The Magic Face Brush

The Magic Face Brush
Mimpi



Waktu berjalan begitu cepat. Sebulan sudah berlalu kehidupan Mey, pun menjadi lebih tenang. Akhirnya Mey, dapat tertidur dengan lelap. Hari-hari terus di lalui, jabatannya sebagai CEO membuatnya sibuk, begitu pun sebaliknya Elo, yang begitu sibuk dengan pekerjaannya hingga mereka melupakan hari yang terpenting dalam hidup mereka yaitu hari pernikahannya. 


"Arkan, apa kau sudah atur pertemuanku dengan tuan felix?" 


"Sudah Tuan," 


"Bagus, kapan itu?" 


"Minggu depan." 


"Minggu depan!" Elo, terlihat terkejut. "Kenapa harus minggu depan? Atur lagi jadwalnya percepat jadi lusa," 


"Tuan, apa Tuan bos lupa, lusa adalah hari pernikahan anda," jelas Arkan, yang geleng-geleng kepala. 


"Pernikahan! Ya tuhan … kenapa aku bisa lupa." Elo, menepuk jidatnya sendiri. 


Di sisi lain Mey, pun masih sibuk dengan laptopnya. Hingga tak sadar saat sahabatnya datang. 


"Ya ampun, Mey, apa yang kau lakukan," seru Vika, saat memasuki ruangan Mey. 


"Bekerja," jawab Mey, singkat. Tanpa basa-basi Vika, menutup laptopnya membuat Mey, marah. 


"Vika, apa yang kau lakukan," pekik Mey


"Mey, hentikan pekerjaanmu. Lebih baik kita pergi spa, ke salon ayok!" ajak Vika, yang menarik tangan Mey.


"Untuk apa?" sanggah Mey.


"Untuk apa! Ya untukmulah, Mey, apa kau lupa lusa adalah hari pernikahanmu, seharusnya sekarang kau pergi perawatan ke salon, SPA, luluran, bukannya malah sibuk kerja." 


"Vika, aku melupakan hari pentingku." 


"Ya, benar. Sekarang lupakan pekerjaanmu lalu kita pergi." Vika, pun menghentikan pekerjaan Mey, lalu membawa Mey, pergi.


Vika, dan Mey, pun pergi ke sebuah klinik kecantikan yang memberikan fasilitas spa, luluran, maskeran, dan lainnya. Setelahnya mereka pun pergi jalan-jalan, menghabiskan waktu bersama. Perjalanan mereka pun berakhir di sebuah taman. Mereka beristirahat sejenak, seraya menatap indahnya bintang-bintang di malam hari. 


"Vik, apa aku mimpi?" 


Aww, Mey, langsung mengusap pipinya yang perih karena cubitan sahabatnya itu. Sedangkan Vika, tertawa renyah. 


"Vika, apaan sih! Sakit tahu." 


"Itu tandanya kamu tidak mimpi." 


"Tapi aku masih, tidak menyangka lusa nanti aku akan menjadi seorang pengantin. Sayangnya Mama dan Papaku sudah tiada. Siapa yang akan menemaniku." 


"Aku, masih ada aku yang selalu menemanimu," sanggah Vika. "Jangan bersedih di hari bahagiamu, kau harus tersenyum Mey." Mey, pun merasa terharu, karena memiliki sahabat seperti Vika.


"Makasih Vik," peluk Mey, hangat. 


"Ini sudah malam, calon pengantin jangan terlalu lama di luar." 


"Ayok kita pulang, kau menginap di rumahku ya!" ajak Mey, Vika pun mengangguk. 


**** 


Sehari menuju hari H, Mey, menjadi pendiam entah apa yang ia pikirkan. Mey, pun sudah mulai cuti dalam bekerja. Hari bahagia sudah di depan mata. Namun, hatinya serasa kosong dan hampa. 


Di saat semua orang berbahagia mempersiapkan untuk acara pernikahan mereka, dan setiap rumah akan terasa hangat dan ramai. Semua orang tertawa, menari, dan sibuk memilih gaun untuk di pakainya nanti. 


Namun, tidak dengan Mey, yang merasa sedih karena melihat rumahnya yang begitu sepi. Tidak ada ayah, ibu, nenek, dan yang lain, hanya pelataran rumah yang kosong, sofa-sofa yang hanya terdiam, ruangan kosong dan kesunyian hanya itu yang Mey, rasakan. 


Setetes bulir air mata pun terjatuh, punggungnya mulai bergetar, dalam seketika dirinya terduduk lemah. 


Isakan tangisnya semakin keras. Air mata pun tak mampu terbendung lagi. Di saat seperti ini Kerinduan akan kepada orangtuanya kembali terasa. Hanya saja rindu itu tidak bisa ia lepas, hanya bisa mengenang dan mengenang mereka berdua. 


