
SIDE TO SIDE - JAKA
PRAHARA DALEMAN
Sepulang sekolah Jay, Enzo, dan El bergegas menuju ke bengkel. Hari ini rencananya mereka bakalan opening bengkel. Tapi Arron si pemodal utama malah nggak masuk sekolah. Makanya mereka bergegas pulang buat nyamperin Arron.
“Ron..Arron..” ketiganya masuk ke dalam bengkel dan naik ke lantai dua.
Lantai dua yang dulunya perkantoran telah disulap oleh Arron menjadi tempat tinggalnya. Mirip dengan apartemen kecil. Ada kasur, sofa, meja, Tv, lemari, sebuah pantry dan kamar mandi.
Tok.. Tok.. Tok..
“Ron.. bukai donk!” Ketuk El.
“Iya.. bentar.” Arron bergegas bangkit dan membukakan pintu.
Ceklek...
“Kok lo nggak masuk sekolah sih?” tanya Enzo to the point.
“Gw nggak tidur semalem.” Jawab Arron.
“Siapa, Ron?” tiba-tiba suara seorang cewek mengagetkan mereka bertiga.
“Anying.. elo nggak tidur karena berduaan sama cewek?!” Enzo langsung mengumpat pada Arron begitu melihat ada seorang cewek di kamarnya.
“Eh..elo gila, kita ini masih anak SMA, Ron!!” El ngikut syok.
“Siapa, Ron?” Hanya Jay yang nggak menghakimi Arron.
“Masuk dulu gih, gw ceritain.” Arron membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan ketiga cowok tengil itu masuk. Sory dua aja, Jay nggak tengil kok.^^
Mereka bertiga duduk bersila di depan Arron dan Lenna. Iya, gadis teman sekelas Arron itu menginap di rumah Arron semalem. Enzo dan El yang paling penasaran, kalau Jay memilih cuek dan memakan camilan.
“Jadi bagaimana?”
“Apanya?”
“Katanya mau cerita?”
“Oh.. mulai dari mana ya?” Arron mengelus dagunya dan mulai bercerita.
(Flashback on)
“Sialan!!” Arron berlari ke arah menghilangnya Lenna, ia berbelok beberapa kali mencoba mencari keberadaan Lenna.
Arron tak menyangka gadis cantik itu punya banyak kejutan dalam hidupnya. Arronpun entah mengapa begitu merasa bersalah pada gadis itu. Kalau bukan karena Papanya mungkin Lenna ta harus kabur dan berlari seperti ini dari kejaran lintah darat
“Lepasinnn!!! TOLONG!!” Teriakan Lenna terdengar nyaring di telinga Arron.
“Lenna?” Arron bergegas mencari arah sumber suara itu. Di tengah jalan Arron berhenti pada tong sampah dan mengambilnya.
“Lepasin gw..! Gw nggak mau!!” Lenna menangis, keringat dan air matanya bercampur.
“Ikut!! Papa lo udah terima uang dari boss!! Lo kudu nurut!!” Teriak pria kekar berstelan jas hitam.
Tina-tiba dari belakang sebuah tong sampah menutup kepalanya. Sampah berjatuhan membuat pria itu kelabakan dan melepaskan cengkramannya pada tangan Lenna.
“Ayo!!” Arron menggandeng tangan Lenna dan berlari kabur.
“Woi!! Bang*at!! Jangan lari!!” Pria tadi langsung melempar tong sampah dan mengejar keduanya.
Arron berlari bersama Lenna menerobos kerumunan manusia yang berlalu lalang pada trotoar jalan. Malam ini area sepanjang pertokoan itu sangat ramai, mungkin karena jam makan malam sedang berlangsung.
“Gw uda nggak kuat, Ron.” Lenna berhenti, nafasnya tersengal-sengal. Memang dia sudah berlari jauh sebelum bersama Arron.
