
"Terima kasih Mba beruntung Mba Mey, datang menolongku jika tidak…"
"Sudah lupakan kejadian tadi, sekarang keringkan wajahmu. Dimana brushmu?"
"Brushku? Aku tidak membawanya."
"Dimana kamu menyimpannya?"
"Brushku ku tinggalkan di rumah, aku lupa membawanya."
"Ya tuhan … lalu bagaimana."
Tok, tok, tok
Suara ketukan pintu terdengar sangat keras. Mengejutkan Mey, dan Siska. Mey, pun menyarankan Siska untuk tetap tenang dan diam. Mey, berjalan menuju arah pintu lalu menanyakan siapa orang yang baru saja mengetuk.
"Siapa?"
"Siska, ini aku Bara. Bukalah pintunya aku ingin melihat keadaan mu." Suara Bara, terdengar khawatir.
Mey, pun membuka pintu itu.
"Nona Mey? Anda …" Bara, baru sadar jika wanita yang memekiknya tadi adalah Mey, klien bisnisnya.
"Pak Bara, istri anda baik-baik saja. Biarkan istri anda disini dulu beliau harus merapikan, dan mengganti pakaiannya yang basah karena tadi."
"Aku hanya ingin bertemu sebentar."
"Begini saja pak Bara, jika anda ingin membantu bisakah anda pulang ke rumah? Membawakan beberapa pakaian dan juga peralatan make up istri anda yang tertinggal."
"Baiklah." Bara, pun pergi menuruti perintah Mey. Untuk mengambil pakaian ganti dan brushnya.
Setelah kepergian Bara, Mey, pun kembali masuk dan menutupi pintu itu.
"Tenanglah suamimu akan membawakannya untukmu."
"Aku masih merasa takut Mba."
"Di dunia bisnis memang seperti ini. Apa kamu tahu, siapa wanita tadi?"
Siska, terlihat berpikir sambil membayangkan langkah Vera, yang menuju ke arahnya sebelum air itu menyiram wajahnya. Siska, tidak bisa mrngenali karena pakaian dan wajahnya sangat tertutup, namun ada satu yang Siska, curigai tato butterfly.
Tato berbentuk kupu-kupu yang terletak di dalam pergelangan Vera. Yang sama percis dengan yang pernah Siska lihat sebelumnya.
Saat Vera, menolongnya ketika di marahi madam J. Vera, memegang bahunya membantunya berdiri. Tanpa sengaja Siska, melihat sebuah tato kupu-kupu di pergelangan tangannya.
Yang kedua kali Siska, melihat saat Vera, menarik tangannya di taman waktu itu. Dan ketiga kali saat seorang wanita menyirmnya dengan air.
"Tato Butterfly," ucap Siska.
"Butterfly?" tanya Mey, heran.
*
*
*
Brukk,
Sebuah tangan dengan tato butterfly menutup pintu mobil itu dengan keras, amarahnya sangat memuncak hembusan nafasnya begitu memburu.
"Sial! Siapa wanita itu berani dia melindunginya," gerutu Vera.
"Beruntung kita masih bisa selamat," ucap Gladis, yang menyandarkan tubuhnya pada kursi.
"Selamat! Ya, tapi kita gagal. Pokoknya kita harus melakukan cara lain."
"Cara apa? Menyiramnya lagi hah!" Gladis, terlihat kesal.
"Pokoknya aku ingin Siska, merasa terhina dengan wajahnya itu. Cara satu-satunya kita harus mengambil brush itu."
"Pokoknya aku ingin Bara kembali padaku dan meninggalkan wanita itu," ucap Gladis. Yang hanya menginginkan Bara.
Keadaan dalam mobil jadi hening. Vera dan Gladis keduanya sedang berada dalam pikiran masing-masing. Saat tengah berpikir Gladis, melihat Marchel, yang baru keluar dari sebuah mini market.
Gladis yang memendam benci pun langsung tercengat dan ingin menghampiri Marchel. Marchel, begitu santai sambil menikmati minuman yang di belinya. Seraya bersandar pada mobilnya.
Bugh,
Bantingan pintu yang sangat keras mengejutkan Vera, membuat Vera menoleh dan berbalik pada Gladis yang kini tengah berjalan ke arah Marchel.
"Hei kau mau kemana." Teriak Vera, namun Gladis tetap pada tujuannya yaitu Marchel.
"Dasar laki-laki bajingan." Suara Gladis, mengejutkan Marchel yang tengah terdiam. Marchel, begitu terkejut dengan kedatangan Gladis, hingga akan berlari pergi namun Gladis, sudah terlebih dulu mencengkram kuat lengannya.
