The Magic Face Brush

The Magic Face Brush
Rencana



"Kemana lagi aku harus cari bantuan. Tidak sudi jika aku harus menyerahkan diri. Apa sebenarnya Mey, masih hidup!" monolognya.


"Marchel, hanya dia yang bisa membantuku." Dengan segera Sharon, melajukan mobilnya meninggalkan klinik itu. Menuju ke kediaman Marchel.


Di dalam kamarnya Mey, duduk merenung. Rasa jenuh dan bosan sudah mulai ia rasakan, bagaimana tidak untuk sementara ini dirinya harus berdiam diri di rumah.


"Bosan!" ucapnya sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


 Cukup lama Mey, bergulang-guling di atas kasur yang empuk, Lalu mengambil ponselnya dan bangun dari tidurnya. Jarinya mulai menari-nari di atas di atas layar. Satu pesan pun telah terkirim. 


Mey: Vika


Vika: Hm


Mey: Aku merasa bosan. Apa kau tidak bisa menemaniku?


Vika: Aku sedang bekerja, ini saja aku bersembunyi membalas pesan darimu. Kenapa apa ada masalah? 


Mey: Sedikit.


Vika: Apa? Cerita padaku. Apa masalah dengan pangeranmu? Apa jangan-jangan tuan bos marah karena kau pergi waktu itu?"


Mey: Ya, dia marah karena mengkhawatirkanku. Tapi bukan itu masalahnya


Vika: Lalu? 


Mey: Kamu ingat wanita bule itu? 


Vika: Sepupunya tuan bos?


Mey: Ya, dia datang kemarin. Sepertinya dia tidak suka padaku. Rasanya aku ingin pergi dari rumah ini


Vika: Lo, kenapa? Bukannya kau senang bisa serumah dengan tuan bos


Mey: Nyaman memang iya. Tapi, jika aku tinggal disini dalam waktu yang lama itu akan membuat orang salah paham. Seorang wanita dan laki-laki tinggal bersama apa kata orang. 


Vika: Kenapa gak nikah saja. Pinta tuan bos untuk menikahimu hehe 


Mey: Vika, kau ini. 


Vika: Lo kenapa ucapanku benarkan! Kalian sudah di jodohkan, dan tinggal bersama, kalian juga saling mencintai tunggu apa lagi? Jangan bilang tunggu hal darurat. 


Mey: Maksudnya?


Vika: Maaf kalau aku menyinggung. Begini, kalian tinggal bersama jangan sampai kamu melakukan hal yang !!!


Mey: Aku tahu kemana arah ucapanmu. Kau juga tidak ada bedanya dengan Jilya, walau pun kami tinggal bersama, tapi kami tidur di tempat yang terpisah, jangan bilang kalau aku sudah melakukan hal itu, aku masih bisa jaga diri Vika. Aku kecewa dengan ucapanmu


Vika: Mey, aku tidak ada maksud untuk begitu. 


Mey, melempar ponselnya ke sembarang arah. Pesan yang baru saja masuk dari Vika, tidak ia balas. Baginya perkataan Vika, sangat menyakiti hatinya tanpa sengaja Vika, sudah menuduhnya. 


'Ini yang aku takutkan. Temanku saja sudah salah paham apalagi orang lain' batin Mey. 


Saat Mey, tengah gundah gulana tiba-tiba Miekey, datang. Dia menciumi wajahnya membuat Mey, merasa geli. 


"Miekey," 


Meong, hanya itu yang Miekey, ucapkan. Miekey, terus bermanja kepada Mey, begitu juga dengan Mey, yang memanjakannya. 


"Dari pada aku diam lebih baik aku memasak untuk Elo, saja." Mey, bermonolog dalam hatinya, dia pun mengirim sebuah pesan pada Elo, untuk menanyakan kapan dia pulang.


Mey: Elo, kapan kau pulang?


Elo: Kenapa kau merindukanku?


Mey: Jika kau pulang lebih awal aku akan memasak untukmu.


Elo: Tidak perlu, karena malam ini aku akan mengajakmu keluar kita makan malam.


Mey: Bukankah aku tidak bisa pergi kemanapun


Elo: Kau siap-siap saja, aku akan menjemputmu satu jam lagi. 


Bibir Mey, mengembangkan senyumannya, dirinya sangat senang karena Elo, akan membawanya keluar. Tapi bagaimana caranya? Entahlah yang pasti saat ini Mey, harus bersiap-siap untuk berdandan yang cantik. 


"Miekey, aku akan dinner malam ini, kau mau membantuku kan! Pilihkan pakaian untuk ku." 


"Aku harus memakai pakaian apa ya!" Mey, begitu antusias Mey, terus mencari beberapa pakaian di dalam lemari. Pakaian yang sudah Elo, siapkan untuknya. 


