
SIDE TO SIDE
S2 \~ ACT 31
Jay mencium bibir Renny yang tampak pucat. Bibir yang biasanya sangat ranum dan menggiurkan kini kering dan tak berwarna.
“Aku mencintaimu Renny, selamanya.” Ucap Jay.
“Aku akan ikut kemanapun kau pergi.” Jay kembali mengecup bibir Renny.
“Aku juga akan ikut kemanapun kau pergi Jay..” ucapan lirih terdengar lemah dari bibir Renny.
Jay tersentak kaget...
“Renny..” Jay mengangkat tubuh dari pelukannya terhadap Renny.
Mata Renny masih terpejam, bola matanya bergerak perlahan-lahan. Mulutnya yang mungil bergerak membisikan jawaban di telinga Jayden.
Jayden menghentikan tangisannya.. di genggamnya tangan Renny dengan erat.
“Aku akan memanggil dokter.” Jay tersenyum dan berlari keluar.
Jay kembali dengan seorang dokter jaga. Dokter bergegas memeriksa keadaan Renny. Pupil matanya mulai merespon sinar dari flashlight kecil yang disorotkan ke matanya. Gerakan-gerakan lemah juga terlihat di jari-jemari Renny.
“Pasien sudah sadar. Tapi masih lemah, butuh banyak istirahat. Jangan terlalu memaksanya. Saya akan melaporkannya pada dokter spesialis yang menanganinya.”
“Baik dokter. Terima kasih.” Ucap Jay senang.
“Sama-sama.”
Jay langsung kembali menggenggam tangan Renny dan terus tersenyum. Kelegaan memenuhi hatinya. Pengharapannya kembali saat merasakan jari jemari Renny yang berusaha membalas genggaman tangannya.
“Jay..”
“Aku di sini, Renny. Bersamamu.”
“Kau baik-baik saja?”
“Tentu..” isak Jay.
“Aku senang.” Renny menitikan air mata.
“Jangan banyak bicara Renny, istirahatlah.”
“Huum..” Renny mengangguk lemah.
Jay terus mencium tangan Renny, berbagi kehangatan. Aliran darah mengalir hangat di setiap pembuluh darah Jay dan menyalur lewat sentuhannya di kulit Renny. Rasanya hangat dan juga nyaman.
.......................
Elisa masih melamun dan menatap pemandangan malam yang indah dari ruangannya. Sudah larut malam dan dia sama sekali tidak ada keinginan untuk beranjak pulang.
“Semuanya rusak tak terkendali.” Elisa menghela nafasnya.
“Aku kira aku bisa mencegahnya, aku kira aku akan bisa memperbaikinya.”
Suara langkah kaki memasuki ruangannya, membuat Elisa tersentak kaget.
“Maaf Miss. Saya kira ada yang lupa mematikan lampunya.” Ternyata hanya seorang petugas security yang sedang berpatroli.
“Tidak pa-pa. Kembalilah bekerja.” Ucap Elisa, kembali berpaling pada pemandangan kota yang mulai sepi.
Suara langkah kembali terdengar, Elisa tak menggubrisnya. Mungkin hanya security yang kembali melangkah patroli. Namun suara langkah kaki itu semakin terdengar dan berhenti tepat di belakangnya.
“Entah kenapa aku selalu melangkahkan kakiku kemari.” Brian menyandarkan kepalanya di punggung Elisa.
“.....” Elisa diam, matanya terpejam, menikmati hangatnya suhu tubuh Brian di punggungnya.
“Renny sudah sadar Lisa.” Ucap Brian lirih, suaranya bergetar, matanya berkaca-kaca.
“Benarkah?” Elisa membalik badannya.
Brian mengangguk sebagai jawaban.
“Syukurlah, kau bisa tenang sekarang.” Elisa mengelus wajah tampan pria di depannya ini. Menghapus air mata yang menetes membasahi pipinya.
“Aku harus bagaimana?” Brian kembali merebahkan kepalanya di pundak Elisa.
“Kau harus minta maaf Brian.”
“Aku merusak semuanya Elisa.. Keepercayaan mama papaku, Cinta Mereka, bahkan aku mencelakai Renny.”
“Fix it Brian.. make it Right.” Elisa menggenggam tangan Brian.
“Bahkan aku merusak cintamu padaku.” Brian mengangkat kepalanya, memandang wajah Elisa.
“Kau tak pernah merusaknya Brian. Berkatmu tiap pagi aku bisa bangun dengan bahagian. Kau memberi cahya di pagiku yang biasanya kelam.” Elisa tersenyum.