"Mau kemana kamu? Kamu melanggar janjimu, beraninya kamu mengirim video itu pada suamiku!" bentak Gladis, yang meluapkan setiap emosinya.
"Bukan kah itu bagus."
"Apa! Kamu bilang bagus, karena video itu suamiku menceraikanku."
"Itu bukan urusanku." Marchel pergi begitu saja tanpa rasa bersalah sedangkan Gladis diam mematung sambil menahan rasa kesalnya.
*
*
*
Haikal dan Bara sedang menyelidiki kedua orang wanita yang mengacaukan acara konferensi persnya. Namun mereka tidak bisa mengenali wajah keduanya.
Bara, terlihat melamun memikirkan perkataan Vera, yang mengatakan jika Siska, memiliki kutukan dan wajahnya sangat buruk. Ucapan Vera begitu mengganggu pikirannya.
"Lo, kenapa Bar?" tanya Haikal yang melihat Bara melamun.
"Lo mikirin kejadian tadi? Gue curiga kejadian tadi ada kaitannya dengan Gladis. Apa mungkin Gladis, yang menyiram air itu? Bisa saja, kan karena hanya dia yang membenci Siska."
"Bukan itu yang mengganggu pikiranku." timpal Bara.
"Lalu?"
"Wanita itu bilang istriku memiliki kutukan dan wajahnya sangat buruk. Apa karena itu dia menyiram air ke wajah istriku karena ingin memperlihatkan wajah yang sebenarnya padaku."
Haikal, tergelak mendengar ucapan Bara.
"Bar, lo percaya sama tuh cewek! Mana ada kutukan jaman sekarang. Mungkin itu hanya omong kosong untuk mengacaukan acara konferensi pers itu. Sudah sekarang kita selidiki lagi siapa kedua wanita ini."
Bara, masih diam. Perkataan Haikal, tidak membuatnya penasaran akan ucapan Vera, juga wajah asli Siska. Entah kenapa Bara, curiga dan ingin tahu kebenarannya.
Di sisi lain, Siska sudah kembali cantik karena Mey, membantunya. Brush itu sudah mengubah kembali wajahnya. Namun Siska, merasa curiga jika Vera, yang melakukan semua ini.
"Terima kasih Mey."
"Sama-sama," jawab Mey, yang tersenyum.
"Ingat! Harus lebih hati-hati. Hindari air dan api mengerti!" Siska, pun mengangguk mengerti. Mey, tidak henti-hentinya mengingatkan.
"Mey, jika suamiku mengetahui wajah asliku apa dia akan tetap mencintaiku?"
"Semoga saja. Cinta sejati, cinta yang tulus tak memandang fisik, dia akan mencintaimu dari hati."
"Bagaimana cara suami mu mencintaimu dengan tulus?"
"Elo, sudah tahu wajah asliku, jauh sebelum kita dewasa. Dan Elo, bahkan Elo, yang selalu melindungiku dari hinaan orang. Elo, memakaikanku sebuah topeng untuk menutupi wajah burukku. Dia bagaikan malaikat pelindung bagiku, aku hingga saat kami menikah luka di wajahku hilang tanpa jejak, dan wajahku kembali mulus seperti dulu."
"Aku juga tidak tahu kenapa. Entah itu keajaiban dari Tuhan, atau dari brush yang aku miliki."
"Tapi kamu jangan khawatir. Bara, pasti mencintaimu dengan tulus. Walau pun itu sulit karena Bara, tidak tahu wajah aslimu."
"Aku tidak yakin Mey, jika Bara, akan menerima kekuranganku ini. Entah apa yang akan terjadi jika Bara, tahu yang sebenarnya." Siska, terlihat sendu karena takut jika suatu hari nanti Bara, akan meninggalkannya.
"Buat Bara jatuh cinta padamu, sangat-sangat jatuh cinta." Siska, mendongak mendengarkan apa yang Mey, ucapkan.
"Buat dirinya tidak bisa melupakanmu, apa lagi saat ini kamu tengah mengandung darah dagingnya. Aku yakin dia tidak akan meninggalkanmu jika nanti dia tahu yang sebenarnya." Siska, tersenyum hatinya menjadi tenang setelah mendengar perkataan Mey. Dan Siska, berjanji akan membuat Bara, jatuh cinta padanya.
*
*
Di tempat lain sebuah tangan dengan tato butterfly, mencoba membuka sebuah pintu dan menyusup masuk.