
Marchel, baru saja keluar dari lapas setelah mengunjungi Sharon. Dia berjalan ke arah mobilnya yang terparkir. Marchel, berdecak kesal karena Gladis, terus saja menghubunginya.
Berita, tentang dirinya pun tersebar wajahnya yang samar dan hampir tak terlihat kini di perjelas sehingga wajahnya terlihat jelas. Hingga dirinya menjadi incaran para reporter saat ini.
"Ah, sial kenapa mereka datang ke tempatku," umpat Marchel, yang melihat beberapa reporter di depan rumahnya. Marchel, pun kembali manancap gas lalu pergi meninggalkan rumahnya.
Marchel, menjalankan mobilnya menuju hotel tempatnya bermalam dengan Gladis. Tanpa di duga hotel itu pun di penuhi banyak reporter. Sehingga Marchel, harus berbalik dan pergi.
"Ah, sial harus kemana aku pergi."
Marchel, yang kesal karena semua tempat yang biasa di kunjunginya di penuhi para reporter. Sehingga Marchel, pergi ke clubnya hanya itulah satu-satunya tempat persembunyiannya.
*
*
Gladis, yang tidak dapat menghubungi Marchel, pun pergi ke sebuah club tempat dimana dirinya bertemu bersama Marchel. Karena Gladis, yakin jika Marchel, akam ada di sana.
Hal yang tak terduga pun terjadi, sebelum dirnya bertemu Marchel, ada seorang wanita yang mengajaknya berbincang dan wanita itu sangat dekat dengan Siska. Wanita yang menjadi istri kedua suaminya.
Wanita itu adalah Vera. Yang mengenali wajah Gladis, dari berita yang tersebar dan juga akun pribadinya. Vera, mendekati Gladis, mengatakan tentang keburukan Siska, pada Gladis.
"Boleh aku duduk!" tanya Vera, yang langsung mendaratkan bokongnya di samping Gladis.
"Aku Vera, kau Gladis bukan!"
Gladis, masih diam tak menjawab sama sekali. Karena baginya itu tidak penting Vera, bukanlah orang yang dia kenali.
"Bagaimana rasanya di duakan suamimu?" Pertanyaan Vera, mampu mengalihkan pandangannya. membuat Gladis, penasaran pada wanita di depannya.
"Siapa kau? Dari mana kau tahu kehidupanku."
"Kamu lupa jika dunia maya, seluruh media sedang membicarakanmu saat ini? Tak hanya dirimu yang ku tahu, tapi aku sangat mengenal wanita yang kini menjadi madumu."
Gladis, semakin menatap tajam Vera. Perkataan Vera, membuatnya tertarik dan penasaran. Apa lagi Vera, mengatakan tentang Siska, orang yang selama ini dia benci.
"Kau mengenal wanita itu? Siapa kamu sebenarnya. Dan apa untunnya buatmu mengatakan itu padaku."
Vera, menatap Gladis, dekat dan mendekatlkan wajahnya lalu mengatakan sesuatu. "Aku dengannya satu profesi, dia adalah musuhku," ucap Vera.
"Aku tahu awal mula pertemuannya dengan suamimu. Mereka menikah karena satu tujuan yaitu anak demi mendapatkan seorang anak dia menikah dan di bayar 1 milyar."
"Tapi wanita itu sudah mengambil suamiku dan memintanya untuk menceraikanku. Karena dia aku kehilangan semuanya." Gladis, masih menyalahkan Siska, atas perceraiannya dengan Bara. Dan akan terus menyalahkannya.
"Aku bisa membantumu agar suamimu kembali padamu dan meninggalkan Siska. Aku punya rahasia besar wanita itu."
"Rahasia apa?"
Vera, pun mendekatkan telinganya membisikan sesuatu pada Gladis. Vera mengatakan tentang Siska, yang buruk rupa. Namun, Bera memanipulasi keadaan itu menjadi sebuah kutukan atau penyakit yang menular.