“Padahal hanya kau yang selalu mengerti aku.. Kau selalu ada di sisiku saat aku menangis dan kehilangan akal.” Brian membalas senyuman Elisa.
“Trima kasih memberikanku kepercayaan itu..”
“Aku akan memperbaikinya Elisa, aku berjanji..”
“Sure... kita perbaiki bersama.” Elisa memeluk kembali tubuh Brian.
......................
PLAK!!
Tamparan Via terasa panas di pipi Brian. Brian hanya menunduk dan tak berani memandang mata mamanya.
“Lihat mama Brian!!!” Teriak Via.
Brian mengangkat kepalanya.
“Maafkan Brian.”
“Kau sudah keterlaluan!! Bagaimana kalau adikmu sampai meninggal??” Nada suara Via semakin meninggi. Via terduduk dan menangis di bangku
“Hukum aku, Ma. Usir atau bunuh aku bila perlu. Aku memang salah. Aku pantas menerima hukumannya.” Brian berjongkok di depan Via.
“Kami tahu kau mencintai Renny Brian!! Tapi nggak menyangka sebuta ini.” Via menghela nafas.
“Maafin Brian, Ma. Tolong hukum aku..” Brian kembali tertunduk.
Via memeluk Brian, memberikan kehangatan pada tubuhnya yang bergetar.
“Lepaskan cintamu Brian. Jangan cintai Renny.. lupakan kau pernah mencintainya.. kembalilah jadi kakak yang baik untuknya.” Via terisak.
Brianpun terisak di pangkuan Via.
“Baik, Ma. Asal Renny bahagia.”
“Kalian berdua anakku yang berharga, Brian.” Via mengusap air mata di wajah Brian dan mencium keningnya.
.....................
Andre duduk di samping Renny, wajahnya terlihat cemas.
“Papa.. kau sudah datang? Kau sudah sembuh?” Renny mencoba tersenyum.
“Itu bukannya pertanyaan yang seharusnya aku tanyakan padamu..?” Andre tersenyum.
“Bagaimana transplantasinya?”
“Sudah berhasil.” Andre mendekat dan mencium tangan Renny.
“Aku senang papa kembali.”
“Aku harusnya datang lebih awal.” Andre menahan rasa sakit hatinya.
“Setidaknya kau tidak akan terluka sampai seperti ini.” Andre mengelus rambut Renny.
“Semua itu kemauanku. Semua salahku, bukan salah Papa.” Renny mencoba bangkit.
“Jangan bangun dulu.” Andre menahannya.
“Aku ingin memeluk papa.” Renny memeluk Andre dan menangis di dadanya.
“Aku takut, Pa.”
“Harusnya aku mengajakmu pergi ke Jerman.” Andre menepuk pelan pundak Renny.
“Nggak mau, Pa. Aku akan tetap memilih bersama Jay.”
“Kau sangat mirip denganku Renny. Aku juga pasti memilih bersama mamamu.” Andre terkikih pelan.
“Aku tak kan sanggup berpisah dari Jay.” Renny ikut terkikih.
“Hah.. papa sakit hati karena kalah dari Jay.” Hela Andre.
“Papa tetap yang terbaik, tapi Jay dia yang no 1.” Renny tersenyum.
“Oke. Papa mengalah.”
“Di mana Jay Pa?”
“Dia bilang akan pergi mempersiapkan sesuatu.”
“Hmm...?” Renny menyatukan alisnya bingung.
........................
6 bulan kemudian.
Orang-orang berlalu lalang sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Para pelayan membawa pot pot penuh buket bunga mawar putih. Chapel yang di dirikan Jayden di dekat pantai pulau B ini mulai sibuk. Jamnya sudah mepet.
Chapel ini menghadap ke arah Timur. Saat matahari terbenam sinar jingganya menerangi bagian mimbar chapel. Cahayanya masuk di dinding kaca besar di sekeliling bangunan ini. Menimbulkan kesan hangat dan romantis.
“Kau sudah siap Jay?” Mr Harjanto menepuk pundak anaknya.
Bahu Jay terlihat semakin tegap dengan iner suit berwarna emas. Papanya membantu Jay memakai jas tuksedo berwarna hitam, menutupi iner suitnya.
“Wah kau ganteng sekali Jay.” Thea bersorak senang, mengacungkan jempol tangannya.
“Jangan goda aku Thea, aku sangat gugup.” Jay memucat, dia menghela nafasnya beberapa kali.
Bunga anggrek putih tersemat di langit-langit chapel, seluruh ruangan ini dipenuhi berbagai macam bunga berwarna putih. Bahkan di sepanjang karpetnya bertaburkan penuh kelopak bunga mawar putih. Semerbak wangi bunga memenuhi area Chapel.
