
SIDE TO SIDE
SPECIAL EPISODE 5
.
.
.
“KYAAAA!!!” Elisa berteriak sangat keras pagi ini. Melihat tubuhnya telanjang, dan Brian tidur di sampingnya juga tanpa busana.
“Kenapa berteriak?” Brian masih malas dan setengah sadar.
“Apa yang terjadi?? Apa yang terjadi semalam?” Elisa menaikan selimutnya menutupi tubuhnya.
“Semalam??” Brian mengangkat alisnya.
“Kenapa aku dan kamu ehem..telanjang di atas kasur?” Elisa melirik tubuh Brian yang sangat atletis.
“Kenapa tanya aku?” Brian bingung.
“Lalu aku harus tanya siapa bodoh??!” Elisa memukul Brian dengan bantal.
“Aku sudah tidur semalam.” Jawab Brian.
“Apa kita melakukannya??” Elisa mulai mengatur rasa paniknya.
“Melakukan apa?”
“Seks bodoh...!” Elisa kembali memukul Brian.
“Kelihatannya tidak?! Tapi aku lupa..” Brian bangkit dengan panik.
“Pakai celanamu!! Jangan asal bangun begitu!!” Elisa tercengang melihat Brian hanya memakai boxer ketat.
“Ah..” Brian menarik selimutnya.
“Jangan kau tarik selimutnya...!!!” Elisa menarik lagi selimutnya.
“Oke.” brian melepaskan selimutnya dan Elisa terpental.
“Aduh.” Elisa meringis karena terantuk nakas.
“Kau tidak apa-apa.?” Brian mendekati Elisa.
“Jangan mendekat, aku bisa pingsan.” Elisa menyembunyikan wajahnya ke lipatan siku.
“Kenapa kau sangat marah??” Tanya Brian.
“Harusnya aku melakukannya dengan orang yang ku cintai!!” Tangis Elisa.
“Bukankah kau mencintaiku!?” Brian mengelus rambut Elisa.
“Tapikan kaukan nggak mencintaiku!!!” Kata Elisa lirih.
Brian tak bisa menjawabnya.
“Lagipula kenapa aku tidak ingat, harusnya yang pertama menjadi hal yang paling tak terlupakan seumur hidup..” Elisa menangis.
“.....” Brian semakin panik, sedangkan tangisan Elisa terdengar semakin keras.
“Apa kita ulangi saja?” Usul Brian.
Elisa mengangkat wajahnya yang kacau, memandang sebal ke arah pria tampan di depannya itu.
“Iiihh...” Elisa kembali memukul Brian dengan bantal, heran banget cowok ga peka kaya gini punya IQ jenius.
“Elisa sory.. tapi aku juga benar-benar tidak ingat.” Brian menahan pukulan dari Elisa.
“Oke..oke..pertama kita pakai baju dulu.” Elisa mengangkat telapak tangannya mencoba menenangkan diri.
Elisa mengusir Brian dari kamar dan memakai bajunya. Bagaimana mungkin dia bisa melepaskan seluruh pakaiannya dan tidak mengingat apapun. Elisa sebal dengan dirinya, dia mencari-cari kalau saja ada noda darah bekas malam pertamanya.
“Sialan.” Elisa melirik noda merah itu.
“Aku tidak akan lagi menyentuh alkohol..!!” Elisa menutup wajahnya yang kacau.
Elisa teduduk lemas di atas kasur. Mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi semalam. Brian masuk dan mengagetkannya.
“Kenapa?” Brian mengangkat pundaknya.
“Kau betulan tidak ingat?” Elisa menggigit kuku ibu jarinya.
“Maaf Elisa.. kalau aku kebablasan aku akan bertanggung jawab. Tapi aku sungguh tak ingat apapun.” Brian berjongkok di depan Elisa.
“Ah aku ingin menguap saja.” Elisa membanting dirinya ke atas kasur.
.
.
.
Setelah suasana hening sesaat..
“Tunggu.. sepertinya aku sedikit mengingat sesuatu.” Brian mengerutkan dahinya.
Elisa bangkit dan fokus pada pendengarannya.
.....................
.
.
.
Semalam...
“Panas..panas!!!” Elisa menggigau, keringat dingin menetes memenuhi wajahnya.
“Elisa??” Brian terbangun, kepalanya masih sangat pusing.
“Api..kenapa Apinya besar sekali??!! MOM!!” Elisa berteriak dan bangun dari mimpi buruknya. Pundaknya bergerak naik turun saat mengatur nafas.
“Elisa?? Are you okay?” Brian memeluk Elisa, rasa nyaman menjalar memenuhi hati Elisa. Membuat Elisa kembali tenang.
“Tenanglah tidak ada api.” Peluk Brian, Elisa mengangguk.
“Hoek..” Elisa bangkit dan berlari menuju ke kamar mandi, Alkohol membuat perutnya tidak nyaman.
