Side To Side

Side To Side
S2 ~ ACT 5



SIDE TO SIDE


S2 \~ ACT 5


Renny memandang langit- langit kamar apartemennya. Ada beberapa bercak coklat bekas genangan air di plafonnya. Madam Nur berjanji akan mengecat ulang kamarnya dalam beberapa hari. Bau apek sudah mulai tak lagi tercium karna Renny membuka semua jendela kamar dan menyemprotkan habis satu botol pengharum ruangan.


“Kecil sekali, luasnya sama dengan kamar mandi di rumahku.” Renny bergumam.


Renny kembali bangkit menuju kopernya, mencari beberapa dokumen yang dibutuhkannya untuk mendaftar ke SMA. Umurnya setara dengn kelas 3 SMA di negara ini. Jay juga kelas 3 SMA, lulus tahun depan.


“Harusnya tidak terlalu sulit masuk ke sanakan? Ugh.. Harusnya aku belajar lebih serius.” Renny menyesali dirinya.


“Sudahlah yang penting kedepannya. Harus semangat!!” Renny menyemangati dirinya sendiri.


“Jam berapa ya Jay pulang ke rumah?? Aku sudah nggak sabar untuk bertemu dengannya.” Renny menunggu Jay sampai akhirnya tertidur.


....................


“Punch kanan, kiri, up..!” Teriak coach.


Brian mengeluarkan seluruh emosinya saat latihan hari ini. Coachnya berteriak dari luar ring, sesekali membentaknya karna tenaga yang terlalu besar.


“F**k!!” Brian menekuk lututnya dan menghantamkan beberapa kali di perut lawan.


“Stop Brian, dia bisa terluka..!” Spontan pelatih Brian menghentikan latihan mereka.


“Sudah i saja aku nggak konsen sama sekali.” Brian melepaskan kain putih yang melilit di telapak dan pergelangan tangannya.


“Istirahatlah, kita mulai besok lagi.”


“Oke.” Brian meninggalkan sasana latihan SEVEN KICK BOXING.


Brian melemparkan tasnya ke dalam mobil sport hitam, setelah memasang airpod dia menelfon sekretarisnya.


“Bagaimana pak Kim? Sudah ketemu?” Tanya Brian.


“Belum tuan muda.”


“Bagaimana dengan papa? Apa dia tak berusaha mencari Renny??” Brian terlihat bingung.


“Sama sekali tidak ada kabar dan pergerakan apapun dari Tuan Andre.”


“Cari terus sampai ketemu!! Om Nicky pasti sudah menemukannya, entah apa tujuannya? Papa pasti menutupi semuanya dariku.” Brian mematikan telefonnya dan membanting airpod dari telinganya.


“Sialll!!!! Ke mana kamu Renny??!” Teriak Brian di dalam mobil. Hatinya sangat resah karna Renny menghilang, kabur dari rumah.


“Lebih baik dia mengacuhkan aku, lebih baik dia marah padaku, daripada aku tidak bisa melihatnya seperti ini..” Dengan kecepatan tinggi Brian mengendarai mobil Pa**ni hitam menuju ke rumahnya.


.....................


Tok tok tok..


Renny mengetuk kamar di sebelahnya. Tapi masih tidak ada jawaban.


Tok tok tok..


“Iya sebentar.” Suara pemilik kamar itu terlihat malas.


Jay berjalan lunglai menuju ke pintu masuk, setelah lembur semalaman di bengkel dia merasa sangat mengantuk pagi ini. Dan tiba- tiba ada ketukan pintu yang memaksanya harus bangun untuk membukanya.


Kreekk... (pintu terbuka)


“Hallo.. Jay..” Renny berseru dengan lantang.


Jay diam sesaat..


Brakk.. (pintu ditutup.)


Tok tok tok..


Renny kembali mengetuk pintunya..


Kreekkk... (pintu terbuka.)


“Jay.. hallo...” Renny kembali menyapa.


Jay melonggo sebentar, lalu mengucek matanya..


“Mungkin hanya mimpi.. aku terlalu lelah.” Jay kembali menutup pintunya..


