
SIDE TO SIDE
ACT 24
Via berjijit pelan supaya tidak membangunkan Andre yang telah tertidur lelap. Setelah berganti pakaian Via mengambil cek senilai 300 juta yang dijanjikan Andre padanya.
“Trima kasih.” Via bergumam pelan.
Setelah menggunakan pakaian Via segera keluar untuk meninggalkan kediaman Andre .
Via masih merasakan nyeri di area kewanitaannya.
“Sakit.” Via meringis saat berjalan pulang.
Bagaimana bisa manusia begitu menyukai hal ini? Pikir Via dalam hatinya.
Via menepis kembali kenangan panas yang terjadi barusan dan masuk ke dalam minimarket.
“Perutku lapar sekali.” Via mencari sebuah mi cup instan dan memasaknya dalam mikrowave.
“Via!!” Suara cempreng memanggil Via.
“Meddy kau mengagetkanku saja. Kau shiff malam?” Via menoleh.
“Mi? Malam-malam gini? Kau nggak takut gendut?” tanya Meddy beruntun.
“Perutku lapar sekali.” Via menyeruput mi selagi masih panas.
“Kau habis bercinta, ya?” Pertanyaan Meddy membuat Via tersedak.
“Uhuk ... uhuk ....” Via memukul-mukul dadanya.
“Minum ini.” Meddy membuka botol air yang tergeletak di depannya.
“Bagaimana kau ...?”
“Bagaimana aku tahu?? Itu di lehermu ada kiss mark. Lagian jalanmu sudah gemetaran kaya nenek- nenek,” sahut Meddy, tangannya menunjuk bekas merah di leher Via.
Via meraba dan menaikan kerah jaketnya berharap mampu menutupi hasil perbuatannya barusan.
“Dengan siapa? Boss kita yang super ganteng itu?” Meddy terlihat kepo.
Via hanya diam dan kngga menjawab pertanyaan Meddy, menurutnya hal itu terlalu privasi untuk diceritakan.
“Via, Boleh aku tanya satu hal lagi?” Meddy tiba-tiba mengeluarkan nada yang serius.
“Hem..?” Via mengiyakan sambil melahap mi nya.
“Maukah kau melepaskan Kak Leo?”
Via menghentikan suapannya
“Sudah lama aku menyimpan rasa dengan Kak Leo. Kalau kau memang nggak ada rasa apapun tolong jangan berikan harapan palsu padanya.”
Via tersenyum pada Meddy, “Aku dan dia hanya teman.”
“Tapi dia nggak pernah menganggapmu hanya sekedar teman.” Balas Meddy.
“Via, kumohon.” Meddy kembali bersuara, kali ini agak sedikit serak.
Via mengangguk.
“Terima kasih, Via.” Meddy mengenggam tangan Via.
— SIDE TO SIDE —
Andre tersenyum saat kenangan semalam kembali terbayang dalam ingatannnya. Linda dan Nicky berpandang-pandangan, merasa heran dengan kelakuan Boss mereka.
“Ehem!” Linda berdehem mencoba menyadarkan Andre dari lamunannya.
“Oh kalian sudah datang?”
“Yaelah boss kita di sini dari tadi.” Nicky menyahut.
“Heh yang sopan!” Linda berbisik dan menyenggol lengan Nicky dengan sikunya.
“Ada yang mau kau laporkan?” tanya Andre pada Linda.
“Seperti yang kita duga, Miss Sinta sudah mendekati saya. Kemarin dia memberikan saya cek, mencoba menyogok saya.” Linda menyerahkan secarik cek dengan nominal 50 juta.
“Kau terus dekati dia Linda, berpura-puralah. Kalau kau berhasil aku berikan 10x lipat dari nominal di cek ini.” Andre menggetuk cek itu dengan jari jemarinya.
“Baik, Presdir.” Linda mengangguk tanda mengerti.
“Dan kau Nicky! Selidiki untuk apa Via butuh uang sebanyak itu?” Pandangan Andre beralih pada Nicky.
“Baik boss.” Nicky mengangguk dan keluar.
“Linda kau juga boleh keluar.”
“Baik. Saya permisi.”
