The Magic Face Brush

The Magic Face Brush
Jejak Kiss Mark



Beruntung Siska, segera menemukan brushnya hingga saat Bara, membuka pintu bintik-bintik di wajahnya begitupun di tubuhnya hilang seketika.


Kebersamaannya dengan Bara, membuat Siska, bahagia apalagi saat sikap Bara, yang mulai baik dan memperlakukannya layaknya seperti seorang istri. 


Siska, terus tersenyum hatinya saat ini sedang berbunga-bunga. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah Bara. Begitu pun dengan Bara, yang sudah mulai luluh hatinya. 


Pagi ini Siska, mencoba memerankan dirinya sebagai istri. Yang menyiapkan pakaian suaminya sebelum bekerja. Tidak peduli Bara, memakainya atau tidak namun, di luar dugaan Bara, memakai semua pakaian yang sudah Siska, siapkan.


Setelahnya saat Bara, akan pamit pergi, tiba-tiba. Bara, mengecup keningnya dengan lembut, membuat hatinya bertalun-talun. "Terima kasih, sudah menjadi istriku," ucap Bara, membuat hati Siska, semakin berbunga-bunga. 


"Terima kasih karena sudah menganggap sebagai istrimu," ucap Siska, sayangnya Bara, tidak mendengar itu karena dirinya sudah berlalu pergi. 


****


Bara, kembali bekerja. Dirinya tidak ingin terus memikirkan masalahnya dengan Gladis. Sehingga dengan cara inilah Bara, bisa melupakannya. 


"Pagi brow," sapa Haikal, saat memasuki ruangannya. 


Haikal dan Bara memang berteman dekat. Namun, posisinya di perusahaan Bara, adalah bosnya. Tapi Haikal, selalu memanggil Bara, dengan panggilan akrabnya. 


"Wih, pantas saja fokus ternyata ada yang sudah di kasih imun," cibir Haikal, yang melihat tanda merah yang terdapat pada leher jenjang bosnya. Namun, Bara, tidak menyadarinya dan tetap fokus pada laptopnya. 


"Basah nih rambut. Abis mandi bos!" goda Haikal, sedikit menyinggung. 


"Ada apa? Jangan ganggu aku bekerja," tukas Bara. 


"Widih, udah kasih imun juga masih aja ketus. Mau kasih laporan nih!" Haikal, melempar sebuah dokumen. 


"Lo udah baikan sama Gladis? Syukur deh, pelan-pelan deh lo bujuk istri lo buat program baby." Haikal, terus berkicau membuat Bara, kesal. 


"Tidak bisakah, fokus bekerja? Dan jangan bicarakan masalah pribadi di kantor." 


"Oke, deh oke. Tapi laporannya dulu dong periksa jangan cuma di taro." Sindir Haikal, yang melihat dokumentasinya di simpan begitu saja. Bara, pun mendatangani dokumen tersebut lalu memberikannya pada Haikal. 


"Thank you brow. Bilang sama istri lo, lain kali jangan tinggalkan jejak di leher lo, nanti seisi perusahaan heboh," bisik Haikal, lalu pergi. 


Mendengar perkataan Haikal, Bara, langsung mengeceknya sendiri. Dan benar saja tanda kiss mark tercetak indah di leher jenjangnya. 


"Ish … kenapa aku tidak menyadarinya," umpat Bara. Lalu mengambil beberapa plester di dalam kotak p3k untuk menutupi jejak kiss marknya itu.


"Ternyata dia pintar juga meninggalkan jejak," ucap Bara, yang tersenyum membayangkan kegiatannya semalam bersama Siska. 


*


*


*


Di sisi lain, Siska sedang merias diri di depan cerminnya. Kali ini Siska, ingin terlihat cantik di depan suaminya. Dengan harap Bara, akan pulang ke apartemennya. 


Tiba-tiba suara bel berbunyi mengganggu aktifitasnya. Seseorang telah datang ke apartemennya, membuat Siska, harus membuka kan pintu. 


Cklek, 


Siska, terdiam saat melihat siapa yang datang. Seorang wanita dengan sorot mata yang tajam, wanita itu adalah Gladis. Yang langsung masuk begitu saja tanpa di minta, raut wajahnya terlihat tegang seperti sedang menahan amarah. 


"Dimana suamiku?" 


"Tuan tidak ada disini, sudah pergi bekerja." Siska, masih berpura-pura sebagai pembantu. 


Sakit rasanya harus menyembunyikan statusnya sebagai seorang istri. Tetapi hanya itulah yang bisa Siska, lakukan. Entah sampai kapan dirinya harus berpura-pura seperti itu. 


"Siapa kamu sebenarnya?" 