"Miekey, ini gaun yang terakhir awas saja kalau kau terus menggeleng." 


Untuk gaun yang terakhir ini Miekey, tersenyum sambil berguling-guling menandakan ia setuju dengan gaun terakhir itu. Gaun berwarna kalem dengan motif bunga, terlihat elegant dan cantik.


Mey, pun segera memakainya lalu mulai beraksi dengan brushnya, sebelum Mey, menggunakan brush itu Mey, membasuh wajahnya terlebih dulu. Namun, ada yang aneh dengan luka di wajahnya luka yang awalnya nya sangat besar, hingga menutupi sebagian pipi kirinya, kini luka itu mulai mengecil dan sedikit-sedikit mulai pudar. 


"Apa perasaanku saja ya! Lukaku sepertinua mulai pudar" ucap Mey, yang menatap lukanya pada cermin. 


****


Sharon, sudah sampai di sebuah club malam karena disinilah tempatnya, tempat Marchel, berlindung dan menetap. Sharon, merasa risih saat melihat beberapa lelaki yang berjalan sempoyongan dan mulutnya sangat bau alkohol. Namun, demi menemui Marchel, Sharon, mengacuhkan semua itu. 


Sharon, terus berjalan memasuki ruangan gelap dengan lampu yang meremang berkelap-kelip. Hingga akhirnya Sharon, melihat seorang pria yang mabuk berat yang sedang asik bercumbu dengan seorang wanita. 


"Cih, muak aku melihatnya." Sharon, sangat risih melihat wanita-wanita itu yang menggoda para lelaki. 


"Ikut aku!" Dengan tiba-tiba Sharon, menarik Marchel, untuk ikut dengannya. 


"Mau apa kau!" Marchel, menepiskan tangannya. 


"Kita perlu bicara," 


"Bicara apa? Jangan menggangguku aku sedang senang-senang." 


"Ini tentang Mey." 


"Mey!" Marchel melirik hingga menatapnya tajam. Akhirnya Marchel, pun membawa Sharon, untuk ke tempatnya atau ruang pribadinya. 


"Apa lagi? Bukankah dia sudah meninggal."Marchel, meyangka jika Mey, telah meninggal di saat dirinya berhasil membakar perusahaan Elon. Namun, nyatanya Mey, selamat dari kejadian itu. 


"Tapi dia menghantuiku." 


"Apa! Apa hubungannya denganmu?" 


"Karena aku yang membakar rumahnya mungkin dia tahu aku dalangnya sehingga dia menghantuiku." 


"Tunggu dulu, kau membakar rumahnya? Bukankah dia meninggal karena terjebak di perusahaan yang sedang terbakar." 


"Marchel, kamu kemana saja kejadian itu sudah lama dan dia selamat. Aku merasa heran Mey, seolah punya malaikat penjaga dirinya selalu saja selamat dari kecelakaan bahkan yang sudah kita rencanakan." 


"Kamu yakin dia sudah mati?" tanya Marchel, yang membuat Sharon, berpikir. 


"Tapi aku melihat hantunya." 


"Sejak kapan kau percaya hantu hah! Tidak ada yang namanya hantu, aku yakin dia masih hidup dan ada di suatu tempat." 


"Tapi yang ku lihat," sanggah Sharon, yang percaya akan hantu Mey. 


"Hantu! Mungkin saja itu adalah Mey, yang sengaja menakutimu." 


"Mungkin saja. Jika itu benar itu tandanya Mey, masih hidup dan berada di suatu tempat." 


"Dia pasti bersembunyi," ucap Marchel.


"Tapi dimana?" tanya Sharon.


"Seseorang yang melindunginya." Sharon dan Marchel, pun saling bertatapan. Sharon mencoba mencerna ucapan dari Marchel. 


"Dia ada bersama orang itu?" 


"Mungkin. Kita harus selidiki," ucap Marchel, yang berkemungkinan, Jika Mey, ada bersama Elo. Dan Elo, lah yang menyembunyikan Mey.


"Jika benar, itu artinya mereka telah membohongiku." Sharon, memperlihatkan tatapan tajamnya, dan kedua tangan yang mengepal. Mereka berkemungkinan Jika Mey, masih hidup. 


"Untuk membuktikannya kita harus datang untuk melihatnya." ucap Marchel.


"Kau punya rencana?" Di tanya seperti itu Marchel, hanya tertawa renyah.


...----------------...


Hai reader, udah dulu ya malam ini cuma satu bab saja. Jangan lupa untuk dukungannya 🤗.


Awas voucher mingguan segera berakhir, cek voucher kalian, dari pada hangus mending kasih vote untuk melon. Yuk vote yuk


k