“Ah..hah..hah..” Elisa kembali, kepalanya masih terus berputar. Badannya terasa sangat panas, bajunya basah karena keringat.
Elisa melepaskan baju, bra dan juga celananya, hanya tinggal celana dalam. Lalu bergegas naik ke atas tubuh Brian. Brian membiarkan Elisa tidur dan menikmati rasa dingin dari tubuhnya.
“Panas sekali Brian.” Ucap Elisa lirih.
“Aku kecilkan ACnya, ku kira sudah cukup dingin..”
“Api nya sangat panas.” Elisa menutup matanya.
“Tidak ada api Elisa.” Sahut Brian.
“Sakit sekali..” Elisa berbalik dan meringkukkan badannya memunggungi Brian.
Tampak bekas luka bakar yang cukup besar di punggung Elisa. Luka yang sangat menyakitkan melihat Elisa masih terus memimpikannya.
Brian memeluk Elisa dari belakang. Nafasnya terasa hangat di leher Elisa.
“Oh shit..” Brian bangkit, kini perutnya terasa mual.
Brian kembali dari kamar mandi, melepaskan celananya yang terkena muntahan. Pandangannya berkunang-kunang dan sangat berat. Brian kembali merebahkan dirinya dan tertidur.
“Lalu noda ini?” Elisa membuka selumutnya, ada noda merah di sana.
“Aku tak tahu Elisa.”
“Kau bohong?!” Tanya Elisa.
“Melihatku telanjang dia bahkan tak menyentuhku?” Pikir Elisa sebal, harga dirinya terluka.
“Aku tidak ingat apapun setelah kembali tidur.” Ucap Brian.
Elisa menggigit bibir bawahnya bingung, kalau semalam tidak melakukan apapun lalu noda apakah itu?
“Kenapa punggungku perih?” Brian merasakan nyeri pada punggungnya.
“Coba kulihat..!” Elisa membalik dan membuka kaos Brian.
Ada belas cakaran di punggung Brian. Semalam saat kesakitan Elisa pasti tak sengaja mencakarnya. Sekarang Elisa tahu dari mana noda darah itu.
“Maafkan aku Brian.. aku bahkan menuduhmu..” Elisa sangat malu.
“Ah..pantas saja sangat sakit semalam.” Brian melihat ke arah kaca.
“Maaf..aku minta maaf..” Elisa memelas.
Brian sebenarnya tidak menceritakan detail ceritanya dengan jujur. Lebih baik Elisa tidak tahu, karna semalam mereka memang berciuman dengan sangat panas sebelum tertidur.
.......................
(Untold story)
.
.
Elisa melepaskan pelukannya dan kembali tidur. Brian masih tersenyum dan mengelus rambut pirang Elisa. Brian kembali mencium lembut bibir Elisa. Alkohol membuat Brian melupakan akal sehatnya.
Elisa masih sedikit sadar saat Brian menyentuh lembut pipinya, membubuhkan sebuah ciuman yang dalam dan panas. Elisa tak menolaknya, malah terlihat semakin menikmatinya. Brian memberikan belaian pada rambut panjang Elisa, turun dan meraba lehernya, menimbulkan sensasi geli, tubuh Elisa bergetar saat menerimanya. Brian semakin memburu ciumannya, tangannya menyentuh setiap lekuk tubuh Elisa sampai ke pinggul dan pahanya.
“Elisa.. panggil namaku.”
“Brian..” Elisa mendesah di telinga Brian.
Brian tersenyum puas dan kembali mencium Elisa, sekejap kemudian pandangannya kabur dan akirnya ikut tertidur di samping Elisa.
.....................
.
.
.
Elisa menyikat giginya dan menatap pantulan bayangan wajahnya di atas cermin. Elisa meraba sekitar bibirnya.
“Kenapa rasanya ada sesuatu di bibirku??” Elisa mencoba mengingat-ingat.
“Seperti bergetar karena rasa manis dan aku menginginkannya lagi..”
“OMG..sebenarnya apa yang sudah terjadi semalam? Kenapa aku nggak bisa mengingatnya?” Elisa menunduk lesu.
Crrring..
Elisa membuka ponselnya, ada chat dari seniornya, Alex.
“Ah benar, aku ada janji temu dengan Alex.” Elisa berbinar saat membaca chat, membuat Brian ingin tahu.
“Kenapa senyum-senyum sendiri?”
“Kepo!!”
“....” Brian diam, bener juga dia nggak ada hak untuk mengetahui seputar kehidupan Elisa.
“Aku harus pergi, aku tinggal, ya.” Elisa bergegas merapikan bajunya dan menyahut sling bag dari sofa.
“Aku antar..” Brian mengikuti Elisa.
“Nggak usah, Alex akan menjemputku.”
“Alex?? Seniormu itu? Bukankah hubungan kalian sebatas hubungan kerja.”
