Side To Side

Side To Side
TELOR BEBEK



SIDE TO SIDE - JAKA


TELOR BEBEK


Paginya mereka berempat datang ke sekolahan bersama-sama. Membuat anak-anak ciwi satu sekolahan langsung melengo ke arah mereka. Yaiyalah 4 orang cowok kece jalan bareng. Udah kaya drama meteor garden atau boys before flower. (Anak 90 an, mana suaranya? Dih, author berasa udah tua emang.)


“Ron, kok mata lo item? Kenapa?” El merangkul pundak Arron.


“Nggak papa kok.” Arron nggak bisa bilang kalau semalam dia nggak bisa tidur gara-gara malu sama Lenna. Masa iya dia ngomong sama teman-temannya mau ngajakin Lenna nyobain ko**om. Bisa di hina dan di hujat!!


“Lo mesti ngampetkan? Jadi kagak bisa tidur.” tuduh Kenzo.


“Hoo gw ngampet!! Puas?!” Arron sebel. Ia menampik tangan El dan nyelonong lebih depan, memilih berjalan dengan Jayden yang nggak terlalu banyak ngomong.


“Ini.” Jay memberikan sesuatu pada Arron.


“Apa ini?”


“Selebaran pensi, lo kan ketua OSIS.”


“Eh, iya. Udah mau pentas seni. Enaknya ngadain acara apa, ya?”


“Bazar makanan.” Usul El.


“Panggung band!” Usul Kenzo.


“Jual diri kalian aja.” tiba-tiba suara Lenna menyela pembicaraan mereka.


“Hei!!!” Protes ke 4 nya.


Lenna mengeluarkan ponselnya, trus membuka saluran sosmed dan memperlihatkan sebuah video viral.


“Ini kaliankan?” tanyanya.


“Wah gila!! Iya itu gw.” Kenzo nyengir.


“Wah gila kita masuk tranding.” El senang.


“Papa Mama bisa pingsan lihat video itu.” Arron bergumam.


Cuma Jay yang masa bodoh.


“Biasanya kan keuntungan pensi disumbangin ke yayasan amal. Kenapa kalian nggak jual diri lagi aja? Siapa yang nyumbang paling banyak bisa jalan sama kalian.” Usul Lenna.


“Boleh juga idenya, anak sekolah sinikan kaya-kaya.” El nyambung ide Lenna.


“Pasti gw yang laku paling mahal.” Kenzo pe-de.


“Gw..!” Jawab El.


“Gw nggak ikutan.” Jay lanjut jalan.


“Yah, jangan donk! Nggak ada elo nggak rame bro..” El menahan tangan Jayden. Menggenggam pergelangan tangannya. Kehangatannya begitu menyeruak dan terasa memenuhi hati keduanya. (Wkwkwk, author membuat cerita tentang hubungan yang terlarang!!)


Kenzo menutup mulutnya, Arron ikutan, Lenna mengabadikannya dalam foto.


Jeprett!!! Bunyi kamera ponsel Lenna.


“Lepasin!! Gw jijik tau!” Jay merinding.


“Jiwa fujo -ku meronta-ronta.” Lenna terkekeh.


Arron memandang Lenna kemudian bertanya, “lo nggak papakan? Uda nggak sakitkan?”


“Ccciiiyyeee....” ledek Kenzo.


“Emang habis ngapain? Kok Lenna sakit?” Pertanyaan Jay yang polos membuat keduanya tersipu malu.


“Kok wajah kalian merah?” El heran.


“Wah, jangan-jangan udah goal, nih, si Arron.” Kenzo ngakak.


“Dasar bocah-bocah gila.” Lenna menendang kaki Kenzo dan meninggalkan rombongan mereka.


“Aduuh!!! Salah apa gw coba?” Kenzo meloncat-loncat kesakitan dengan sebuah kaki.


“Ya elo gila, nuduh kita yang nggak-nggak.” Arron membela Lenna, ia berasa ingin ngomong yang sejujurnya. Tapi kasihan Lenna, masa cerita problem kewanitaan ke cowok-cowok.


“Kalau nggak terjadi apa-apa kenapa kok respon kalian salah tingkah gitu?” El membela Kenzo.


“Sudah ayo masuk ke kelas! Perasaan udah banyak banget dialognya tapi nggak sampai-sampai ke kelas.” Jay nyindir author.


“Bener juga!”


“Ya udah ntar masalah pensi gw pikirin lagi. Lagian jiwa bisnis gw bergejolak.” Arron memimpin di depan.


“Dasar mata duitan.” Bisik El pada Kenzo.


“Hoo.” Balas Kenzo.


>>> JAKA <<<


Sorenya di bengkel.


“Jay, gw haus. Lo mau minum juga nggak?” Kenzo menyeka keringatnya dengan bagian bawah kaos, membuat perut sixpacknya kelihatan.


“Nggak, uda minum kok.”


“Lo, mau El?”


“Mau.”


Kenzo melangkah naik menuju ke lantai dua. Ia ingat masih menyimpan minuman dingin di dalam kulkas Arron.


“Ron, kaos gw pada jelek gara-gara kena oli sama kotoran mesin.” El melepaskan kaosnya. Kali ini El yang pamer body. Gimana bengkel ini nggak laris coba?