Arron bingung, ia terus mencari-cari tempat yang bisa digunakan untuk bersembunyi. Arron kembali menggandeng tangan Lenna, mereka berdua kembali berlari dan berbelok pada tikungan, ada gang sempit. Arron mengajak Lenna bersembunyi di balik panel listrik sebuah apartemen.
Mereka harus memepetkan tubuh mereka agar bisa masuk ke balik ruang sempit di belakang panel. Keduanya diam, menunggu pengejarnya terkecoh.
“Hah..hah..hah...” Napas Lenna masih ngos-ngosan, naik turun tak beraturan. Keringatnya bercucuran membasahi kaosnya, menimbulkan print pada lekukan tubuhnya.
Arron melirik ke bawah, ia melihat dada Lenna yang bergerak naik turun. Sepintas wajahnya memerah, detak jantungnyapun semakin cepat dan tak beraturan. Posisi keduanya saat ini memang membuat naluri pria Arron muncul. Bagaimana tidak, dengan posisi dada saling menempel seperti ini, cowok mana yang nggak ketar ketir hatinya?
“Lari ke mana mereka???” Teriak pria pertama.
Arron menutup mulut Lenna yang hampir terpekik kaget. Jadi suaranya tak terdengar.
“Ketemu belom??!” Teriak pria ke dua.
“Belom!!”
“Sialan!!! Ayo kita cari ke arah sana!!” Ajak pria kedua pada pria pertama.
Setelah suasananya kembali tenang Arron melepaskan tangannya yang masih membungkam mulut Lenna. Lenna juga telah berhasil mengatur napasnya. Arron masih terus memandang pada bagian dada Lenna saat ini, bajunya yang basah memang membuat Arron menelan ludahnya beberapa kali.
“Thanks.” Lenna mengangkat wajahnya hendak berterima kasih.
“Sama-sama.” Arron membuang muka, menyembunyikan wajahnya yang merona.
Wajah Lenna ikut memerah saat melihat wajah Arron yang semerah kepiting rebus.
“Lo liat apa? Jangan mikir mesum lo!!” Lenna langsung menyilangkan tangannya di depan dada, sadar kalau Arron pasti memperhatikan penampilannya saat ini.
“Sory, habis kelihatan banget.” Arron yang selalu berkata jujur dan apa adanyapun menyampaikan apa yang dilihatnya dengan jujur.
“Brengsek!! Lepas dari macan gw ketemu buaya.” Lenna keluar dari dekapan Arron.
“Gw bukan buaya. Lagian gw cowo normal, liat begituan ya pasti on..!” Arron mencibir ucapan Lenna.
“Jadi lo ngakuin kalau lo terangsang gitu? Jijik banget sih pikiran lo?!” Lenna berjalan lebih cepat.
“Hei, lo nanya deh sama seantero cowok di seluruh dunia. Kalau di posisi gw mereka jg pasti ngerasa sama kaya gw, kecuali satu. Gay!!” Arron nggak terima.
“Huft..!!” Lenna mempercepat langkahnya, tak membalas ataupun menanggapi ucapan Arron.
“Nggak perlu..” tolak Lenna.
“Kalau lo nggak mau pake, yang mikir jorok bakalan bukan cuma gw, tapi cowok-cowok satu kecamatan!!”
Lenna terdiam sebentar sebelum menyahut jaket dari Arron dan memakainya.
“Kok mereka kejar-kejar lo kenapa?”
“Bukan urusan lo..” jawab Lenna jutek.
“Yah kalau gw nggak tahu kan gw nggak bisa nolongin.” Arron menimpali.
Tiba-tiba Lenna menghentikan langkah kakinya dan menangis.
“Kok malah nangis?” Arron kelabakan, apalagi banyak orang yang melihat ke arah mereka dan berkasak kusuk.
“Bukan!! Bukan gw yang bikin nangis..” Arron kikuk ngejelasin ke orang-orang.
“Ayo!! Nangis jangan di sini!! Gw anter lo pulang!!” Arron menyahut tangan Lenna.
