
Di harapkan membaca bab sebelumnya. Karena ada tambahan kata di bab teesebut.
...****...
Mey, menceritakan semuanya pada Vika, tentang kisah masalalu yang di ceritakan oleh Sarah. Tentang pamannya dan juga tentang Sharon, yang ternyata sepupunya. Bahkan, tentang perjodohannya. Mey, salah satu orang yang selalu terbuka pada sahabatnya. Begitu pun dengan Vika, yang senang dan ikut bahagia saat mendengar kabar baik tentang perjodohan itu. Begitu pun sebaliknya, Vika, sangat marah karena ternyata pamannya lah yang menyebabkan kebakaran itu.
"Jodoh memang gak kemana ya Mey! Sejak kecil kalian sudah bertemu bahkan sudah di jodohkan, lalu kalian bertemu kembali setelah dewasa. Dari mulai OB, sekretaris dan sekarang kau menjadi kekasih bosmu, lalu nanti kau akan menjadi Nyonya Elon. Mey … hidupmu sungguh beruntung kau bagaikan cinderella, Dan kisahmu hampir sama dengan dongeng itu."
Vika, terus bicara panjang lebar sedangkan Mey, hanya mendengarkan begitulah Vika, sekalinya bicara bagaikan lolerkoster yang tak henti-henti.
"Kau tahu cinderella, hidupnya sangat sengsara, karena ulah ibu tiri dan kedua kakaknya, mereka mengambil semua miliknya begitupun denganmu hanya saja bedanya kau sengsara karena paman dan sepupumu. Tapi kehidupan cinderella pun berubah setelah seorang pangeran datang dan melamarnya menjadikannya seorang putri dan tinggal di istana yang megah. Begitupun denganmu Mey, sebentar lagi kau akan menjadi seorang putri, dan tinggal di istana. Oh Mey, kamu memang cinderella."
"Vika, kau terlalu menyanjungku," sanggah Mey.
"Mey, aku bicara sesuai fakta. Tapi aku kesal dengan si Sharon, itu. Mey, apa mungkin kebakaran rumah mu juga ulah pamanmu?"
"Entahlah, aku tidak tahu. Tapi Elo, bilang dia akan cari tahu siapa pelakunya semoga saja segera tertangkap."
"Lalu bagaimana dengan Nek Tini, dia pasti sedih, karena rumahnya terbakar. Bagaimana kalau kita kesana kita cari bukti siapa tahu ada bukti yang akan kita dapatkan." Vika, memberi saran.
"Aku tidak bisa pergi kemana pun kau lupa ya! Aku sudah menjadi orang yang meninggal tidak mungkin aku muncul tiba-tiba. Lagian Elo, sudah melarangku."
"Suruh siapa coba pura-pura mati segala," gerutu Vika, yang cengengesan.
"Emangnya aku mau," timpal Mey, kesal sedangkan Vika, hanya tertawa renyah.
"Oh iya, kamu, kan punya brush ajaib,"
"Lalu!" tanya Mey
"Apa kamu bisa menyamar? Gunakan brush itu untuk merubah penampilanmu." Mey, mulai berpikir.
"Aku belum mencobanya. Tapi aku pernah mencobanya untuk merubah pakaianku dan itu berhasil."
"Kenapa kamu tidak coba saja? Aku jadi ingin mencobanya juga"
"Ayo," ajak Mey, yang langsung menarik tangan Vika.
"Tunggu dulu," tahan Vika. "Memangnya brushnya masih ada?" Vika, berpikir brush itu ikut terbakar.
"Ada, tenang saja brush itu selalu aku bawa kemana pun jadi, saat kebakaran brush itu sedang ku pegang."
"Syukurlah kalau begitu, ayo kita mencobanya aku ingin melihat seperti apa keajaiban dari brush itu."
Vika, dan Mey, pun berjalan menuju kamarnya. Walau pun tinggal di rumah orang lain Mey, tidak begitu canggung karena semua pelayan disana melayaninya dengan baik bahkan menghormatinya seperti seorang putri. Mereka melakukan itu karena perintah dari tuannya.
