The Magic Face Brush

The Magic Face Brush
Istri Siri



Siska, benar-benar mengambil semua pelanggan Vera, hingga Vera, sepi dan tak ada job. Sesuai dengan ajaran Janet, Siska, mengambil semua uang para tamunya di saat sedang tertidur, dan uang itu Siska, gunakan untuk merias dan memperbaiki penampilannya yang semakin modis. 


Setiap pagi Siska, tidak pernah lupa dengan brushnya, mengingat karena brush itu hanya bertahan 12 jam sewaktu-waktu wajahnya akan kembali semula. Hampir setiap pagi dan malam Siska, menggunakannya. 


Siska, merasa beruntung karena mendapatkan brush itu. 


"Terima kasih, kau telah merubah hidupku. Aku akan menjaga brush ini dengan baik." Siska, pun memasukan kembali brushnya kedalam laci. 


Pagi ini keadaan di luar sedikit riuh, karena kedatangan seorang tamu besar. Siska, yang berada di dalam kamar pun sedikit terganggu dengan suara berisik dari luar. 


Siska, mengintip di balik kaca jendela. Sekilas dia melihat seorang pria tampan, muda, dan gagah turun dari sebuah mobil mewah. Pria itu memakai setelan tuxedo berwarna grey. Kulit putih, hidung mancung, bibir tipis, dengan kaca mata hitam yang menutupi matanya. 


Pria itu sangat tampan. Tak heran jika semua wanita yang ada disana terpesona dan berlomba-lomba untuk memikatnya. Pria itu pun berjalan masuk ke dalam rumah Janet. 


Janet, langsung menyambutnya pria itu pun duduk di tengah ruangan bersama Janet. 


"Saya ingin bertemu dengan madam J" ucap pria itu yang membuka kaca matanya. Membuat para wanita disana histeris di buatnya, kecuali Siska, yang masih di dalam kamar. 


"Saya yang bernama madam J," jawab Janet. "Ada yang bisa saya bantu? Apa kepentingan anda ingin bertemu dengan saya?" Janet, bertanya. 


Pria itu pun meminta pengawalnya untuk memberikan berkas-berkas yang dia bawa. Sebuah amplop coklat yang di berikan kepada Janet. Janet, pun membukanya dan membacanya. 


"Saya sedang mencari wanita yang bisa memberikan saya anak. Siapa pun wanita itu saya akan bayar mahal." 


"Maksud anda, anda akan memilih wanita disini untuk di sewa, meminta mereka untuk melahirkan anak anda?" 


"Tenang saja, saya bukan menyewa. Tetapi saya akan menikahinya dalam jangka waktu yang sudah di tentukan. Jika, dalam waktu lima bulan tidak bisa hamil maka aku akan menceraikannya tetapi jika dia hamil aku akan membiayai hidupnya selama kehamilan sampai melahirkan dan setelah itu tidak akan ada hubungan apa pun lagi diantara kami." 


"Saya akan membawa anak itu dan wanitamu akan di berikan imbalan." jelas pria itu.


"Maksudmu, menikah kontrak? Kamu akan memilih diantara wanita yang ada disini untuk kamu nikahi dalam waktu yang sudah di tentukan. Dengan syarat harus bisa mengandung dalam waktu lima bulan begitu?" tanya Janet.


"Kenapa kamu mencari wanita itu disini?" 


"Saya pikir wanita disini akan sangat mudah menyetujui nya apalagi dengan imbalan yang sangat besar. Kamu pikir wanita di luaran sana mau menerim tawaran ini?" 


Pria itu berpikir jika wanita lacur seperti mereka akan sangat mudah menyetujuinya. Jangankan satu tahun menikah kontrak. Hanya semalam saja mereka rela memberikan tubuhnya pada laki-laki asing.


Tetapi tidak dengan pria itu, yang akan menikahi terlebih dulu sebelum melakukan hubungan. 


"Baiklah, aku akan bicarakan ini dengan mereka. Setelah itu aku akan memberitahumu." 


"Bagus. Saya tunggu 24 jam. Ini kartu namaku aku akan kembali besok." 


Pria itu pun beranjak dari duduknya lalu pergi. Janet, melihat kartu nama itu yang bertuliskan Bara Bramantyo. 


Bara adalah seorang pengusaha properti. Dirinya sudah menikah hanya saja belum di karuniai seorang anak. Bukan karena istrinya tidak bisa mengandung melainkan tidak ingin mengandung. 


Bara memiliki istri yang sangat cantik, pintar, dan berprestasi namun demi popularitasnya sebagai seorang publik figur tidak ingin mengandung atau pun hamil karena akan membuat tubuhnya menjadi jelek dan gendut. 


