The Magic Face Brush

The Magic Face Brush
Penyesalan Gladis



Bara membawa Gladis, ke rooftop mehempaskan tangan Gladis, begitu keras. Amarah nya kini memuncak.


"Apa yang kamu lakukan berteriak-teriak di perusahaan. Apa kamu gak punya malu hah!" 


"Kenapa? Takut! Jika semua orang tahu kalau kamu selingkuh dan menyimpan wanita di apartemenmu." 


"Kamu bermain gila di belakangku, kamu menikah lagi dengan wanita itu? Kamu tega Bara, tega." 


"Jangan salahkan aku menikah lagi, bukankah kamu yang meminta." 


"Kapan aku memintamu menikah lagi?" 


"Apa kamu lupa dengan ucapanmu dulu." 


 Gladis, tertegun mencoba mengingat ucapannya dulu. 


Bara, dan Gladis, sudah menjalani pernikahan bertahun-tahun lamanya. Namun, pernikahan mereka tidak di karuniai seorang anak.


Bukan karena beberapa hal, atau pun karena kondisi kesehatan dan kesuburannya yang membuat nya belum juga mendapatkan anak. Namun, karena Gladis, yang tidak menginginkan anak. 


Awal pernikahan Bara, menyetujui syarat itu, dan akan selalu mencintai Gladis. Namun dengan seiringnya waktu dirinya mulai merasa jenuh, bosan, dan hampa. 


Apa lagi jika Gladis, tidak ada di rumah yang selalu sibuk pada kariernya. Bahkan Gladis, lupa pada suaminya sendiri. Bara, mulai berpikir jika dirinya memiliki anak mungkin akan ada seseorang yang menyambutnya saat pulang. 


Dan Gladis, akan banyak meluangkan waktunya di rumah. Itulah yang Bara pikirkan. Hingga saat Gladis, berada di rumah Bara, mencoba berbicara pada Gladis tentang keinginannya itu. Namun Gladis tetap pada pendiriannya.


"Bara, ada apa denganmu kenapa tiba-tiba kamu meminta anak. Bukankah kita sepakat untuk tidak memilikinya." 


"Memangnya kenapa jika memiliki anak?" 


"Sayang, anak itu bukan hal yang mudah aku harus mengandung, dan saat mengandung akan banyak rintangan, aku akan mengalami morning sickness dan itu akan sangat mengganggu pekerjaanku." 


"Saat kandunganku mulai besar aku akan mengalami pembengkakan, pada sekujur tubuhku, aku akan terlihat gendut, kakiku akan bengkak sehingga aku tidak akan bisa menjalani hari-hariku sebagai publik figur." 


"kamu tahu, kan sekarang aku lagi sibuk-sibuknya shooting, untuk film baruku jadi aku tidak bisa melakukannya." 


"Kenapa kamu takut sekali jika hamil. Banyak publik figur di luaran sana yang setelah menikah lalu hamil dan punya anak. Mereka semua pasti sama mengalami morning sikcness, melahirkan, dan perubahan pada tubuhnya. Tapi mereka tidak pernah mengeluh." 


"Aku akan menjamin semuanya, aku bisa membawamu ke dokter yang lebih hebat, biar kamu tidak merasakan sakit saat melahirkan, biar tubuhmu tetap terjaga dan tetap terlihat indah. Kita punya uang, kita bisa melakukannya."


"Ada apa dengan dirimu Mas, kenapa tiba-tiba kamu membahas masalah itu. Apa ada seseorang yang mempengaruhimu? Oh aku tahu pasti mama yang mendesakmu. Dia selalu menginginkan seorang cucu." 


"Jangan libatkan orang lain dalam masalah kita," bentak Bara. 


"Aku yang menginginkannya, aku menginginkan seorang anak." 


"Sepertinya aku tidak bisa, maaf karena aku sudah melakukan pengangkatan rahim."


Bagai tersambar petir. Teganya Gladis, mengangkat rahimnya demi untuk menghindari kehamilan. Keegoisannya itu membuat Bara, sangat marah. Gladis berani mengangkat rahimnya tanpa izin darinya yang menjadi suaminya. 


"Kamu melakukan itu tanpa izin dariku." 


"Sudahlah sayang, lagian hidup kita tetap bahagia, walau tanpa seorang anak. Justru kita akan lebih leluasa menikmati hidup kita." 


"Kamu egois, kamu istri yang egois." Bara, pergi meninggalkan Gladis. Dari situlah keadaan rumah tangganya memburuk, hampir setiap harinya mereka bertengkar. 


Hingga satu waktu Gladis, yang terlihat tidak senang pada sikap Bara, yang mulai dingin dan kaku padanya. Tidak pernah bicara dan selalu mengabaikannya sampai akhirnya Gladis, meminta Bara, untuk menikah lagi. 


"Aku tahu jalan terbaik untuk kita. Aku  tidak bisa melahirkan anak karena rahimku yang sudah di angkat. Tapi kita masih bisa memilikinya. Kamu bisa mengadopsi anak dari panti asuhan, kamu rawat saja mereka." 


"Yang aku inginkan adalah darah dagingku, bukan anak orang lain." 


"Kamu bisa menikah lagi Mas." 


"Apa!" Bara, sangat terkejut dengan permintaan Gladis. Bisa-bisanya Gladis, memintanya untuk menikah lagi.


"Kamu gila ya! Kamu lebih memilih suamimu menikah lagi di bandingkan dengan melahirkan seorang anak."


