The Magic Face Brush

The Magic Face Brush
Kabar Bahagia



Keputusan Bara, untuk menceraikan Gladis, sudah bulat. Semua berkas dan pengajuannya sudah ia serahkan pada pengacara dan pihak pengadilan. 


Gladis, yang menerima surat panggilan perceraiannya sangat marah, dan kesal. Melempar amplop berwarna coklat itu ke sembarang arah. Hingga Gladis, datang kembali ke apartemen milik Bara, dan membuat kekacauan. 


Beruntung saat itu Bara, masih berada di apartemennya. 


"Apa maksudnya ini?" 


Gladis, melempar panggilan surat cerainya ke hadapan Bara. Matanya melirik tajam ke arah Siska, yang berada di samping suaminya. Siska, yang baru tahu dengan keputusan Bara, untuk menceraikan Gladis, merasa terkejut. Karena dirinya tidak menyangka jika Bara, akan menceraikan istri pertamanya. 


"Ini semua pasti karena kamu, kan. Kamu yang menghasut suamiku. Dasar wanita murahan!" bentak Gladis, yang tangannya siap menampar Siska. Namun, terlanjur Bara, mencekal tangannya. 


"Ini urusan kita berdua tidak ada hubungannya dengan orang lain," ucap Bara. 


"Tidak ada hubungannya? Lalu, kenapa kamu lebih memilihnya dari padaku. Jika, bukan karena wanita ini kamu tidak mungkin menceraikanku." 


"Kamu, lupa apa yang telah kamu lakukan! Karena perlakuanmu itu perusahaanku menjadi taruhannya. Setelah membuat onar, pernyataan palsu pada semua media dan sekarang potret dirimu bersama laki-laki lain di sebuah club, itu sangat memalukan." 


"Aku bisa jelaskan untuk foto itu!" 


"Oh ya! Apa kamu juga bisa menjelaskan ini!" 


Mata Gladis, terbelalak saat melihat sebuah video, tentang dirinya bersama laki-laki di sebuah hotel, yang dengan romantisnya bermain gila di atas ranjang. Video itu Bara, sudah memilikinya. 


'Sial, dia berbohong padaku' umpat Gladis, pada hatinya yang mengutuki pria bersamanya saat itu. 


"Sekarang siapa yang selingkuh? Dan semua foto dan video ini akan aku jadikan bukti di pengadilan nanti."


Gladis, bungkam. Ingin mengelak namun itu kenyataannya. Gladis, yang menahan amarah pun pergi tujuannya saat ini adalah menemui laki-laki yang saat bersamanya di hotel itu. 


Bara, mengusap wajahnya kasar menghadapi sifat Gladis, yang emosional. Jika, bukan karena video itu mungkin dirinya tidak akan menceraikan Gladis. Selain karena hatinya hancur, keputusannya itu demi kemajuan perusahaannya. 


"Kamu menceraikan istrimu?" tanya Sisja, yang diam termangu seraya memegang secangkir teh yang telah dia buat untuk Bara. 


"Ini sudah keputusanku," jawab Bara. 


"Tapi itu akan membuat Gladis, semakin benci padaku." 


"Jangan pikirkan itu. Lebih baik sekarang kamu siap-siap berdandanlah yang cantik dan rapih." 


"Untuk apa!" 


"Karena hari, ini aku akan mengumumkan pada seluruh dunia tentang pernikahan kita." Siska, terbelalak tidak percaya jika saat ini akan datang. Pernikahannya akan di ketahui banyak orang. 


"Kenapa kamu diam?" tanya Bara, saat melihat Siska, yang hanya diam mematung. 


"Apa kamu yakin ini saat yang tepat? Aku takut ini akan menjadi kontroversi saat ini dunia sedang heboh membicarakan tentang dirimu yang selingkuh, lalu bagaimana dengan pernikahan kita yang akan di umumkan aku takut, jika itu akan menambah masalah untukmu dan mengancam kemajuan perusahaanmu." 


"Bukan aku tidak ingin, tapi aku memikirkan dirimu Mas. Aku khawatir dan mencemaskanmu. Perusahaanmu saat ini sedang guncang jangan sampai pengumuman pernikahan kita menambah keguncangan perusahaanmu." 


Bara, masih diam mencerna setiap perkataan Siska. Siska, mendekati Bara, menyentuh tangannya lembut, dan tesenyum menatap mata indah suaminya. 


"Bagiku, di anggap istri sah saja suduh cukup, aku percaya jika kamu mencintaiku." Perkataan Siska, membuat Bara terenyuh. 


"Untuk saat ini kita harus bersabar, jika kita mengumumkan pernikahan kita, akan banyak orang yang merasa sedih dan kehilangan. Pikirkan karyawanmu Mas, pikirkanlah dampak buruk untuk perusahaanmu." 


