The Magic Face Brush

The Magic Face Brush
Kecemasan Tini



Mentari mulai naik cahaya yang menyilaukan menembus kaca jendela, panasnya begitu terasa menusuk kulit wajahnya. Dengan perlahan kedua mata pun mengerjap, Meisie, mulai bangun sambil meregang, kan otot-otot tubuhnya. 


Hoamm, 


Dirinya menguap, telapak tangannya menutup mulutnya yang menganga lebar. Di pandangnya sekeliling kamarnya tidak ada Miekey, di sampingnya yang selalu membangun, kannya setiap pagi. 


Kedua kakinya bergerak menuruni ranjang tidurnya, yang saat turun langsung memperlihat, kannya pada sebuah cermin di depannya. Seorang gadis yang memiliki codet di wajah kirinya. Kedua tangannya terus menyentuh luka di pipinya. 


"Kapan luka ini akan sembuh! Aku ingin punya wajah cantik tanpa tergantung pada face brush ajaibku," ucapnya demikian. 


Meisie, kembali teringat ciuman pertamanya, bukannya terlihat senang seperti saat malam Meisie, jadi merasa malu jika nanti bertemu bosnya. Apa bosnya akan marah! Bagaimana caranya bersikap nanti. Semoga, kejadian hari kemarin sudah di lupakannya. 


"Ayo, Mey, semangat! Lupakan hari kemarin, lagian bukan kamu yang meminta di cium, dia sendiri yang menciummu. Bersikaplah seperti biasa Mey, anggap saja tidak terjadi apa-apa," gumam Meisie, yang bicara di depan cerminnya. 


Meisie, mulai bersiap-siap untuk pergi bekerja, setelah mandi dan berpakaian rapi Meisie, merias dirinya di depan pantulan cermin. Dia menyapukan face brushnya pada wajah kirinya, seketika wajahnya pun menjadi mulus dan luka, codetnya hilang entah kemana. 


Setelah wajahnya terlihat cantik, sempurna bagaikan seorang putri Meisie, beranjak dari duduknya lalu keluar dan menarik tas yang selalu di bawanya. 


"Nenek, dimana?" tanyanya saat melihat meja makan kosong. Tak lama kemudian neneknya datang membawa sekotak tupperware yang di taruhnya di atas meja.


"Nek, apa itu?" tanya Meisie, saat neneknya menyimpan sebuah kotak makan di depannya.


"Ini dari tetangga," jawab Nek, Tini yang mendudukan bokongnya pada kursi. 


"Mey," panggil Nek, Tini, ragu


"Iya Nek," 


"Hati-hati ya!" ucapnya demikian. Nek, Tini, seperti ingin menyampai, kan seuatu tetapi sulit untuk di katakan. 


"Hati-hati apa Nek?" tanya Mey. 


"Jaga dirimu baik-baik. Nenek, hanya mencemas, kanmu saja," ucap Nek, Tini, yang menyentuh tangan Meisie, dengan lembut. 


"Mey, selalu menjaga diri kok, Nek, jangan mencemas, kan Mey," ucap Meisie, yang tersenyum seraya menyentuh tangan neneknya. 


"Mey, pergi dulu ya Nek," ucap Mey, yang mengecup tangan dan kening Nek, Tini. Lalu melangkah pergi menuju tempat kerjanya. 


Nek, Tini masih merasa khawatir saat melihat Meisie, pergi. Setelah mendapat telepon dari tetangganya dulu, yang mengatakan bahwa ada seseorang mencarinya dan juga mencari Meisie. 


Flashback on


"Halo, Tini, apa kabarmu? Aku Lastri, tetanggamu dulu," ucap seorang wanita di balik sambungan telepon.


"Oh, Lastri. Baik kabarku baik-baik saja ya beginilah kalau sudah tua tidak sesehat dulu, kamu apa kabar?" tanya Tini.


"Aku, baik," jawab 


"Ada apa Las! Tumben telepon," 


"Begini Tin, kemarin ada seorang pemuda yang mencari kamu dengan anak yang kamu selamat, kan itu siapa namanya?" 


"Mey," jawab Tini.


"Iya, Mey. Dia mencari kalian, tapi aku tidak memberitahu, kan tempat tinggalmu yang sekarang." 


"Aku tidak tahu, sepertinya orang itu mencari Mey, karena selalu saja menanya, kan apa kamu pergi membawa seorang anak gadis! Itu yang selalu di tanyakannya. Apa itu keluarga Mey?" tanya Lastri. 


"Lastri, terima kasih atas infonya. Jika ada yang menanya, kan tempat tinggalku jangan kamu beritahu," 


"Iya, Tini."


