
Mama … papa …
Di sebuah taman yang begitu indah. Cahaya terang yang begitu menyilaukan menerangi alam. Mey, terus berteriak memanggil mama dan papanya, di alam ini dirinya bisa kembali bertemu dengan kedua orang tua yang selama ini ia rindukan.
"Mama," panggil Mey.
Wanita yang di panggil mama pun menoleh dan tersenyum ke arahnya.
"Mama, Mey, sangat rindu." Mey, berucap seraya memeluk wanita itu.
"Kalian mau kemana? Ajak aku, aku ingin ikut kalian."
"Tidak, sayang. Ini bukan duniamu." Wanita itu berucap seraya mengelus lembut wajahnya. "Masih ada yang harus kamu lakukan," sambung wanita itu.
"Apa? Apa yang harus Mey, lakukan?" Tatap Mey, pada kedua orang tuanya.
"Jadilah kebanggaan Mama dan papa," ucap wanita itu. "Wujud, kanlah impian kakekmu, menikahlah dengan pria yang telah di pilih, kan kakekmu. Mama, ingin melihatmu bahagia, hanya dia yang bisa melindungimu dan menjagamu."
"Siapa pria itu?"
"Pria itu sudah dekat denganmu, dia yang selalu menolongmu, melindungimu dari marabahaya. Kalian sudah bertemu dan sudah mengenal hanya saja kalian belum menyadari."
"Ma, apa maksud ucapan Mama? Mey, tidak mengerti."
"Nanti, kamu akan mengerti sayang." Wanita itu mengelus lembut wajahnya.
"Dan ingatlah, selalu berhati-hatilah banyak orang yang ingin mencelakaimu," ucap seorang pria yang di panggilnya papa
"Apa benar kebakaran itu di sengaja Pa?" Pria itu hanya tersenyum mendapat pertanyaan dari putrinya.
"Kebenaran yang akan mengungkap semuanya," jawab pria itu.
"Mama, papa menyayangimu sayang." Wanita dan pria itu pun tersenyum lalu menghilang.
Mama … papa …
"Mey, kau sudah bangun Nak!" Nek Tini, begitu senang saat melihat Mey, sudah tersadar.
Mey, masih diam tatapan matanya fokus menatap atap langit kamarnya. Taman yang indah, cahaya yang menyilaukan, dan kedua orang tuanya kini menghilang. Mimpinya seakan nyata.
Tak lama kemudian datanglah seorang dokter yang akan memeriksanya. Mey, pun merasa heran tidak tahu dirinya ada dimana. Namun bayangan kebakaran pun kembali dia ingat, yang dia ingat hanyalah kobaran api, teriakan banyak orang terdengar membising, kan telinganya lalu setelahnya pandangannya pun menjadi gelap.
Setelah dokter memeriksanya, dan keadaannya sudah lebih baik dokter pun memperbolehkan Mey, untuk pulang hari ini. Setelah seharian di rawat di rumah sakit.
"Mey!" Vika, memanggil yang memang selalu menunggu Mey, di rumah sakit.
"Vika," ucap Mey, lirih.
"Aku, senang kamu sudah sadar Mey. Mey, maaf, kan aku," ucap Vika, yang terisak.
"Ini bukan salahmu Vik, kebakaran itu kecelakaan tidak ada yang salah dalam hal ini. Aku juga baik-baik saja, kan!" ucap Mey, yang memeluk Vika.
Vika, melepas pelukannya menatap Mey, nanar, "Bukan itu maksudku Mey. Aku telah mengambil barang milikmu lebih tepatnya aku telah mencuri."
"Aku tidak mengerti!" ucap Mey, yang menggeleng. Vika, pun menggenggam erat tangannya seraya menatapnya dalam.
"Mey, aku sudah tahu kenapa wajahmu bisa cantik, ternyata face brush yang saat itu kau tunjukan padaku itu adalah face brush ajaib, kan! Saat kau menggunakannya wajahmu menjadi cantik, dan luka bakarmu akan menghilang." Vika, menghela nafas sejenak, "Sekarang kamu tidak bisa menutup lukamu lagi karena face brush itu sudah aku curi," sambung Vika.
"Aku tidak akan marah, tapi alasanmu untuk mencuri? Jika kau ingin aku akan meminjam, kannya."
"Bukan aku yang mengingin,kannya tapi orang lain." Vika, menunduk merasa bersalah. Vika, pun menjelas, kan semuanya dari awal mula dirinya terancam dan terpaksa melakukan apa yang di perintah, kan Sharon. Vika, merasa menyesal karena telah mengambil face brush miliknya.
"Jadi, face brush itu sekarang ada di tangan Sharon!" ucap Mey, sedikit terkejut. Vika hanya mengangguk.
