
SIDE TO SIDE - JAKA
SHARE HOUSE
Sorenya mereka berlima berjalan menuju ke kos-kos-an Lenna. Mencoba mengambil semua barang dan perlengkapan Lenna. Kepala Kenzo dan El menyembul dari balik dinding, mencoba memantau keadaan lingkungan sekitar.
“Gila, kita uda kaya James Bond, ya.”
“Hoo, kaya agen agen rahasia gitu.” Kikih Enzo.
“Kalian ngomong apaan sih? Bukannya ngeliatin situasi!!” Arron mengeplak kepala El dan Enzo.
“Udah gw aja yang liat.” Jay keluar dari balik dinding, pura-pura berjalan dengan santai.
Jay berdiri di depan kos-kosan, ia melihat ada beberapa mobil hitam dan beberapa orang di dalamnya. Sepertinya terlihat mencurigakan, Apa mungkin mereka orang-orang yang mencari Lenna semalam?”
“Arah jam 11, mobil item, nggak aman.” Jay bergumam saat mengetik chat di layar ponselnya pada Arron.
“Iya gw liat.” Balas Arron.
“Trus gimana?”
Tiba-tiba seorang cewek yang sangat di kenal Kenzo datang. Ia baru aja pulang sekolah setelah les. Rere melangkahkan kakinya menuju kos Lenna.
“Rere?” Kenzo langsung keluar dari persembunyian dan mengejaranya.
“Waw..!” Rere terpekik kaget.
“Woi!!” El muncul dan menghentikan aksi Kenzo yang mencengkram erat lengan Rere.
“Lepasin!!”
“Nggak gw musti ngomong sama elo, banyak yang gw mesti nanya!!” Kenzo menghempaskan tangan El yang menarik tangannya.
Dari ke jauhan Arron menepuk jidatnya. Situasinya malah nambah runyam.
“Lo kasih tahu dia, El?” Rere mendelik pada El.
“Nggak.. suer!!” El membela diri.
“Kok kalian barengan?” Rere melirik tajam pada El lalu Kenzo.
“Ceritanya panjang. Lo sendiri ngapain di sini?” El nanya, keheranan Rere bisa berada di depan kos an Lenna.
“Hla ini kos milik bokap gw.. gw mo nagih uang kos. Inikan awal bulan.” Rere menepis cengkraman Kenzo.
“Ow...” El mengangguk.
“Re.. kita mesti ngomong.”
“Gw mo masuk.”
“Tunggu, gw mau minta tolong.” Tiba-tiba Jay datang menengahi mereka ber tiga.
“Siapa lagi ini? Duh kenapa cowoknya banyak banget dan ganteng-ganteng. Cobaan apa lagi ini ya Allah???” Rere melirik Jayden, Kenzo, lalu Asael.
“Iya kita mo minta tolong.” Arron muncul.
“Ah gila, nambah satu lagi.” Rere memandang kemunculan Arron.
“Mau minta tolong apa?” Rere akhirnya menyerah dan mendengarkan mereka ber empat.
Lenna masih menunggu di kejauhan. Arron tak mengijinkannya mendekat area kos. Rere mendengar dengan tenang semua penjelasan Arron. Sesekali ia menutup mulutnya tak percaya. Hari gini masih ada orang yang tega menjual anak gadisnya demi uang?
“Oke gw bantuin. Gw ambilin semua barang dia. Kalian tunggu di sini.”
“Jangan banyak-banyak, secukupnya aja. Takut ketahuan sama preman-preman itu. Jadi bertahap.”
“Oke.” Rere masuk ke dalam kos-kos an.
15 menit kemudian..
Rere kembali dengan sebuah tas yang cukup berat. Berisi beberapa baju, pakaian dalam, seragam, dan perlengkapan sekolah milik Lenna. Rere menaruh tasnya di bawah kaki Arron.
“Udah gw bantuin. Good luck ya.” Rere hendak kembali masuk.
“Re.. jangan pergi.” Kenzo menarik tangan Rere.
“Ck.. lepasin!” Rere mengibaskan tangannya.
“Lo sebenernya kenapa sih ama gw? Pliss Re, lo ngomong kalau gw salah. Gw bener-bener nggak tahu salah gw di mana.” Kenzo memelas.