"Hanya sementara. Setelah wanita itu melahirkan seorang anak kamu bisa bercerai dengannya. Kamu tinggalkan saja wanita itu dan bawa anakmu." 


"Gila kamu, memintaku untuk membayar rahim seorang wanita yang akan melahirkan anakku! Bisa-bisanya kamu berpikir seperti itu Gladis." 


"Aku malas berdebat Mas. Aku sudah memberimu saran terserah mau kamu lakukan atau tidak." Gladis, pun pergi begitu saja.


**** 


Argh … 


Gladis, sangat marah dan menyesal pada ucapannya dulu. Dan sekarang Bara, sudah mengabulkan permintaannya untuk menikah lagi. 


Apa lagi setelah melihat perubahan dari sikap Bara, yang mulai menghindarinya dan dingin padanya. Amarahnya semakin memuncak saat melihat jejak cinta suaminya pada leher jenjang milik Siska. 


Itu artinya mereka berdua telah melakukan hubungan suami istri yang tak bisa Gladis, terima. Bara yang selama ini mencintainya kini berpaling darinya dan tega menduakannya. 


Arrgh … teriak Gladis, histeris..


"Bara, ada apa ini apa yang terjadi?" Haikal, terkejut saat melihat keadaan ruangan seperti kapal pecah. 


"Bara, stop!" Bentak Haikal, saat menghentikan tangan Bara, yang akan kembali melempar barangnya. 


"Slow, brow. Duduklah, tenanglah jelaskan padaku apa yang terjadi? Ada masalah apa lagi dengan Gladis?" Haikal, mencoba menenangkan Bara, dan bertanya padanya.


"Apa aku egois?" 


"Egois karena apa?" tanya Haikal bingung. Bara, pun membuka plester di lehernya yang menutupi tanda kiss mark.


"Jejak ini bukan Gladis, yang berikan." Tunjuk Bara, pada tanda kiss mark nya.


"Lalu?" 


"Tapi Siska." 


"Siska, siapa dia? Kau selingkuh?" 


"Dia istriku, istri siriku." 


"Ya tuhan … " Haikal langsung merinding mendengarnya. 


"Apa aku tidak salah dengar?" tanya Haikal, Bara hanya menggeleng sebagai jawaban. 


"Astaga, sejak kapan kalian menikah?" 


"Satu bulan." 


"Satu bulan! Kau menyembunyikannya selama satu bulan! Dan sekarang Gladis mengetahui ini, itu sebabnya kemarin dia." 


"Yah, dia marah besar." 


"Ya Tuhan, Bara … bagaimana bisa kau melakukan ini? Ini masalah besar apa mereka sudah bertemu?" tanya Haikal, yang menanyakan apakah Siska, dan Gladis bertemu. 


"Ya, mereka sudah bertemu. Tapi aku tidak salah dia yang menyuruhku untuk menikah lagi." 


"Karena apa? Karena masalah anak? Bara, Bara, kamu kan bisa bujuk Gladis, tidak usah menikah." 


"Percuma saja, Gladis tidak akan hamil." 


"Kenapa?" 


"Karena dia sudah mengangkat rahimnya." 


"Oh Tuhan, rumah tangga mu rumit sekali." 


"Haikal, aku titip perusahaan padamu." 


"Loh, kamu mau kemana?" Tanpa menjawab pertanyaan Haikal Bara, pergi meninggalkan kantornya. 


...----------------...


Menyesalkan Gladis. Mana ada wanita yang ingin di duakan, jika memang ada itu ucapan di bibir bukan kata hati.


Jangan lupa dukungan like dan komentarnya ya 🤗.


...----------------...


Hai kak, sambil nunggu update, mampir dulu yuk ke karya temanku,


JUDUL : TERJEBAK DENDAM SUAMIKU


KARYA: IRMA KIRANA


Oh iya jangan lupa tinggalkan jejak ya, biar penasaran othor kasih cuplikan babnya 👇👇👇


Bara tersenyum sinis, dia menaikkan bahu dan alisnya setelah mendengar perkataan Maura, "Hah! Apa kamu bilang? Cemburu? Aku? Apa kamu bercanda? Rasa cemburu hanya dimiliki oleh orang yang memiliki perasaan cinta, kau tau aku tidak memilikinya untukmu!" Bara memegang kedua pipi Maura dengan keras, kedua kakinya mengunci tubuh mungil Maura yang berontak.


Kekejaman Bara tidak hanya disitu saja, tidak hanya menyiksa tubuhnya. Tapi juga mental dan hatinya, itu yang lebih terluka.


"Kalau kamu tidak mencintaiku, kenapa tidak lepaskan saja aku? Apa susahnya?" Tanya Maura memberanikan dirinya. Terlihat dirinya sangat lelah dengan sifat Bara.


Pria yang aku cintai telah berubah, apalagi yang harus dipertahankan? Semua kehangatan itu. Semua cinta yang dia tunjukkan padaku sebelumnya, adalah cinta palsu. Aku lelah.. aku ingin mengakhiri semuanya. Maura membatin perih dalam hatinya.


Sekuat tenaga gadis itu menahan tangis, dia terisak dengan perlakuan suaminya.


"Beraninya kamu meminta aku melepaskanmu! Sepertinya belakangan ini aku terlalu lembut padamu. Baiklah, akan aku tunjukan betapa dalam aku cinta padamu, kalau kamu ingin tau!" Pria itu tersenyum sinis.


Gimana penasaran kan! Langsung saja kepoin ceritanya cuss 👇👇