Tok tok tok..


“Jay!!!! Jayden!!!” Renny mengetuk dan memanggil nama Jay berulang kali.


Kreeekkk..(pintu terbuka)


“Jay!!” Renny tersenyum manis.


“Bagaimana bisa kau ada di sini??” Tanya Jay heran.


“Aku pindah kemari, sekarang aku tinggal di sebelahmu.” Jawab Renny.


“Kau pindah kemari???” Jay hampir tak percaya.


“Huum.” Renny mengangguk.


“Ini Jay, kue untuk menyapa tetangga baru.” Renny mengangkat kotak kue di tangannya.


Dengan ragu- ragu Jay menerimanya.


“Terimakasih.”


“Sama- sama.”


“Kalau gitu pulanglah.” Jay kembali menutup pintunya.


Braak...(pintu ditutup)


“Hloh kok.. begitu aja??” Pikir Renny.


Tok tok tok...


Kreekk..(pintu terbuka)


“Apalagi??!”


“Kau tak mempersilahkanku masuk??” Tanya Renny.


“Nggak!!” Jawab Jay mantab.


Jay hendak menutup pintu kamarnya, namun Renny menahannya supaya tidak menutup.


“Jay... padahal aku baru saja sampai!!! Kamu jahat sekali.” Renny hampir menangis.


Jay bingung dan tak tahu harus bagaimana menghadapi air mata Renny. Sepertinya air mata wanita memang senjata yang sangat ampuh untuk meluluhkan hati laki- laki.


“Haaahhh.. masuklah.” Jay mempersilahkan Renny masuk.


“Asyikk..” Renny langsung tersenyum dan masuk ke dalam apartemen Jayden.


Renny duduk di sofa, di depannya ada meja bulat kecil dari kaca. Jay meletakan secangkir teh panas dan kue pemberian Renny di atasnya.


Renny mengamati isi ruangan itu, luasnya sama dengan kamarnya saat ini. Selain ranjang yang kusut semuanya tampak begitu rapi. Di ujung kanan dekat pintu ada pantry dan kamar mandi. Renny kembali memandang Jay yang bersandar di pantry dan meminum teh dari cangkirnya. Tubuh Jay yang tinggi dan wajahnya yang tampan membuat hati Renny kembali berdesir.


“Ga kok.” Renny panik dan salah tingkah.


“Bagaimana bisa kau menyusulku ke sini?” Jay masih keheranan dengan keberadaan Renny.


“Ah.. aunty Mila yang memberitahuku alamatmu.”


“Ah dasar.. Sudah kuduga dari tante.” Jay menghela nafas.


“Lalu kamu mau tinggal di sini sampai kapan?” Tanya Jay lagi.


“Sampai kau mau jadi pacarku. Ayo kita pacaran Jay.” Renny membentuk tembak dengan jarinya.


“Kau ini sebenarnya bodoh atau gila sih??” Jay menepuk dahinya heran.


“Aku mungkin sedikit bodoh, tapi aku nggak gila, aku tahu apa artinya Cinta, aku tahu perasaanku.” Renny menundukan kepalanya.


“Maaf.. kalau omonganku kasar.” Jay kembali meminum tehnya, menghindari menatap wajah Renny.


“Tehnya manis.” Renny meneguk tehnya juga.


Jay menaruh cangkirnya dan menatap wajah Renny yang cantik. Tidak ada satupun noda di wajahnya yang halus. Tinggi, putih, rambut yang panjang dan lembut. Belum lagi matanya yang biru dan berbinar. Setiap laki- laki pasti akan langsung melirik dan menyukai fisiknya. Jaypun tak memungkiri kalau dia tertarik dengan Renny secara fisik. Namun untuk menyambut perasaan Renny, Jay belum mau. Hatinya masih dingin, dia belum mau menerima Cinta masuk ke dalam kehidupannya. Baginya membagi perasaan hanyalah hal bodoh yang akan menyakitinya. Seperti cara papanya menyakiti mamanya dengan permainan perasaan dan cinta.


