Side To Side

Side To Side
PRAHARA DALEMAN II



SIDE TO SIDE - JAKA


PRAHARA DALEMAN II


Arron masuk ke sebuah mini market di depan stasiun kereta api. Hanya tempat itu yang buka 24 jam. Arron melirik ke kanan dan ke kiri. Mencari benda berbentuk segitiga dan kaca mata.


Arron mengitari konter demi konter display. Mencari dalaman yang sesuai dengan ukuran yang di minta oleh Lenna.


“Ehem.. cari apa, Dek?” Tanya petugas jaga.


“E.. anu mbak.. itu.. saya.. saya...”


“Duh yang jelas donk, dek. Nanti saya bantu cariin.” Wanita ini bingung karena Arron terus glagapan.


“Itu saya cari daleman.” Akhirnya Arron membuang malunya dan mengatakannya langsung.


“Ow daleman.. di sebelah sini.” Tunjuknya mengarah pada kotak-kotak dengan gambar pria kekar di atasnya hanya memakai pakaian segitiga.


“Ehm... yang cewek mbak...” wajah Arron tersipu, mbak pegawai toko ikutan tersipu.


“Oh.. ini. Mau ukuran apa?”


“M.”


“Warna? Pink? Merah? Putih? Ungu? Bunga-bunga?”


“Apa ajalah mbak.. yang penting nyaman di pakai.” Jawab Arron, urat malunya berasa hampir putus.


“Ini, sekotak isi 6. Harga 75 ribu.”


“Iya saya ambil, mbak.”


“Ada lagi yang bisa di bantu?”


“Kalau yang ini mbak?” Arron menutup kedua dadanya dengan tangkupan telapak tangan.


“BH?” Mbaknya ikut tercengang, terus ketawa saat melihat gaya Arron. Arron uda merasa mati gaya beneran, karena memang gayanya saat ini kelihatan nggak banget!


“Ukurannya?” Mbak pegawai berusaha menahan tawanya.


“Kira-kira segini Mbak.” Arron mencoba mengira-ira besarnya dada Lenna dengan tangkupan tangannya.


“Hya hahahha.. aduh dek.. geli saya.”


Wajah Arron semerah kepiting rebus. Benar-benar prahara daleman ini bikin jiwanya terhisap. Sudah terlanjur basah nyemplung aja sekalian, urat malu yang udah hampir putus di putus aja sekalian.


“Sama kaya punya mbak besarnya.”


Krikk...


Kriikk..


Kriiikkk...


Hening dan canggung.


Semua pembeli menoleh pada Arron.


“Wkwkwkwk..” akhirnya suara tawa pegawai toko itu memecah kecanggungan.


“Maaf dek. Kita nggak jual BH, celana dalem doang.”


“Sialan, gw uda malu setengah mati ternyata mbaknya ngerjain!!” Arron mengumpat dalam hati.


“Lo cari di toko depan sana dek, itu toko pakaian. Kali aja ada, buruan uda hampir tutup.”


“Ya uda, gw bayar ini aja mbak.” Arron membayar belanjaannya dengan malu-malu.


“Makasih ya.”


“Iya mbak.”


Arron meninggalkan mini market.


“Ah sayang... Ganteng-ganteng kelainan.” Kikih pegawai toko.


.


.


.


Setelah satu jam yang menguras jiwa dan raga Arron kembali ke dalam rumahnya.


“Ini.” Arron melemparkan bungkusan paper bag pada Lenna.


“Dapet?!” Lenna merogoh isi di dalam kantong.


“Dapet!! Sana mandi!! Badan lo bau!” Arron merebahkan dirinya ke sofa. Perkara yang terjadi malam ini benar-benar di luar pemikirannya.


Lenna menjereng bra yang di beli Arron..


“What?? Ini ma buat mbungkus semangka juga bisa Ron!!” Lenna keheranan Arron membeli bra dengan ukuran sangat besar.


“Uda nggak usah protes!! Lo nggak tahukan apa yang gw alami buat ngedapetin barang itu?” Arron sebal.


“Wkwkwkwkwk... salah sendiri lo mau aja pergi beli barang kaya gini.” Lenna bangkit.


Lenna masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan dirinya. Nggak lama Lenna keluar dengan baju kaos yang kebesaran. Celana kolor yang kebesaran. Arron tersipu saat melihat Lenna yang begitu terlihat cantik karena rambutnya yang masih basah.


“Arron, lo punya benang sama jarum nggak?”


“Nggak, mo buat apa?”


“Ngecilin celana ama daleman tadi.”