"Kalau begitu aku tutup teleponnya, kalau ada info lagi beritahu aku."


"Iya Tini." Tut, sambungan telepon pun di tutup.


Flashback off


"Siapa orang itu? Kenapa tiba-tiba mencari Mey? Jika memang mereka keluarganya, kenapa baru sekarang mereka mencarinya," batin Tini.


Tini, merasa khawatir dan aneh selama 10 tahun lamanya, kenapa baru saat ini ada orang yang mencari Meisie, sedang, kan dulu Tini, mencari keluarga Meisie, namun tidak ada yang datang mencarinya. 


Tini, jadi merasa takut jika orang itu ada maksud tertentu. Yang Tini, pada malam itu, malam dimana sebelum kejadian kebakaran itu Tini, melihat seorang pria yang mencuriga, kan yang memasuki halaman rumah tetangganya. 


Saat itu Tini, akan pergi ke belakang untuk menimba air karena kamar mandinya yang berada di belakang rumahnya yang tak jauh dengan rumah Meisie, saat itu. 


Tini, melihat orang itu membawa dua buah kompan kecil di tangannya, yang ia siram, kan ke setiap penjuru tembok rumah. Tini, merasa curiga apa yang di siram orang itu, Namun, karena malam sudah larut membuat tubuhnya terasa dingin saat di luar Tini, pun kembali masuk ke dalam rumahnya dan kembali tertidur.


Beberapa saat setelah dirinya memejam, kan mata kegaduhan dan teriakan para warga terdengar sangat riuh, yang membuatnya terbangun dari tidurnya. 


Tini, berjalan ke arah jendela ingin melihat apa yang terjadi di luar sana yang begitu riuh, di jam 3 dini hari. Dirinya terkejut, matanya membulat sempurna ketika melihat kobaran api yang begitu besar melahap rumah tetangganya. Dengan segera Tini, pun berlari keluar untuk melihat kejadian itu.


Para warga membantu sebisa mungkin, berlarian kesana kemari mencari air untuk memadam, kan api itu. Tini, yang saat itu panik dan cemas memikir, kan bagaimana nasib para penghuni rumah tak sengaja dirinya menangkap seseorang yang bersembunyi di balik pepohonan, orang itu tersenyum menyeringai, setelah itu pergi meninggal, kan tempat itu. 


"Orang itu?" ucapnya, yang merasa orang itu mirip dengan orang yang membawa dua kompan tadi. 


Di saat semua warga sedang berlomba untuk memadam, kan api Tini, di kejukan oleh seorang anak kecil yang terlempar tak jauh dari tempatnya berdiri. Tini, menghampiri anak itu yang ternyata Mey, anak pemilik rumah yang baru saja terbakar. 


Tini, sangat sedih saat melihat luka bakar yang ada di wajah kiri Mey, kulitnya yang merah, mengelupas, memperlihat, kan sedikit gumpalan merah di balik kulit tipis itu. Saat itu keadaan Mey, sudah tidak sadar, kan diri. Tini, takut jika anak itu meninggal, tapi beruntung saat di rasa, kan denyut nadinya masih berdetak, begitu pun hembusan nafasnya, dengan segera Tini, membawa Mey, ke rumahnya yang di bantu oleh Lastri.


Tini, mencoba mengobati luka bakar anak itu, namun karena keadaannya yang tidak mampu, tak sanggup untuk mengobati luka anak itu sehingga Mey, harus hidup dengan kondisi wajah yang mengerikan.


"Apa orang itu kembali lagi dan mencari Mey! Apa orang yang membakar rumah itu tahu bahwa anak dari Farel, dan Anisa, masih hidup, itu sebabnya mereka masih mencarinya." Pikir Tini, yang menduga-duga. 


**** 


Meisie, berjalan melewati gang sempit yang seriap hari di laluinya, tanpa di ketahui seseorang sedang membuntutinya. 


Meisie, berjalan ke arah halte bus, lalu naik kedalam bus untuk sampai ke tempat kerjanya. Orang itu pun masih terus mengikutinya sampai di depan PT El-Giedon industri.


Setelah Meisie, masuk ke dalam PT itu, orang itu pun berhenti mengikutinya dan pergi. 


Meisie, merasa bahagia namun di balik kebahagiaannya nyawa nya sedang terancam. Banyak sekali orang yang ingin melenyap, kannya. 


...----------------...


Siapakah orang yang membuntutinya?


Tunggu terus up selanjutnya, jangan lupa untuk tinggalkan like, vote, coment, dan favoritnya 👌🤗