“Hei.. berhentilah main- main. Kau cewek yang sempurna, carilah laki- laki mapan dan baik yang bisa membahagiakanmu.” Jay mendekati Renny.


“Renny.. bukan Hei.” Gerutu Renny marah.


“Iya.. Renny. Carilah cowok lain yang sempurna. Dia pasti bisa membahagiakanmu.”


“Sudah ada satu cowok sempurna dalam hidupku, tapi dia hanya mencintai mamaku.” Renny berfikir tentang papanya.


“Bukan papamu..!” Jay kesal.


“Ah.. pokoknya aku hanya mau kamu.” Renny berdiri.


Kini mereka berhadap- hadapan. Wajah Jay terlihat memerah. Memikirkan gadis secantik Renny hanya menginginkannya membuat hatinya berdesir.


“Terserah kamu saja.” Jay berbalik dan memunggungi Renny, mencoba menyembunyikan wajahnya.


“Jadi kita pacaran??”


“Nggaklah..”


“Tapi aku boleh suka padamukan??”


“Huum. Terserah kamu.” Jay mengangguk, menyerah dan menerima keberadaan Renny. Gadis ini sangat keras kepala.


“Thaxque Jay!!” Renny melompat memeluk Jayden.


Pelukan Renny Membuat Jay kaget dan jantungnya semakin berdegup kencang.


“Lepasin, kamu ini cewek tau!!” Jay mendorong tubuh Renny menjauh.


“Oke.. aku hanya terlalu bahagia..” ungkap Renny senang. Senyumannya sangat manis.


Jay hanya bisa pasrah dan menggelengkan kepalanya. Baru kali ini ada cewek yang sangat berterus terang seperti Renny. Biasanya para cewek akan malu- malu saat bersama cowok yang disukainya.


Tapi kelihatannya Jay telah melakukan kesalahan..


Karna jauh di luar bayangan Jay..


Kalau ternyata Renny..


Nggak bisa apa- apa...


“Jay aku tidak bisa menghidupkan komporku.”


“Jay bagaimana membuat mesin ini menyala (mesin cuci.)?”


“Jay ini pakainya bagaimana? (Setrika)”


“Jay ini bagaimana membuatnya? (Mie instan)”


“Jay...”


“Jay..”


“Jay..”


Setiap kali Renny bingung dia akan mengetuk pintu kamar Jay dan bertanya.


Tok tok tok..


“Apalagi?” Jay membuka pintunya dengan kesal.


“Gula.. aku nggak punya gula. Minta donk.” Renny memelas.


“Agh....!!” Geram Jay.


“Please..”


“Masuk, ambillah sendiri.” Jay menyuruh Renny mengambil gula di lemari atas pantry.


“Ok.” Renny sangat senang.


“Di lemari atas no 2 dari kanan.” Tunjuk Jay.


Renny membuka pintu lemari dan mencoba untuk meraih setoples gula. Renny sudah berjinjit untuk mengambil toples itu, namun letaknya terlalu dalam.


“Susah amat sih. Ah bisa.” Renny meraih toples itu namun hampir meleset jatuh.


“Hati- hati..!” Tangan Jay membantu Renny menahan toples gula agar tidak terjatuh.


Jay berdiri di belakang Renny, ternyata Renny hanya setinggi dagu Jayden. Wangi rambut Renny tercium, wangi yang lembut dan manis. Wangi yang membuat detak jantung Jay bertambah cepat.


“Kenapa diam saja?” Renny memutar tubuhnya.


Jay semakin terpaku karna wajah mereka saling bertemu. Baik Jay maupun Renny bingung tidak tau harus berbuat apa.


“Ke..kenapa Jay?”


“Rambutmu bau apek.” Jay memalingkan wajahnya dan bergegas pergi.


“Hah???!!” Renny tampak syok, dia membau terus rambutnya.


“Masih wangi kok..”


.....................


Hallo


Jangan lupa + fav, like dan comment..


Semoga readers suka kisah Cinta Renny, Brian dan Jay. ^^


❤️❤️❤️❤️


Jangan lupa kurangi sampah plastik dan penggunaan plastik gaes..


God bless u all ^^