Side To Side

Side To Side
CARA ORANG KAYA



SIDE TO SIDE - JAKA


CARA ORANG KAYA


Rere masih saling melempar pandangan tak suka dengan Mimi, Kenzo meringis karena keplakan El cukup membuatnya menjadi tambah bodoh.


“Jadi elo pilih mana?”


“Pilih Mimi aja Kenzo! Nanti Mimi mintai Papi lamborgini keluaran terbaru.” kata Mimi, Rere mendelik.


“Serius??” Mata Kenzo berubah ijo.


“Serius, kan Mimi sultan. Itu cara anak orang kaya selesain masalah tahu, kaum missqueen macam lo mana tahu.” Mimi memicingkan matanya ke arah Rere, bikin Rere nambah geram.


“Okelah! Fine, gw emang missqueen tapi untung aja nggak terlahir bodoh.” Rere mengelus dada, mencoba menata hati, sabarlah, namanya juga titisan dewa kuda nil.


“Apa gunanya pinter, kalau nggak bisa ngehasilin duit!” Ledekkan Mimi bikin Rere naik darah, Mimi tertawa dan menutup mulutnya dengan jari dengan kemayu.


“Sudah nggak usah bertengkar, ngapain kalian bertengkar cuma gegara rebutan Kenzo?!” El menengahi.


“Kenzokan emang layak diperebutin.” Celetuk Mimi.


“What???” El dan Rere nyolot.


Sialan, kemari cuma buat pura-pura deketin Kenzo malah si Sarimi dateng ajak adu bac0t. pikir Rere syehbal.


Sementara Si Kenzo helmnya udah nggak cukup, diperebutin dua cewek yang cantiknya cetar membahana ulalala setelah Othor, pokoknya masih cantik Authorlah.


“Thor, mau Ferari atau Porce?” tanya Mimi.


Othor tergiur dan kehilangan dedikasi (Langsung ubah narasi), tentu saja paling cantik adalah Sultin Mimi, kecantikkannya bak berlian segedhe batu akik dimata wanita. Membahana ulala syalala bianglala.


“Cukup, Thor!! Cukup!! Eneg!!” sela Rere.


“Yah, pokoknya gitu cara kerja horang kaya!!” Mimi memincingkan sudut bibirnya, menyeringai bangga.


“Kere mana tahu, ya?!” ucap Rere ngegas. Jay malah yang tersedak pas minum susu kuda nil.


“Ya elo itu!!” El nanggepin Rere.


“Ya udah, gw nggak bakalan menang. Jadi gw undur diri ajalah, tolong betulin skuter maticnya, gw pengen cepet-cepet kabur dari kenyataan.” Rere menendang tulang kering El.


“Wuaduoohhh!! Dasar kambing kesot bunting!! Salah apa gw sampai lo nyiksa gw kek gini?! Ku menangis 🎶tahu nggak!!!” El menyumpah serapah, nahan rasa linu yang tak terkira.


“Sory gw kira kaki Kenzo.” Rere menepuk pundak El, merasa bersalah.


Hey Tayo! Hey Tayo dia bis kecil ramah ... 🎶


Suara nada dering ponsel Kenzo berbunyi, dari Dinda yang selalu cuyunk sama Kenzo.


“Sory gw angkat telepon dulu gaes.” Kenzo pamit.


“Apa, Ma? Sambel bawang atau terasi, ikan asin sama lalap jengkol muda?! Kok nggak janda muda aja sih Ma?!”


Kenzo menjauhkan ponsel dari telinganya, Dinda murka.


“Bercanda Ma, bercanda ... Ya udin, Kenzo cuss pulang, demi jengkol yang bauk-nya nauzubillah sedap.” Kenzo menutup ponselnya.


“Boss!! Izin pulang cepat donk! Demi jengkol sama ikan asin.” Kenzo menghampiri meja Arron.


“OK.”


“Awas lo potong gaji gw!!” Kenzo ngancem si boss, baru kali inikan anak buah lebih garang dari bossnya, ga ada ahklak emang.


“Trus nasib kita yang dari tadi rebutan elo gimana donk?” Rere melengos, syok, masa iya pesonanya kalah sama jengkol.


“Sory MiMi, sory Rere, walaupun Kenzo tercipta untuk mengagumi wanita, namun pesona jand ... eh salah, jengkol jauh lebih menggoda.” Kenzo menepuk bahu para ciwi-ciwi kece itu satu-satu.


“Ya elah!! Lamborgininya gimana? Masa kalah juga sama jengkol??” Mimi sewot.


“Sory, jengkol adalah paporit!! Ga ada yang bisa gantiin rasa cinta abang ke jengkol, Neng!! Termasuk lamborgini.” Kenzo mengedipkan matanya.


Jay, El, sama Arron cuma bisa bergeleng syehbal. Emang, ya, playboy itu nggak ada matinya, kalahnya cuma satu. Sama jengkol.


Kenzo bersenandung ria sebelum naik ke atas motor sportnya dan bergegas pulang. Sudah tak sabar menyicip jengkol buatan mamanya.


“Lo pernah makan jengkol nggak, Mi?” tanya Rere.


“Belom, kalau pete ma Mimi doyan.”


“Yuk kita cobain, mesti adaptasi buat dapetin hatinya Kenzo.” Rere menelan salivanya.


“Mimi telepon sekertaris Papi dulu. Suru beli jengkol satu truk!! Kan horang kaya.”


“Aying!!! Aing bisa kena penyakit jengkolan gooobllloookk!!!!!” Rere mengumpat gemas.


