
SIDE TO SIDE
ACT 28
Via terbaring lemas di atas ranjang rumah sakit, setelah beberapa hari tidak ada makanan yang bisa masuk ke mulutnya.
“Anda sudah bangun, Nona?” tanya Linda.
Kepala Via terasa begitu berat, sinar di dalam ruangan membuat matanya silau.
“Berapa lama aku tidur?” Via membuka matanya yang berat.
“Hampir 3 hari, anda demam dan terus menggigau.”
“Bantu aku berdiri.” Via mencoba bangkit dari atas tempat tidurnya.
“Nona tolong jangan memaksakan diri lagi.” Linda bangkit dan menahan tubuh Via.
“Aku harus melihatnya.” Via meremas tangan Linda.
“Nona tenang dulu.”
“Bagaimana aku bisa tenang???!” Via terlihat emosi, sampai Linda bertanya- tanya dari mana datangnya tenaga Via saat ini.
“Nona, Presdir sudah sadar, saat ini dia ada di HCU (high care unit) menunggu pemilihan.” Linda menggenggam erat tangan Via.
“Be—betulkah?”
“Iya.”
Via tak lagi berontak, ia mulai melepaskan cengkramannya dari lengan Linda.
“Syukurlah.” Via tersenyum haru.
“Iya, Nona, Presdir baik- baik saja sekarang.” Mata Linda terlihat berkaca- kaca.
“Siapa yang mendonorkan ginjalnya, Linda?”
....
Tidak ada jawaban keluar dari mulut Linda, lidahnya kelu. Ia tak punya cukup keberanian untuk menyampaikan kebenaran kepada Via.
“Kenapa?? Apa ada suatu hal yang salah?” Via mulai curiga melihat gerak gerik Linda.
“Maafkan saya, Nona.” Linda terisak.
“Apa maksudmu?? Siapa yang mendonorkan ginjalnya?” Via mulai ikut terisak.
“Mama, Nona yang mendonorkan ginjalnya.”
“Apa???”
“Maafkan saya..”
“MAMA ...!!!” Via berteriak keras.
Kali ini tidak ada air mata yang keluar dari kelopak matanya, tenggorokannya terasa kering dan tercekat.
“Aku nggak percaya, aku harus menemui Mamaku.” Via melepas paksa selang infus yang masih menempel di tangannya, membuat darah segar mengalir dari pergelangan tangannya.
“Nona, tolong jangan begini.” Linda memeluk erat tubuh Via.
“Tidak, lepasin, aku ingin bertemu dengan mamaku.” Via meronta-ronta.
“Suster tolong ...!” Linda berteriak memanggil suster untuk menenangkan Via.
“Jangan paksa aku, Linda.” Via masih memberontak.
“Anda sedang hamil, Nona, tolong setidaknya lakukalah untuk anak itu.”
Via mengalah dan merosot duduk di bawah lantai kamar yang dingin.
Kenapa?? Kenapa mencintaimu begitu menyakitkan. Via terisak dan menangis sejadi-jadinya. Linda memeluknya dan mengelus pelan rambut Via yang hitam.
— SIDE TO SIDE —
Suasana mendung menyelimuti pemakaman siang itu. Via menangis di depan tanah basah yang baru saja selesai di timbun. Riska kini bersanding disebelah suaminya. Orang-orang yang melayat mulai meninggalkan TPU satu per satu.
Linda memberikan kode kepada Nicky untuk menunggu di mobil, memberikan waktu Via untuk berpamitan. Sekarang hanya tinggal Via seorang diri disana.
“Maafkan Via, Ma.” Via meremas gundukan tanah didepannya.
“Maafin Via, Pa. Via nggak bisa jagain Mama. Harusnya Mama bisa hidup dengan bahagia.” Air matanya mengalir dengan deras.
Via masih terus terisak, menangis dan menangis. Terlihat bunga mawar merah bertaburan di atas gundukan tanah merah, beberapa tersapu angin yang mulai berhembus kencang.
“Aku akan mencintai anak ini sama seperti kalian mencintaiku.” Via mengelus perutnya.
Sekarang dia tidak hanya sendiri, sekarang dia berbagi aliran darah, berbagi denyut nadi, dan berbagi perasaan dengan bayi yang dikandungnya.