“Trus gimana? Kan resiko pekerjaan.”


“Beli baju montirlah. Modal dikit.” jawab El. Ia mengelap keringatnya dengan koas.


“Bener kata El, Ron. Beli baju montir aja. Beli online, cari yang warna gelap.” Jay usul.


“Oke deh. Kita beli baju montir.” Arron langsung membuka salah satu market place online kesayangan yang gratis ongkir terus.


“Biru tua sama oranye aja.”


“Oke.”


Berpindah di belahan bengkel yang lain. Kenzo meneguk dengan cepat minuman dinginnya sangking terlalu haus. Siang tadi panas banget, sampai sorepun matahari masih menyengat.


Pandangan Kenzo tiba-tiba menangkap sesuatu yang nggak asing. Pink dan ungu. Masih belum berpindah dari tempatnya semalam.


“Aje Gile!!! Tu anak pura-pura alim. Nyatanya mainan kaya gini.” Kenzo mengambil dua buah kotak kecil itu.


Kenzo bergegas menuruni tangga. Trus ngebongkar aib Arron.


“Gaes, CEK IT DOT!!!” Teriak Kenzo.


“Apaan?” El dan Jay menoleh pada Kenzo, cuma Arron yang nggak soalnya lagi kepo sama baju montir di layar ponselnya.


“Arron diam-diam mainan kaya gini.” Kenzo melempar satu ke El dan satu lagi ke Jay.


“WOW!! Daebak!!” El ngakak, tak percaya kelakuan Arron.


“Lo masih SMA hlo, Ron. Nggak takut mlendung?”


“Makanya dia pake itu buat jaga masa depannya. Biar nggak melendung kaya di pelm-pelm.” Kenzo mengeplak kepala Jay.


Arron masing fokus sama ponselnya. Begitulah lelaki nggak bisa multi tasking. Jadi Fokus Arron nggak bisa di bagi. Apalagi deruan motor bikin suara mereka tenggelam nggak begitu jelas.


“Badan Lenna bagus nggak?” tanya Kenzo.


“Bagus kok.” Arron nangkepnya baju montirnya bagus nggak.


“Ciyahh... dasar laknat!” Seru El.


“Berapa kali mainnya?” Tanya Jay, kali ini Jay ikutan Kepo.


“8.” Arron nangkepnya berapa jumlah bajunya.


“E..busyet, sekali main banyak banget lo!!!” Kenzo geleng-geleng kepala.


“Arron.. Arron.. aku tak menyangka. sungguh tak menyangka.” El geleng-geleng juga.


“Lo keren.” Jay ngangkat dua buah jempolnya.


“Pantes aja tadi dia nanya sama Lenna masih sakit apa nggak! Ternyata Arron buas.” Kenzo ngakak.


“Kalian ngomong apaan, sih? Ngakak terus.” Arron akhirnya menoleh, menanggapi dengan serius ucapan teman-temannya.


Arron berjengit kaget saat melihat bungkus ko**om yang dibawa sama El dan Jay.


“Waaa...!!!” Teriak Arron kaya ibu-ibu liat pelakor di sinetron. Gemes-gemes gimana gitu.


“Lo udah ngaku semuanya kok masih kaget?!” Kenzo bingung.


“Gue ngakuin apa?” Arron merebut bungkusan itu dari tangan Jay dan El.


“Tuh 👆🏻 Baca aja sendiri lagi.” El menunjuk ke dialog atas, menyuruh Arron mengulangi percakapannya lagi.


“Enak aja!! Gw nggak pernah macem-macem sama Lenna.” Arron menepis ucapan teman-temannya.


“Trus itu apa? Itukan buktinya!”


“Nggak, sumpah gw nggak ngapa-ngapain.”


“Trus lo beli benda itu buat apa?”


“Buat nyelametin masa depan.” Arron mengulang ucapan penjualnya. Kan emang bener, Arron beli benda itu kemarin juga karena kemakan iklan.


“Nah, lo!!!” Mereka bertiga menuduh Arron.


“Dibilang enggak!!”


“Jujur juga kita nggak bakal bocorin kok.”


“Hoo. Santai aja, Ron.”


Mereka bertiga masih ngakak sama kelakuan Arron.


“Pantes aja matanya tadi item kaya panda. 8 kali bok.” Kenzo ngakak.


“Ati-ati!! ntar telor lo kempes, hlo, Ron.” El ngakak.


“Nggak ada yang jual sperpathnya hlo, Ron.” Jay ngakak.


“Diganti sama telor ayam aja.” Kenzo ngakak.


“Telor bebek lebih besar.” El ngakak.


“Gurih lagi. Lenna pasti suka.” Jay ngakak.


“ANJI**....!! Ups, nggak boleh ngomong kotor.” Arron menutup mulutnya.


>>> JAKA <<<


Jaka Up..


Maafkan guyonan author yang jayus dan nggak berfaedah bagi kesehatan mental para pembaca.


Wkwkwkwkkwk


Tolong di vote dan di like terus di comment.


Next episode agak lama ya ges


GA JANJI UP TIAP HARI SOALNYA BARU ON GOING MUSE


TOLONG BACA MUSE!!!


Biar author tercantik sejagad mangangtoon nambah femes..


Makasih..


I loooopppppeeee yuuu readerssssss