Suara Gladis, menyadarkan lamunannya. Mata Gladis, terus menelisik penampilannya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Jauh berbeda dengan seorang pembantu. Apalagi saat ini Siska, mengenakan dress mini, dengan panjang sepaha, rambut terurai dengan sedikit riasan di wajahnya. 


Sangat jauh jika di samakan dengan pembantu. Gladis pun mulai curiga siapa wanita di depannya itu. 


"Beginikah penampilan seorang pembantu! Atau jangan-jangan kamu selingkuhan suamiku?" 


"Benarkan kamu adalah selingkuhan suamiku? Sudah berani kamu mendekati suamiku, dasar wanita j4l4ng!" 


Plak, 


Satu tamparan Gladis, berikan membuat darah mengalir di ujung sudut bibirnya. Siska, mencoba menyembunyikan statusnya namun hinaan Gladis, tidak bisa ia terima. Dirinya bukanlah wanita j4lang seperti yang dia pikirkan. Karena Siska, juga istri sah dari Bara. 


"Dasar pelakor, pelacur."


Grep, 


Suasana semakin panas, emosi Gladis, semakin memuncak dan tak bisa di kendalikan. Hampir saja tangan Gladis, menampar kembali wajah Siska, namun kali ini Siska, memberikan perlawanan dengan mencengkram kuat tangan Gladis, yang akan menamparnya. 


"Aku bukan pelacur, aku bukan pelakor, aku istri sahnya Bara Bramantyo. Bukan selingkuhanya."


Ck, Gladis, berdecak dan melepaskan cekalan tangan Siska. 


"Apa bedanya, dengan pelakor kamu sudah jelas merebut suamiku. Kamu menikah dengan suamiku, apa namanya jika bukan selingkuhan." 


" Asal kamu tahu, bukan aku yang datang dan meminta tapi suamimu lah yang datang padaku dan meminta agar aku menikah dengannya."


Siska, masih ingat betul saat Bara, datang menemui Janet, dan memilihnya untuk menjadi istrinya. Walaupun hanya istri siri dan menikahinya karena sebuah tujuan. 


"Suamiku yang meminta, itu tidak mungkin hanya kamu wanita penggoda, dan kamu yang sudah menggoda suamiku." Teriak Gladis, penuh emosi. 


"Dasar pelacur, berapa besar suamiku membayarmu hah! Berapa? Aku yakin suamiku telah memberikanmu uang, kan berapa harga tubuhmu itu." 


Ucapan Gladis, membuat Siska, mengeram. Dirinya terasa di hina karena menjual tubuhnya demi uang. Namun, kenyataan memang benar jika Bara, membayarnya satu milyar demi melahirkan anaknya. 


'Benar apa yang dikatakanya, aku menjual tubuhku, aku dinikahi karena uang, dia menikahiku demi satu tujuan' batin Siska. yang kembali teringat dengan tujuan Bara, untuk menikahinya. 


*


*


*


Brakk, 


Suara pintu di banting dengan keras, mengalihkan seluruh pandangan semua orang yang ada di perusahaan. Ke datangan Gladis, membuat Bara, terkejut apalagi Gladis, datang dengan penuh emosi. 


"Apa-apaan kamu!" bentak Bara, dengan suara yang tinggi. Suaranya sangat menggema ke seluruh ruangan. Membuat para karyawan berbisik. 


"Kenapa kamu marah melihat kedatanganku? Sejak kapan kamu menikahi wanita itu." 


"Katakan siapa!" Suara Gladis semakin meninggi. 


Karena malu dengan tingkah Gladis, Bara, membawa Gladis, pergi dari perusahaannya. Sepanjang perjalanan semua mata tertuju pada mereka berdua. 


"Apa yang terjadi? Bukankah semalam mereka baikan, bahkan jejak cintanya begitu jelas, lalu ada masalah apa lagi ini." Haikal, bergumam. 


****


Bara membawa Gladis, ke rooftop mehempaskan tangan Gladis, begitu keras. Amarah nya kini memuncak.


"Apa yang kamu lakukan berteriak-teriak di perusahaan. Apa kamu gak punya malu hah!" 


"Kenapa? Takut! Jika semua orang tahu kalau kamu selingkuh dan menyimpan wanita di apartemenmu." 


"Kamu bermain gila di belakangku, kamu menikah lagi dengan wanita itu? Kamu tega Bara, tega." 


"Jangan salahkan aku menikah lagi, bukankah kamu yang meminta." 


"Kapan aku memintamu menikah lagi?" 


"Apa kamu lupa dengan ucapanmu dulu." 


 Gladis, tertegun mencoba mengingat ucapannya dulu.