The Magic Face Brush

The Magic Face Brush
Kabar kematian



Hari ini hampir semua media, baik pada berita di TV, atau pun di koran-koran. Tragedi kebakaran kemarin menjadi trending topik dan ada di semua chanel berita.  


Sesuai perintah Elo, semua media mengumumkan jika dalam kejadian kebakaran itu, ada dua orang pemilik rumah tewas. Dan benar saja kabar buruk itu membuat seseorang tersenyum senang. 


"Kerja bagus. Ini bayaran untuk kalian," ucap Sharon, yang memberikan sebuah amplop tebal ke pada dua pemuda yang menjalankan tugas darinya. Setelah menerima upah kedua pemuda itu pun berlenggang pergi.


"Akhirnya, gadis itu sudah pergi tidak ada lagi yang akan mengganggu kehidupanku dan Elo, tetaplah milikku." Sharon, tersenyum menyeringai. 


"Kerja bagus sayang, Papa sangat bangga padamu." Farhan, menepuk bahu Sharon, dengan bangga. 


"Sudah aku bilang, serah, kan padaku. Sekarang tidak ada orang yang mengganggu kita lagi. Papa senang, kan akhirnya Antares grup menjadi milik kita." Sharon dan Farhan, begitu yakin akan kematian Meisie. 


****


Di tempat lain Mey, belum mengerti apa maksud Elo, untuk melarangnya pergi dan keluar dari rumahnya. Bahkan, Mey, tidak terima jika dirinya di anggap sudah tiada. Namun, saat Elo, jelaskan akhirnya Mey, pun mengerti.


"Semua ini demi keselamatanmu. Biarkanlah sementara waktu mereka bersenang-senang. Di saat seperti inilah kesempatan kita untuk menghancurkan mereka."


"Setelah semua bukti sudah terkumpul, kita akan ungkap kejahatan mereka. Dan kamu Mey, saat ini seharusnya kamu pikirkan bagaimana caranya agar kamu masuk ke dalam Antares grup, dan memiliki kembali perusahaan yang seharusnya menjadi milikmu," ucap Elo, panjang kali lebar. 


"Tapi sampai kapan aku harus diam disini?" Mey, merasa tidak nyaman jika terus berada di dalam rumah bagaikan terpenjara. 


"Sabarlah, akan ada saatnya kamu untuk menampakan diri." 


"Lalu siapa yang akan menjadi sekretarismu?" 


"Jangan pikirkan hal itu. Tanpa sekretaris aku masih punya Arkan, tidak perlu khawatir. Lebih baik, kau istirahat aku harus segera pergi ke kantor," ucap Elo, yang akan beranjak pergi namun di sanggah oleh Mey.


"Elo," panggil Mey, membuat langkah Elo, terhenti. "Terima kasih, kamu sudah banyak membantuku. Dan sekarang kamu rela membantu keluargaku." Mey. tidak menyangka Elo, mau memperjuangkan hak dan waris sesungguhnya, rela membuka kembali masalah keluarganya 10 tahun lalu demi untuk dirinya. 


"Aku, akan melakukan apapun untukmu. Aku akan memberikan keadilan untukmu."


Cup, 


Elo, mengecup lembut kening Mey, penuh dengan cinta. Tanpa di sadari seseorang tersenyum melihat keromantisan mereka berdua. 


"Jaga dirimu baik-baik. Ingat jangan pergi kemana pun, aku pergi dulu," 


"Elo," seru Mey, yang membuat langkah Elo, kembali terhenti


"Ya!" sahut Elo, yang berbalik. 


Cup, 


Tanpa di duga, dirinya mendapat serangan mendadak. Elo, membulatkan kedua bola matanya sesaat, sebelum akhirnya kedua matanya tertutup rapat. Sentuhan dingin dari sebuah benda kenyal yang mendarat di bibirnya membuatnya terhanyut. 


Perlahan kedua tangannya melingkar di pinggang ramping milik Mey, dengan sekali tarikan tubuh Mey, pun menempel seperti perangko, pada tubuhnya. Elo, terus mendekap Mey, erat tanpa melepaskan ciuman bibirnya. 


Di pagi hari yang bergairah, membuat keduanya tak terlepas dari pangutan bibir mereka. Semakin dalam dan semakin dalam kedua lidah pun saling di pautkan, hingga keduanya lupa bahwa mereka sedang berada di dalam ruangan yang kemungkinan ada seseorang yang melihat. 


Seorang wanita yang berdiri begitu lama, masih terus memperhatikan keduanya. Wanita itu seolah tahu apa yang di rasakan Elo, dan Mey, saat ini. Bahkan wanita itu tidak membiarkan siapapun mengganggu mereka berdua, seorang pelayan yang hendak melangkah pun ia tahan karena tidak ingin Elo, dan Mey, terganggu. 


"Sekarang aku tahu apa kebahagiaan mu Nak!" ucap wanita itu lalu berlenggang pergi.


