
SIDE TO SIDE
S2 \~ ACT 14
Pelangi terlihat indah di atas awan pagi ini, tetesan air hujan masih tersisa di ranting dan dahan pepohonan. Tanah masih basah dan air menggenang di mana- mana. Hujan semalaman membuat area perumahan sedikit kotor.
Tok tok tok..
Kisna mengetok pelan pintu kamar Jay.
Kreeet..(pintu terbuka)
“Kisna?? Ada perlu apa pagi- pagi begini?” Jay tampak masih mengantuk. Semalaman dia nggak bisa tidur dengan nyenyak karna tendangan Renny. Pola tidurnya seperti jarum jam.
“Kak Jay maaf aku mengganggumu, mesin di pabrikku sedikit rewel, bisa kau datang melihatnya?” Tanya Kisna dengan perlahan dan sopan.
“Siapa Jay?” Renny masih mengucek matanya saat berjalan keluar.
“Renny??” Kisna melongo melihat kehadiran Renny di apartemen Jayden.
“Ah kamu ternyata.” Renny menghembuskan nafasnya ke atas meniup poni yang mengganggu.
“Aku mandi dan ganti baju dulu, Renny kamu temani Kisna ya.” Pinta Jayden.
“Nggak mau, suru berdiri di luar aja.”
“Aku tunggu di sini saja kak Jay.” Kisna tersenyum lebar.
Jay masuk ke dalam untuk mandi. Sekarang tersisa dua orang cewek yang beradu pandangan tajam karna saling membenci.
“Kenapa kamu bisa ada disini?” Tanya Kisna.
“Kamu sendiri ngapain pagi- pagi ke sini?”
“Dasar cewek jahat! Kenapa sih kamu nempel terus sama kak Jay?!” Kisna gemas dengan Renny.
“Heh muka dua, Jay itu pacarku, dia milikku, emang salah kalau tinggal sama pacar sendiri? Harusnya kamu yang jangan dekat- dekat pacar orang!!” Gerutu Renny sebal.
“Selama kak Jay belum menikah, aku masih ada harapan dan akan terus berusaha.” Kisna berkacak pinggang.
“Pokoknya Jay akan menikah denganku.”
“Emang kamu punya apa? Cewek miskin kayak kamu bisanya cuman bikin susah kak Jay!! Emang kamu nggak tahu kalau kak Jay bekerja dan menabung untuk kehidupannya sendiri.” Kisna menunjuk- nunjukkan jari telunjuknya ke dada Renny.
“Aku punya cinta segedhe dinosaurus!!” Jawab Renny sebal.
“Kalau itu aku juga punya!! Segeralah berpisah dengan kak Jay, kalian tidak cocok!!!” Kisna menyahut.
“Kalau aku nggak mau emang kamu bisa apa.” Renny terkikih.
“Jangan salahkan aku kalau bertindak lebih jahat.”
“Jangan- jangan yang siram aku air itu kamu?!” Renny mengerutkan alisnya.
“Bukanlah, waktu itu aku bareng dengan kak Jay kok.”
“Kok kamu bisa bilang waktu itu??? Lagian aku hanya punya kamu sebagai musuh.” Seru Renny.
“Berarti ada banyak yang nggak suka sama kamu.” Cibir Kisna.
Bzzzziiinggg... aura mematikan keluar dari mata ke duanya.
“Ayo Kisna.” Ajak Jayden saat keluar dari dalam kamar.
“Saya pulang dulu kak Renny.” Kisna menundukan kepalanya sopan.
“Ih.. apaan sih??” Renny syok, sebel karna Kisna selalu berubah sok sopan, dan sok imut saat di depan Jayden.
“Aku pergi bentar ya.” Jay mengelus punggung tangan Renny.
“Iya.. jangan ngobrol sama dia.”
“Paan sih Ren.” Jay geleng- geleng kepala.
Kisna berjalan di samping Jayden. Dia melirik ke belakang dan tersenyum jahil ke arah Renny.