Andre mengambil ponsel dan melihat layarnya, nggak ada miss call atau pun chat dari Via.
Bahkan pulang saja ngga pamit! Andre melemparkan ponselnya ke atas meja.
— SIDE TO SIDE —
Via keluar dari ruangan administrasi rumah sakit. Saat ini Via sudah bisa melunasi biaya rumah sakit dan tindakan oprasi yang sebentar lagi akan dijalankan.
Masih ada sedikit sisa uang, harus aku tabung untuk biaya berikutnya. Via melamun sampai tak sadar tubuhnya sudah sampai di depan ruang tunggu.
“Via.” Leo memanggil Via dari kejauhan.
“Leo? Kenapa kau di sini?”
“Aku dengar Mamamu sempat kritis? Aku datang menjenguknya.”
“Mama sudah lebih baik, dokter nggak mengijinkan orang menjenguknya. Bahkan kalau bukan jam besuk keluarga juga nggak diijinin masuk.” Via duduk di sebuah kursi panjang.
“Kamu yang kuat, ya.” Leo menepuk pundak Via dan duduk di sebelahnya.
“Kau sudah makan?” tanya Leo lagi.
Via menjawabnya dengan anggukan pelan.
“Kau terlihat lelah, apa yang bisa aku bantu?” Leo terlihat kawatir.
“Leo Kenapa kau begitu baik padaku?” tanya Via, wajahnya memandang lekat laki-laki di depannya.
“Entahlah, mungkin karena aku selalu merasa ingin melindungimu, ingin membuatmu nyaman, ingin menjadi sandaranmu disaat kau lelah.”
“Leo ....”
“Mungkin aku menyukaimu, Via, bukan sebagai teman, tapi sebagai laki-laki.” Leo mendekatkan wajahnya.
“Aku bukan orang baik dan layak untuk kau sukai.” Via membuang muka menghindari tatapan Leo.
“Bagaimana kau bilang nggak layak? Apa kau menolakku karena pria itu? Kau masih mencintainya?” tanya Leo
“Leo dengarkan aku! Masih banyak gadis baik di luar sana. Kau bisa memilih yang jauh lebih baik dan cantik dibanding aku.”
Via menghela napas kesal pada dirinya sendiri.
Kau terlalu baik Leo, sedangkan aku?? Aku saja menjual diriku hanya demi uang. Pikir Via dalam hati.
— SIDE TO SIDE —
Nicky melaporkan perihal keadaan Mama Via kepada Andre. Mmbuat Andre marah padanya.
“Laporanmu dulu nggak bilang kalau Mamanya sakit?” Andre berteriak sedikit kencang.
“Maaf boss, saya kira dia tinggal sendiri.” Nicky takut dengan ekspresi Andre.
Bodoh, aku pasti menyakiti hatinya. Andre mengacak-acak rambutnya.
Andre mengambil ponsel dan mencoba menelfon Via, namun Via tak mengangkat telfonnya.
“Sial!” Andre membanting ponselnya ke lantai.
“Nicky siapin mobil, kau tahu rumah sakitnya di mana? Ayo kita kesana.”
“Siap, boss.”
Namun Via sudah kembali pulang saat Andre sampai di RS.
— SIDE TO SIDE —
Via kembali bekerja di sebuah restoran cepat saji sebagai seorang pelayan. Sudah hampir jam 9 malam, udara semakin dingin di luar.
“Selamat malam, aku pulang dulu, ya.” Via menyapa teman sekerjanya sebelum meninggalkan toko.
“Malam. Hati-hati.”
Via menarik resleting jaketnya, mencegah udara dingin masuk.
“Aku mengantuk.” Via menguap, beberapa hari ini dia tidak tidur dengan nyenyak.
“Besok aku harus kembali ke RS.”
Triiingg...
Ponselnya berbunyi.
Ada chat dari Leo, Via membuka dan membacanya.
LEO:
Bisakah kau membantuku merapikan keramik untuk pameran besok?
“Sepertinya Leo sudah melupakan kejadian siang tadi.” Via memasukan kembali ponselnya.
Bagaimana ini? haruskah aku membantunya? Via merasa galau.