“Kau cantik sekali..” Puji Via, matanya berkaca- kaca.
“Tak ku sangka akan tiba waktunya aku melepaskanmu. Aku belum rela.” Andre memeluk Via, dan menangis.
“Jangan lebai Pa..” Renny menatap sebal.
“Papa belum rela..” Andre memeluk Renny.
“Kau membuat rambut dan dandanannya rusak.” Via menarik tubuh Andre menjauh dari Renny.
“Hahahaha..” Renny tertawa.
“Ingat yang ku katakan Pa. Papa tetap yang terbaik.” Renny tersenyum sangat manis.
“Tentu saja.. dan bilang saja kalau Jay menyakitimu, aku potong punyanya.” Andre mengusap lembut punggung tangan Renny. Renny terkikih.
“Kau sudah siap Renny? Via memeluk tubuh anak gadisnya.
“Tentu saja Ma.” Renny tersenyum, menghapus air mata yang menetes di wajah mamanya.
“Kenapa kalian menangis di hari bahagiaku sih.” Mata Renny ikut berkaca-kaca.
“Karna kami bahagia Renny.” Via menata lagi rambut Renny.
“Ayo.” Andre melipat sikunya, Renny tersenyum dan melingkarkan tangannya di lengan papanya itu.
Renny tampak cantik dengan gaun pengantin putih model mermaid dan furing putih sepanjang 3 meter. Rambutnya disanggul dan berhiaskan banyak bunga mawar putih. Dengan anggun Renny berjalan melewati karpet berhiaskan bunga mawar. Tangannya menyandang buket bunga terompet dan lili.
Bunga- bunga anggrek yang bergelantungan sesekali menyentuh pundak Renny yang terbuka. Renny sangat bahagia hari ini. Dia berjalan pelan menggandeng papanya menuju ke depan chapel. Para tamu dan keluarga berdiri dan bertepuk tangan saat Renny melangkah maju.
Jayden dengan tegap menunggu Renny di depan. Tangannya sangat dingin dan berkeringat. Jayden sangat grogi. Jay terlihat tak sabar untuk menerima tangan Renny dari Andre.
“Jaga anakku dengan baik.”
“Pasti Pa.” Jayden menerima tangan Renny dari Andre.
Kehangatannya menembus jauh ke dalam hati Jayden. Renny sangat cantik dan itu membuat Jayden sangat terpesona.
“Saya Jayden Harjanto/ Maureen Hartono.”
“Dihadapan Tuhan yang Maha Esa..”
“Menerima..mu.. sebagai istri/suami.. selalu mencintaimu, mengasihimu, menyayangimu, dan setia sampai maut memisahkan..dan cincin ini adalah tandanya.”
“Blood ring milikmu aku kembalikan Jay.” Renny memakaikan blood ring di jari manis Jayden.
“Ini punyamu.” Jay memakaikan cincin juga di jari manis Renny.
“Oke, kalian sekarang suami istri. You may kiss your bride.” Pemuka agama membersilahkan Jay membuka furing penutup wajah Renny dan memberikan sebuah ciuman.
Jay mencium lembut bibir Renny, melumatnya pelan dan penuh cinta. Tanggannya menggenggam erat tangan Renny.
Sinar matahari sore masuk menyinari ruang chapel. Warna jingganya membuat rambut Renny lebih berkilauan. Air mata menetes di pelupuk mata Renny, rasa bahagianya tidak bisa terbendung lagi.
“Aku mencintaimu Renny.”
“Aku mencintaimu Jay.”
Setelah berpandangan sesaat Jay melipat sikunya, memberi isyarat agar Renny berjalan di sampingnya. Renny melingkarkan tangannya dan berjalan keluar bersama Jayden.
“Aku nggak nyangka kita menikah juga.” Renny bergumam senang.
“Melangkah beriringan di chapel ini.” Tambah Renny.
“Kita akan berjalan beriringan selamanya, Renny.” Kata Jayden.
“Always Side to Side.” Jawab Jayden.
Renny tersenyum dan mencium pipi Jayden. Melangkah berdua menuju pintu keluar dan menapaki kehidupan baru bersama cintanya.
\~END\~
Hallo readers.
Side to Side Season 2 tamat.
Semoga kalian semua terhibur ya.
Tetep dukung saya ya readers^^
Baca Like dan commentnya bikin saya semangat..
Jangan matiin tombol fav nya ya..
Soalnya masih ada epilog dan special episode kisah kehidupan Renny dan Jay serta cinta Brian dan Elisa.
Love you to the moon and back
❤️❤️❤️
Aku kasih banyak cinta untuk kalian semua..