
Berita konferensi pers itu sudah tersebar luas. Bahkan, Gladis dan Vera pun sudah mendengarnya. Demi rencananya Vera, mengajak Gladis untuk menghadiri acara konferensi pers itu namun, mereka berdua menyamar dengan berpenampilan yang berbeda.
Apa lagi Gladis, yang tak ingin semua orang melihatnya karena dirinya salah satu publik figur yang akan selalu tersorot.
"Apa kamu siap?" tanya Vera, di dalam mobil yang ia parkirkan tak jauh dari perusahaan Bara.
"Aku tidak yakin, apa yang akan kita lakukan? Merebut brush itu? Apa kamu gila semua orang akan meremehkan kita hanya karena brush itu." pekik Gladis pada Vera.
"Oke! Kamu tahu brush itu ada sihir atau apalah itu. Tapi … apa mereka tahu dan percaya? Mereka tidak akan percaya yang ada kita yang malu." Gladis, terus mengeluh.
"Aku tidak mengajakmu untuk mengambil brush itu. Tetapi, aku ingin memperlihatkan wajah buruknya pada semua orang." Vera, begitu yakin dengan rencananya.
"Kamu pikir dia akan menunjukan wajah buruknya? Itu tidak mungkin."
"Kita, yang akan melakukannya."
"Dengan cara?"
"Ini." Vera, menunjukan sebuah botol air mineral. Yang membuat Gladis mengeryitkan keningnya.
"Air?"
"Ya! Air. Setelah aku pikir-pikir pertemuanku waktu itu saat di tengah hujan, wajahnya kembali seperti semula. Namun, saat di tempat teduh dia mengeringkan tubuhnya dan memakai brush itu yang terjadi kulit tubuhnya dan wajahnya kembali cantik."
"Aneh, bukan! Tapi itulah sihir. Ada kekuatan dan ada kelemahan, brush itu pasti punya kelemahan yaitu air entah air hujan atau air biasa yang jelas saat terkena air sihir itu akan hilang."
"Jadi, kenapa tidak ku coba. Kita siramkan air ini pada wajahnya dalam seketika wajahnya akan kembali buruk rupa dan di saat semua orang seluruh dunia melihatnya bukan hanya Bara. Dan Siska akan merasa sangat malu mugkin saja Bara, akan merasa jijik dengan wajahnya."
Vera, tersenyum licik setelah mengatakan rencana jahatnya. Lalu mereka berdua turun dari mobilnya dan berjalan memasuki perusahaan Bara.
*
*
*
"Terima kasih kalian sudah menyempatkan waktunya. Sebelumnya saya ingin meluruskan perihal hubungan saya dengan Gladis. Seperti apa yang sudah kalian ketahui saya dan Gladis tidak ada hubungan apa pun lagi dan kami sudah bercerai."
"Dan untuk wanita di samping saya ini. Dia adalah Siska, istri saya yang saat ini tengah mengandung anak pertama kami."
Bara, tersenyum bahagia saat mengumumkan kehamilan Siska. Namun tiba-tiba …
Byur,
Seseorang menyiramkan air ke wajah Siska, sontak itu membuat Bara terkejut juga para reporter yang sedang meliput.
"Ada apa ini?"
"Siapa orang itu?"
Para reporter pun saling berbisik. Sedangkan Siska, langsung memalingkan wajahnya yang menutupnya dengan kedua tangannya. Rasa panas, gatal, kembali ia rasakan saat wajahnya kembali memerah seperti tokek.
"Hei nona perlihatkanlah wajah burukmu itu?" teriak Vera, yang mengenakan pakaian mekanik dan menutup wajahnya dengan masker dan topi.
"Kalian tidak tahu dia adalah kutukan wajahnya sangat buruk, wajah yang sekarang di perlihatkan adalah wajah palsunya."
Sontak perkataan Vera, membuat semua reporter ricuh. Mereka bertanya-tanya dan penasaran apa benar Siska, memiliki wajah yang buruk. Namun Siska, tetap memalingkan wajahnya tak berani menunjukan wajah ya.