Sedangkan Bara, yang di desak oleh sang ibu merasa frustasi karena terus di tanyakan perihal cucunya. Bara, pun mencoba membicarakan hal itu dengan istrinya tetapi jawaban sang istri begitu mengejutkan. Dia meminta Bara, untuk membeli atau mengadopsi seorang anak yang akan di asuhnya. 


Dan sang istri pun memberikan satu syarat tidak akan mengasuh, atau merawat anak itu dengan alasan sibuk. Tidak ada waktu untuk mengurus anak. Wanita itu selalu memperhatikan tubuhnya dan kecantikannya tanpa mementingkan perasaan suami dan keluarganya. 


Namun, Bara, menginginkan anak dari benihnya sendiri. Sehingga ide gila pun terlintas di pikirannya untuk menikahi seorang wanita yang mau melahirkan anaknya dengan imbalan dua milyar. 


****


Janet, berbicara pada Siska, tentang niat Bara. Apakah Siska siap atau tidak. Karena Bara, akan menikahinya dan mereka akan berhubungan setelah ikatan suci hanya saja pernikahan itu yang di batasi waktu. 


Awalnya Siska, tidak ingin karena itu sama saja dengan menjual rahimnya sendiri dan setelah melahirkan nanti Siska, tidak akan memiliki anaknya atau pun mengakuinya. Sama saja Siska, menjual anaknya sendiri. 


"Jika kamu tidak ingin aku tidak akan memaksa. Akan tetapi, aku tidak bisa janji karena yang memilih dan memberi keputusan adalah pria itu," ucap Janet. 


Keesokan paginya, Bara, pun kembali dia melihat para wanita yang di pilihkan Janet, untuknya. Hampir dari semua wanita menggoda dan merayunya terutama Vera, yang sangat percaya diri jika pria itu akan memilihnya.


Namun, tatapan Bara tertuju kepada Siska, yang saat itu hanya duduk sambil membaca novel kesukaannya. Bara, mulai tertarik pada Siska, karena Siska, berbeda dari yang lain. 


Di saat yang lain mengerumutinya sedagkan Siska, hanya duduk santai. Bara pun memutuskan untuk memilih Siska, itu membuat Vera, semakin benci padanya. 


Siska, yang terkejut ingin menolak namun tidak bisa. Karena saat melihat wajah Vera, yang menatapnya penuh dengan kebencian membuat Siska, menjadikan ini kesempatan untuk membuktikan bahwa dirinya lebih unggul dari Vera. Akhirnya Siska, pun menerimanya. 


"Ingat, kamu dengannya hanya menikah sementara waktu. Dia menikahimu karena satu tujuan bukan karena cinta." Janet mengingatkan.


"Iya mami aku tahu itu." 


"Jangan sampai kamu menyukai apalagi mencintainya mengerti? Mami hanya tidak ingin kamu terluka." 


"Aku mengerti mami." 


Pada malam harinya mereka pun melangsungkan akad nikah yang di hadiri para saksi dan amil. Setelah itu Siska, pun di bawa pergi. 


Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan apa pun di antara Bara, dan Siska, mereka berdua hanya diam dan berada dalam pikirannya masing-masing. 


Dua jam perjalanan yang mereka tempuh, Siska, dan Bara, pun sampai di sebuah apartemen. Mereka pun turun dari mobil. 


Siska, menyapu pandangan ke setiap sudut apartemen itu begitu mewah baginya.


"Ikuti aku," ujar Bara, yang langsung melangkah memasuki apartemen itu. Siska, pun mengekor di belakangnya  


Sesampainya di depan sebuah kamar, Bara membuka pintu itu dengan kartunya dia pun memberitahukan kunci pin apartemen itu pada Siska. Setelah pintu terbuka mereka pun masuk. 


"Apartemen ini menjadi milikmu. Ingat, pernikahan ini hanya sementara waktu selama kau bisa memberikanku seorang anak. Dan ingat selama di luar kita tidak saling kenal, pernikahan ini hanya antara aku dan kamu yang tahu mengerti!" 


"Ya, aku mengerti," jawab Siska.


"Bagus. Sekarang kau istirahat aku harus pergi." Bara, pun pergi meninggalkan Siska, sendiri di apartemennya. 


Sakit memang sakit, yang di rasakan Siska, saat ini. Beberapa jam yang lalu dirinya sah menjadi seorang istri. Namun, dirinya bukanlah seorang istri pada umumnya baru saja menikah sudah di tinggal pergi sang suami. 


"Beginikah menjadi istri siri" batin Siska.


...----------------...


Memang tidak enak menjadi istri siri. Tapi setidaknya itu lebih baik dari pada berjinah Siska. Semoga Bara, bisa mencintaimu nanti.


Jangan lupa like, vote, komen, dan ratting 5 nya ya 🤗.