“Ugh!!!” Renny membanting pintu karna marah.
.....................
Elisa berjalan dengan anggun saat akan memasuki sebuah restauran fine dining mewah di hotel berbintang. Brian sudah menunggunya di pintu masuk restauran. Brian membetulkan arlojinya, setelan jas hitam dan rambutnya yang tertata lebih rapi dari biasanya, menjadi nilai plus di mata Elisa.
“Kau sangat tampan.” Puji Elisa sebelum melingkarkan tangannya ke lengan Brian.
“Kau juga sangat cantik. Bagaimana? Apa actingku sudah cukup meyakinkan?” Senyum Brian.
“Luar biasa, sampai aku kira kita benar- benar pacaran.” Elisa tertawa pelan.
“Ayo kita masuk, mereka sudah menunggu.” Ajak Brian.
“Sure.”
Brian menggandeng Elisa masuk. Di meja panjang Andre, Via, dan kedua orang tua Elisa, tuan dan nyonya Kinsley juga duduk di sana. Mereka sedang mengobrol dengan asyik, entah apa yang di bicarakan, tapi seakan- akan semuanya baik- baik saja.
“Kau harus mencoba memakan escargot di sini, rasanya sangat enak.” Marta Kinsley menyarankan Via untuk memakannya.
“Terimakasih, saya bisa mengambilnya sendiri.” Via menolak tawaran nyonya Kinsley dengan halus.
“Ah anak- anak sudah datang.” Via mengalihkan pandangannya pada Brian dan Elisa.
“Kalian tampak sangat serasi.” Marta tersenyum.
Elisa tersenyum dengan manis, tangannya masih menggandeng lengan kekar Brian.
“Duduklah.” Andre membuka suara.
Brian dan Elisa mengangguk. Brian menarikkan kursi di sampingnya membantu Elisa agar gaunnya tidak terinjak kaki kursi.
Keluarga Kinsley menyambut sangat baik kehadiran Brian dan keluarganya. Mereka berharap hubungan anak- anaknya bisa semakin berkembang ke arah yang lebih serius.
“Saya harap hubungan ini tak sebatas hubungan kekeluargaan, bahkan di dalam bisnispun kita bisa berhubungan.” Tuan Kinsley mengangkat gelas winenya.
“Dad..” Elisa mencoba menengahi pembicaraan ayahnya, menurutnya tidak etis membahas hubungan kerja saat makan malam pertama kedua keluarga.
“Tidak apa- apa Elisa, saya memang ingin bekerja sama dengan anda.” Andre mengangkat gelas winenya.
“Hahahaha.. for Brian and Elisa, for our cooperation.” Semuanya mengangkat gelas.
Elisa hanya bisa mengikuti kemauan ayahnya.
Mereka melanjutkan percakapan sampai semua hidangan di sajikan keluar. Elisa masih menerawang kosong dan merasa sangat membenci kelakuan ayahnya yang terlihat tanpa basa- basi menginginkan kerja sama dengan perusahaan Andre.
“Lihat caranya berbicara, mereka benar- benar ingin menjualku.” Elisa berbisik di telinga Brian.
“Ayahmu sangat ambisius seperti dirimu.” Brian membalas bisikan Elisa.
“Tanpa ambisi aku sudah mati dari dulu.” Elisa kembali fokus pada hidangan penutup di atas piringnya.
“Baiklah, kami pamit. Terimakasih atas jamuannya.” Andre dan Via menyalami keluarga Kinsley dan melangkah keluar.
Brian ikut berpamitan, berjalan keluar setelah papa dan mamanya.
“Dia sangat cantik Brian.” Ucap Via senang.
“Sayangnya keluarganya terlalu serakah.” Andre bergeleng sebal.
“Sepertinya Elisa tidak seperti itu.” Via mengelus lengan Brian.
“Aku harap begitu.” Senyum Brian.