“Ayo, Nona, langit mulai gelap. Anda harus beristirahat.” Linda membantu Via untuk bangkit berdiri.
— SIDE TO SIDE —
Via memandang tubuh kekar Andre yang saat ini terbujur di ranjang rumah sakit. Sudah lama rasanya Via tak merasakan sentuhan nyaman dari jari jemari serta pelukan hangat dari tangannya yang kokoh.
Kini sebuah dinding kaca besar menjadi penghalang Via untuk bertemu dengan Andre.
“Kau harus sembuh, kau pasti bangkit.” Via meletakan telapak tangannya dikaca. Jari jemari Andre bergerak perlahan seakan merespon kehadiran Via.
“Progresnya bagus, Anda bisa tenang, Nona.” Seorang suster mengagetkan Via.
“I—iya, Suster.”
“Oh iya, ini ada titipan surat.”
“Dari siapa?”
“Nyonya Riska, mama Anda, Nona. Saya harap anda bahagia.” Suster itu tersenyum simpul dan menyerahkan secarik kertas yang keluar dari dalam kantong bajunya.
“Terima kasih.” Via menerima surat itu.
Via berjalan pelan menyusuri koridor dan duduk di kursi ruang tunggu. Dengan gemetaran tangannya membuka satu persatu lipatan surat itu.
Anakku Via.
Jangan menyalahkan dirimu atas apa yang mama alami.
Mama dan papa ngga bisa memberikan kehidupan yang layak sejak kau kecil.
Kami hanya berdalih bahwa memberikan kasih sayang yang besar itu cukup untuk mengisi kehidupanmu.
Tapi kami salah, maafkan kami kalau kau harus hidup berkekurangan.
Bahkan di akhir kehidupan mama, mama malah membuatmu sengsara dan bekerja mati-matian.
Kini kau menemukan orang yang begitu baik dan mencintaimu dengan tulus.
Mama sekarang sudah tenang dan bahagia.
Mama senang akhirnya mama bisa memberikan kebahagiaan untukmu.
Tuhan punya kebaikannya sendiri Via, bahkan lewat musibah seperti ini.
Hiduplah dengan bahagia.
Sayangi dirimu sendiri..
Karna kau mama bisa menghadapi hari-hari mama dengan baik.
Karna kau mama pernah punya hidup yang berarti.
Tuhan memberkatimu.
Berbahagialah dengan Andre.
Love, Mama.
Butiran- butiran air mata jatuh membasahi kertas surat yang dipegangnnya. Via tak mampu menahan air matanya untuk kembali jatuh.
“Mama ...,” rintihnya pelan.
Hati Via terasa perih dan sakit. Tangannya bergetar hebat saat menaruh surat itu di depan dadanya.
“Terima kasih, Ma.”
— SIDE TO SIDE —
Esoknya Via kembali mengamati Andre dari balik dinding kaca. Bunyi alat-alat kedokteran yang dipasang membuat telinga dan hati Via miris. Selang infus, kateter, kantong darah, dan selang-selang obat lainnya tampak menempel di beberapa bagian tubuh Andre.
“Segeralah pulih sayang. Aku ingin memberi tahumu kabar bahagia,” gumam Via lirih.
Seseorang wanita datang dan berdiri di samping Via, membuat Via kaget. Wanita itu menggunakan blouse berwana putih dengan motif bunga, dipadukan dengan rok span hitam, membuatnya tampil elegan. Wajahnya masih terlihat kencang di umurnya yang sudah mencapi hampir kepala enam.
“Tante Sarah.” Via menundukan kepalanya.
“Kau menjenguknya setiap hari?” tanya Sarah.
“Maafkan saya.” Via nggak berani memandang wajah Sarah.
“Aku yang seharusnya minta maaf.” Sarah meraih tangan Via dan menggengamnya lembut.
“Maafkan perkataanku yang kasar saat itu, pikiranku terlalu kacau untuk bisa berpikir jernih.” Air mulai terlihat membasahi matanya, sekarang Via tahu dari mana Andre mendapatkan bola mata biru yang indah itu.
“Via layak menerimanya,Tante, semua gara- gara Via.” Via mempererat genggamannya.
“Jangan panggil, Tante, panggil Mama, aku akan menjadi Mamamu mulai sekarang.” Sarah memeluk tubuh Via.
Via menangis dan membalas pelukan hangat Sarah dengan melingkarkan tangannya pada pinggang Sarah.