Setelah cukup lama saling menautkan kedua lidah dan bibirnya, akhirnya mereka pun melepaskan ciumannya. Wajah Mey, begitu merah merona, seperti kepiting rebus. Rasa cinta yang tak tertahan busa melupakan rasa malu pada diri sendiri. 


'Ya ampun Mey, apa yang kau lakukan. Kau menciumnya lebih dulu. Aish, sungguh memalukan," batin Mey, yang menunduk malu.


"Ternyata, kau inerjik juga ya!" ucap Elo, yang tertawa membuat wajah Mey, semakin memerah. 


"Lain kali, bilang-bilang jangan membuatku terkejut," ucap Elo, seraya mengedipkan matanya. "Aku pergi dulu, tunggu aku pulang ya, aku akan memberikanmu sesuatu." Elo, tersenyum senang seraya melangkah pergi. 


****


Di tempat lain Vika, yang mendengar berita kebakaran dan kematian sahabatnya, Mey. Membuatnya menangis tersedu-sedu. Isakan, tangisnya begitu keras terdengar, hingga semua teman-teman di bagian divisinya terus menenangkannya, agar tidak menangis lagi.


"Vika, sudah Vika, jangan menangis." 


"Kami, turut berduka atas kejadian naas yang menimpa temanmu ya," 


"Sudah jangan menangis lagi, temanmu pasti tenang di alam sana." 


Bukannya mereda, tangisan Vika, semakin keras saat mendengar perkataan temannya itu. 


"Loh, kok makin keras sih nangisnya!" Teman-temannya pun bingung, tidak tahu apa yang harus di lakukannya supaya Vika, berhenti menangis. 


"Vik, kok makin keras sih nangisnya!" 


"Kalian ngapain coba bilang kalau Mey, tenang di alam sana. Jangankan kuburannya jasadnya saja aku tidak melihatnya, bagaimana bisa pergi dengan tenang. huhuhuhu." Mey, kembali menangis.


"Aduh, gimana ini! Vik, sudah dong kalau tuan bos datang bagaimana." Baru saja temannya berucap, suara baraton terdengar jelas, membuat jantung mereka berdegup kencang. Mereka, takut jika itu adalah bos mereka namun saat di lihat, mereka sedikit tenang ternyata itu suara Arkan.


"Eh, pak Arkan." 


"Ada apa ini? Kenapa berkumpul disini? Apa kalian tidak bekerja?" Arkan, terlihat akan marah karena melihat bawahannya yang tidak bekerja.


"Ini pak, kita nenangin teman kita, yang sedang berduka karena kehilangan temannya," jelas seorang karyawan.


"Berduka kenapa?" tanya Arkan, seolah ingin tahu.


"Itu loh pak, yang kebakaran itu ternyata itu rumah temannya. Yang sudah meninggal karena kebakaran itu," jelas temannya.


'Loh, bukannya ini wanita yang kemarin!' batin Arkan, yang mengingat kebakaran beberapa hari yang lalu yang meimpa perusahaan tempatnya bekerja. 


Dan Arkan, masih ingat Vika, yang saat itu menangis karena Mey, terjebak di dalam kebakaran. Dan saat itu menangis di dalam pelukannya. 


"Kalian kembali ke tempat kerja kalian masing-masing," titah Arkan, pada semua karyawan yang mengerumuni Vika, dalam sekejap mereka pun bubar. 


Kini hanya Arkan, yang masih berdiri di dekat Vika. Sedangkan Vika, tak menyadari kehadiran Arkan, dia masih terus menangis karena menganggap Mey, sudah tiada. Bahkan, saat Arkan, memberikan saputangannya Vika, mengambilnya tanpa melirik. 


"Terima kasih," ucap Vika, yang mengusap air matanya dengan sapu tangan itu. 


"Sudah, jangan menangis," ucap Arkan. 


"Aku, masih belum bisa terima jika temanku pergi," jawab Vika, di iringi dengan tangisan.


"Temanmu Mey, bukan?" 


Heem, Vika hanya mengangguk.


"Temanmu masih hidup," ucap Arkan, membuat Vika, tertegun lalu meliriknya. Vika, pun sangat terkejut saat Arkan berada di sampingnya.


...----------------...


Kira-kira Vika dan Arkan jodoh kali ya! Setuju gak kalau mereka jadian. heh


Jangan lupa klik favorit ya biar dapat notif setiap harinya. Jangan lupa dukung terus kisah Mey dan Elo biar bersinar seperti bintang.


Caranya klik like, setelah membaca


Jangan lupa votenya juga ya. Sisihkan vouchermu untuk vote nya 🙏😊 l Setiap minggunya kalian akan dapat Voucher 1 untuk vote dan itu gratis loh. Ingat setiap hari senin dan voucher itu akan habis di hari minggu. Jika vouchernya hangus, kan sayang mending kirim vote untuk karya The Magic Face , Brushnya oke😉