“Kenapa kau mengikuti kami, kembalilah dan antarkan Elisa pulang.” Via menepuk pundak anaknya.
“Baik, papa mama hati- hati di jalan.” Brian berbalik dan kembali menuju Restauran.
PLAK!!
“Bisa- bisanya kau menyela obrolan kami?!” Seru Ayahnya.
“Karna kau sangat serakah!! Kalian berdua sangat serakah!!” Geram Elisa.
“Anak tidak tau diri, tidak tahu diuntung! Siapa yang membuatmu jadi seperti sekarang ini?!” Marta melanjutkan amarah suaminya.
“Aku!! Aku yang meraih posisiku saat ini, aku meraihnya dengan kemampuanku sendiri..!” Jawab Elisa juga dengan marah.
Banyak orang melihat mereka, namun Elisa dan keluarganya seakan- akan tidak peduli. Tuan dan nyonya Kinsley sama sekali tidak memperdulikan reputasi putrinya itu.
“Uang siapa yang kau pakai untuk sekolah?!” Marta menyiram segelas air ke wajah Elisa.
“Itu hakku sebagai anaknya!! Salah sendiri dia membuang- buang benihnya ke wanita lain!! Salahmu juga tidak bisa menjadi pemuas nafsu bejatnya..!” Elisa menunjuk ayahnya dengan rasa jijik.
“Kurang ajar!!” Jim Kinsley kembali akan menampar putrinya.
“Hentikan!!” Brian menahan tangan Jim sebelum mengenai wajah Elisa.
Elisa yang terpejam membuka pelan- pelan matanya. Ia sangat terkejut melihat Brian menahan tamparan ayahnya. Saat itu sosok Brian terlihat sangat luar biasa di mata Elisa, tubuhnya bergetar dan hatinya merasa aman.
“Brian..!” Marta terbelalak melihat Brian berdiri menahan suaminya.
“Jangan ikut campur urusan keluarga kami.” Bentak Jim.
“Aku akan selalu ikut campur saat itu menyangkut tentang Elisa.” Brian menghempaskan tangan tuan Jim.
“Sayang jangan gegabah. Ingat hubungan bisnisnya, kita perlu keluarga mereka.” Bisik Marta di telinga suaminya.
“Maafkan kami Brian, kami tadi terlalu emosi karna Elisa tidak sopan.” Marta menengahi.
“Tidak ada yang boleh memperlakukan pacarku seperti itu, termasuk ayah dan ibunya sendiri.” Tegas Brian.
Brian melepaskan jasnya dan menyelimutkan ke tubuh Elisa yang basah tersiram air. Elisa tebelalak mendengar ucapan Brian, dia tahu kalau hubungan mereka hanya sebuah kebohongan. Begitu pula kata- kata Brian, tidak ada yang tulus dari hatinya. Tapi entah kenapa walaupun hanya karna pembelaan bohongan, Elisa merasa sangat senang mendengarnya.
“Ayo kita pergi.” Ajak Brian.
Brian membukakan pintu mobilnya untuk Elisa dan membantunya masuk.
“Kau tidak apa- apa?” Tanya Brian.
“Aku baik- baik saja.” Jawab Elisa, wajahnya sedikit merona.
“Ayahmu menamparmu sangat keras.” Brian menyentuh pipi Elisa.
Jantung Elisa berdegup sangat keras saat tangan Brian menyentuh kulitnya. Walaupun perih dan panas, tapi ada rasa nyaman yang tak terungkapkan.
“Jangan sentuh aku.” Elisa menepis tangan Brian, memungkiri perasaannya.
“Hubungan kita hanya pura-pura, tak perlu memberikanku perhatian yang tidak perlu.” Elisa takut akan tumbuh perasaan dalam dirinya.
“Sory, aku hanya terbiasa menjaga Renny.” Ucapan Brian membuat hati Elisa terasa berdesir.
“Benar Brian hanya menyukai Renny, dan hubungan ini hanyalah sebatas kerja sama.” Pikir Elisa, Sedikit saja dia memiliki perasaan terhadap Brian hanya akan membuat segalanya gagal.