Aroma lavender kesukaan Sarah tercium memenuhi indra penciuman Via. Rasa nyaman dan damai kembali dia temukan di pelukan seorang ibu.
“Terima kasih.”
“Iya, Nak.” Sarah mencium kening Via.
— SIDE TO SIDE —
Pelaku penabrakan telah tertangkap, Pelaku menyerahkan diri dan mengaku telah menabrak presiden direktur AH grup. Pelaku merupakan putri dari CEO perusahaan A yang baru saja diturunkan dari jabatannya. Di duga pelaku melakukannya dengan motif balas dendam.
Nicky mematikan televisi yang berisi berita penangkapan Sinta.
“Dia pasti bebas sebentar lagi. Pasti Papanya akan menyogok hakim.” Nicky melempar remote tv ke atas sofa.
“Jangan berisik!” Linda emosi melihat kelakuan Nicky.
Andre terbaring lemah, tubuhnya masih mendapatkan perawatan intensif tapi mulai dipindahkan ke dalam kamar rawat inap biasa.
“Harusnya kita menuntut dia, biar dia dihukum seberat-beratnya, Nona!?” Nicky melihat sebal.
“Sudahlah,” jawab Via, tangannya menggenggam erat tangan Andre.
“Tapi ....”
“Kak Sinta dendam karena dulu Kak Andre dan aku mengkianatinya, lalu dia membalasnya dengan membuat Papa Kak Andre bangkrut. Trus Kak Andre dendam dan membalasnya membuat perusahaan Ayahnya jatuh. Lalu memicu dendam lagi dan hampir membuat Kak Andre kehilangan nyawa,” tutur Via.
“Kalau kita membalasnya akan muncul lingkaran dendam yang baru lagi. Sudahlah, biarkan pihak yang berwenang yang menghukumnya. Kalau pun tidak adil, aku percaya hukuman Tuhan tetap adil.” Lanjut Via.
“Sejak kapan kamu begitu bijaksana?” Andre bangun dari tidurnya.
“Kau sudah bangun?” Via tersenyum.
“Iya, aku haus.” Andre berbicara dengan lirih.
“Aku ambilkan air.” Via mengambil segelas air dan membantu Andre minum.
“Bagaimana perasaanmu?” tanya Via.
“Lebih baik, karena aku bisa melihatmu di sini. Di HCU aku tersiksa setiap hari karena tak bisa bertemu denganmu.” Andre tersenyum, membuat hati Via menjadi tenang.
“Ehem, baiknya kita permisi dulu saja.” Linda menarik Nicky untuk beranjak keluar.
“Kalian tidak perlu sungkan,” ucap Via, pipinya merona merah.
“Bukankah Nona ada yang mau dibicarakan dengan, Presdir.” Linda bergegas pamit dan pergi keluar.
“Mereka seperti orang lain saja.” Via kembali duduk di sebelah ranjang Andre.
“Mereka melakukannya agar kita bisa melepas rindu,” goda Andre.
“Itu bukan hal yang wajar diucapkan oleh seseorang yang tengah sakit!!” gerutu Via.
“Tapi aku benar-benar merindukanmu.” Andre menarik tangan Via.
“Kau mau apa?”
“Cium aku.”
Via mendekat dan mencium lembut bibir Andre yang sedikit kering.
“Oh iya, aku ada hadiah.”
“Apa itu?” tanya Andre penasaran.
“Tunggu kalau kau pulang dari Rumah Sakit, aku akan memberikannya.” Via memasukan kembali kotak kecil ke dalam tasnya.
“Kau ingin membuatku mati penasaran?” Andre meraih kotak itu.
“Ah, dasar pencuri!”
“Coba kubuka.”
Andre membuka kotak kecil berwarna biru langit dengan pita kuning. Tespack dengan 2 garis merah menyambut Andre dari dalam kotak itu.
“Ini?” Andre nggak percaya dengan apa yang di ihatnya.
“Heem.” Via mengangguk dan tersenyum.
“Aku jadi papa?” tanya Andre lagi.
“Iya.”
Andre mendaratkan sebuah ciuman di kening Via, dan mengelus perut Via yang mulai sedikit menonjol.
“Aku mencintaimu sayang.”
“Aku juga.”
— SIDE TO SIDE —