The Magic Face Brush

The Magic Face Brush
Edwin dan Jil



Jil, terus melihat-lihat dan mendekati satu persatu kandang itu, karena Jil, sangat menyukai binatang terutama kucing namun Jil, juga takut dengan binatang anjing. Tanpa Jil, sadari sebuah pintu kandang terbuka. 


Seekor anjing yang besar keluar dari kandang itu. Jil, merasakan ada sesuatu yang mendekatinya dari belakang. Perasaan Jil, semakin tidak karuan merinding, takut, serasa ada yang memperhatikannya. 


Saat Jil, mulai membalik, kan badannya dan menoleh ke belakang matanya terbelalak membulat sempurna ketika di suguhkan pemandangan yang cukup mengerikan. Seekor anjing besar berwarna hitam tampangnya begitu menyeramkan.


"A-a-an-jing," ucap Jil, gugup. 


Anjing itu pun menggonggong membuat Jil, ketakutan. 


Aaaa … Jil, berteriak dan langsung berlari membuat anjing itu mengejarnya. Suara Jil, begitu keras terdengar hingga Edwin, yang sedang duduk di ruang kerjanya pun langsung menghentikan pekerjaannya, lalu bangun berdiri dari duduknya dan langsung melangkah keluar. 


"Ada apa di luar. Apa yang gadis itu lakukan!" umpat Elo, selama melangkah. 


Gog … gog … gog … 


Anjing itu terus menggonggong, membuat Jil, semakin ketakutan dan mempercepat langkah berlarinya. "Hei, anjing bodoh pergi kau, pergi sana!" 


Jil, terus berlari tanpa melihat jalanan di depannya. Jil, pun tidak melihat jika Edwin, ada di hadapannya. Sehingga tubuh Jil, pun menabrak tubuhnya dan membuat tubuh keduanya terjatuh. 


Edwin, yang tertindih pun merasa sakit di bagian punggungnya begitu pun dengan Jil, yang merasa nyeri di sekujur tubuhnya. 


"Akh, hei kau ini tidak bisakah melihat jalanan dengan benar," pekik Edwin, yang memegang kepalanya yang sakit karena terbentur. 


"Kenapa kau marah padaku, lihat itu anjingmu tuh yang harus kau salahkan," pekik Jil, pada Edwin. 


Jil, langsung berdiri begitu pun dengan Edwin. Saat dirinya merapihkan pakaian yang berantakan karena terjatuh tadi tiba-tiba anjing itu kembali muncul dan menggonggong membuat Jil, langsung melompat ke dalam pelukan Edwin. 


Edwin, yang terkejut hanya bisa menahan tubuh Jil, yang melingkarkan kakinya di atas pinggangnya, begitu pun tangannya yang memeluk erat. 


"Usir anjing itu cepat," pekik Jil, yang menyembunyikan kepalanya pada dada bidang milik Edwin. 


Edwin, pun menghentikan aksi anjingnya itu. Anjing itu pun seperti sudah jinak dan menurut padanya. Saat Edwin, mengatakan 'Stop' anjing itu pun berhenti lalu duduk di hadapannya. Dan saat Edwin berkata 'Go' anjing itu pun pergi dengan langkah gontai menuju kandangnya. 


"Cepat turun dia sudah pergi." Edwin, sangat kesal karena Jil, masih berada di pangkuannya. 


"Benarkah? Aku tidak mau turun jika dia belum masuk kandangnya bila perlu kunci kandangnya." Edwin, memutar bola matanya malas, lalu membuang nafasnya kasar. 


"Bagaimana aku mengunci kandangnya jika kau berada dalam pangkuanku." 


"Apa kau tidak punya penjaga? Kau bisa saja menyuruh pegawaimu untuk menguncinya." 


"Astaga, bisakah kau turun sekarang." 


"Tidak," 


"Turun," 


"Ti-dak!" 


Setelah perdebatan sengit diantara mereka, kini mereka pun sama-sama diam. Saat kedua mata indah itu saling bertemu dan bersitatap. Dalam sekejap Edwin, terpesona dengan kecantikan Jil, begitu pun sebaliknya. 