“Aku antar kau pulang.” Brian menginjak gas mobil pa**ni hitamnya menuju ke apartemen Elisa.
.....................
“Boss, ini laporan yang kau minta.” Nicky menyerahkan 2 buah profile.
“Jayden Harjanto.” Andre membaca nama di file pertama.
“Dia anak dari Keluarga Harjanto, bisnis mereka cukup besar di Indo, tapi saya tidak tahu alasannya Jayden memilih keluar dari keluarganya dan hidup mandiri.” Ulas Nicky.
“Dia bekerja sendiri?”
“Iya boss, dia punya bengkel otomotif dan modifikasi mobil yang didirikan bersama dengan teman- temannya.”
“Prestasi lainnya?” Andre tampak ingin tahu.
“Dia murid yang cukup pintar, selalu 10 besar. Yang lain tidak terlalu menonjol karna dia memilih bekerja dari pada eskul dan kegiatan lainnya.” Jawab Nicky lagi.
“Renny sangat menyukainya, menyebalkan sekali.” Andre menutup profile pertama.
“Kalau Elisa?” Andre beralih ke file ke 2.
“Dia adalah seorang pengacara muda yang penuh prestasi boss.”
“Itu saja? Kelurganya?” Tanya Andre.
“Dia anak tuan Jin dengan wanita simpanannya, saat 10 tahun mamanya meninggal karna kecelakaan. Villa yang mereka pakai untuk liburan terbakar, Elisa beruntung bisa di selamatkan karna mamanya memeluk Elisa.” Sahut Nicky.
“Itu pasti bukan kecelakaan. Pasti Dia ingin balas dendam dengan keluarganya.” Tebak Andre.
“Iya boss, makanya dia mendekati tuan muda.”
“Menyedihkan. Ternyata lebih rumit dari yang ku kira.” Andre menutup file ke dua.
“Betul boss.”
“Brian bagaimana?” Andre kembali bertanya tentang Brian.
“Tuan muda sudah bergerak menemui para pemegang saham, komisaris perusahaan.”
“Dia mencari dukungan, apa menurutmu dia tidak rela aku memberikan semuanya ke Renny???” Tanya Andre.
“Tapi bukankah anda ingin memberikan semua untuk tuan Brian?” Nicky balik bertanya.
“Memang sih. Kalau di berikan ke Renny bubar sudah perusahaan ini.” Andre memegang kepalanya pusing.
“Boss, anda itu seekor singa yang membesarkan seekor harimau. Jadi kalau di gigit ya jangan pusing.” Ledek Nicky.
“Dia buka harimau Nicky, dia itu Srigala. Karna walaupun tidak sekuat harimau tapi srigala jauh lebih pintar dari harimau.” Balas Andre.
“Lalu bagaimana boss?”
“Lupakan saja, kita lihat dulu permainan mereka dan apa tujuan Brian.” Andre memutar kursinya.
“Baik boss.”
“Lalu kau sendiri bagaimana? Sudah dapat pacar?”
“Sudah boss, ini saya tunjukan fotonya.” Pamer Nicky.
“Kapan menikah?”
“Belum tahu boss.. kalau saya menikah saya akan keluar dari perusahaan dan membangun keluarga.”
“Kalau begitu nggak usah menikah.”
“Si boss ini... bagaimana saya bisa membangun keluarga kalau 24 jam terus bersama anda?” Renggek Nicky.
“Linda saja bisa.”
“Andakan tak pernah menelfonnya tengah malam seperti anda menelfon saya.” Protes Nicky.
“Hahahaha..” Andre tertawa dan meninggalkan Nicky.
“Pokoknya saya akan menikah boss.”
“Menikah saja dengan perusahaan.”
“Boss....”
.........................
Heeehooo readers..
+fav, like dan comment ya.
Biar semangat...!!
Lop u gaes.. ^^