“Kenapa? Kau keberatan aku jalan sama dia?” Goda Elisa. Beberapa kali bertemu kini Alex mulai menunjukan ketertarikannya dengan Elisa.
“I..iya..keberatan!!” Brian terbata-bata.
“Hehehe..kau lucu banget Brian. Padahal kita nggak punya hubungan apa-apa, kenapa mesti keberatan?” Elisa menyilangkan tangannya.
“Kita punya hubungan ranjang satu malam! Dan satu bulan tinggal bersama.” Jawab Brian.
“Kau???!!! Kau bilang tak terjadi apa-apa.” Wajah Elisa merona sangat merah.
“Pokoknya aku ikut!”
“Nggak boleh!!” Elisa bergegas keluar dari rumahnya.
BLAM.. pintu tertutup..
“Ah....kenapa aku jadi aneh begini??! Mau dia pergi dengan siapapun bukan urusankukan?” Pikir Brian sebal.
“Argh...” Brian menyahut kunci mobilnya dan menyusul Elisa.
.....................
Elisa menikmati obrolannya dengan Alex, sesekali menyuapkan sesendok cream sup ke mulutnya. Mereka tampak nyaman duduk berdua dan mengenang masa kuliah. Alex bukan tipe pria tampan, namun pembawaannya sangat tenang. Rambutnya coklat dan bergelombang, disisir rapi ke belakang. Tipikal cowok kantoran pada umumnya. Mata berwana hazel tersembunyi di balik kacamata bulatnya.
Dari kejauhan ada satu orang yang nampak nggak tenang. Mengamati Elisa dari dalam mobilnya. Sesekali berdecak sebal dengan apa yang telah di lakukannya.
“Ck..kenapa aku ngikutin mereka sih?!” Brian menggenggam setir mobilnya.
“Kenapa juga dia senyum-senyum selebar itu ke orang lain sih?!” Brian memandang lagi ke arah resto italia di depannya.
“Dan kenapa hatiku nggak mau tenang?!” Brian menjambak rambutnya kesal.
Brian sebel dengan perasaannya, kalau benar dia mencintai Elisa kenapa rasanya beda saat mencintai Renny dulu? Tapi kalau nggak cinta, kenapa bisa se-nggak tenang ini melihat Elisa bercengkrama dengan pria lain?!
“Bodo amat!!” Brian keluar dan menyusul mereka berdua.
Elisa tampak syok dengan kehadiran Brian di sampingnya. Alexpun merasakan hal yang sama. Alex merasa berubah menjadi seekor cumi-cumi saat membandingkan dirinya dengan Brian.
“Siapa? Pacarmu Elis?” Bisik Alex pelan.
“Bukan.”
“Elis??” Brian kaget.
“Itu panggilan Elisa saat masih kuliah. Kenapa kau kaget?” Alex melirik ke arah Brian.
“Ayo pulang.. ELIS ada acara lain denganku!!!” Brian menggandeng tangan Elisa dan keluar dari resto.
“Sakit Brian, lepasin!” Elisa menarik tangannya.
“Jangan di lepas!!” Brian mengangkat tangan Elisa.
“Kenapa? Kenapa kau melarangku melepaskan genggamanmu? Kenapa juga kau melarangku dekat dengan pria lain?” Elisa emosi.
“Aku juga nggak tahu.” Jawab Brian.
“Sialan kau!!” Elisa menendang tulang kering Brian.
“Aduh..” Brian meringis.
“Jadi maumu apa? Nggak cinta tapi nggak mau ngelepas juga! Friendzone gitu??” Elisa menatap tajam ke arah Brian.
Brian diam.. masih bingung dengan perasaannya sendiri.
“Percuma ganteng kalau bego.” Pikir Elisa, pancingannya sama sekali tak mempan sama Brian. Kadang Elisa sendiri juga penasaran dengan perasaan Brian terhadapnya.
Elisa mendengus sebal dan ingin segera kembali ke resto, dia yakin Alex masih menunggunya di sana. Elisa berbalik hendak meninggalkan Brian.
“Tunggu..akan ku jawab.” Brian menahan lengan Elisa agar tak meninggalkannya.
Deg..
Jantung Elisa berdegup kencang..
Elisa terkejut mendengarnya, apakah Brian akan menerima perasaannya ataukah akan kembali menolaknya..
“Elisa aku....”
.
.
.
.......................
Jadi kira-kira gimana perasaan Brian terhadap Elisa sekarang?
Tunggu jawabannya di episode berikutnya..
Ho ho ho.. \(^o^)/
Bagi cinta untuk banyak orang..
Dukung dan vote saya ya.
Love u readers
❤️❤️❤️❤️❤️
Jangan lupa ya bawa kantong belanja sendiri.
Buang sampah dan mantan pada tempatnya..
Like dan comment ya.. biar makin semangat
Terimakasih