“Namanya juga cara horang kaya idup.” Mimi bergeleng.


“Kere mana tahu!!!” Arron, Jay, El ngomong barengan. Rere syehbal.


— JAKA —


Seminggu kemudian.


Rere kembali datang ke bengkel buat ngambil motor meticnya. Bengkel terlihat sedikit legang karena hari mulai sore. Para PerJAKA lagi asyik mandi bareng dibawah pancuran, membersihkan diri dari noda oli sama bensin.


“Woi!”


“Woi!!”


“Eh, anakkan kuda nil, motor gw udah jadi belom?” tanya Rere.


“Udah kok. Tuh ambil aja.” Tunjuk Jay.


“Makasih ya.”


Tiba-tiba terdengar langkah kaki dari lantai atas. Memanggil semuanya untuk makan malam bersama. Lenna lagi bikin balado jengkol sama tempe goreng.


“Ayo kita makan!”


“Jengkol lagi??” tanya Arron, udah eneg satu minggu makan jengkol gara-gara Mimi beneran kirim satu truck.


“Hoo!! Cepetan naik! Keburu dingin nasinya.” teriak Lenna.


“Ayo ikutan makan, Re.” Ajak El.


“Okelah, kebetulan gw laper.” Rere bergegas mengikuti ke empatnya naik.


Dari mereka berlima cuma Kenzo sama Rere yang paling semangat. Rere ma enak, dia yang minta jengkol tapi nggak makan, soalnya nggak pernah kelihatan lagi setelah kejadian itu.


“TARA!!! Jengkol!!” teriak Lenna.


Aura gelap keluar dari masakan Lenna, membuat ketiga perJAKA mau nangis rasanya.


“Sumpah, habis ini gw nggak mau lagi makan jengkol.” Jay menangis sambil tertawa, udah gila gegara jengkol.


BRAK!!


Tiba-tiba Mimi masuk menggebrak pintu secara paksa.


“HUWAAA!!!” Mimi menangis.


Ke enam remaja yang lagi mangap langsung menutup kembali mulutnya. Mereka memandang ke arah Mimi dengan iba.


“Ngapain Lo dateng-dateng nangis?” tanya Rere.


Mimi berjalan mendekati mereka, langsung memeluk Kenzo, terus ngelap ingusnya pakai kaos Kenzo. Bikin yang lain pada ilfil bin ga jadi napjiong sama makanan mereka.


“Benernya ada apa sih?” tanya Lenna.


“Gw di jodohin, dipaksa menikah!! Sama babang yang nggak kalah sultan terus mau dikirim ke luar negeri.”


“Ya bagus donk!” Rere nyahut.


“Nggak bagus donk! Kan gw sukanya sama Kenzo.” Mimi sesunggukkan.


“Ya elah, Mi. Kenzo ga bisa kasih elo apa-apa kales. Bisanya ninggalin utang sama sakit hati doang.” El menepuk pundak Mimi.


“Hoo, bener kata, El. Kaya gw, sakit hati.” Rere menyuapkan balado jengkol masuk ke dalam mulutnya.


“Makan dulu, main nyahut aja.” Kenzo mendelik.


“Kan beneran.”


“Terus rencana elo gimana Mi?” tanga Lenna.


“Hiks, nggak tahu, keknya gw nggak bisa menghindar dari di paksa menikah dengan tuan muda. Kata Papi biar nambah kaya.” Mimi ikut melahap balado jengkol.


“Makan tu cara hidup horang kaya!!” Ledek Rere.


“Kere mana paham,” celetuk Jay.


“Wkwkwkwk, bener Jay, bener!” El ngakak.


“Cuci tangan dulu, gih!! Bahaya corona tahu nggak!!” Kenzo menepuk punggung tangan Mimi.


Mimi nurut, bangkit dan cuci tangan. Terus ikutan makan sama mereka, suasana makan di rumah Arron jadi luar biasa rame. Bau jengkol yang sedap melalang buana memenuhi ruangan. Canda tawa menghapus air mata kesedihan Mimi yang bakalan terpaksa menikah karena tuntutan keluarganya.


“Emang foto calon lo mana?” tanya Lenna.


“Ini, ada kok.” Mimi mengeluarkan ponselnya. Menunjukkan foto calon pasangannya.


“Eh, ganteng banget!! Kaya Wo Ce Lei!! Dan elo lebih milih Kenzo??! Buta apa B3go?!” Teriak semuanya barengan kecuali Kenzo.


“Sini buat gw aja!!” Lenna menyahut ponsel Mimi.


“Elo udah punya Arron, buat gw aja!” Rere merebut ponsel Mimi.


“Sudahlah Mi. Relakan cinta kita yang belum bertunas ini mati. Pergilah kenariku, terbanglah jauh membawa bibit cinta ini, lupakan aku kupu-kupu cantikku.” Kenzo menghela napas dan menepuk pundak Mimi.


“Tuh, kan, Mimi sedih lagi!!” Mimi nangis haru.


“Ck, heran gw dengan cara hidup horang kaya. Haus pujian kek nya!!” Rere menyandarkan kepala mual.


“Kaum duhafa mana paham,” celetuk Jay, dari tadi cuma dia yang sibuk makan. Nggak nyadar kalau sekarang dia juga duhafa, makan aja masih nebeng rumah Arron.


— JAKA —


Hollaaa JAKA UP!!


Jangan Lupa like dan commentnya.


🥰🥰🥰


Cinta deh ama kalian semua.