
"Vika!" ucap Meisie, saat melihat Vika, di rumahnya.
"Mey, dari tadi Vika, menunggumu," ucap Nek, Tini, dengan suara khasnya. Meisie, pun melangkah masuk menghampiri Vika, dan neneknya.
"Vika, sejak kapan kamu datang?" tanya Meisie, saat berada dekat dengan Vika.
"Cukup lama, kata nenek kamu pergi keluar."
"Vika, ada apa? Tumben sepagi ini kamu datang?"
"Aku mencemas, kanmu apa kamu baik-baik saja?"
"Iya, aku baik-baik saja. Memangnya ada apa?" tanya Meisie, yang merasa aneh pada Vika.
"Mm … aku cuma mimpi buruk tentangmu itu sebabnya aku datang kemari untuk memasti, kan bahwa kamu baik-baik saja," ucap Vika, berbohong padahal ia ingin memastikan apa yang terdapat di dalam karung kecil itu.
"Aku, baik-baik saja tapi … Miekey, sedang tidak baik-baik saja."
"Kenapa?"
"Miekey, di gigit ular semalam ada ular masuk ke dalam rumah, aku tidak tahu dari mana ular itu datang." Vika, terlihat tegang saat mengetahui ada seekor ular di dalam rumah Meisie. Dan Vika, yakin ular itu berasal dari karung kecil yang ia masukan ke dalam tas milik Miesie.
"Ayo, Vika, kita ke kamarku sudah lama kita tidak bercerita," ajak Meisie, yang merangkul Vika, membawa ke dalam kamarnya.
Sikap Vika, masih sama terlihat sangat gugup dan juga tegang, tatapan matanya terus tertuju pada tas Meisie, yang berada tak jauh dari ranjang tidurnya. "Mey, apa tidak ada minum aku haus banget nih!" ucap Vika, berpura-pura.
"Ah iya, aku lupa. Kamu mau minum apa?" tanya Meisie.
"Seperti biasa,"
"Es jeruk? Ya sudah aku ambil, kan dulu."
"Yang dingin ya!" teriak Vika
"Iya," sahut Meisie, yang berjalan menuju dapurnya. Sesaat setelah Meisie, pergi Vika, pun langsung menghampiri tas Meisie, perlahan Vika, membuka tas itu lalu mengambil karung kecil yang kemarin dia taruh di dalam tas.
Sebelum Meisie, melihat. Vika, langsung memasukan karung itu ke dalam tasnya.
"Ini minumnya Vik,"
"Ah, iya. Wah segernya," ucap Vika, setelah meminum es jeruknya.
****
Di tempat lain Sharon, merasa senang saat tahu Elo, memarahi Meisie. Sharon, datang ke tempat Edwin, untuk menanyakan untuk apa Elo, datang ke tempatnya.
"Edwin, benarkah Elo, datang kemari? Tapi untuk apa?"
"Untuk apa! Ya jelas membawa Miekey, untuk apa lagi."
"Miekey si kucing itu?"
"Iya, siapa lagi kalau bukan kucing kesayangannya," jelas Edwin.
"Kok, bisa! Kucing itu sudah aku buang kenapa bisa ketemu lagi?" batin Sharon, yang ternyata saat Miekey, hilang dialah yang membuangnya.
Sharon, memang tidak terlalu suka pada Miekey, karena Elo, lebih memperhatikan kucingnya itu dari pada dirinya. Saat Elo, tidak ada di rumah dengan sengaja Sharon, menyuruh seseorang untuk membuang Miekey, dengan imbalan uang yang dia berikan.
Jangan, kan menyentuhnya Sharon, sangat tidak suka pada kucing, itu sebabnya Sharon, memerintahkan seorang pelayan di rumah Elo, untuk membuangnya.
"Seorang wanita yang membawanya, Elo, sepertinya sangat marah pada wanita itu karena membuat Miekey, terluka," kata Edwin.
"Wanita siapa?"
"Aku baru pertama kali melihatnya, aku tidak mengenal wanita itu."
'Apa wanita itu gadis OB itu! Kalau benar berarti bagus, setidaknya Elo, membencinya. Sekarang aku tahu bagaimana caranya Elo, benci pada wanita itu,' batin Sharon, yang tersenyum licik.
"Edwin, aku pulang dulu,"
"Mau kemana?"
"Menemui Elo," teriak Sharon, yang berjalan keluar. Edwin, hanya tersenyum tipis menatap kepergian Sharon.
Edwin, sudah tidak asing dengan Sharon, yang menemuinya hanya untuk menanyakan Elo, padahal Edwin, begitu menyukai Sharon, namun Sharon, tidak pernah meliriknya.
****
Di saat perjalanan Sharon, melajukan mobilnya dengan cepat hingga tiba di sebuah jalan yang berbelok mobil yang Sharon, tumpangi hampir saja bertabrakan dengan mobil yang berada di depannya. Membuat mobil itu berhenti.
Seorang pria turun dari mobil itu dengan penuh amarah pria itu berjalan menghampiri mobil yang Sharon, naiki dengan keras pria itu menggedor-gedor kaca mobilnya, membuat Sharon, akhirnya keluar dari dalam mobil.
"Ish, orang ini benar-benar tidak sabar," umpat Sharon, saat kaca mobilnya di pukul.
"Bisa diam tidak," hardik Sharon, pada pria itu.