Saat Bara, akan memalingkan wajah Siska, tiba-tiba. Seorang wanita datang dan memeluk Siska, menyembunyikan wajah Siska, pada tubuhnya.
"Kenapa kamu masih diam tuan Bara, apa ini yang kamu lakukan saat istrimu di permalukan," ucap wanita itu yang menyadarkan lamunan Bara.
Setelah tersadar Bara, pun melihat pada Vera yang menyiramkan air pada Siska. Dan memanggil para body guard untuk mengejar Vera. Sedangkan Gladis, dia sudah berlari terlebih dulu.
Wanita penyelamat itu membawa Siska, ke sebuah aula. Sepanjang jalan wanita itu tidak melepaskan pelukannya dan tetap menyembunyikan wajah Siska yang di tutupi dengan blezernya.
Saat para reporter mengerumuninya tiba-tiba ada seorang pria yang menghadang reporter itu. Pria, tampan yang sangat mereka kenali. Para reporter itu pun mengerumuni pria itu dan mengabaikan Siska. Yang akhirnya Siska, pun berhasil masuk ke dalam aula itu setelah masuk wanita itu pun menutup pintunya dengan rapat.
"Kau tidak apa-apa?"
"Mba Mey." Siska, terkejut tidak percaya jika orang yang menyelamatkannya adalah Mey, wanita yang pernah menolongnya saat itu.
"Kau sudah menolongku untuk kedua kali." Siska, begitu terharu yang langsung memeluk Mey.
"Sudahlah jangan menangis, sekarang kamu sudah aman bersamaku."
"Tapi bagaimana kamu ada disini?" tanya Siska, yang penasaran karena Mey, ada di perusahaan suaminya.
Flash back on
Mey, dan Elo, tengah berkunjung ke perusahaan Bara, untuk membicarakan perihal kerja sama antara mereka. Saat memasuki lobby Mey, dan Elo, melihat banyaknya reporter yang saling berkerumun menunggu konferensi pers di mulai.
Mey, pun penasaran dan bertanya pada seorang wanita yang menutunnya berjalan menuju ruangan Bara.
"Mba, ini ada apa ya? Kok banyak wartawan."
"Sebentar lagi akan ada konferensi pers, bos kami akan mengumumkan kabar baik perihal istri barunya yang tengah mengandung anak mereka."
"Jadi tuan Bara, sudah memiliki istri lagi dan sekarang tengah mengandung?"
"Betul Bu."
Mey, merasa tertarik dan ingin melihat apa lagi mengenai kehamilan. Mey, yang masih belum di karuniai seorang anak sangat ingin sekali bertemu dengan sepasang suami istri itu. Hingga Mey, memutuskan untuk melihat konferensi pers itu.
"Sayang, aku ingin melihatnya sebentar saja. Lagian, jika kita menunggu di ruangan tuan Bara, pasti lama iya, kan." Mey, meminta izin pada Elo, agar bisa melihat konferensi pers itu.
"Kenapa tidak sayang ayo." Mey, dan Elo, pun berjalan menuju tempat itu. Saat melihat wajah istri dari Bara, Mey, tercengang dia tak percaya ternyata Siska, adalah istri dari rekan bisnisnya yang sekarang tengah mengandung.
Namun, saat melihat konferensi pers itu Mey, dan Elo, di buat terkejut debgan kedatangan seorang wanita yang menyiramkan sebotol pada wajah Siska. Mey, yang mengetahui keadaan Siska, pun langsung berlari untuk memeluk Siska, dan menyembunyikan wajah Siska.
Elo, yang terkejut melihat tingkah Mey, yang tiba-tiba menyelamatkan Siska, hingga membawanya pergi dari tempat itu. Membuatnya berpikir jika Mey, mengenal betul wanita itu.
Saat Elo, tengah mengejar dirinya melihat Istri dan wanita yang di kerumuni reporter. Elo, pun tak tinggal diam dan langsung menghadangnya.
Flash back off
"Terima kasih Mba beruntung Mba Mey, datang menolongku jika tidak…"
"Sudah lupakan kejadian tadi, sekarang keringkan wajahmu. Dimana brushmu?"
"Brushku?"