Bagaimana kabar jantungnya? Jantung keduanya kini berdetak dengan cepat. Ada sengatan-sengatan listrik yang menjalar di tubuhnya. Pesona akan ketampan Edwin, mata coklat, pipi mulus dan putih dan bibir seksi, membuat Jil, terpesona dalam sekejap. 


Edwin berbeda dengan pria yang biasa ia temui di amerika, rupa Edwin, lebih tampan dari pria bule baginya. Dan untuk Edwin, untuk kedua kalinya dia merasakan detak jantungnya yang terpompa lebih cepat. Saat pertama rasa itu hanya ada untuk Sharon, wanita yang di cintainya tetapi kali ini dia merasakan rasa yang sama, rasa yang tak bisa di jabarkan. 


Cukup lama mereka saling menatap tiba-tiba suara klakson terdengar nyaring hingga mengejutkan keduanya. Jil, pun langsung menurunkan tubuhnya dari pangkuan Edwin. Sedangkan Edwin, merasa gugup di buatnya. 


"Itu pasti Arkan," ucap Jil, yang mendengar bunyi klakson dari luar. 


"Terima kasih telah mengizinkanku menunggu disini. Aku berharap tidak akan pernah menginjak rumah ini lagi." Jil, berkata seraya mendelik. 


"Ini rumah apa kebun binatang," umpat Jil, lirih namun terdengar oleh Edwin.


"Hei, aku mendengarnya!" 


"Jika kau mendengarnya aku punya saran lebih baik kau buka kebun binatang, dari pada menampung binatang buas disini." 


"Ish, dasar cewek aneh!" pekik Edwin, beruntung Jil, tidak mendengarnya karena Jil, sudah melangkah pergi. 


"Arkan, kenapa kau lama sekali sih!" ketus Jil, yang kesal karena Arkan, telat menjemputnya. 


"Maaf, tapi perjalananku memang sangat jauh," jawab Arkan.


"Dimana kakakku sekarang?" 


"Sedang berada di taman hiburan." 


"Untuk apa?" 


"Entahlah. Mungkin ingin berduaan dengan kekasihnya." 


"Dasar! Dia enak-enak, kan disana. Aku disini sengsara. Bos mu itu benar-benar keterlaluan dia meninggalkanku di tempat orang asing." Jil, terus menggerutu selama perjalanan pulang. 


"Dia bukan orang asing, Tuan bos dan dokter Edwin, mereka berteman lama." 


"Tetap saja bagiku dia orang asing." Arkan, hanya menggeleng saat mendengar ocehan Jil. 


****


Mey, dan Elo, sudah sampai di rumah. Kencan hari ini begitu menyenangkan. Mey, berniat untuk memberikan kabar gembira ini pada nek Tini, jika Elo, sudah melamarnya. 


Begitu pun dengan Elo, yang berniat untuk membicarakan hal itu pada kedua orang tuanya. Elo, dan Mey, terlihat bahagia bahkan mereka sudah tidak malu lagi untuk menunjukan kemesraan di depan semua orang terutama di depan para pelayan saat ini. 


"Lihatlah tuan bos, beda ya! Aura nya sedang dalam keadaan baik." 


"Namanya juga sedang jatuh cinta. Dunia terasa milik berdua."


Kedua pelayan yang berbisik pun tertawa renyah. 


"Kalian dengar tidak, mereka sebentar lagi akan menikah." 


"Wah, akan ada pesta dong. Kalau aku sih gak akan nolak jika nyonya kita sebaik nona Mey." 


"Iya, ya!" 


Ke tiga pelayan saling bercengkrama, tanpa mereka ketahui ada seorang pelayan yang mendengar ucapan mereka. Pelayan itu terlihat tegang, dan terlihat serius mendengar ucapan temannya. 


Lalu, pelayan itu pun pergi ke belakang untuk menghubungi seseorang. 


"Ada kabar apa?" tanya seseorang di ujung sana. 


"Saya mendengar tuan bos akan segera menikah, dengan wanita yang selama ini ada di rumah ini." 