"Hampir, kan! Tidak tertabrak, berarti selesai urusannya, atau kamu mau aku ganti rugi oke, aku akan ganti rugi, berapa aku harus ganti rugi?" ujar Sharon, dengan nada ketus.
"Shera?" ucap pria itu membuat Sharon, mengerutkan keningnya.
Karena yang tahu nama itu hanyalah teman masa sekolahnya karena dulu Sharon, selalu di panggil Shera, oleh teman-temannya. Sharon, pun menatap lebih jeli wanita itu seraya mengingat siapakah pria ini.
"Chelo! Marchelio," ucapnya demikian. Sharon, tidak menyangka akan bertemu dengan Marchel teman lamanya.
"Oh my god!" Sharon, dan Marchel pun saling berpelukan, keduanya tidak menyangka akan bertemu. Marchel, dan Sharon, pun pergi ke cafe terdekat untuk sebatas berbincang-bincang.
"Aku tidak menyangka, kita akan bertemu kamu juga masih mengenaliku!" ucap Sharon.
"Tentu, siapa yang tidak kenal karena kamu wanita paling cantik di sekolah,"
"Good, itu sangat benar sekali."
"Tapi, kamu bodoh," ucap Marchel, membuat Sharon, terbelalak.
"What! Bodoh! Chelo," Sharon, menatap tajam Marchelio.
"Apa kamu masih mengejar cinta Elo? Itulah kebodohanmu. Shera, Shera, apa yang kamu ingin, kan darinya Elo, tidak pernah menganggapmu."
"Tidak peduli, bagaimana sikap Elo, padaku, yang penting aku tetap menyukainya dan tidak ada wanita mana pun yang bisa memilikinya, termasuk wanita OB itu."
"Wanita OB?" tanya Marchel, heran.
"Wanita OB, yang sekarang menjadi sekretarisnya, dia selalu saja menjadi penghalangku dengan Elo.
"Tunggu dulu, sekretarisnya dan wanita OB, aku ingat sekarang! Kamu tahu kamu pernah bertemu dengannya karena dia Elo, menghajarku."
"Kamu pernah bertemu wanita OB itu? Dan kamu tahu dia sekretarisnya?"
"Ya," jawab Marchel singkat.
"Kamu tidak tahu, kan dia gadis cacat,"
"Maksudmu?"
"Dia boleh saja terlihat cantik, namun sebenarnya wajahnya sangatlah buruk, ada luka codet di wajah kirinya dan jika kau melihatnya itu sangat mengerikan, aku merasa aneh kenapa tiba-tiba wajahnya menjadi cantik."
"Luka codet di wajah kirinya?" tanya Marchel, Sharon, hanya mengangguk.
Entah, kenapa perkataan Sharon, mengingat,kannya pada seseorang. Teman kecilnya yang memiliki luka codet di wajah kirinya. "Shera, kamu ingat teman kita dulu? Mey, yang punya luka di wajah kirinya," tanya Marchel.
Sharon, pun mencoba mengingat kembali masa kecilnya, selintas Sharon, pun mengingat teman masa kecilnya Mey, yang selalu ia hina dan Mey, memiliki luka bakar di wajah kirinya seperti Meisie.
"Ya, aku ingat Mey, namanya Mey," ucap Sharon.
"Tidak salah lagi dia Mey, wanita yang selalu Elo, bela. Aku ingat saat pertemuan pertamaku dengannya," ucap Marchel.
Flashback on
"Kau, Elo?" tanya Meisie, demikian.
"Ya, kenapa? Siapa kau?" tanya Marchelio
"Kenapa kau ada di taman ini?" tanya Meisie. Pemuda itu menatap Meisie, heran.
"Setiap hari aku mengunjungi taman ini, bahkan sejak aku kecil. Memangnya kenapa?" tanya Marchel. Bukannya menjawab Meisie, malah langsung memeluknya. Sontak Marchel pun di buat kaget.
"Aku Mey, aku Mey, Elo, teman masa kecilmu, kau ingat! Kita, sering bermain di tempat ini."
Flashback off.
Saat itu Meisie, menganggap dirinya adalah Elo, hanya karena nama panggilannya yang sama. Marchel, pun merasa yakin bahwa Meisie, adalah Mey, teman lamanya dan gadis yang selalu Elo, bela.
"Dia Mey, wanita itu Mey," ucap Marchel, demikian. "Apa Elo, mengetahui ini?" tanya Marchel, Sharon, pun menggeleng.
"Sepertinya tidak," jawab Sharon.
"Jangan sampai Elo, tahu kalau dia Mey, kamu tahu, kan apa yang terjadi kalau Elo, mengetahuinya!"
"Tidak, tidak bisa. Elo, tidak boleh mengetahui bahwa dia Mey, jika itu terjadi Elo, akan semakin dekat dengannya. Karena, sekarang Elo, masih mencarinya." ucap Sharon, ketakutan.
"Argh … seharusnya aku membunuhnya saat itu, agar Elo, tidak bisa bertemu lagi dengan wanita itu." umpat Sharon.
"Kau ingin menyingkir, kannya?" tanya Marchel, dengan tatapan liciknya. "Kita bisa bekerja sama," lanjutnya.
"Apa, kau bisa membuatnya mati? Itu lebih bagus agar wanita cacat itu tidak muncul lagi," ucap Sharon.
"Santai! Jangan terburu-buru. Kamu tidak ingin memberikannya padaku?"
"Dengan senang hati," ucap Sharon, yang tersenyum licik.