Akhirnya Via tetap memutuskan untuk membantu Leo berkemas, lagi pula Leo sudah banyak membantu menjalani kehidupannya selama ini.
Via melihat Leo dari jauh, tangannya sedang sibuk membuka beberapa palet kayu dan menaruh sterofoam. Wajahnya tampak lelah, sesekali dia menyeka keringat yang menetes dari dahinya.
Via berjalan lebih cepat dan membantu Leo mengangkat sebuah guci kramik berwarna merah.
“Mana pegawaimu? Kenapa kau mengerjakannya sendiri?” Via meletakan guci itu dengan hati-hati.
“Dia pulang lebih awal, anaknya sakit panas.” Leo kembali memindahkan sebuah vas dari keramik.
“Semoga besok laris, ya.” Via menata satu set piring dan teko.
Leo tersenyum lalu membuka pintu tokonya dan mempersilahkan Via masuk.
“Kau mau minum teh panas?” tanya Leo.
“Nggak, aku sudah minum.” Tolak Via.
Leo kembali duduk di depan meja putar dan membentuk kembali tanah liat. Via asik mengamati tanah liat yang berputar dan mulai membentuk badan sebuah vas.
“Kelihatannya asyik,” kata Via.
“Kau mau mencobanya?” Leo menawarkan.
“Erg ... aku rasa nggak, aku pasti akan merusaknya.” Via ragu-ragu.
“Kemari, cobalah!” Leo menarik tangan Via.
Akhirnya Via menyerah dan mengikuti Leo, dia duduk di depan meja yang berputar pelan.
“Kemarikan tanganmu.” Leo mengajari Via membentuk bongkahan tanah liat menjadi sebuah tabung.
Leo duduk di belakang Via, samar-samar Leo bisa mencium aroma wangi dari rambut hitam milik Via. Tangannya masih membantu Via, tanpa sadar wajah mereka bertemu. Wajah Leo terasa panas saat memandang Via. Leo mendekatkan wajahnya, mencoba mendaratkan sebuah ciuman di bibir Via.
“Maaf aku nggak bisa.” Via beranjak dari bangkunya dengan salah tingkah.
Via bergegas keluar dari toko Leo sehingga dia menabrak Meddy yang berdiri di depan.
“Meddy?” Via memandang wajah Meddy yang memerah.
“Sejak kapan kamu berdiri di sana? Kenapa nggak masuk?” Via mencoba mencairkan suasana.
“Aku kira kamu mau melepaskan, Kak Leo.” Meddy mengigit bibirnya.
“Aku nggak bermaksud ... Leo hanya mengajariku membuat ....” Via mencoba memberitahu Meddy, namun emosi sudah menguasai Meddy.
“Dasar murahan!” Meddy menampar pipi Via.
Via merasakan rasa perih dan panas mendarat di pipinya. Namun Via nggak membalas, Via tahu Meddy salah paham, Via paham betul kalau hari ini dia membuat sebuah kesalahan dengan kembali menghampiri Leo.
“Meddy!! Kamu apa-apaan sih??” Leo memegang tangan Meddy.
“Kenapa kau nggak mau ngelepasin dia?” teriak Meddy lagi.
“Meddy kamu itu kenapa?” Leo masih berusaha menenangkan Meddy.
“Padahal kamu kemarin sudah berjanji!!” Meddy kembali berteriak.
“Meddy cukup!” Leo menarik taangan Meddy.
Via masih membatu.
“Asal kau tahu Kak Leo, dia semalam tidur dengan pacarnya! Dia tidur dengan Bossku!” Mata Meddy merah dan berair, emosinya memuncak.
Wajah Via berubah menjadi pucat.
“Apa kau bilang?” Leo menoleh ke arah Meddy
“Dan kau masih mengejar Kak Leo?!” Meddy menunjuk Via.
“Kenapa kau begitu serakah?!” Meddy kembali berteriak kepada Via.
Air mata jatuh membasahi pipi Via, malam yang dingin membuat kaku seluruh wajahnya. Via membalikan tubuhnya dan berlari menjauh.
“Tunggu ,Via!” Leo mencoba menghentikan Via, namun Meddy menahan tangannya.
— SIDE TO SIDE —