Dan Siska, memiliki sebuah benda ajaib berupa brush, yang menjadikan cantik seperti putri. Dan Vera ingin mendapatkan brush itu, agar Siska, kembali seperti dulu. Wajah dan tubuh yang menjijikan.
"Kamu serius?" tanya Gladis, yang tak percaya.
"Kamu pikir aku berbohong? Kedatanganku ke kota ini ingin mencarinya, dan menemukannya. Saat kemarin aku bertemu dengannya namun, dalam keadaan yang sangat mengerikan. Wajahnya yang buruk, dan juga tubuhnya namun, saat aku ikuti aku melihatnya memakai sebuah brush pada wajah dan seluruh tubuhnya. Dalam seketika wajahnya kembali cantik dan tubuhnya kembali bersih."
"Aku yakin jika brush itu bukan brush biasa. Brush itu pasti memiliki sihir yang mampu menyulap wajahnya. Tapi, aku tidak tahu kenapa wajahnya bisa kembali menjadi buruk apa jangan-jangan brush itu punya kelemahan?"
"Kamu bilang brush ajaib? Omong kosong apa itu. Kita hidup di dunia modern tidak bukan di dunia sihir." Gladis, meremehkan Vera, dan tidak percaya dengan semua ucapan Vera.
"Kamu tidak percaya? Begini saja bagaimana kalau kita buktikan."
Mereka berdua pun saling bertatapan, awalnya Gladis, tak percaya dengan kata sihir namun, dalam hatinya penasaran dan ingin membuktikan jika Siska, memang menggunakan sihir. Pada akhirnya Gladis, pun setuju dan mereka berdua akan mencari tahu tentang brush itu.
*
*
Hari-hari berlalu, keadaan perusahaan Bara, kini kembali normal desas-desus kabar miring tentangnya dan tentang Gladis, pun redup. Kini hanya ada kabar tentang perceraiannya dengan Gladis.
Setelah semua kembali normal, Bara, ingin menepati janjinya yang akan mengumumkan tentang pernikahannya dengan Siska. Bara, pun menggelar konferensi pers untuk mengumumkan pernikahan dan kehamilan istrinya.
"Bos, semua sudah beres, para wartawan sudah berkumpul. Bagaimana apa kau sudah siap?" tanya Haikal, yang datang menemui Bara, di ruangannya. Karena konferensi pers saat ini akan di adakan di perusahaannya.
"Tunggu lima belas menit lagi."
"Oke, tapi dimana istrimu?"
Hoek, hoek, hoek,
Suara dari dalam kamar mandi mengejutkan Bara. Bara, yang panik dengan keadaan Siska, yang terus muntah dan mual dirinya pun berlari ke arah kamar mandi.
Di masa-masa trimester pertama Siska, mengalami hal-hal biasa yang di alami ibu hamil pada umumnya. Mengalami mual, pusing, dan muntah. Hingga tubuhnya lemas dan pucat.
"Apa masih merasa mual?" tanya Bara, panik yang terus memijit tengkuk leher istrinya.
"Sudah agak mendingan. Apa konferensi persnya sudah di mulai?" tanya Siska, seraya mengusap mulutnya.
"Kenapa dengan tanganmu?" Bara, melihat pergelangan tangan Siska, yang menimbulkan bintik-bintik merah. Siska, pun tercengang Siska, lupa jika tadi tangannya menyentuh air membuat setengah sihir dari brush itu hilang.
"Ini bukan apa-apa, mungkin elergi semenjak hamil kulitku sensitif." Siska, memberi alasan yang cukup masuk akal.
"Lebih baik kita batalkan saja," ungkap Bara, yang khawatir karena keadaan Siska.
"Kenapa?"
"Aku tidak mau acara ini mengganggu kehamilanmu. Lebih baik kita pulang saja kamu harus istirahat."
"Aku sudah tidak apa-apa."
"Sudah berapa kali kamu muntah hari ini, apa itu yang namanya baik-baik saja?"