“Gw nggak punya tempat buat pulang!! Gw gelandangan.” Jawab Lenna.
“Hah?? Sejak kapan??”
“Sejak gw pergi dari boss mafia itu.” Jawab Lenna, air matanya masih terus mengalir deras.
“Ya udah ayo ke rumahku.”
“Nggak mau!!”
“Ih.. susah amat sih mau di tolong aja. Dasar Cewek!!!” Pikir Arron gemas.
“Ya udin. Gw pulang.” Arron akhirnya berjalan meninggalkan Lenna.
“Hei.. tunggu..!” Lenna yang tak punya pilihan akhirnya mengekor Arron, Arron tersenyum.
Mereka berjalan sampai ke bengkel tempat tinggal Arron, Arron akhirnya memasak mi instan sebagai makan malam mereka berdua.
“Ini makan, mandi, trus istirahat!!” Arron menyuguhkan semangkok mi ayam.
“Makasih.”
Lenna memakan mi nya dengan lahap. Arron sampai kasihan ngelihat Lenna. Dalam hatinya ia merasa begitu bersalah, apa benar gadis ini begitu menderita karena dirinya?
“Lo beneran nggak mau cerita kenapa?” Arron kembali menggelitik telinga Lenna.
“Gw bukan nggak mau cerita, tapi gw ngerasa aneh aja. Yang bikin hidup gw susah kan elo, emang kalau gw cerita lo nggak bakalan ngetawain?” Lenna melirik tajam pada Arron, bola matanya yang gelap terlihat semakin gelap.
“Ya udah kalau nggak mau cerita.” Arron membereskan mangkoknya dan mangkok Lenna.
Lenna hanya terdiam. Semua ini berawal dari saat dirinya menghina Arron dan membuat Arron di pukuli. Setelah itu kesialan demi kesialan terus membayangi kehidupannya. Dulu dia gadis cantik yang terpenuhi segalanya, sekarang di gadis gelandangan yang bahkan dipaksa melayani nafsu seorang lintah darat untuk menebus utang Papanya.
“Mandi gih!! Airnya uda siap.” Arron menunjuk kamar mandi dengan jempolnya.
“Gw nggak punya ganti.”
“Pake baju gw. Jangan banyak alasan!! Gw nggak mau baju kotor lo nempel di sofa!!” Perintah Arron.
“Oke.” Lenna bangkit dengan bahagia. Sudah seharian dia nggak mandi dan badannya basah karena keringat.
“Ini kaos gw. Pake aja.” Arron melemparkan kaos dan celana kolor.
“Ehm..lo ada pakaian dalam nggak?” Wajah Lenna memerah.
“Punya cowok sama cewekkan beda!!” Arron berpikir cukup keras saat membandingkan ke dua benda itu.
“Dari pada nggak ganti. Plisa deh sampe gw cuci dan kering aja punya gw.” Lenna memohon.
“Gw kasih uang aja elo beli.” Arron merogoh sakunya.
Lenna akan menerimanya, tapi kemudian Arron mengurungkan niatnya. Bagaimana kalau pas beli di minimarker seorang pria itu memergoki dan menangkap Lenna?
“Gw aja yang berangkat beli, ukurannya apa?” Arron membuang semua harga dirinya demi Lenna.
“Serius???!!!” Lenna tercengang.
“Dari pada elo di tangkep sama preman tadi.”
“Wow..! Daebak!!”
“Udah cepetan apa ukurannya.”
“Yang atas apa bawah?”
“Hlah!!!! Ada atas sama bawah? Daebak!!!” Balas Arron.
“Cewek emang ribet!!” Lanjut Arron lagi
“Ehem.. ukuran M, branya 38B.” Wajah Lenna terlihat memerah.
“Oke gw pergi dl.”
Arron meninggalkan Lenna yang masih kikuk dan sedikit geli. Semoga si ketua OSIS ini nggak salah bawa pulang dalemannya ya..
>>> JAKA <<<
Like dan comment readers
Yang banyak
❤️❤️❤️