek Tini, yang juga berada di rumah itu.


"Dia, ada bersama Mey. Mereka berdua kini berada di rumah tuan bos," jelas Arkan.


"Syukurlah, aku tenang sekarang Mey, dan nek Tini, baik-baik saja. Tapi … siapa yang kejam membakar rumah mereka!" 


"Itulah, kenapa kita memberikan kabar palsu tentang kematian Mey. Salah satu untuk mencari tahu siapa pelaku dari kebakaran itu. Sekarang kami masih mencari bukti, untuk menangkap pelaku tersebut," jelas Arkan. 


'Apa mungkin Shera, tapi … masa iya dia tega membakar rumah Mey' batin Vika, yang merasa Shera, lah di balik kebakaran itu. 


"Apa kau ingin bertemu dengan temanmu itu?" tawar Arkan, Vika, begitu antusias dia tersenyum lebar karena sangat ingin bertemu Mey. 


"Tentu, apa aku bisa bertemu dengannya!" 


"Kau harus dapat persetujuan dulu." 


"Apa!" Vika, merasa heran kenapa bertemu Mey, harus dapat persetujuan, lebih tepatnya mendapat izin. Vika, benar-benar tidak mengerti, hingga akhirnya dirinya sampai di sebuah ruangan CEO. Karena Arkan, membawanya menemui Elo, untuk mendapatkan persetujuan. 


Awalnya Elo, tidak mengizinkan. Namun dengan usaha Vika, yang terus meyakinkannya akhirnya Elo, pun setuju dan mengizinkan Vika, untuk bertemu dengan Mey. 


"Apa kau bisa di percaya?" Elo, menatap Vika, dengan sorot mata tajamnya. 


"Tuan, aku bersumpah aku akan menjaga rahasia ini. Aku tidak akan bilang pada siapapun tentang Mey, yang masih hidup. Aku janji." Vika, memohon dengan belas kasih hingga bersimpuh memohon padanya agar di berikan izin untuk bertemu Mey, sahabatnya. 


"Arkan, kau antarkan dia." Akhirnya Elo, pun luluh. Senyum Vika, begitu mengembang saat di mendapat persetujuan. Vika, pun di antar oleh Arkan, untuk menemui Mey. 


****


Di tempat lain, Mey, yang merasa canggung karena berada di rumah orang lain, menjadi lebih canggung saat berhadapan dengan nyonya besar, yaitu Sarah, ibu dari Elo, kekasihnya juga bosnya. 


Selama berhadapan dengan Sarah, Mey, tidak berani menatap, dirinya terus menunduk seolah takut jika harus bertatapan dengan nyonya besar rumah itu. Walau pun wajah Sarah, terlihat ramah dan baik.


"Jangan terus menunduk, apa kau takut padaku?" Sarah, merasakan bahwa Mey, takut padanya. 


"Mey," panggil Sarah, membuat Mey, mendongak. 


'Dari mana dia tahu namaku!' batin Mey. 


"Bagaimana kabarmu?" tanya Sarah, membuat Mey, semakin bingung.


'Dia menanyakan kabarku!' batin Mey, lagi.


"Apa kabar apa kau masih ingat tante?" 


"Tante!" ucap Mey, seraya menggeleng.


Mey, tertegun, dia semakin bingung dengan yang di katakan Sarah, apalagi saat mengatakan tentang perjodohan. 


"Tante, kenal saya? Tante tau masa kecil saya?" tanya Mey, yang masih merasa heran. Sarah, hanya mengulum senyum.


"Jelas Tante, tahu kamu anaknya Farel, kan! Ayahmu adalah teman dekat Tante, bahkan kedua orang tua kita berteman dekat kakekmu dan papaku," jelas Sarah. 


Mungkin Mey, sudah lupa dengan pertemuannya dulu. Karena saat itu dirinya masih berusia 4 tahun, saat masih imut-imutnya saat duduk di taman kanak-kanak. 


Sarah, yang sering berkunjung ke rumah Farel, begitu pun sebaliknya dan Elo, sudah berusia 6 tahun. Elo, yang masih polos dan Mey, yang masih nakal-nakalnya sering membuat ulah dan membuat Elo marah. 


Namun seiringnya waktu dan seringnya bertemu, mereka pun jadi dekat, Elo, yang usia lebih dewasa suka membantu Mey, saat belajar hingga bermain. Elo, yang selalu memanggilnya gadis kecil karena usianya yang begitu muda dan tubuhnya yang sangat kecil namun saat itu wajah Mey, masih terlihat cantik, chubby, dan menggemaskan. 


