
Vera, berlarian menyusuri gang sempit untuk menghindari polisi. Setelah kumpulnya bukti-bukti beserta foto dan tato butterfly itu membuat polisi mudah menemukannya. Tak hanya Vera, kini Gladis, juga menjadi buronan polisi kini mereka berdua di kejar-kejar petugas kepolisian.
"Ah sial!" rutuk Vera, yang bersembunyi di antara rumah-rumah kumuh.
"Pokoknya aku tidak boleh tertangkap, sebelum mengambil brush itu." Vera, tetap nekad dan keukeuh untuk mendapatkan brush itu.
Di tempat lain Gladis, sembunyi-sembunyi memasuki apartemen milik Bara. Gladis berjalan mengendap-ngendap. Takut jika ada orang yang melihatnya. Setelah berhasil masuk Gladis, berlari masuk ke dalam pintu kamar apartemen yang di huni oleh Bara.
Brakk,
"Gladis!" Bara, dan Siska, begitu terkejut dengan kedatangan Gladis. Karena takut melakukan hal yang aneh, Bara segera menghubungi polisi.
"Gladis, jika kau berani melangkah aku pastikan polisi akan membawamu."
"Tapi sebelum itu terjadi aku akan menunjukan sebuah rahasia besar padamu," ucap Gladis, sinis.
"Rahasia! Apa maksudmu?" Bukannya menjawab Gladis, terus melangkah maju mendekati Bara, dan Siska.
Tatapannya begitu tajam dan penuh amarah. Tangan kirinya mengambil segelas air yang terletak di atas meja, setelah sampai di depan mereka, Gladis, menyiramkan segelas air itu pada Siska, yang menbasahi wajah dan tubuhnya.
Bara, membelalakan matanya merasa kesal karena Gladis, berani menyiram Siska di depannya.
"Gladis, apa yang kau lakukan."
Gladis, hanya tersenyum, seraya mendelik ke arah Siska. Yang kini sudah mulai menampakan wujud aslinya.
"Si-Siska, apa yang terjadi ada apa dengan wajahmu?" Bara sangat terkejut melihat wajah dan tubuh Siska, yang mulai memunculkan bintik-bintik merah. Siska, hanya diam tanpa kata.
"Inilah wajah aslinya. Selama ini kamu di bohongi dengan tanpangnya yang mulus, kenyataannya istrimu menjijkan," ucap Gladis.
"Aku bisa jelaskan Bara,"
"Jelaskan apa Siska, mau menjelaskan kamu terkena kutukan! Wajah burukmu itu tidak akan pernah hilang dan tidak akan pernah bisa kamu tutupi lagi." Gladis, tersenyum licik kala melihat sebuah brush di dalam kamar Siska. Tanpa menunggu lama Gladis, melangkah memasuki kamar itu dan mengambil brushnya.
"Kembalikan itu milikku." Siska, berlari berusaha merebut brushnya namun tidak berhasil. Gladis, membawa brush itu keluar memasukannya ke dalam tempat sampah lalu membakarnya.
"Mulai saat ini kamu tidak akan bisa menyembunyikan lagi wujud aslimu. Aku ingin tahu apa Bara, masih menginginkanmu." Siska, hanya menatap sendu api yang sudah membakar bruashnya. Dirinya terduduk lemah tak berdaya menangisi brush ajaib itu yang sudah terbakar.
Sedangkan Bara, masih duduk termenung tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Wajah Siska, yang cantik berubah seketika. Gladis, tertawa lebar karena rencananya berhasil. Namun, dirinya melupakan hal yang paling penting hingga tak menyadari jika beberapa anggota polisi kini sudah berdiri di belakangnya dan siap menangkapnya.
"Lepaskan, lepaskan aku." Gladis, memberontak saat kedua tangannya akan di borgol polisi.
"Diam! Jangan bergerak!" Bentak salah seorang anggota polisi.
"Bara, kamu tega aku di penjara? Bara, aku mohon lepaskan aku jangan biarkan polisi menangkapku. Bara, wanita itu sudah membohongimu semua yang aku lakukan demi dirimu, aku masih mencintaimu Bara."
Gladis, terus berteriak namun Bara, tidak menghiraukannya sama sekali. Hingga saat polisi membawa Gladis, Bara masih tetap diam. Kini hanya ada Siska, dan Bara, keduanya masih sama-sama diam tanpa kata.