Kini keduanya sudah sampai di sebuah kamar yang mewah dengan interior clasic, berwarna putih cerah. Lagi-lagi Vika, di buat kagum dengan dekorasi kamar yang mewah itu. Terlihat simple namun begitu elegant.
Mey, berjalan ke arah lemari untuk mengambil brushnya. Setelah itu membawanya ke hadapan Vika.
"Ayo, coba!" Vika, begitu antusias sudah tidak sabar melihat keajaiban pada brush itu.
"Brush ajaib, bisakah kau merubah penampilanku menjadi lebih berbeda," ucap Mey, yang langsung mengarahkan brush itu kepada tubuhnya.
Dalam sepersekian detik muncullah sebuah cahaya yang menyilaukan, hingga Vika, menutup kedua matanya karena melihat cahaya itu. Vika, membulatkan kedua bola matanya saat melihat penampilan Mey, yang berubah, yang awalnya Mey, memakai pakaian casual setelan jeans dan t-shirt kini dress putih melekat di tubuhnya, dengan rambut yang terurai, dengan sepatu heels yang cantik dan berkilau.
"Waw, amazing." Untuk pertamakalinya Vika, melihat keajaiban brush itu yang mengeluarkan sihir, dan menyulap seseorang menjadi lebih cantik.
"Vika, apa kau mau coba?" Vika, pun mengangguk saat Mey, menawarkan itu.
"Brush ajaib tolong ubah penampilannya," ucap Mey, seraya menyapukan brushnya pada tubuh Vika. Seperkian detik penampilan Vika, pun berubah dengan dress putih yang melekat di tubuhnya.
"Wow, Vika, kau berbeda." Mey, menatap takjub.
"Mey, brush itu benar-benar ajaib. Sekarang kita pergi," ajak Vika.
"Tapi bagaimana caranya kita pergi? Bukannya di luar ada Arkan! Sedangkan Elo, tidak mengizinkanku untuk pergi." Kini Mey, dan Vika, pun berpikir bagaimana caranya agar bisa keluar tanpa ada yang mengenali mereka.
"Aku tahu!" Mey, tiba-tiba teringat tentang topeng, yang dimana saat itu Elo, memberikannya sebuah topeng untuk menutupi wajahnya.
"Topeng, kita pakai topeng" sambung Mey.
"Kita coba saja, siapa tahu brush ini bisa." Mey, pun mulai bercengkrama dengan brushnya untuk meminta sebuah topeng, namun berkali-kali Mey, mengucap sihir itu tidak bereaksi karena sihir pada brush itu akan bereaksi saat di sapukan pada sebuah benda.
"Brush ajaib berikanku sebuah topeng." Mey, merasa heran kenapa brushnya tidak berfungsi.
"Kenapa tidak bereaksi?" tanya Vika, Mey, pun hanya menaikan kedua bahunya sebagai jawaban.
"Cari benda apa saja yang bisa di sihir menjadi topeng," saran Vika. Mey, dan Vika pun mulai mencari barang-barang di kamar itu yang bisa di jadikan sebuah topeng. Saat Mey, membuka sebuah laci dia menemukan sebuah topeng berwarna blue, Mey, ingat betul itu topeng saat dirinya kecil dulu, kenangan masa kecil pun kembali terlintas, di saat Elo, mengajaknya ke sebuah pasar malam.
"Mey," seruan Vika, mengejutkan lamunannya. "Sedang apa?" lanjutnya
"Tidak sedang apa pun. Ayo, kita pergi,"
"Tapi mana topengnya?"
"Ini, aku menemukannya." Mey, menunjukan sebuah topeng yang ada dalam laci itu. Lalu keduanya pun pergi bersama.