“Nggak ada, gw ada peniti, sama peper klip.”


“Oke.”


Arron kembali, lengkap dengan segala perlengkapan yang ia punya. Lenna memperbaiki BH yang dibeli Arron, dengan cekatan tangannya bekerja, Arron keheranan, ternyata bakat cewek ini lumayan juga.


“Ah beres. Gw pake dulu.”


.


.


.


Arron duduk bersama dengan Lenna, bersila di bawah lantai. Mereka saling diam, baik Lenna maupun Arron tak tahu harus berkata apa.


“Ehem.” Arron berdehem.


“Ngapain? Keselek?”


“Nggak, kering aja tenggorokkannya.”


“O...”


Hening kembali..


“Lo beneran nggak pengen ngomong apa-apa?” Kata Arron.


“Gw bingung juga mau cerita dari mana, intinya, setelah bokap gw bangkrut. Dikejar-kejar hutang, trus gw hampir di culik sama mafia buat dijual.”


“Gw kabur, trus tante gw masukin ke sekolah di Jakarta saat ini. Gw udah sembunyi, tapi entah kenapa si boss mafia sama antek-anteknya bisa nemuin kos gw.” Lenna memberikan garis besar masalahnya pada Arron.


“Ow..”


“Lo udah puas belom sama balas dendam lo? Lo itu udah hancurin hidup gw sehancur-hancurnya.” Lenna mencibir Arron.


“Lo kira gw tahu?! Salah lo juga dulu cari gara-gara. Lo suka bangetkan ngebully gw.” Arron nggak mau di salahin juga.


“Ya itukan cuma masalah anak-anak, gw juga nggak tahu lo itu anaknya Julius!!” Lenna membalik badannya sebal.


“Dasar Nerd!!” Tambah Lenna.


“Haah.. sekarang udah gini masalahnya. Apa rencana lo?” Tanya Arron.


“Nggak tahu gw juga bingung.” Lenna menangis, air matanya membanjiri wajahnya. Lenna membenamkan wajahnya pada lutut.


“Maafin gw.”


“Lo nggak salah, kalau di pikir-pikir dulu gw emang keterluluan.” Lenna mengangkat wajahnya.


“Tidur yuk, uda jam 4 pagi.” Arron memberikan selimut dan bantal pada Lenna.


Lenna menghapus air matanya dan beranjak menuju sofa. Arron mematikan lampu utama dan hanya menyisakan lampu tidur remang-remang. Beberapa saat Arron mencoba memejamkan matanya, tapi nggak bisa. Hatinya cukup merasa terbeban dengan masalah yang menimpa Lenna saat ini.


“Gw mesti ngapain?” Arron menoleh ke arah Lenna, gadis itu sudah tertidur karena lelah.


Arron bangkit, ia menggendong Lenna dan memindahkannya di atas kasur. Arron mengamati wajah Lenna, ternyata gadis itu memang sangat cantik. Kaosnya yang kebesaran membuat Lenna memamerkan sebelah sisi pundaknya.


“E.. elo gila Ron!! Mikir apa? Jangan jadi sampah!!” Arron lalu beranjak dan tidur di sofa.


>>> JAKA <<<


(Flashback off)


“Begitu ceritanya.” Arron menghela nafas.


“Wah kasihan.. gara-gara elo jadi?!”


“Terus gimana?” Tanya El.


“Hla mau gimana lagi? Jujur gw pusing.”


“Kita bantuin aja Lenna pindah.” Usul Kenzo


“Mau pindah ke mana?” Tanya Arron.


“Ke tempat lo lah. Lo tanggung jawab.”


“Mana bisa?! Elo pikir gw cowok nggak normal gitu? Share house sama cewek?!” Bisik Arron.


“Iya gw sempet mikir elo nggak normal.” Kenzo ngakak.


“Udah.. udah.. sementara aja, Ron. Sampe dia dapet tempat baru.” Usul Jay.


“Iya, di batesin pake lemari.”


“Gw nggak punya lemari gedhe.”


“Ya korden.”


“Ah.. susahnya hidup gw.. uda nanggung kalian, kini nambah satu lagi tanggungan gw.” Arron menghela nafas


Lenna masih duduk di pinggir kasur, keheranan dengan kasak kusuk ke empat cowok di depannya ini. Obrolan mereka tak terdengar, tapi yang pasti Lenna tahu kalau dirinyalah topik pembicaraan mereka.


>>> JAKA <<<


Like dan comment


Readerskuh..


❤️❤️😂😂


Kacih...


JANGAN LUPA VOTE NOVEL SAYA YA


HOHOHOHO