"Itu hanya muntah biasa. Sebagai wanita hamil pasti mengalaminya. Sudahlah kita lanjutkan saja konferensi pers nya."
"Tidak-tidak, lebih baik kita tunda saja. Aku akan meminta Haikal, untuk membatalkan konferensi persnya."
"Mas."
"Ada apa ini? Kalian kenapa?" tanya Haikal, yang melihat Bara, dan Siska, keluar dari dalam toilet yang terlihat berdebat.
"Haikal, batalkan saja konferensi persnya."
"Jangan," sanggah Siska.
"Batalkan saja."
"Jangan,"
"Stop! Sebenarnya kalian ini kenapa sih! Memangnya kenapa harus di batalkan Bar?" ujar Haikal.
"Kamu tadi dengar sendirikan, istriku muntah-muntah dia sedang tidak sehat. Dan karena itulah konferensi persnya batalkan saja."
"Astaga Bara … aku kira ada apa. Jangan terlalu panik itu hal yang wajar. Semua ibu hamil pasti mengalaminya. Istriku juga pernah mengalaminya."
Ini adalah pertama kalinya bagi Bara, menghadapi ibu hamil. Antusiasnya menjadi seorang ayah membuat Bara, terlalu over dan khawatir berlebihan pada Siska.
Akhirnya setelah saling berdebat konferensi pers pun berlanjut dan di langsungkan. Kini, mereka berdua sedang menghadapi para wartawan. Siska, terlihat gugup namun Bara, tetap menggenggam tangannya.
Di luar sana Vera, dan Gladis datang dengan niat menghadiri konferensi fers itu.
...----------------...
Hai reader ketemu lagi sama othor, Gladis dan Vera bersatu nih kira-kira apa ya yang akan di lakukan! jawabannya hanya di part selanjutnya.
Sambil nunggu part selanjutnya mampir dulu yuk ke karyanya JBlack
...Gadis Jerawat ...
...Istri Sang Casanova...
Cuplikan Bab 👇👇
"Jangan terlalu bahagia dengan semua yang kulakukan ini," bisik Syakir yang membuat bulu kuduk Humai merinding. "Ini hanyalah paksaan dan setelah ini, kau akan tahu bagaimana kehidupan yang kau inginkan sebenarnya."
Syakir tetap menatap Humai dengan pandangan rendah. Bahkan dia langsung membuang wajahnya karena tak mau menatap wajah itu lagi. Wajah yang menurutnya merusak segala hal yang ia inginkan.
Wajah dari wanita yang merebut kasih sayang kedua orang tuanya. Wajah yang merusak masa depan indahnya. Semua itu sudah sirna dan itu karena Humaira dan anak yang dikandungnya.
"Jangan pernah menatapku seperti itu, Wanita bodoh!" seru Syakir saat Humai menatapnya dengan lekat. "Aku sangat membencimu dan aku tak mau melihatmu lagi! Enyahlah dari duniaku bersama anak haram ini!"
Jantung Humai mencelos. Dia menunduk dan tanpa sadar langsung memegang perutnya. Wanita itu merasa sakit ketika kata-kata itu keluar dari bibir Syakir. Namun, Humai tak bisa melakukan apapun.
Saat ini Syakir telah menjadi suaminya. Dia tak bisa melawan balik dan memilih diam. Humai juga tak mau membuat kekacauan disini. Dia tak mau Syakir semakin membencinya saat kedua orang tuanya terus membelanya daripada putranya sendiri.
"Kau mau mengadu? Silahkan!" seru Syakir dengan pelan karena melihat kedua orang tuanya hendak ke arah mereka. "Tapi jangan salahkan aku, jika kau dan anakmu ini, akan mendapatkan sakit yang lebih dari ini dariku!"
...----------------...
Dari pada penasaran langsung saja kunjungi lapaknya, ingat jangan lupa tinggalkan jejak ya 😉. 👇👇