Seiringnya waktu, mereka pun jarang bertemu hingga Tuhan, mempertemukan kembali saat Mey, berusia 10 tahun dan Elo, berusia 12 tahun, mereka di pertemukan di sebuah taman dan saat itu Elo, tidak mengenali Mey, karena wajahnya yang cacat begitu pun sebaliknya, Mey, tidak mengenali Elo, karena bentuk tubuh yang semakin tinggi dan membesar. 


Kini setelah dewasa mereka di pertemukan kembali, dari sesama rekan kerja hingga menjadi sepasang kekasih. Tuhan, sudah benar-benar menakdirkan mereka untuk bersama. 


"Maaf Tante, tapi Mey, tidak ingat!" lirih Mey, seraya menunduk. 


"Tidak apa-apa Tante mengerti karena saat itu kamu masih kecil." Sarah mengulum senyum. "Mey," panggilnya, Mey, pun mendongak.


"Apa kau mencintai Elo!" 


Deg! Jantung Mey, mendadak berdetak lebih cepat, hatinya semakin berdebar, kenapa tiba-tiba Sarah, bertanya seperti itu padanya. 


'Kenapa nyonya besar bertanya begitu! Apa dia tahu hubunganku dengan Elo!' batin Mey, yang takut jika Sarah, tidak merestui hubungannya. Seperti pada umumnya orang kaya selalu mencari menantu yang sederajat dengan mereka, Mey, pun menjadi takut karena dirinya bukanlah siapa-siapa. 


"Tante aku …," ucap Mey, tertahan.


...*****...


Ayo, kira-kira Mey, mau ngomong apa ya! hehe, Mey, jodoh gak akan kemana bener gak sis hehe. 


Pokoknya jangan lupa likenya ya sahabat melon, kasih dukungan buat melon dong! Like, Vote, favorit jangan lupa biar dapat notif setiap hari. Biar tahu kapan Melon update yuhuuuu … Komentarnua dong jangan di lupakan, biar gak sepi-sepi amat hehe. 


...**** ...


Hai sahabat Melon, sambil nunggu author up lagi, singgah dulu yuk ke novelnya kak Ririn Puspitasari, temennya othir nih, novel nya yang seru berjudul Married By Assident nih cover nya 



Biar tambah penasaran othor kasih cuplikannya deh! 👇👇👇


Bab 9


"Apa?! sembilan puluh sembilan juta sembilan ratus sembilan puluh sembilan?!" Bella langsung membelalakan matanya.


Devan mengangguk.


"Ini tidak masuk akal!" tukas Bella yang langsung melemparkan map kembali ke atas meja.


"Tidak masuk akal atau kau memang tidak memiliki uang untuk membayarnya?" tanya Devan dengan menaikkan alisnya sebelah.


Bella meremas lututnya menahan rasa kesal. Namun, apa yang dikatakan oleh pria yang ada di hadapannya itu benar adanya.


"Setidaknya aku akan mencicilnya. Bukankah ini merupakan suatu kehormatan, aku datang dengan niat untuk bertanggung jawab. Kalau orang lain, sudah pasti dia akan kabur," tukas Bella dengan nada yang sinis.


"Siapapun yang berurusan denganku tidak akan bisa kulepaskan begitu saja. Sama halnya denganmu. Namun, aku berbesar hati padamu untuk memberikan tawaran yang menggiurkan." Devan mengambil map yang ada di atas meja dan kemudian membuka sebuah dokumen yang berisi perjanjian.


Bella pun mengambil kembali berkas tersebut. Sesaat kemudian keningnya mengernyit. "Bukankah ini lebih gila," batin gadis itu.


"Menikahlah denganku," ucap Devan seraya menyilangkan kedua tangannya di depan.


"Apa kau gila? Bukankah aku menabrak mobilmu? Apakah otakmu juga ikut rusak?!" tandas Bella dengan sarkasme.


"Nona, saya harap anda menjaga sikap!" tegas Joko, sang asisten.


"Bukankah ini tawaran yang langka? Banyak gadis yang berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Lagi pula ... Kau jangan sok jual mahal! Tampangmu sama seperti botol susu yang kau jual itu!" tukas Devan yang tak kalah kasar dari Bella.


Gadis itu menghela napasnya berat sembari mengigit bibir bawahnya. "Apa hakmu menghinaku?"


"Bukankah kau yang melakukannya terlebih dahulu?" timpal Devan santai.


"Baiklah. Aku akan membayar hutangku, tapi dengan cara mencicil," ujar Bella.


"Aku tidak menerima jenis cicilan atau pun kredit."


"Tapi aku tidak memiliki uang sebanyak itu," tukas Bella geram.


"Kalau begitu menikah saja denganku!"


"Aku tidak mau!" tolak Bella.


"Joko, telepon polisi dan jebloskan dia ke penjara!" titah Devan.