The Magic Face Brush

The Magic Face Brush
Despacito club



Kejahatan Sharon, semakin kuat saat bertemu dengan Marchelio. Mereka, pun menyusun rencana untuk menjebak Meisie. 


Elo, masih bersikap dingin pada Meisie, saat berhadapan bahkan saat bertemu di ruang meeting Elo, sama sekali tidak berbicara padanya, amarahnya benar-benar belum reda. 


Meisie, mencoba untuk bertanya namun selalu gagal, ada saja penghalangnya. Walaupun begitu Elo, tetap profesional dalam bekerja tidak pernah membawa masalah pribadi ke dalam pekerjaan. 


Seperti saat ini keduanya sedang berkeliling memantau para pekerja, juga melihat perkembangan produk terbarunya. Elo, hanya bicara sebatas pekerjaan saja itu pun tidak menatap Meisie, membuat Meisie, semakin canggung. 


"Tuan, ada masalah di bagian cutting, mereka tidak bisa memotong kain di karena, kan serat pada kain berbeda, mereka menunggu keputusanmu," ucap Meisie, memberitahukan permasalahan dalam produksi.


"Kita pergi kesana," ujar Elo, singkat yang berjalan menuju cutting. Meisie, hanya menghela nafasnya panjang saat mendapat perlakuan dingin dari bosnya. 


"Ya Tuhan, sampai kapan dia akan marah padaku," gumam Meisie, lirih lalu berjalan mengikuti Elo. 


Setelah semua pekerjaan selesai, Elo, kembali ke ruang kerjanya dan Meisie, kembali menuju meja kerjanya. Wajah Meisie, terlihat muram tidak ada semangat dalam bekerja, yang ada di pikirannya hanyalah Miekey, dan Miekey. 


Arkan, yang duduk tak jauh darinya merasa heran, saat melihat Meisie, raut wajahnya berbeda, seperti sedih dan ada masalah apalagi matanya terus melirik ke arah pintu ruangan Elo. 


Sejenak Arkan, perhatikan hingga akhirnya dia mengerti apa masalahnya. Arkan, pun menghampiri Meisie, untuk bertanya ada masalah apa dengan bosnya Meisie, pun menjelaskan akar permasalahannya. 


"Jadi karena itu?" ucap Arkan, setelah mendengar penjelasan Meisie.


"Pak Arkan, bantulah aku please …." Mohon Meisie. Arkan, pun berpikir sejenak lalu membisi, kan sesuatu. Seketika wajah Meisie, pun berubah menjadi lebih ceria. 


"Yakin?" tanya Meisie, 


"Coba saja!" jawab Arkan.


"Baiklah aku akan coba," 


"Figthing!" Arkan, menyemangati. 


Beberapa saat Meisie, melakukan saran dari Arkan. Meisie, membuat minuman kesukaan bosnya teh camomil, dengan harap bisa membuat Elo, sedikit tersenyum padanya walau pun itu tidak mungkin. 


Tok, tok, tok, 


Sebelum masuk Meisie, pun mengetuk pintu, terlebih dulu setelah itu masuk ke dalam ruangan Elo, dengan membawa nampan yang berisi secangkir teh. 


Meisie, melihat Elo, sibuk dengan laptopnya tanpa melirik ke arahnya. Meisie, pun terlihat gugup sesekali menghela nafasnya kasar.


"Tuan, saya buat, kan teh camomil kesukaan anda, saya tahu anda pasti lelah karena berkeliling lapangan hari ini, jangan lupa di minum tehnya Tuan," ujar Meisie, seraya menaruh tehnya di atas meja. 


Elo, sama sekali tidak menanggapinya yang ada hanya mengabaikannya. Meisie, pun keluar dari ruangan itu dengan perasaan penuh kecewa. Arkan, bertanya pada Meisie, dengan isyarat matanya, namun Meisie, hanya menjawab dengan mencebikan bibirnya. 


Meisie, pun berjalan malas menuju meja kerjanya. 


"Yakin dia, akan meminumnya. Semangat!" ucap Arkan, menyemangati. Meisie, hanya tersenyum menanggapinya. 


Tiba-tiba terdengar suara dentuman keras di dalam ruangan Elo, membuat Arkan, dan Meisie, terkejut lalu menghampiri Elo, di ruangannya untuk melihat apa yang terjadi. 


Meisie, terbelalak kedua bola matanya membulat sempurna ketika melihat cairan teh yang membasahi beberapa berkas yang terdapat di atas meja kerja bosnya. 


Elo, tak sengaja menyenggol cangkir itu dengan sikut tangannya, entah Elo, tidak melihat atau memang tidak menyadarinya. Tapi, jika tidak tahu itu tidak mungkin karena Meisie, sudah berbicara panjang lebar sebelum menaruh cangkir itu. 


"Siapa yang menaruh cangkir ini?" ujar Elo, sedikit membentak dengan sorot mata tajamnya yang penuh dengan amarah.


"Jadi kamu? Apa tidak ada hal lain yang bisa kamu kerja, kan selain membuat masalah!" ucap Elo, sedikit membentak. Meisie, semakin gugup hatinya pun sedikit terluka. Arkan, pun tidak bisa membelanya jika menghadapi emosi bosnya. 