"Aku yakin dia iri padamu, karena kamu dekat dengan Tuan bos. Dia adalah tunangannya," jelas Vika.
"Aku merasa bukan karena iri atau cemburu, Aku merasa pernah bertemu dengannya dia seperti Shera, wanita yang selalu menggangguku. Kau ingat Shera, kan Vik!"
"Shera!" Vika, terlihat berpikir untuk mengingat nama Shera,
"Shera, teman sekolah kita dulu. Kamu ingat, kan gadis yang selalu menggangguku, mengejekku, dan menghinaku,"
"Shera! seingatku dia pernah bilang namanya Sharon," ucap Vika, yang mengingat pertama kali bertemu dengan Sharon. "Apa Sharon, dan Shera, orang yang sama!" sambungnya. Vika, dan Mey, pun saling tatap seolah memiliki pemikiran yang sama.
****
Elo, dan Arkan, mulai menyusuri setiap departemen yang terkena kebakaran. Selain rugi yang besar Elo, juga mengalami kegagalan ekspor membuat para buyer kecewa. Setelah menyelasaikan masalahnya dan berunding bersama beberapa klien akhirnya Elo, pun mengambil jalan tengah untuk membayar denda atas gagalnya ekspor selain itu Elo, harus memperbaiki kerusakan perusahaannya membangun kembali perusahaannya yang hancur karena kebakaran.
"Arkan, bagaimana keadaan sekretarisku?" tanya Elo, yang duduk di kursi kebesarannya.
"Saya dapat kabar, bahwa Meisie, sudah sadar dan di perbolehkan pulang," jelas Arkan.
"Syukurlah."
"Tuan ada yang lebih penting dari ini," ucap Arkan yang memberikan beberapa berkas.
"Sebelum kejadian kebakaran ada saksi yang melihat ada seseorang yang berjalan ke bagian dapur listrik, orang itu memakai seragam mekanik sepertinya dia yang menyebab, kan kebakaran," jelas Arkan.
"Kemungkinan ini karena faktor kesengajaan," sambung Arkan.
"Siapa yang berani menghancurkan perusahaanku!" ucap Elo, yang mengepalkan tangannya.
"Apa kemungkinan ini Farhan!" Elo, menatap Arkan, setelah mendengar ucapannya. "Saya mendapat informasi bahwa kematian Jimmy, di sengaja bukan murni kecelakaan," sambung Arkan.
Elo, pun jadi teringat tentang dokumen-dokumen yang Jimmy, berikan. Begitu pun dengan semua perkataan Jimmy, tentang kebusukan Farhan, dan masa lalunya. Elo, pun berpikir ada kemungkinan Farhan, menginginkan dokumen-dokumen itu. Dan kemungkinan Farhan, penyebab kematian Jimmy.
"Kau sudah berani mengusikku, baiklah mulai saat ini akan aku akan membongkar semua kebusukanmu." Elo, mengepal,kan tangannya kuat. "Pak Jimmy, sesuai permintaanmu aku akan melindungi semua aset keluarga Antares, sebelum akhirnya aku berikan pada hak yang sesungguhnya," sambung Elo.
****
Di dalam kamarnya Sharon, terus memandang face brush di tangannya. Lalu ia sapukan pada wajahnya, karena ingin membuktikan seberapa ajaib, kah face brush ini hingga membuat Mey, menjadi cantik.
"Setelah ini tidak akan ada wanita yang lebih cantik dariku," ucapnya yang langsung menyapukan face brush itu ke area wajahnya.
Sihir itu pun mulai bekerja, semburan cahaya dan gliter pun mulai terlihat, wajahnya pun mulai berwarna hingga hasil akhir pun terlihat,
Aaaaaaaa …
Suara jeritan terdengar begitu nyaring, dan menggema. Sharon, histeris ketika melihat wajahnya yang jelek seperti tua. Kulit kencangnya menjadi keriput, kelopak matanya menjadi hitam, jauh dari kata cantik seperti apa yang dia bayang,kan.
"Kenapa wajahku seperti nenek sihir, aaaa …."
"Non, ada apa non," teriakan asisten rumah tangganya.
"Tidak ada apa-apa sana pergi," ketus Sharon, yang menjawab seruan dari ART-Nya.
"Aduh gimana ini! Wajahku … ah, sial! Dasar face brush sialan. Awas kau Mey, dan gadis itu mereka menipuku." Sharon, menjadi kesal dan geram pada Mey, juga Vika.
Sharon, frustasi karena dalam waktu dua jam lagi dia akan pergi ke acara pesta teman-temannya. Sedangkan kekuatan brush itu bertahan dalam 12 jam. Apa yang akan Sharon, lakukan?
...****...
Jangan lupa like dan votenya ya 🤗