"Bagaimana rupa wanita itu? Apa dia seperti foto yang aku kirimkan padamu?" 


"Iya, dan aku dengar namanya Mey." 


"Bos sudah dulu. Aku harus kembali bekerja." Pelayan itu pun menutup teleponnya. Dia terlihat tegang, gugup dan ketakutan, manik matanya terus memantau keadaan sekitar. Takut jika ada orang yang mendengar ucapannya. 


Setelah merasa aman pelayan itu pun pergi. 


Di tempat lain, Sharon, terlihat sangat marah. Dia mencengkram kuat ponsel yang di genggamnya. Cukup lama Sharon, berdiam diri tangannya kini kembali membuka layar ponselnya, untuk mengetik sebuah nomber yang langsung menghubunginya. 


"Aku punya tugas untukmu," ucapnya pada sambugan telepon.


...---------------...


Jangan lupa untuk selalu tinggalkan like, komen, vote dan favorit ya 🤗.


...----------------...


Mampir juga yuk ke novelnya teman thor.



#Cuplikan bab#


Adip terlonjak kaget, kenapa Jingga yang terlihat manis dan saat diam terasa sulit dijangkau, sekarang sangat centil dan menyebalkan. 


“Sejak kapan kamu bangun?” jawab Adip balik bertanya. 


“Selalu deh, kalau aku tanya nggak pernah dijawab dan selalu menghindar. Aku istrimu bukan sih?” tanya Jingga sewot. 


Adip memang selalu menghindari pertanyaan Jingga yang menurutnya tidak perlu dibahas. 


“Ngobrolnya nanti lagi, sudah ashar, sebentar lagi petang, cepat mandi dan ambil wudzu, akan susah jika kita ke sumber air malam- malam, bahaya. Terus kalau udah wudzu usahakan jangan batal sampai Isya!” ucap Adip lagi menasehati. 


“Ish... di sini nggak ada kamar mandi, aku nggak usah mandilah!” jawab Jingga sekarang sudah mulai meninggalkan penyakit perfecsionistnya tentang kebersihan. 


“Dasar jorok! Mandi lah!” 


Mendengar kata itu, Jingga jadi ingat waktu ke pantai. 


“He... aku jorok ya?” tanya Jingga malu.


“Iya...!” jawab Adip terus terang. 


“Apa itu juga penyebab kau tak pernah mau menatapku dan dekat- dekat denganku? Aku bau kah?” tanya Jingga. 


Mendengar itu Adip menelan ludahnya, siapa bilang Adip tak pernah menatap Jingga, Adip kan justru selalu mencuri pandang ke Jingga. 


“Sudah cepat bangun! Ayo makanya mandi, bawa baju basahan dan gantimu!” jawab Adip lagi, selalu mengacuhkan pertanyaan Jingga dan mengalihkan topik.


“Apa kita akan mandi bersama di tempat terbuka?” tanya Jingga kemudian. 


“Tidak! Kau mandi tetap memakai baju dan aku kita bergantian! Cepat!” jawab Adip tegas.


"Ish!" desis Jingga manyun.


Mereka berdua kemudian ke air, bersih- bersih setelah itu sholat bersama dan masak untuk makan malam.


Meski ada bisikan dari ke Adip memberitahu bahwa Jingga istrinya, dan seharusnya Adip bisa leluasa dengan Jingga, tapi Adip selalu melawan.


Adip tetap ingin bertemu Baba Jingga dulu, melakukan pernikahan mereka sebagai mana mestinya. Pernikahan mereka masih abu- abu, terpaksa terjadi karena adat.


“Sepertinya Amer tidak pulang malam ini!” tutur Adip menyalakan lentera dari bambu yang hampir mati karena tertiup angin. 


Setelah sholat isya mereka berdua duduk di depan gubuk menikmati langit yang ditemani rembulan. Sangat indah. 


"Berarti kita hanya berdua malam ini?" tanya Jingga dengan mata berbinar dan mata centilnya.


Adip hanya menelan ludahnya mendadak keringetan, kenapa Jingga selalu menggodanya.