"Maaf, Tuan tapi tadi …," ucap Meisie, tertahan karena Elo, menyanggahnya.


"Lihatlah, semua berkas jadi basah. Kamu tahu tidak? Ini berkas terpenting ini surat perjanjian kontrak yang akan di tanda tangani para buyer hari ini," Elo, kembali membentak matanya begitu tajam menatap Meisie, yang kini sudah mulai menetes, kan air matanya. 


"Maaf, Tuan biar saya mengcopy kembali, saya akan tanggung jawab," ucap Meisie, yang menunduk. Elo, melihat air mata itu dan langsung memaling, kan wajahnya. 


"Arkan, beres, kan semua ini," perintah Elo, pada Arkan, lalu pergi melewati Meisie, yang masih menunduk dan terisak. 


"Sudah, jangan menangis jika marah Tuan bos memang seperti itu," ucap Arkan, seraya membereskan berkas-berkas itu. 


"Dia marah padaku, aku tahu itu dia masih marah." Meisie terisak.


"Jangan khawatir, kan itu. Semua berkas ini ada salinannya jangan khawatir, sudah jangan menangis. Aku, akan menyalin berkas ini terlebih dulu, kamu panggil, kan saja OB untuk membersihkan cangkirnya," titah Arkan, lalu pergi meninggalkan ruangan Elo. 


Dengan isakan tangisnya Meisie, membersihkan sisa-sisa pecahan cangkir, juga air teh tanpa memanggil seorang OB, Meisie, melakukannya sendiri. 


**** 


Malam sudah tiba, Elo, duduk termenung di dalam kamarnya memikirkan perlakuannya pada Meisie, tadi siang. Elo, masih mengingat air mata yang Meisie, keluar, kan. Elo, merasa bersalah karena telah membuat Meisie, menangis. 


"Apa, perkataanku sangat menyakiti hatinya sehingga dia menangis," gumam Elo, yang meraup wajahnya. 


Di tempat lain Meisie, duduk melamun di belakang rumahnya seraya menatap langit malam yang tak secerah hatinya, tiba-tiba Meisie, mendapat pesan dari seseorang Meisie, pun membuka pesan itu seketika wajahnya menjadi ceria setelah membaca pesan itu. Meisie, pun bergegas pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian dan memoles wajahnya dengan face brush yang ia punya, setelah itu Meisie, pun menyoren tas selempangnya dan pergi meninggalkan rumahnya. 


Meisie, pergi tanpa melihat jam dinding di dalam kamarnya yang sudah menunjukan pukul 9 malam. Nek, Tini, pun sudah tertidur sehingga tidak tahu kepergian Meisie, karena Meisie tidak membangun, kannya. Meisie, pergi sendirian di tengah malam yang sepi entah apa yang membuatnya semangat untuk pergi malam ini. 


Meisie, berjalan menyusuri gang sempitnya hingga jalan raya, tanpa ada rasa takut sama sekali, serelah sampai jalan raya Meisie, berjalan ke arah halte bus dan menunggu bus datang. Beberapa saat bus pun datang Meisie, pun naik ke dalam bus itu. 


Tiga puluh menit berlalu bus itu berhenti di tengah jalanan yang cukup lelang dan juga sepi, entah karena sudah malam atau memang keadaan jalanan seperti itu. Meisie, melihat sebuah bangun kecil seperti sebuah cafe, namun terlihat sepi saat di luar. 


Meisie, memasuki cafe itu yang ternyata saat di dalam cafe itu terlihat ramai, banyak orang yang menari di bawah lampu yang berkelap-kelip, tak sedikit wanita l4jang dan laki-laki hidung belang yang berada di sana, terlihat begitu happy dengan segelas wine di tangannya. 


Tak sedikit para pria yang menatap Meisie, mencoleknya, dan menuntunnya pergi namun Meisie, langsung menjauh dari pria itu dengan perasaan yang si selimuti ketakutan. 


"Dimana Tuan bos!" ucapnya, seraya menyapu pandangannya ke setiap sudut club. Karena tak menemukan Elo, Meisie, pun menghubungi bosnya. 


"Halo, Tuan bos! Aku sudah sampai, Tuan ada dimana?" suara Meisie, sedikit berteriak karena suara musik yang menggelegar. 


"Apa? Siapa ini?" 


"Ini, aku sekretaris Tuan, bukankah Tuan menyuruhku untuk datang ke Despacito cafe, ini aku sudah datang Tuan dimana?" teriak Meisie, yang teleponnya langsung di tutup.


Di tempat tidurnya Elo, termenung mencoba mencerna kembali ucapan Meisie. "Despacito club!" ucap Elo, yang seingatnya tempat itu adalah sebuah club malam terbesar di kotanya, yang sering di kunjungi para pemburu wanita malam, dan pemburu ****. 


Seketika, matanya terbelalak, setelah melihat kembali nama panggilan di ponselnya yang tertera nama pusy. 


"Untuk apa dia ke tempat itu?" umpat Elo, lalu tidur kembali seolah tak peduli, namun perasaannya berkecamuk dan gelisah hingga akhirnya Elo, pun pergi.


"Aish, dasar sekretaris itu selalu saja membuatku resah," umpat Elo, yang turun dari ranjangnya.