Siska, melirik ke arah Bara, ia bangun dari lantai berjalan mendekati Bara. Berharap perasaan Bara, tidak berubah dan menerima apa adanya.
"Mas."
"Kenapa Mas, apa kamu jijik melihat wajahku saat ini. Aku bisa jelaskan semuanya. Dan ini bukanlah kutukan seperti apa yang Gladis, katakan." Siska, memohon dan berusaha meyakinkan Bara.
"Bukankah kamu sudah berjanji akan menerima ke kuranganku."
Bara, menatap Siska, dengan sorot mata tajamnya. Lalu beranjak dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan Siska.
"Mas, Mas,Bara." Bara terus melangkah hingga tak terlihat lagi. Dirinya mengabaikan panggilan dari istrinya itu.
****
Hari-hari berlalu, sehari, dua hari, hingga seminggu Siska, masih setia menunggu kedatangan Bara. Namun, seminggu sudah berlalu Bara, belum juga kembali.
"Mas, kamu dimana?"
"Mas, apa kamu tidak pulang? Apa kamu tega meninggalkan bayi kita. Bukankah kamu begitu bahagia saat mendengar kabar baik kehamilanku, tapi kenapa sekarang kamu pergi?"
Dua pesan dikirimkan Siska, berharap Bara, membacanya. Namun, Bara, mengabaikan beberapa pesan juga panggilan dari istrinya itu.
"Bar, ada apa? Kenapa melamun?" tanya Haikal, saat memasuki ruangan bosnya. Seminggu ini Bara, hanya diam dan melamun tidak begitu semangat seperti biasanya.
"Lo ada masalah sama istri lo? Masalah apa lagi sih! Bukannya lo seharusnya bahagia karena sebentar lagi akan menjadi seorang ayah."
"Aku tidak tahu, aku harus bahagia atau tidak." Bara menimpali.
"Maksudmu?" tanya Haikal, bingung.
"Dia membohongiku."
"Berbohong seperti apa?" tanya Haikal, lagi. "Bar, kebohongan itu pasti ada sebab dan alasannya. Memang kebohongan bukan hal yang baik setidaknya kamu dengarkan dulu alasannya. Apa sekarang kamu sudah mendengar penjelasannya?" sambung Haikal. Bara, hanya menggeleng.
"Kebohongannya tidak bisa di maafkan, dia bukan hanya berbohong tetapi juga menipuku."
"Lalu apa yang akan kamu lakukan? Meninggalkannya? Bar, hilangkan emosimu sesaat, pikirkanlah janin yang ada di dalam perut istrimu. Bertahun-tahun kamu menunggu kehadiran seorang anak, saat Tuhan, memberikanmu kepercayaan untuk memilikinya, menjaga titipannya kamu malah pergi begitu saja. Jangan lakukan itu Bar, ingatlah Siska, sedang mengandung anakmu, apa kamu tega melihat anakmu lahir tanpa ayah!" Bara, tertegun mendengar ucapan Haikal. Yang bermakna nasehat.
"Terserah lo Bar, gue hanya memberimu saran. Pikirkanlah baik-baik perkataanku dan jangan sampai menyesal. Gue kesini hanya ingin memberitahu jika Gladis, dan Vera, sudah di tangani polisi." Setelahnya Haikal, kembali melangkah keluar dari ruangannya.
Bara, masih diam mencerna perkataan Haikal sebelumnya. Hingga akhirnya Bara, teringat Siska, dan pesan yang selalu di kirim Siska. Bara, merasa bersalah karena pergi begitu saja meninggalkan Siska, yang sedang hamil saat ini.
****
Brakk,
Bara, membuka pintu apartemennya dengan keras. Matanya langsung mencari sosok wanita yang selama ini ia tinggalkan. Bara, mencari Siska, yang tak terlihat sama sekali keberadaannya.
Siska, sudah pergi karena tidak bisa tinggal lagi di apartemen itu tanpa Bara. Siska, kembali ke tempat asalnya. Yang kembali tinggal bersama Janet. Namun kali ini Siska, lebih menutupi dirinya, karena keadaannya yang tidak baik di lihat. Takut jika teman-temannya ngeri dan jijik melihatnya.
"Siska," panggil Janet
"Ia madam." Sahut Siska, yang menoleh. Matanya terkejut kala melihat seorang pria di belakang Janet. Siska, semakin menutupi wajahnya dengan selendang yang ia pakai. Tubuhnya langsung membelakangi Janet dan Bara.