****
Di ruang tengah Arkan, sedang berbicara pada sambungan telepon. Saat itu tubuh Arkan, membelakangi anak tangga yang menuju kamar yang Mey, tempati. Beruntung saat Mey, dan Vika, turun Arkan, tidak melihat dan masih sibuk berbicara pada sambungan telepon.
Vika, dan Mey, pun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan hingga akhirnya mereka pun berlari mencari jalan lain tanpa harus melewati Arkan. Bayangkan saja di rumah megah ini yang sangat luas terdapat beberapa pintu keluar, namun mereka berdua tidak kesulitan dan terus melangkah hingga akhirnya sampai di halaman belakang.
"Arkan, cepat kembali." titah Elo, di ujubg sana yang meminta Arkan untuk segera kembali ke kantor.
"Tapi Tuan, saya menunggu temannya Mey, untuk kembali ke kantor."
"Tidak perlu. Biarkan saja dia menemani Mey, sekarang kau datang ke kantor."
"Baik Tuan." tut … sambungan telepon pun terputus.
"Ya sudahlah, aku kembali saja ke perusahaan." Arkan, pun pergi meninggalkan rumah bosnya.
...----------------...
Tidak akan bosan othor meminta dukungan pada kalian. Jangan lupa untuk like, vote, favorit dan komentarnya juga ya 🙏😘
...****************...
Sambil nunggu thor update, thor mau kasih novel rekomendasi dari temen thor nih,
Judul : Makmum Pilihan Michael Emerson
Penulis : SkySal
Cuplikan...
"Begini saja..." seru Zenwa yang mencoba tegar "Bagaiamana kalau kita jalani saja pernikahan ini selama beberapa bulan, lalu setelah itu, kita bercerai." sarannya yang tentu saja membuat Micheal melongo, tak percaya dengan saran Zenwa yang menurutnya sangat tidak masuk akal.
"Zenwa, apa kamu melawak di saat seperti ini?" tanya Micheal dan kini Zenwa lah yang melongo.
"Apa kamu menuduhku melawak di saat seperti ini?" Zenwa balik bertanya dengan tatapan tak percaya.
"Lalu saran gila apa tadi itu?" tanya Micheal dengan suara lantang.
"Aku rasa itu saran yang baik, kamu hanya menjadikanku pelampiasan dan aku juga tidak mencintaimu, jadi sebelum kita melangkah terlalu jauh, sebaiknya kita berhenti secepatnya, itu akan lebih baik!" jawab Zenwa juga dengan lantang.
"Kamu fikir ini kisah di novel-novel? Di sinetron? Pernikahan kontrak? Atau apa?" tanya Micheal geram yang membuat Zenwa terkesiap. "Ini kisah nyata, Zenwa. Seseorang tidak bisa menikah untuk bercerai, aku berjanji atas nama Allah, di saksikan Dia, Malaikat, dan keluarga kita, lalu bagaimana bisa aku mengingkari janjiku dengan sengaja?" Zenwa tertegun mendengar apa yang di ucapkan Micheal, matanya pun bahkan seolah mengatakan hal yang sama, Zenwa hanya bisa menggigit bibir bawahnya dan ia pun menunduk dalam.
"Aku tahu aku salah..." lirih Micheal kemudian "Dan kamu benar, aku hanya menjadikanmu pelampiasan, keputusan ku hanya karena emosi sesaat. Tapi saat aku mengucapkan akad, saat itu aku pun menguatkan tekad, kamu akan menjadi wanita pertama dan terkahir dalam hidupku, aku berjanji akan menjadi suami yang layak untukmu, dan akan memperlakukanmu sebagai istri sebaik mungkin." Micheal kembali berlutut di depan sang istri.
"Tapi rasanya benar-benar sakit," ucap Zenwa dengan suara tercekat "Perih sekali disini..." Zenwa memegang dadanya yang selama ini terasa begitu sesak.
"Aku tahu, izinkan aku mengobati rasa sakitmu, Zenwa!" bujuk Micheal.
Penasaran kisah selengkapnya? Langsung aja yuk ke lapaknya 👇