“Elo nggak salah. Udah ah gw capek, mau nagih terus pulang.” Rere masuk ke dalam rumah kos.
“Makasih, ya.” Teriak Arron, Rere hanya melambai dan tetap masuk ke dalam rumah.
“Udahlah, Zo. Lain kali aja, lo kan udah tahu dia di mana sekarang.” El menepuk pundak Kenzo.
“Bener kata El, lain kali aja nanyanya. Ayuk cabut, keburu pada nyadar.” Ajak Jayden.
Akhirnya mereka berempat cabut ke tempat Lenna nungguin. Setelah kembali berkumpul mereka kembali ke bengkel. Hari ini nggak jadi grand opening bengkel karena memang perkara Lenna jauh lebih mendesak.
“Kita bantuin pasang tirai deh Ron.” El dan Kenzo sudah bersiap dengan boor dan baut.
“Thanks ya.”
“No problem. Yang pasti setelah semuanya kembali normal kita di traktir, mi ayam Kang Subur.” Enzo menaik turunkan alisnya.
“Oke siap.”
“Elo jangan lupa tahan diri hlo Ron. Share house sama cewek cakep itu penuh gejolak.” Kekeh El.
“Nggak usah nakut-nakuti Arron. Ayo kerja keburu malem.” Jay mengeplak kepala El.
Bener yang di bilang El, Arron kudu banyak belajar pengendalian diri karena sekarang ia nggak tinggal sendirian.
“Tenang Arron cuma sementara.” Arron menenangkan dirinya sendiri.
>>> JAKA <<<
Malam hari..
Jay tertidur di atas sofa, El ngobrol sama Kenzo di beranda. Lenna menyiapkan makan malam bersama dengan Arron di pantry.
“Thanks ya Ron. Sory gw ngerepoti, kalau gw uda dapet kerjaan gw ganti semua biaya hidup gw selama di sini.” Lenna mengaduk sup yang di masaknya.
“Nggak usah. Lo bantu-bantu beresin ruma aja cukup. Soalnya gw sama anak-anak bakalan repot ngurus bengkel.” Arron menyerahkan sayur yang sudah di cucinya. Saat menyerahkan baskom Arron melihat pergelangan tangan Lenna yang menuh bekas luka sayatan.
“Jadi yang di bilang El bener.” Arron merasa miris.
“Liatin apa?” Lenna bingung ngeliat Arrong ngelamun.
“Nggak kok. Udah mateng belom?”
“Bentar lagi.”
“Oke gw panggil anak-anak dulu.”
“Oke.” Senyum Lenna, senyuman manisnya membuat hati Arron sedikit bergetar.
“Ada apa dengan gw?” Pikir Arron sebal.
Setelah ngobrol cukup lama dan makan malam bersama, Jay, El, Kenzo pulang. Tinggal Arron dan Lenna berduaan. Baru kali ini Arron tinggal bersama seorang wanita yang bukan Mamanya.
“Ini bantal, ini selimut, besok kalau ada duit kita cari kasur yang lebih nyaman. Sementara pake kasur lipat dulu.” Arron menyerahkan bantal dan selimut.
“Nggak usah, ini cukup. Kan cuma sementara.” Jawab Lenna.
“Oke.”
“Jangan ngelewati batas, ya!!” Lenna menutup tirai pembatas.
“Iya iya.” Jawab Arron.
“Good Nite Ron.” Lenna memejamkan matanya.
“Good nite.” Jawab Arron.
Arron mematikan lampu tengah, cahaya kini tinggal berasal dari lampu tidur di balik tirai. Cahaya remang kekuningan membuat siluet tubuh Lenna terlihat di permukaan tirai. Arron menelan ludahnya dan berbalik membelakangi bayangan itu.
“Tenang Arron!! Tenang!!”
So.. Malam pertama share house yang menegangkanpun di mulai.
>>> JAKA <<<
Jaka up
Like dan Comment
Jangan lupa
Yanh banyak
Lop yu readers
❤️❤️❤️
YO VOTE VOTE VOTe!!!
Wkwkkwkwkwk
Makasih sayangkuh