"Aku tidak salah memilih, kamu benar-benar mengerti akan masalahku, kamu peduli padaku. Terima kasih sudah mau menjadi istriku." 


Bara, memeluk Siska, dengan hangat begitu Siska, yang memeluknya dengan hangat. "Semoga kamu benar-benar mencintaiku dengan tulus, aku berharap itu" batin Siska. 


Walau pernikahannya karena terpaksa, dan tanpa cinta. Namun, Siska berharap jika Bara, adalah laki-laki yang akan mencintainya dengan tulus, yang akan memusnahkan kutukan penyakit pada dirinya. 


"Aku punya kabar bahagia untukmu. Aku harap kamu bahagia mendengarnya, setidaknya bisa membuatmu ceria dan melupakan masalahmu." 


Perlahan Siska, menarik tangan Bara, untuk menyentuh perutnya. Bara, hanya diam saat Siska, menempatkan tangannya pada perut ratanya. 


"Sebentar lagi, kamu akan menjadi ayah." 


Bara, terbelalak antara kaget dan bahagia. 


"Ka-kamu hamil?" Siska, mengangguk dan tersenyum. Jika dirinya benar-benar hamil. 


"Iya, aku hamil. Di dalam sini ada calon bayi kita. Dan kamu akan menjadi seorang ayah." 


"Hamil, kamu hamil?" Saking bahagianya, Bara, langsung memeluk Siska, menggendong tubuhnya hingga melayang ke atas. Saat-saat yang selalu di tunggu-tunggu. Setelah lama menanti akhirnya Bara, akan menjadi seorang ayah dan memiliki seorang anak. 


Di balik masalah akan selalu ada kebahagiaan yang menanti. 


"Mas, hentikan kepalaku pusing," Keluh Siska, saat Bara, terus mengendongnya dan memutar tubuhnya membuat kepalanya cenat-cenut. 


Bara, langsung menghentikan aksinya, mendudukan istrinya itu di atas sofa. Bara, berjongkok, tatapan matanya kini beralih pada perut rata istrinya, mengusapnya dengan lembut dan mengecupnya dengan hangat. Siska, yang mendapat perlakuan itu merasa bahagia. 


Senyum lebarnya selalu ia pancarkan. 


***


Berulang kali Gladis, memencet tombol nomor pada layar ponselnya. Ia terus menghubungi pria yang telah menghancurkan hidupnya. Tak hanya kehilangan suaminya yang akan menceraikannya. 


Posisi Gladis, sebagai publik figur pun terancam karena berita skandal dan foto-foto panasnya itu. Membuat pamornya jatuh dalam sekejap. 


Berbagai pihak manajemen memutuskan kontrak kerjanya, dan kini dirinya terancam hengkang dari dunia hiburan. Gladis yang selalu di puja-puja, di puji, di sanjung dalam sekejap dirinya menjadi hina. 


Para penggemar yang selalu membelanya kini pergi meninggalkannya dan tidak lagi mengaguminya. 


Arhh … 


"Laki-laki itu sudah menghancurkan hidupku. Dan sekarang dia berani mengabaikan teleponku sial," umpat Gladis, seraya melempar ponselnya. 


"Aku harus menemukan laki-laki itu dan dia harus bertanggung jawab. Dan kamu Bara, sampai kapan pun aku tidak akan menerima perceraian itu." 


"Ck, dimana pria itu kenapa tidak menjawab teleponku. Dasar bajingan." 


Sedangkan di tempar lain seorang pria tesenyum licik saat mendapatkan sebuah panggilan pada ponsel miliknya. Pria itu terus membiarkan panggilan itu tanpa menjawabnya sama sekali. 


"Marchel, berisik! Kenapa kau tidak jawab saja teleponmu." Pekik seorang wanita yang tak lain adalah Sharon.


"Tidak, penting," ucap Marchel, santai. 


"Yang paling penting adalah dirimu. Aku ingin kau keluar dari penjara sekarang juga. Apa kamu tidak iri melihat Mey, dan Elo, di luarsana." Marchel, selalu mengunjungi Sharon, setiap bulannya yang selalu berusaha membantu Sharon, untuk keluar dari dalam penjara.


Namun, Sharon, selalu menolak dan akan tetap menjalani hukumannya. Sharon, sadar jika dirinya memang salah. 


...----------------...


Jangan lupa dukungannya reader 🤗


Oh iya, di karena kan cerita Mey, dan Elo, sudah selesai jadi othor jarang mengisahkan mereka. Untuk saat ini othor hanya fokus pada Siska dan Bara, karena brush ajaibnya kini dimiliki Siska, sedangkan Mey, sudah tak memiliki brush ajaibnya lagi.


Anggap saja ini season ke dua ya🤗 jangan lupa like dan komentarnya biar nambah semangat updatenya. Maaf juga jika tidak bisa membalas satu persatu komentarnya 🙏.


See u


😘😘