Karena tidak bisa melepas kerinduan Mey, hanya bisa ziarah kubur ke pemakaman Papa dan mamanya yang di temani Vika, saat itu. Vika, yang melihat sahabatnya pun merasa sedih dan tak mampu membendung air matanya lagi. Vika, pun memeluk sahabatnya itu dengan harap bisa mengobati kerinduannya. 


"Ma, Pa, Mey, sekarang sudah besar, Mey, akan menikah anak kalian ini akan menikah besok. Mey, harap Mama dan Papa bahagia disana. Mey, kesini ingin meminta restu dari kalian. Mama tenang saja, Elo, sangat baik dia menyayangiku, Mey, janji akan hidup bahagia dengannya." 


Mey, terus mengusap batu nisan itu, menyiraminya dengan air, dan menaburinya dengan bunga. 


"Tante, Om, jangan khawatir Vika, akan selalu menemani putri kalian, disaat senang mau pun susah." Vika, pun ikut menaburi bunga pada batu nisannya. 


"Mey, ayo kita pulang," ajak Vika, Mey, pun mengangguk lalu berdiri.


"Vik, semalam aku bermimpi," ucap Mey, di tengah perjalanan. 


"Mimpi apa?" tanya Vika, yang menatap Mey. 


"Aku juga tidak mengerti apa arti dari mimpiku ini." 


Mey, POV


Seorang wanita berparas cantik, tersenyum pada Mey, yang tengah tertidur. Wanita itu, mengelus lembut pipinya, dan begitu menyayangi Mey. 


"Lukamu ini akan hilang saat ada seorang lelaki yang mencintaimu dengan tulus." 


"Kau akan menjadi gadis cantik, di hari bahagiamu nanti, dan kau akan hidup bahagia, lelaki itulah yang akan menyembuhkan luka di wajahmu. Cinta yang tulus, membuat luka itu hilang." 


"Kau tidak akan lagi membutuhkanku, sudah cukup hanya sampai disini, aku membantumu, karena setelah ini kamu akan bertemu lelaki yang mencintaimu dengan tulus." 


"Semoga kamu bahagia Mey," ucap wanita itu yang tersenyum, seraya mengecup kening Mey. 


Wanita itu pun menghilang begitu saja bersamaan dengan datangnya sebuah cahaya putih yang menyilaukan, cahaya itu masuk ke dalam sebuah brush, setelahnya brush itu pun menghilang, meninggalkan sebuah gaun yang indah dan cantik di atas tempat tidur Mey. Saat Mey, terbangun, dirinya tertegun melihat gaun di sampingnya. 


Mey, masih belum mengerti apa arti mimpinya itu. Mey, melihat kembali gaun itu. Gaun putih yang cantik dan elegant, Mey, pun memutuskan untuk memakai gaun itu saat pernikahannya nanti. Tanpa Mey, safari brush yang selama ini ia gunakan telah hilang.


Keesokan paginya, Mey, pun sudah siap dengan balutan gaun putihnya. Namun saat dirinya akan merias wajah, Mey, kebingungan mencari brush ajaibnya. 


"Dimana brushku!" 


Mey, langsung panik saat brush itu hilang. Mey, terus mencari dan mencari, ke setiap sudut kamar, bawah ranjang, laci, lemari, namu tidak ia temukan. Mey, pun mulai khawatir sedangkan waktu berjalan begitu cepat, acara pernikahannya pun sudah di mulai tapi bagaimana dengan wajahnya. 


"Mey, kenapa kau belum siap juga?" hardik Vika, saat memasuki kamar Mey, masih belum merias dirinya.


"Vika, brushku hilang?" 


"Apa? Kau sudah mencarinya dimana kau letakan semalam?" Vika, pun ikut mencari. 


"Semalam brushku ada disini. Vika, bagaimana ini bagaimana dengan wajahku? Tidak mungkin aku keluar dalam keadaan seperti ini. Wajah yang rusak akan memalukan Elo, nanti." 


"Vika, tolong aku!" 


...----------------...


Apakah yang akan terjadi pada Mey?


Apa kira-kira yang akan dilakukannya?


Apa pun yang terjadi jangan lupa dukungannya ya, like, setelah membaca tinggalkan komentarnya juga oke!.


Maaf ya jika masih ada typo, terkadang author nulisnya sampai ketiduran, alhasil jari ngetik kemana aja hehe. Malam ini othor double up alhamdulillah, karena badannya sudah sehat kembali terima kasih doanya, semoga othor selalu sehat ya dan bisa up duoble tiap harinya bila perlu crazy up hehe.